From Grey To Red

From Grey To Red
BAB 22 : Reset



Tuan Ryoga yang datang secara tiba-tiba, meminta akses jalan dan dibantu oleh Rhezu dan Rikka.


"Permisi." Ujar Tuan Ryoga sembari maju mendekat ke arah panggung.


"Tuan Ryoga? Kenapa dia kemari?" Gumam Hiruma dengan heran.


"Tuan Galya. Aku butuh penjelasanmu, di tempat lain." Lanjut Tuan Ryoga menatap tajam pada Dewan Galya.


"Baik, Tuan Ryoga." Balas Dewan Galya sembari mengajak Dewan yang lain kecuali Hiruma.


"Ada apa ini? Kau tahu sesuatu, Hiruma?" Gumam Ard sembari melihat Hiruma.


"Entahlah. Aku tak tahu urusan mereka." Balas Hiruma berbohong dan memalingkan wajahnya.


Tuan Ryoga, Rhezu dan Rikka beserta Dewan yang lain berkumpul di halaman belakang Gedung Balai Kota. Disaat bersamaan, Rhezu merasa khawatir pada Rikka yang sisinya berubah seakan terjadi lagi. Rikka ikut menatap tajam pada para Dewan yang terdiam kaku.


"Aaahh... Rikka mulai lagi. Kurasa aku tahu apa yang terjadi." Ujar Rhezu dalam hati.


"Tuan Ryoga. Maaf jika ini diluar kegiatan kita. Namun, ini adalah masalah internal dengan salah 1 warga kami." Ujar Dewan Galya membujuk Tuan Ryoga.


"Dan anda kurang terlihat jujur, Tuan Galya. Anda menghentikan alasan penyebabnya? Aku memiliki firasat buruk disini." Lanjut Tuan Ryoga memojokkan Dewan Galya.


"Maaf. Bukan maksudku seperti itu, Tuan Ryoga. Hanya saja, dia menyebabkan masalah utama dengan membocorkan rahasia militer paling utama ke muka publik. Dan kami menjadi sasaran kota lain, bahkan lebih luas lagi." Balas Dewan Galya.


"Bisa kuminta datanya? Aku ingin melihat-lihat lebih dulu." Lanjut pinta Tuan Ryoga.


Dewan Galya menyalin data Ard pada CyPhone Tuan Ryoga. Tuan Ryoga pun melihat dengan seksama bersama Rhezu dan Rikka. Tuan Ryoga yang melakukan ketukan pada Social State Ard merasa aneh bahwa tak ada rekaman Reset. Rikka yang melihatnya, kembali menatap tajam pada para Dewan.


"Tahan, Rikka. Seperti yang kuduga, tidak hanya lalai. Tidak hanya keluar dari jadwal. Namun juga ada hal yang tak dilakukan disini. Kenapa Ard disini tak memiliki rekaman Resetnya?" Tanya Tuan Ryoga menatap tajam seperti Rikka.


"Itu... karena kami tak memiliki waktu untuk merundingkannya. Semenjak kami mendapati respon dari segala penjuru, kami tak bisa mengurusnya." Balas Dewan Galya tertunduk.


"Tidak masuk akal, Tuan Galya. Anda terlalu terburu-buru dan tidak berpaku pada ketentuan yang berlaku. Bahkan pada aturan mutlak di setiap kota. Tidak memiliki waktu karena mengurusi respon luar? Dan ketika sudah selesai, anda membuang ajuan mereka? Inikah Tuan Galya yang kukenal?


" Maaf." Ujar Dewan 1 Galya.


"Terlebih, anda tidak tahu bagaimana sebenarnya hasil dari kebocoran CyDroid Guardian Type S ini secara keseluruhan." Lanjut Tuan Ryoga membekukan Dewan Galya dan Dewan yang lain.


"Kami mohon maaf sebesar-besarnya akan hal memalukan ini, Tuan Ryoga. Kami menyesal tak menerimanya dengan matang." Balas Dewan Galya membungkuk diikuti Dewan yang lain.


"Tuan Galya. Sudah cukup. Aku tak akan marah. Aku memahaminya jika anda sedang dalam tahap jenuh luar biasa menanggung ini semua. Begitu juga dengan kalian. Tapi, apapun yang terjadi, aturan tetaplah aturan. Kita tak boleh melalaikannya satupun, terlebih pada Exgalya yang luar biasa ini. Jika aku tidak datang, kurasa jiwanya akan pergi dengan kesalahpahaman yang tak terjawab. Kuyakin anda tak ingin itu terjadi, Tuan Galya." Ujar Tuan Ryoga membujuk Dewan Galya.


"Ya. Kami akan langsung membatalkan eksekusinya. Dan membuat kesempatan terakhir." Balas Dewan Galya.


"Tentu. Yang terbaik adalah mendo'akannya agar berhasil. Apakah dia salah satu orang baik?" Tanya Tuan Ryoga dengan senyum tipisnya.


"Kurasa lebih dari baik, Tuan Ryoga. Alasan dia melakukan hal ini adalah untuk melindungi Hiruma sebagai Walikota Exgalya. Hal itu terjadi ketika insiden terorisme yang mengancamnya, hingga dia melakukan hal ceroboh ini." Balas Dewan Galya dengan kejujurannya.


"Jika memang begitu, keberhasilanlah yang dia butuhkan. Pertaruhan yang luar biasa. Setelah melakukan hal itu, bahkan dia berani untuk tersenyum lebar. Terima kasih atas waktunya. Kita lanjutkan seusai ini, Tuan Galya. Permisi." Lanjut Tuan Ryoga menutup urusannya dan beranjak pergi.


