
Ard mengecek pesan tersebut dan tampak bingung karena tidak jelas akan maksud dan pengirimnya.
"Ard. 071561-XM??" Gumam Ard dengan bingung.
Ard tak berpikir lebih lanjut untuk menghapus pesan tersebut sembari melupakannya.
Cuaca sejuk berangin dan terasa dingin, semakin menusuk ketika Ard sampai di Pelabuhan Transport Gal-Alya. Ard langsung mengangkuti kloter yang berlabuh dan segera mensortir. Disaat Ard sedang mengangkuti, Xion datang membantu.
"Yo! Kau sudah bertemu si mata empat?" Tanya Xion dengan guraunya.
"Belum. Bagaimana denganmu?" Tanya kembali Ard sembari berjalan.
"Dia menjadi orang luar biasa." Balas Xion melakukan absennya.
"Hooo~ kuharap dia bisa menyelesaikan tujuannya." Lanjut Ard mengangkuti barang.
"Sebelum itu, dia harus bertempur lebih dulu dengan si muka tegang itu." Sanggah Xion sembari mensortir bagiannya.
"Walaupun begitu, kemenangan dalam genggamannya." Ujar Ard sembari mencatat tipe barang.
"Mata empat memang yang terbaik." Balas Xion sembari pergi ke bagiannya.
Ard dan Xion berbincang dengan santai sembari mengangkuti barang. Segala obrolan diarahkan oleh mereka hingga Xion penasaran akan sesuatu yang mengganggunya.
"Akhir-akhir ini kurasa ada hal buruk terjadi padamu, Ard." Ujar Xion dengan cemas menunggu Ard di lantai bawah.
"Hal buruk? Apa yang kau maksud?" Tanya Ard kembali sembari menuruni tangga.
"Mengenai Karu, kau tak berpikir dia semakin menjauhimu?" Lanjut tanya Xion.
"Karu? Hahahahahaha! Hal itu tak perlu kau khawatirkan. Jika itu adalah dirinya aku tak akan heran." Lanjut Ard berjalan mendekati pembatas pelabuhan.
"Dia memang gadis pemalu. Namun kuyakini, jika hal yang disenanginya datang, dia menjadi sesuai harapanmu." Ujar Xion.
"Hal yang disenangi? Sayangnya hal dariku tak mempan terhadapnya. Mungkin karena usahaku begitu kurang." Balas Ard.
"Kau tak mengkhawatirkannya?" Tanya Xion dengan cemas.
"Tidak. Tak baik juga jika aku membayangkan hal negatif padanya." Balas Ard sembari memandang jauh.
"Jika dia sudah membencimu bisa lebih buruk, tahu?" Bantah Xion sembari melihat laut.
"Aku mengerti. Terima kasih. Yang penting adalah kau tetap menjaga Risu." Balas Ard sembari melempar batu ke laut.
"Mengenai hal itu masih baik untukku. Kuharap kau tak melakukan hal bodoh, Ard." Ujar Xion.
"Hahahahaha! Pasti." Balas Ard sembari kembali bekerja.
Di lain tempat, Miccha sedang mengetikkan tugasnya di Dermaga Axeru mendapat pesan dengan tiba-tiba pada CyPhonenya. Saat Miccha membacanya, ia terkejut sekaligus merasa senang akan pesan masuk dari Gant.
Gant memberitahu Miccha bahwa ia akan tiba di Kota Gal mengenakan CyBus Exgalya. Miccha pun tak pikir panjang dan menunda tugasnya sementara waktu. Miccha langsung pergi menemui Gant setelah ia sibuk di luar kota sekian lama.
Di Pemberhentian CyBus Kota Gal dekat Laut Kyzo, Gant menuruni CyBus dan melihat pemandangan di sekitar.
"Kota ini memang tak membuatku bosan. Kurasa mereka semua semakin berkembang." Gumam Gant sembari berjalan kecil dan melihat Laut Kyzo.
Dikala Gant melanjutkan langkahnya, Miccha tiba setelah mengenakan transportasi CyTaxi Gal-Alya. Miccha langsung berlari dan melesat memeluk Gant dengan semangat.
"Yo. Miccha." Sapa Gant sembari dikejutkan Miccha.
"Aku membutuhkanmu selama ini!" Seru Miccha akan rasa rindunya.
"Hahaha. Kau tumbuh dengan baik. Maaf untuk sebelumnya." Balas Gant sembari mengelus kepala Miccha.
"Aku tak tahu harus melepaskan apalagi. Yang terpenting kau kembali!" Balas Miccha sembari masih memeluk Gant.
"Aku mengerti. Jika kau luang, kita nikmati hari ini." Ujar Gant.
"Kau akan kesana lagi?" Tanya Miccha dengan nada kecewa sembari melepaskan pelukannya.
