
Ketika Ard sudah berpisah dengan Vicchy, ia kembali membantu Paman Kai. Sesampainya di Gal Aquarium World, Goura dan Argy menunggu Ard akan permintaannya.
Mereka antusias akan Ard yang bisa akrab bermain dengan Tyxa. Dengan segera, mereka menuju bagian tengah akuarium menemui Tyxa. Sesampainya di sana, Tyxa kembali tak menampakkan diri.
"Aku tak akan membiarkanmu bermain setiap hari dengan Miko dan Mika. Maka dari itu kami mengganti jadwal pentasmu." Ujar Goura dengan cemburu.
"Aku kira kau bergurau mengenai itu. Bahkan setelah aku tak mendapat kalungnya, aku pun diberi jarak olehmu, Goura~" Balas Ard mendramatisir dengan berjongkok seperti orang mual.
"Tyxa... tak hadir hari ini, kah?" Tanya Argy sembari berdiri di depan kaca.
"Pikiran dia sulit ditebak. Selain dia tak suka berada di depan publik, itulah kenapa kita menyeret pawangnya kemari." Sanggah Goura sembari tersenyum lebar.
"Sobat. Bisa kau bermain sebentar?" Tanya Ard sembari berdiri dan mengeluarkan harmonika kecil sembari memainkannya.
"Harmonika?! Begitukah cara memanggilnya?!" Tanya Goura sembari terkejut.
"Lihat baik-baik, Goura. Aku yakin tak semuanya punya akses memanggil Tyxa dengan sekedar harmonika. Ini pasti hal yang lebih kompleks." Sanggah Argy sembari menatap jauh ke dalam akuarium.
Tyxa yang sedang tidur di dalam akuarium, mendengar panggilan Ard dan membuka matanya. Ia pun tak bisa menolak akan keinginan besar Ard untuk bisa menemuinya lebih dari seorang diri. Dengan perlahan, bayangan besar dari dalam akuarium terlihat jelas.
Mereka yang melihat Tyxa ada di depan mata, tak bisa berkata-kata karena nyaris tak pernah melihatnya. Tyxa mengarahkan pandangannya pada mereka, lalu berganti fokus ke Ard. Ard pun maju perlahan dan menyentuh kaca dengan tangan kanannya, dilanjut menempelkan kepala ke kaca sembari memejamkan mata.
Argy dan Goura yang melihat mereka, terkejut dan terdiam karena melihat layaknya legenda Romeo dan Juliet. Ard mulai mundur perlahan, sembari memainkan gerakan tangan seperti mengendalikan Boneka Marionette.
Tyxa pun dengan senang hati berenang dan bergerak sesuai arahan Ard dengan lembutnya. Hingga seusai puas bermain, Ard memberitahu Goura dan Argy.
"Jawabannya ada dua. Kepercayaan dan Perasaan. Itulah yang menggerakkan kami berdua." Ujar Ard.
"Bisa kau beritahu rincinya, Ard?" Balas tanya Argy.
"Hal ini sulit kujabarkan dengan kalimat. Mengenai perasaan, aku memahami dan yakin dengan yang dirasakan Tyxa. Dia tidak suka menjadi ajang tontonan hanya untuk ketenaran. Terlebih dia tersisa sebagai yang terakhir." Lanjut Ard memberi pemahaman mendalam.
"Singkatnya, publik belum sepenuhnya memahami Tyxa. Mereka hanya senang untuk diri sendiri? Berarti sebuah kesalahan jika Tyxa ada disini?!" Sanggah Goura meninggikan nadanya.
"Tidak. Tyxa senang ada disini. Dia bisa memiliki kesempatan untuk hidup dan melanjutkan generasinya suatu saat nanti. Itupun jika masih ada yang tersisa di luar kelompoknya." Balas Ard sembari menyentuh kaca dan mengusap-usapnya.
"Lalu... bagaimana cara memahami Tyxa? Tidak semua orang bisa melakukan hal rumit ini." Lanjut tanya Goura.
"Sebenarnya bukan hal rumit. Tyxa hanya menginginkan satu hal. Mereka memikirkan Tyxa akan kehidupannya yang singkat. Dengan mendukungnya agar mendapat kebebasan suatu saat nanti, walaupun beresiko." Balas Ard sembari melihat Goura dan Argy.
"Maksudmu... kita berpisah dengan Tyxa--" Seru Goura terpotong akan reaksi mendadak Ard.
