From Grey To Red

From Grey To Red
BAB 13 : Retakan yang dipoles



Vicchy yang masih tertidur, terus ditemani oleh Ard. Satu jam berlalu, Vicchy mengeluarkan gumamnya dan tersadar dalam posisi tidur. Dikala Vicchy berbalik ke kiri Ard yang ada di sebelahnya, Ard menaruh air minum di rak sebelah kasur.


"Sudah lebih baik?" Tanya Ard dengan senyum tipisnya.


"Uhm. Maaf." Balas Vicchy dengan nada rendah.


"Ada yang terasa sakit? Jangan paksakan dirimu, mengerti?" Tanya Ard sembari mengingatkan Vicchy.


"Tidak. Aku lebih baik sekarang. Terima kasih." Ujar Vicchy sembari terduduk.


Ard dengan langsung memberi air minum pada Vicchy agar membaik. Vicchy yang ditawarinya, menerima dengan senang hati. Seusainya, Vicchy meminta sesuatu pada Ard dengan posisi duduknya.


"Ard... maaf jika aku bertanya hal ini." Ujar Vicchy dengan tertunduk.


"Katakanlah." Balas Ard sembari duduk di pinggir kasur.


"Pindah ke kanan. Pinjam bahumu." Lanjut Vicchy.


Ard yang mendengarnya, tak berpikir panjang menuruti permintaan Vicchy karena dianggapnya sedang serius. Ard langsung duduk di sebelah kanan Vicchy dengan posisi bertongkat lutut. Dengan seketika, kepala Vicchy bersandar pada bahu kiri Ard.


"Kukira kejutan apa." Gumam Ard sembari melihat jendela.


"Bodoh. Kau berpikir apa?" Bantah Vicchy sembari memejamkan matanya.


"Tidak. Hanya heran dengan kali ini." Balas Ard tak menoleh.


"Kau ingin mendengarnya?" Tanya Vicchy.


"Lakukan." Balas Ard.


Vicchy mulai menceritakan hal yang terjadi. Hal tersebut berawal ketika Vicchy pulang dari apartemen Ard. Ketika ia sudah di rumah dan beristirahat, kedua orang tuanya ikut pulang sesudahnya. Disaat Vicchy tertidur, ia terbangun karena mendengar keributan di luar kamar.


Vicchy yang penasaran dengan suara tersebut, melihat perlahan dengan keluar dari kamar. Terlihat pemandangan menakutkan baginya, kedua orang tuanya beradu debat hingga terdengar kalimat terlarang untuknya, maupun mereka.Ibu Vicchy meminta perceraian dengan ayahnya.


Ayahnya yang sama dilanda emosi, justru tak keberatan tanpa memikirkan perasaan Vicchy yang melihat mereka. Ibunya sudah siap dengan membawa koper besar dan langsung menabrak Vicchy yang menyuruhnya untuk minggir dari jalan. Ayahnya yang tertinggal, tak tinggal diam sembari melihat Vicchy dengan tajam.


Ia pun tak ingin ambil repot dengan emosinya yang terbakar. Ayahnya ikut pergi dengan barang-barangnya tanpa mengucapkan apapun pada Vicchy. Mereka pergi secara tiba-tiba hingga membuat Vicchy terdiam kaku dengan apa yang sebenarnya terjadi. Rasa sakit yang ia terima amat besar hingga air matanya bersiap membasahi kedua pipinya.


Vicchy pun tanpa pikir panjang berlari keluar sembari menahan rasa sakit serta tangisnya. Hingga alasan tersebut berakhir ketika ia sengaja menemui Ard. Ard yang mendengar cerita Vicchy, tak bisa berkata apapun di dalamnya. Ard mempersilahkan Vicchy untuk melakukan apa yang ia mau.


"Apapun?" Tanya Vicchy memastikan.


"Selama itu wajar dan tak di luar batas. Karena kita masih seorang manusia pada umumnya, bukan seekor hewan." Balas Ard mengingatkan Vicchy.


"Jika begitu... tidur denganku sehari ini." Ujar Vicchy akan pintanya.


"Kau berpikir itu bisa menyelesaikan masalah?" Tanya Ard sembari membantahnya.


"Dan setelah dengan apa yang kau katakan, kau berniat menarik kata-katamu? Kukira kau seorang pria, Ard." Balas Vicchy dengan senyum tipisnya.


"Yang kukatakan adalah hal lain. Kumohon jangan lebih dari ini." Lanjut Ard akan tegurannya.


"Tidak akan. Lagipula, aku tak ingin sebodoh itu memanfaatkanmu. Aku hanya berpikir, kau alergi dengan seorang gadis." Ujar Vicchy dengan guraunya.


"Aku hanya tak pandai dengan seorang gadis." Bantah Ard dengan alibinya.