"Dalam 5 hari. Dan aku ingin menemui mereka." Balas Gant.
"Huumm~" Gumam Miccha dengan menggerutu beserta ekspresi cemberutnya.
"Ini. Nikmatilah." Ujar Gant sembari memberikan bungkusan besar.
"Gant?! Aku mencintaimu!" Balas Miccha sembari menerima bungkusan berisi makanan.
"Jika begitu, kita pergi?" Tanya Gant.
"Uhm! Ayo!" Balas Miccha sembari berjalan bersama Gant.
Di lain tempat, Risu berada di rumahnya bersama Karu dan Aziru sembari membahas hal yang baru terjadi saat ini.
"Mengenai kode aneh yang masuk pada ponselku. Sebenarnya apa ini?" Tanya Risu dengan heran sembari memakan kripik asinan.
"Dari yang kudengar, itu untuk ID baru penduduk Kota Exgalya." Balas Karu sembari mengetik tugas mingguannya.
"Ahh, begitu... kurasa masuk akal juga." Lanjut Risu dengan mengerti.
"Kota Exgalya semakin maju hingga mengantisipasi ID ini. Kurasa itu juga cara mencegah terorisme disini." Sanggah Aziru sembari mengetikkan tugasnya.
"Aku sulit membayangkan jika masih ada terorisme kuno di kota yang indah seperti ini." Lanjut Risu dengan heran.
"Kurasa hal yang wajar, Risu. Karena pada dasarnya ada sebagian manusia bergantung pada nafsunya yang tak terbatas. Orang semacam itu sulit mengendalikan diri mereka." Sanggah Karu.
"Waw, Karu. Teorimu terkadang bisa tajam juga." Balas Risu sembari terkejut.
"Eh? Aku hanya mengeluarkannya sepintas." Bantah Karu dengan malu.
Mereka yang tengah berbincang, Risu mendapati getaran dari ponselnya berupa panggilan masuk. Begitu dilihat, panggilan tersebut berasal dari Miccha. Risu pun langsung mengangkat panggilan tersebut dan memulai obrolannya.
"Miccha? Ada apa?" Tanya Risu.
"Risu! Bisa kau kemari? Gant datang!" Seru Miccha.
"Kak Gant?! Baik! Baik! Aku akan kesana!" Balas Risu.
"Yo~ Risu. Kau sehat? Bagaimana dengan yang lain?" Tanya Gant dalam panggilannya.
"Kak Gant kembali? Itu kabar baik." Ujar Karu.
"Jika begitu, bisa kau kemari? Lebih baik jika semakin ramai. Bagaimana dengan Ard dan yang lain? Lanjut Gant sembari bertanya.
"Karu, Aziru. Kau ingin ikut menemuinya?" Tanya Risu sembari menengok.
"Aku tak keberatan. Bagaimana, Kak Aziru?" Balas Karu kembali bertanya pada Aziru.
"Kurasa aku akan lewat. Aku memprioritaskan tugasku agar cepat selesai." Balas Aziru.
"Begitu, ya? Ah, Kak Gant maaf. Hanya aku dan Karu yang akan kesana. Sayangnya Ard dan Xion masih berada di Pelabuhan Gal-Alya." Balas Risu mengkonfirmasikan keadaannya.
"Baiklah, tak apa. Lain waktu kita bisa melakukannya lagi. Jika begitu kutunggu. Berhati-hatilah." Lanjut Gant sembari menutup panggilannya.
Risu dan Karu bergegas menuju tempat dan Gant berada. Disaat yang sama, Aziru berpamitan dengan mereka untuk fokus pada tugasnya. Karu dan Risu langsung menaiki CyTaxi Exgalya.
Sesampainya di sana, Risu dan Karu melihat sekeliling Dermaga Laut Kyzo. Begitu Risu melihat Gant dan Miccha, mereka langsung berlari mendekatinya.
"Yo. Risu, Karu. Kalian tampak sehat." Sapa Gant.
"Ini cukup mengejutkan. Akhirnya kau mampir, Kak Gant." Balas Risu.
"Itu karena aku khawatir dengan insiden tahun lalu." Lanjut Gant.
"Ah... ya. Hal itu kami pun tak menduganya." Ujar Risu dengan renungnya.
"Ah, maaf! Kurasa kalimatku tak tepat untuk suasanamu. Maaf, Risu." Balas Gant dengan canggung.
"Tidak... tak apa, Kak Gant. Bukan hal yang besar." Sanggah Risu memperbaiki keadaan.
Seketika, Gant menceritakan sedikit opini dan penemuannya mengenai insiden Summer Sparkle. Serpihan tersebut diyakininya ialah kejadian alamiah yang mungkin sudah mendiami Kota Exgalya.