"Itulah yang membuatnya membencimu, Goura. Kau berpikir Tyxa ingin berpisah dengan kalian juga setelah pertemuan awal?" Bantah Ard.
". . .?!" Hening Goura dan Argy sembari terkejut.
"Pada dasarnya kita hidup di dunia yang berbeda, Goura. Tyxa senang ada disini. Dia senang mendapat teman baru di dunia yang berbeda. Tapi, pikirkan mulai dari sekarang, maupun sedari dulu. Apa yang diinginkan Tyxa dari terdalamnya?" Ujar Ard.
"Ugh..." Gumam Goura.
"Dia memiliki dunia sendiri. Itu sudah menjadi takdirnya. Ini sudah menjadi sifatnya. Lalu aku akan kembali bertanya. Bagaimana caramu membuat mereka mau memahami Tyxa seperti yang kukatakan? Tyxa justru akan membencimu jika melakukannya dengan terpaksa." Lanjut Ard sembari melihat kaca.
"Ini diluar perkiraanku. Bahkan pemahamanku. Aku tahu dia adalah hewan. Tapi tak kusangka sejauh ini kau mencoba memahaminya, Ard." Sanggah Argy sembari melepas kacamata dan membersihkannya sesaat.
"Hahahaha! Jika kita semua termasuk Tyxa tak memiliki hati, maka aku sudah menjadikannya Tumis Paus untuk makan siang." Balas Ard sembari bertolak pinggang.
"Lalu, bagaimana dengan kepercayaan, Ard?" Lanjut tanya Goura.
Ard memberitahu perihal kepercayaannya dengan Tyxa. Ia percaya setinggi mungkin, bahwa ikatannya tak akan goyah akan jaminan perasaan Ard pada Tyxa. Hal tersebut dideskripsikan dengan Ard yang memahami dengan pasti akan perasaan dan pertanyaan Tyxa. Hal tersebut yang didengar oleh Argy dan Goura, merasa lebih rumit dibandingkan hal berupa perasaan sebelumnya.
Di lain hal, mereka mulai terpikirkan akan kebebasan Tyxa berdasarkan sifat dan adaptasinya. Di lain tempat, Kafe Dermaga Axeru. Jay melamun seorang diri sembari ditemani hembusan angin laut yang terus menguatkan lamunannya. Miccha yang sedang berjalan melewati Axeru, melihat ke arah laut. Beberapa saat kemudian, dia terpaku pada seseorang yang sedang duduk menyendiri.
Ketika ia fokus untuk memastikan siapa orang tersebut, Miccha langsung mengetahui auranya dan segera berlari menghampiri. Ketika sudah dekat, Miccha berjalan perlahan dan mulai memanggil.
"Jay?" Tanya Miccha sembari mendekat dan melihatnya dari kiri.
Miccha yang mengetahui Jay sedang melamun, berniat mengeluarkan teknik pamungkasnya. Miccha berganti ke sisi kanan Jay, sembari mengangkat tangan kanan dan mencubit keras ****** kanan sembari mengangkatnya sedikit.
"A-A-A-A-AAAA! SAKIT! SA-SAKIT! A-AAAA!" Ronta Jay terbata-bata.
"Akhirnya kau sadar juga." Gumam Miccha dengan sinis sembari menghentikan cubitannya.
"Aduh... apa-- Miccha?! Kenapa kau disini?!" Tanya Jay sembari mengusap putingnya dan terkejut.
"Akulah yang seharusnya bertanya. Apa yang kau lakukan disini seorang diri seperti suami diusir oleh istrinya?" Balas tanya Miccha dengan kesal sembari bertolak pinggang.
"Jahatnya... aku masih perjaka." Lanjut Jay sembari memejamkan mata dan tertunduk sesaat.
"Aziru, kan?" Tanya Miccha memastikan.
"Kau terlalu sadis untuk langsung pada intinya, Miccha." Balas Jay sembari memalingkan wajahnya.
"Mau bagaimanapun, kau bukan tipe orang yang akan murung dengan beban pekerjaan." Bantah Miccha sembari menggembungkan pipinya.
"Insiden itu membuat mereka ketat padanya. Aku pun khawatir karena kuyakin dia ingin bertemu dengan kita." Balas Miccha sembari ikut duduk.