"Artinya kau pria yang naif. Cukup lucu." Balas Vicchy dengan senyum tipis.


"Beginikah cara seorang gadis membuat obatnya?" Tanya Ard sembari menghela nafas.


"Kau harus tahu apa yang di butuhkan seorang gadis, Ard. Hal itu cukup banyak untuk kau gali. Untuk memahami seorang gadis, tak cukup hanya dengan mulut dan lidah manismu." Lanjut Vicchy.


"Kau bermaksud menyebutku pria nakal?" Tanya Ard dengan heran.


"Tidak. Seperti yang kukatakan, kau hanyalah pria naif. Dan, kau masih memantau gadis itu?" Balas tanya Vicchy membuka matanya perlahan.


"Begitulah. Maaf." Ujar Ard dengan canggungnya.


"Tak apa. Itu hakmu. Aku hanya berharap kau tak membunuh seseorang yang memantaumu." Gumam Vicchy dengan senyum tipisnya.


"Jika begitu tidurlah. Keadaanmu butuh lebih dari ini. Yang rusak adalah bagian dalammu, bukan luar topengmu." Lanjut Ard menegur Vicchy.


Ard masih menatap jauh keluar jendela, sedangkan Vicchy justru melepas seluruh pakaiannya sembari menyelimuti dirinya dan tertidur. Ard yang melihat Vicchy sesaat, kembali khawatir dengan keadaannya.


"Ingat janjimu." Ujar Vicchy dengan tiba-tiba.


"Dan kenapa kau harus telanjang bulat?" Tanya Ard tak menatapnya.


"Karena aku meyakininya. Kau tak akan menyerang seperti binatang buas. Dan lebih nyaman seperti ini." Balas Vicchy akan keyakinannya.


"Lagipula aku tak tertarik memainkan tubuh seorang gadis." Lanjut Ard.


"Kau homosexual, ya?" Tanya Vicchy dengan guraunya.


"Pikiran dan jiwaku masih bereaksi dengan normal, jangan konyol." Bantah Ard.


"Lalu, jika aku terlihat seperti ini olehmu, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Vicchy memojokkan Ard.


"Tidak ada. Hanya tetap menemanimu hingga pulih. Dan mengajakmu minggu depan." Ujar Ard sembari berdiri melihat pemandangan luar.


"Minggu depan? Apa yang kau maksud?" Tanya Vicchy dengan bingung dan terduduk menyelimuti dirinya.


"Kau akan tahu nanti. Dan giliranku bertanya. Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" Balas tanya Ard.


"Aku tak akan memikirkan hal rumit. Aku akan pindah denganmu disini. Tentunya bukan satu kamar." Balas Vicchy dengan senyum tipisnya.


"Aku lega jika begitu. Jangan melakukan hal gila lainnya, mengerti?" Tegur Ard dengan senyum tipisnya.


"Roooooger." Balas Vicchy sembari meniru khas Ard dengan hormat kecilnya.


Waktu berjalan hingga Kota Exgalya disambut oleh gelap dan lampu-lampu kota yang berwarna-warni. Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam, Ard dan Vicchy tertidur di satu kasur. Ard yang merasa waspada, menjaga jarak tidurnya dengan Vicchy.


"Kenapa kau menjauh?" Tanya Vicchy dalan tidurnya.


"Lagi? Aku tak bisa sembarangan dengan tubuhmu yang tak terlindungi sehelai benangpun. Jangan konyol." Bantah Ard menegur Vicchy.


"Setidaknya mendekat padaku, anak laut." Balas Vicchy dengan ejekkannya.


"Siapa yang memberitahumu akan hal itu?" Tanya Ard dengan kesal.


"Masa bodoh. Mendekat sekarang!"


Seru Vicchy dengan nada kecilnya.


"Ah, terserahlah. Lalu apa?" Keluh Ard dengan pasrah.


"Dekap aku sesekali. Ini kesempatan langka untuk orang sepertimu." Pinta Vicchy dengan guraunya.


"Hinaanmu benar-benar juara. Aku tak tahu harus senang atau kesal." Balas Ard dengan sinisnya.


Ard yang mendengar permintaan Vicchy, hanya menurutinya dengan berat hati. Vicchy kembali pada tidurnya sembari mendekap pada Ard. Tangan kanan Ard melakukan tugasnya memegangi kepala Vicchy dan mulai tidur kembali.


"Sakit! Oi! Apa yang kau lakukan?!" Tanya Ard dengan heran dan ikut terbangun sembari memegang kepalanya.


"Kau... menyentuhnya..." Gumam Vicchy dengan khawatir.


"Ha?! Mana kutahu! Aku tak sengaja. Lagipula aku sudah memperingatkanmu dan khawatir jika terjadi sesuatu." Bantah Ard akan hal yang tak disadarinya.