Namun, ketika rekan Gant yang berada di Kota Gal melakukan pemeriksaan pada struktur Kota Gal, dia tidak mendapati energi apapun yang menyelimuti kota. Bahkan para ahli yang dimaksud Gant, tidak mendeteksi adanya elemen lain.
"Masuk akal. Namun, jika itu fenomena alam, bukankah akan ada jejak yang tersisa?" Tanya Miccha dengan argumennya.
"Seperti halnya hantu dengan gelombang elektromagnetik?" Sanggah Karu sembari meyakinkan opininya.
"Benar. Namun, jika hal tersebut terjadi secara ilmiah dan menggunakan sebuah gelombang. Maka gelombang apa yang di gunakan sebagai perantaranya? Itulah yang membingungkan." Lanjut Gant.
"Karena jika itu buatan manusia, maka apa yang diinginkannya dengan melenyapkan penduduk?" Tanya Risu dengan heran.
"Bahkan populasi Kota Exgalya signifikan. Tak ada yang aneh didalamnya." Lanjut Gant.
"Kota Exgalya sudah sempurna bagiku. Namun, menyeramkan jika terjadi seperti insiden seperti Summer Sparking." Ujar Miccha.
"Aku tak ingin ini terus terjadi di Kota Exgalya. Karena yang menjadi masalah adalah jiwa mereka." Ujar Karu dengan tertekan.
"Aku mengerti, Karu. Para ahli bahkan tak bisa mendapati libur saat ini. Kita hanya bisa berharap masalah ini tak terjadi lagi." Balas Gant sembari menenangkan Karu.
"Uhm. Terima kasih, Kak Gant." Lanjut Karu.
"Baiklah, kali ini biarkan aku menjamu kalian. Karena aku juga yang meminta kalian kemari." Ujar Gant sembari meringankan suasana.
"Hooo~ D-Cash mu sepertinya memuaskan, jika begitu buat kami kenyang, Kak Gant!" Seru Risu menggoda Gant.
"Tentu. Karu, ada yang kau mau?" Tanya Gant.
"Ah... tidak... tidak ada." Balas Karu dengan canggung.
"Hahahaha! Tak perlu sungkan. Katakanlah, aku tak keberatan." Ujar Gant dengan guraunya.
"Kak Gaaaaaant!" Seru Karu dengan kesal.
"Tak perlu khawatir, Karu." Lanjut Gant sembari mengulurkan tangan.
"Tak apa, Karu. Peraslah dia." Sanggah Miccha sembari mendekap lengan Gant dan tersenyum gurau.
"Jika begitu, bagaimana aku memberikan milikmu?" Balas Gant sembari memukul kecil kening Miccha.
"Jika kau memaksa... Terima kasih, Kak Gant." Ujar Karu sembari menjulurkan D-Cash nya.
"Tak masalah. Setelah ini aku ingin menemui mereka, bagaimana dengan kalian?" Balas tanya Gant sembari mentransfer nominal pada D-Cash Karu.
"Aku ikut. Risu?" Tanya Karu sembari menengok.
"Tentu. Sekaligus menemui Xion." Balas Risu.
Mereka yang usai berbincang panjang, melanjutkan aktifitas menemui Xion dan Ard. Setibanya di sana, mereka bertemu dengan Xion dan Ard.
"Xion! Ard!" Seru Gant sembari menghampiri mereka yang sedang menuju kapal.
"Gant?! Gant!" Seru Ard sembari berlari menyambut Gant.
"Hooo~ Gant, kah? Sekian lama. Bagaimana kabarmu?" Sapa Xion sembari bertanya.
"Terasa sibuk. Pangeran Mata Empat itu sudah semakin jauh, ya?" Tanya Gant mengenai Hiruma.
"Begitulah. Dia menjadi luar biasa sekarang. Tentunya juga denganmu yang semakin baik." Balas Xion sembari menepuk dada Gant.
"Yoooo~ Xion." Sapa Risu yang berdiri di belakang Gant.
"Tak kusangka kau kemari. Ingin berjalan-jalan sekitar?" Tanya Xion.
"Jika begitu kau akan dimarahi, tahu?" Bantah Risu sembari menyilangkan kedua lengan dan menatap kesal.
"Kuanggap kalian orang baru yang tersesat. Alibi yang bagus, bukan?" Balas Gurau Xion.
"Aku tak memintamu untuk menjadi pembohong." Bantah Risu sembari menarik telinga Xion.
"Adudududuh! Iya! Iya!" Balas Xion dengan pintanya.
"Jika begitu sebentar saja." Ujar Risu sembari menyetujui ajakan Xion.
Xion dan Risu berjalan-jalan sementara waktu. Sedangkan Miccha dan Gant melakukan perbincangan pribadi sembari menjauh dari Karu dan Ard. Ard dan Karu pun mengalami situasi yang canggung sembari Ard ajak Karu untuk meredakan canggungnya.