"Aku tak bisa membayangkan jika mereka sekeras itu padanya. Bahkan mematikan komunikasi? Itu terlalu konyol." Lanjut Jay sembari mengepal erat tangan kanannya.
"Aku tak ingin berasumsi negatif pada orang yang bahkan tak kukenal, Jay. Mereka memiliki alasan tersendiri jika menahan Aziru dari dunia luar. Terlebih sifat Aziru yang pasif selama ini." Bantah Miccha sembari menatap jauh.
"Memang benar. Aku hanya ingin mengetahui keberadaannya, atau kabar secara minimal. Aku khawatir jika memiliki kesalahan yang tak kusadari, terlihat oleh mereka." Lanjut Jay sembari menyilangkan kedua tangannya di depan mulut.
Mereka yang tenggelam perihal Aziru yang menghilang, Miccha mulai menyarankan hal pada Jay. Ketika Jay mendengarnya, dia ragu akan langkah untuk mulai dari mana. Jay memiliki niat mendadak untuk mencari dan menemui Aziru.
Kembali pada Gal Aquarium World. Ard mendapati waktu senggangnya karena penggantian jadwal dengan berbincang-bincang bersama Goura dan Argy. Ketika dia iseng melihat Statistik D-Cashnya, Ard menyadari sesuatu.
"AAAAAA!!!" Teriak Ard karena terkejut.
"Oi! Ada apa, Ard?!" Tanya Goura yang ikut terkejut.
"Anak itu... dia tak bisa menghitung, kah?! Vicchy!" Lanjut Ard sembari berlari keluar dari akuarium meninggalkan Goura dan Argy.
"A-Ada apa dengannya??" Lanjut tanya Goura dengan heran.
"Vicchy? Sepertinya perihal internal." Sanggah Argy.
Ard merasa kesal karena Saldo D-Cashnya tidak sesuai perhitungan Vicchy karena terlampau jauh. Ia dengan segera menuju Toko Souvenir Axeru menggunakan CyHover. Vicchy yang berada di toko, justru mendapati masalah sangat serius.
Paman Kai yang selama ini ia percaya, merayap dan menjelajah tubuh Vicchy dengan tangan kotornya. Vicchy tak bisa berteriak karena tangan kiri Paman Kai begitu kuat, dengan tangan kanan yang melemaskan tubuhnya. Ia hanya bisa menangis sembari melebarkan pandangan matanya karena sangat terkejut akan hal itu terjadi sangat tak terduga.
Tak hanya tangan, seluruh organ luar tubuh Paman Kai ikut bereaksi menjelajahi Vicchy. Mereka yang berada di gudang, melakukannya sembari memojokkan Vicchy di lantai. Ketika Ard tiba, Toko Souvenir Axeru terlihat tutup dan membuatnya mengeluarkan CyPhone untuk menelepon Vicchy.
CyPhone yang bergetar di sakunya, membuat Paman Kai bereaksi untuk mengambil langkah aman. Ia membiarkan CyPhone tersebut usai dengan panggilannya. Ard yang mendapatinya merasa heran karna tak biasanya Vicchy mengabaikan telepon. Ia mencoba berasumsi bahwa Vicchy tertidur di kamarnya lagi. Dengan segera, Ard mengambil langkah efisiensinya melihat CCTV dari akses CyPhone.
Dia mengambil kesimpulan baru karena Vicchy juga tak ada di kamarnya. Dengan berlanjut akan asumsi bahwa Vicchy berada di kamarnya sendiri, kemungkinan berbanding setengah karena dia sangat mengenal Vicchy yang seringkali ke kamarnya.
"Ard... kumohon... tolong aku..." Ujar Vicchy dalam hati bercampur takut.
Ard kembali melihat Toko Souvenir Axeru dengan perasaan terganggu karena merasa hal tak wajar. Ard mulai mendekati langkahnya ke depan toko. Dia semakin merasa aneh karena lampu tidak dimatikan di siang hari, terlebih dengan keadaan toko yang tutup.
Ketika Ard melihat ke dalam toko, dia mendapati hal yang mengejutkan matanya. Terlihat kancing baju Vicchy, tergeletak di lantai. Seusainya, Ard menghela nafas dan mengambil kesimpulan yang nyaris tak ingin ia percaya. Segala petunjuk ia kumpulkan dan mendapatkan jawaban di otaknya.