"Hummm~" Gerutu Vicchy dengan kesal.


"Ampun. Baiklah, aku akan menjaga tanganku. Maaf." Ujar Ard dengan menyesal.


"Tak apa. Jangan melakukannya lagi." Balas Vicchy sembari kembali tertidur dan mengulangnya dengan Ard.


"Memang berbahaya jika tidur dengan seorang gadis." Ujar Ard dalam hati.


Malam panjang berlalu dan berganti pagi yang sejuk. Ard membantu Vicchy akan kepindahannya dan berniat menjual rumah yang membawa momen buruk untuknya. Enam Android dipinta Ard, melakukan tugasnya memindahkan barang-barang yang Vicchy butuhkan untuk di apartemen barunya.


Hari demi hari silih berganti. Seminggu setelahnya, waktu menunjukkan pukul tujuh pagi, Ard belum terbangun dari tidurnya. Vicchy yang pindah ke kamar sebelah Ard, justru bangun lebih awal dan berdandan dengan rapih.


"Dia tak mengetuk hingga sekarang? Jangan bilang..." Gumam Vicchy dengan heran.


Vicchy sesekali menengok arah pintu sembari merapihkan rambutnya.


Ia pun merasa kesal menunggu Ard yang tak kunjung bangun setelah lima belas menit berlalu.


"Aku tak menyangka dia salah satu pemalas. Ah~ aku ingin memukulnya lagi." Gumam Vicchy dengan kesal.


Ia pun kembali beranjak dari kasurnya dan berjalan keluar kamar menuju kamar Ard. Vicchy mengenakan setelan Middler Dress berwarna biru toska dan putih.


Ketika ia akan menekan bel, gerakan gagang pintu terlihat dan diduga olehnya. Ard yang membuka pintu, terkejut dengan Vicchy karena menatap heran padanya, mengira bahwa Ard masih tertidur.


Ard sama halnya dengan Vicchy yang telah siap untuk pergi bermain. Setelan jas hitam dengan kaos abu-abu dan celana jeans hitam panjang, dinilai oleh Vicchy.


"Tatapan itu, seolah kau meragukanku." Ujar Ard dengan sinis.


"Yah... tak bisa dipungkiri. Wajahmu tak ada tampan-tampannya dari mataku." Balas Vicchy dengan tatapan datarnya.


"Jika begitu langsung saja. Ayo." Lanjut Ard mengajak Vicchy berangkat.


"Semoga berhasil memanjakanku." Balas Vicchy dengan guraunya.


Dengan mengendarai CyMotoBike Ard, mereka langsung berangkat menuju taman bermain, Wonderful Park Gal-1. Perjalanan berlangsung selama empat belas menit hingga mereka tiba di sana.


Ard yang lupa membeli Cyber Shape lebih, mengharuskan menaruhnya diparkiran. Setelah mereka mendapatkan tiket dan berjalan masuk, Ard dan Vicchy bersiap untuk menghabiskan waktu mereka menikmati segala wahana.


Ard mempersilahkan Vicchy untuk memilih sebagai permulaannya. Vicchy yang tampak prima, tak tanggung-tanggung untuk memilih beberapa.


"Aku akan memancing teriakanmu agar keluar dengan RollerCoaster ini." Ujar Vicchy menantang Ard.


"Kuno sekali. Apa hebatnya yang satu ini?" Tanya Ard dengan sinis.


"Kau sudah mengatakannya. Kau akan mati di tempat." Balas Vicchy menarik Ard dengan segera.


Vicchy mengajak Ard untuk menaiki Cyber Extreme JetCoaster yang diremehkannya. Sebuah wahana luncuran berbentuk jet berwarna perak mengkilap dengan corak kilat biru, memberi aura bahwa luncuran tersebut tidak bisa diremehkan oleh Ard.


Ketika mereka sudah menaikinya, menunggu beberapa saat untuk persiapannya.


"Kau tahu apa lagi yang spesial dari sobat kita ini? Hehe. Level 10. Kurasa kau tahu maksudku dengan kemampuannya yang kau remehkan itu. Semoga kau selamat." Ujar Vicchy mencoba menakuti Ard.


"Telan sendiri ocehanmu." Bantah Ard dengan senyum sinis.


Jetcoaster mulai berjalan perlahan menuju puncak sebagai awal peluncuran. Dalam hitungan detik, JetCoaster melesat dengan kecepatan yang tak wajar. Ekspresi Vicchy tampak menikmatinya, dibandingkan Ard karena merasa akan tekanan dibagian wajahnya dan mulai gemetar sembari mengeluarkan teriakannya.


Segala rintangan berputar, berbelok dan terjun tajam dirasakan oleh mereka. Seusai beberapa menit, mereka turun. Ard seketika langsung duduk pada bangku taman sembari memegangi wajahnya.