"Aku tak ingin mempercayai ini. Namun hal itu justru masuk akal dan agak gila." Ujar Ard dalam hati.
"Pintu terkunci. Lampu menyala di siang hari. Penutup toko tidak aktif. Vicchy yang hilang. Panggilan diabaikan. Tak ada kabar Paman Kai mengenai ini." Lanjut Ard mengeluarkan CyLaser sembari memotong pengunci toko.
Ard berlanjut menjalankan rencana dengan mematikan listrik toko hingga padam total. Ia berlanjut masuk dan menyatu dengan kegelapan di dalam toko, dengan bersandar di belakang meja kasir sembari mendengar sesuatu yang tak bisa ia percaya.
Disaat bersamaan, Paman Kai terkejut akan pemadaman listrik yang tiba-tiba. Ia merasa penasaran dan segera keluar dari gudang sesaat. Seketika, Ard menyelipkan kaki kanannya pada pergelangan kaki Paman Kai hingga tersandung dan terjatuh ke lantai.
Ard menyalakan senter dan menyoroti cahaya ke dalam gudang dan semakin membuatnya tak bisa berkata-kata. Dengan segera, Ard mendekati Paman Kai yang masih terjatuh sembari menyengatnya dengan Stun Gun pada belakang leher. Seketika, tubuhnya kejang beberapa saat.
Ard berlanjut menyalakan listrik dari luar dan menemui Vicchy. Vicchy yang tak berdaya dengan meringkuk ketakutan di pojok lantai dan nyaris tak berbusana, melesat memeluk Ard dengan nafas tak beraturan bercampur gemetar dan air mata.
"Saldoku kau kemanakan, sialan? Kau tak bisa berhitung, ya?" Tanya Ard sembari mengelus kepala Vicchy.
Ia berlanjut melakukan panggilan kepada pihak berwajib untuk membantunya. Seusai mendapati respon pertolongan, Ard pun segera menggendong Vicchy menyamping ke bagian kasir.
Dengan Vicchy yang tak ingin melepaskan kuncian tangannya pada leher Ard, ia menyembunyikan wajah ke belakang leher Ard. Ard pun duduk bersila sembari menunggu dan menjaga Vicchy. Ia terus menerus menyengat Paman Kai agar tak bisa bergerak selagi menunggu bantuan.
Selang lima menit, Kepolisian Exgalya datang dengan satu mobil, tiga polisi dan satu CyDroid Guardian Type A.
"Selamat Siang. Bagaimana pelakunya?" Tanya Polisi Rexsa.
"Segera amankan orang cabul ini." Balas Ard.
"Dimengerti. Ayo." Ujar Polisi Rexsa mengajak satu rekannya.
Seusai mereka memborgol Paman Kai, mereka kesulitan akan beratnya ketika akan dibawa. Rekan Polisi Rexsa melakukan komando pada CyDroid Guardian Type A untuk membantu membawanya.
"Kau memiliki bukti selain ini? Maaf jika aku lancang mengenainya." Lanjut tanya Polisi Rexsa.
"Tentu. CCTV." Balas Ard sembari tersenyum tipis.
Polisi Rexsa dengan segera memeriksa keaslian kejadian dengan bukti CCTV. Seusai melihatnya, dia melakukan salinan dan mengkonfirmasi laporan Ard dengan menerimanya.
Warga yang baru selesai dari liburan dan melihat kejadian di depan toko, merasa penasaran dengan apa yang terjadi. Seketika, mereka merekam kejadian tersebut dengan CyPhonennya.
Mereka merasa terkejut akan Paman Kai yang mereka kenal dibawa oleh pihak kepolisian. Dengan segera, Kepolisian Exgalya membawanya pergi terlebih dulu meninggalkan Ard dan Vicchy akan suatu kendala.
Seusai mereka pergi, warga yang ada di sekitar menghampiri toko berbondong-bondong dengan Ard yang keluar dari toko. Ia pun menceritakannya dengan singkat dan beranjak pergi membawa Vicchy ke apartemen menggunakan CyHover.
Warga yang mendengarnya, tak menyangka bahwa Paman Kai melakukan pelecehan seksual pada Vicchy. Seusainya, kabar dari insiden tersebut mulai tersebar bersamaan dengan Ard yang harus kembali memulihkan Vicchy.
Di Gal Aquarium World, Goura dan Argy pun merasa heran dengan Ard karena tak kunjung kembali.