"Jadi... apa yang ingin kau katakan?" Tanya Vicchy memojokkan Ard.


"Wajahku terasa kaku seperti dijepit oleh angin, sialan." Bantah Ard dengan kesal.


"Hahahahaha! Bahkan pria sepertimu gagal menikmatinya." Lanjut Vicchy.


"Lupakan. Kita lanjutkan di sesuatu yang santai." Ujar Ard sembari merentangkan lengannya pada bahu bangku.


"Apa itu?" Tanya Vicchy sembari menyilangkan lengan.


Ard yang merasa lebih baik, mengajak Vicchy menuju suatu wahana keyakinannya. Sesampainya, Ard menunjuk tempat tersebut dengan ibu jari kanannya. Sebuah wahana Rumah Hantu Tahunan Terbaik Exgalya. Ard yang merasa yakin, menunjukkan senyum tipisnya.


"Rumah hantu kuno? Menyedihkan." Balas Vicchy dengan angkuhnya.


"Semakin kuno, semakin baik." Bisik Ard mempermainkan Vicchy.


Tanpa berpikir panjang, Ard mengajak Vicchy untuk masuk menikmatinya. Begitu mereka masuk kedalam, tampak gelap dan sunyi. Wahana tersebut sangat panjang dengan rutenya. Vicchy tampak waspada dan kaku sembari berjalan di belakang Ard.


Beberapa kejutan mulai menyambut Vicchy dan mulai menakutinya. Gimik dan wujud kuno benar-benar mempengaruhinya. Disaat kejutan ketiga tepat di depan wajahnya, Vicchy berteriak sembari terjongkok seketika sembari menutup matanya.


Hal tersebut belumlah selesai, lampu semakin gelap hingga Vicchy tak dapat melihat apapun.


Dikala Vicchy melihat kebelakang akan sesuatu yang menatapnya dari kejauhan, ia lanjut berjalan sembari memegang kecil belakang jas Ard, Ard tak mengucapkan kata apapun.


"Ini tak menakutkan. Ini tak ada apa-apanya." Gumam Vicchy dengan gemetar sembari memegangi jas Ard.


"Kapan ini berakhir?" Lanjut gumam Vicchy sembari menahan takutnya.


"Ard? Hei. Ard." Panggil Vicchy.


Dikala Ard dipanggil oleh Vicchy, Ard tak meresponnya. Vicchy yang semakin merasa takut menarik-narik baju Ard. Beberapa saat kemudian, Ard menoleh perlahan pada Vicchy. Vicchy yang melihatnya seketika terdiam kaku dan berlari meninggalkannya. Vicchy melihat bahwa itu bukanlah Ard, melainkan pegawai wahana. Sosok itu benar-benar menakutinya, dengan kualitas Make Up yang tak tanggung-tanggung menghancurkan keberanian Vicchy hingga membuatnya berlari dan tak menduga akan hilangnya Ard.


"Tuan, anda yakin ia tak apa?" Tanya petugas dalam wahana.


"Tak apa. Dia gadis pemberani." Balas Ard sembari meminum cokelat hangat.


"Yah... tapi... dia tampak sangat ketakutan." Balas petugas dengan canggungnya.


Vicchy berlari sejauh mungkin sembari menahan segala kejutan dan berhenti seketika sembari berjongkok. Vicchy mulai menangis kecil karena sudah tak kuat dengan wahana tersebut.


Ard usai mengerjainya dan mulai menjemput Vicchy. Ard pun merasa puas sekaligus bersalah padanya. Disaat Vicchy masih berjongkok sembari menangis, Ard yang menyentuhnya semakin menakuti Vicchy.


"Hei. Vicchy." Panggil Ard di sampingnya.


Vicchy yang mendengarnya, memberanikan diri untuk menengok. Ard berada di sampingnya sembari tersenyum seolah tanpa dosa. Dengan seketika, Vicchy memukul belakang leher Ard dengan kerasnya.


"Dasar bodoh! Beginikah caramu membalasku?!" Seru Vicchy dengan emosinya.


"Aduh ! Tidak. Hahahahaha. Aku hanya ingin kau menikmatinya." Balas Ard mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.


"Jahatnya. Lupakan. Aku tak bisa berdiri. Tenagaku habis." Bantah Vicchy sembari terduduk menahan tangisnya.


Ard yang mendengarnya tak berpikir panjang. Ia langsung menggendong Vicchy di belakang punggungnya. Vicchy yang mendapati bantuan Ard, merasa lebih lega. Ard mulai menggendong Vicchy keluar dan mencari tempat istirahat hingga dilihat oleh beberapa orang.


Beruntungnya, mereka menemukan kedai makanan cepat saji dengan singkat dan bergegas beristirahat memulihkan Vicchy.