"Tuan Galya. Bagaimana kita memperbaiki rasa malu ini?" Tanya Dewan 4 Erzoga.


"Cukup lakukan hal baik sebagai penghuni Exgalya. Mari berharap dia berhasil." Balas Dewan 1 Galya sembari mengajak mereka kembali panggung Gedung Balaikota.


Warga yang menunggu sedari tadi, melihat kehadiran Dewan-Dewan yang usai dengan urusannya. Mereka yang melihatnya, penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tanpa panjang lebar, Dewan 1 Galya mengumumkan hal baru.


"Baiklah. Akan kulangsungkan pengumuman mendadak ini dan pada intinya! Ard, Penghuni Alya, dibebaskan bersyarat dari eksekusi hari ini!" Seru Dewan 1 Galya.


Mereka yang mendengarnya terdiam kaku dan terkejut akan keputusan Dewan 1 Galya.


"Pihak Ard dan kawan-kawan! Dipersilahkan mengajukan Reset sebagai pembebasan bersyarat sesuai ketentuan yang berlaku! Kalian bersedia?" Lanjut Dewan 1 Galya sembari mempersilahkan Hiruma berbicara.


"Kami bersedia. Hiruma, sebagai penanggung jawab pihak Ard, menerima Reset sesuai ketentuan yang berlaku." Balas Hiruma sembari menerima mikrofon sebagai angkat suaranya.


"Baik. Sebagai yang bersangkutan, Ard. Anda bersedia Reset sesuai ajuan?" Tanya Dewan 1 Galya.


"Aku bersedia. Mohon Do'a dan dukungannya." Balas Ard sembari membungkuk hormat.


"Baik. Dengan ini dinyatakan, Ard dengan segera melakukan Social State Reset untuk Rank S nya kembali. Terima kasih." Ujar Dewan 1 Galya dan menutup kata nya.


Seusai Dewan 1 Galya mengkonfirmasi ajuan, banyak dari sorakan gembira datang dari bawah panggung. Terlebih kawan-kawan Ard merasa lega setelah menyaksikannya. Ard yang mendapati Resetnya, dibantu oleh CyDroid Guardian Type A dengan melepaskan borgolnya.


"Tuan Galya. Terima kasih banyak." Ujar Hiruma merasa lega.


"Hiruma. Aku mohon maaf atas hal memalukan ini. Lakukanlah yang terbaik untuknya, jika dia sangat berharga untukmu." Balas Dewan 1 Galya beranjak pergi bersama Dewan yang lain.


"Baik." Balas Hiruma dengan senyum tipis.


"Oi oi oi. Apa aku melihat senyum yang terukir di wajahmu tadi?" Tanya gurau Ard sembari menggandeng bahu Hiruma.


"Cukup untuk bercandanya. Lakukan yang terbaik, Ard." Balas Hiruma menyemangati Ard.


"Rooooger." Lanjut Ard menuruni panggung dengan Hiruma.


Warga telah membubarkan diri dan membuat kawanan Ard mendapati akses jalan sembari berlari mendekatinya. Ard yang melihat Xion berlari dengan kencang, mendapati pukulan pada perutnya hingga terjatuh seketika.


"Akhirnya... akhirnyaaaa, sialaaaan! Aku bisa memukulmu sepenuhnya. Tapi aku masih belum puas jika kau belum menyelesaikannya." Ujar Xion dengan lega dan membantu Ard berdiri.


"Akh... Hahahaha. Jika begitu, akan kuusahakan semaksimal mungkin. Terima kasih, untuk kalian semua." Ujar Ard menahan perutnya.


"Ard. Kurasa lebih baik kau beristirahat dengan nyenyak hari ini. Agar bisa memulainya esok hari. Ayo, akan kuantar." Ujar Hiruma memberi tumpangan pada Ard.


"Tentu. Xion, jika sudah selesai, kita kenyangkan perut di Kedai Paman Zecko!" Seru Ard berpisah dengan mereka.


"Tentu! Sialan. Kau benar-benar membuat panik kawananmu." Balas Xion sembari bergumam dan lanjut meninggalkan Balai Kota Exgalya.


"Jika dia berhasil, akan kukirimkan sepatu terbaru untuknya." Ujar Willy.


"Oi. Bagaimana dengan kita? Kau tak ingin memberi promo berupa potongan harga?" Sanggah Jay akan guraunya.


"Kau ingin kujadikan sepatu di Mesin Press, Jay ?" Balas tanya Willy dengan senyum tipisnya.


"Itu benar. Seharusnya kau memberikan diskon, terlebih untuk tarianku." Ujar Fhay menyindir Willy.


"Kalian berdua bahkan memiliki D-CASH tebal, namun meminta diskon padaku? Tak habis pikir." Bantah Willy sembari mengeluh.


Ard diantar Hiruma mengenakan CyLimo sembari berbincang di perjalanan.


"Aku sangat khawatir padanya, Ard. Kuharap tak ada hal buruk terjadi. Dia bahkan tak ada di Balai Kota." Ujar Hiruma perihal Vicchy.


"Benar. Dia gadis rapuh yang paling kukhawatirkan. Jika dia tahu dan terlalu cepat mengambil kesimpulan akan putus asanya, aku bisa membayangkan apa yang akan terjadi." Balas Ard menopang pelipis kirinya dan melihat pemandangan luar.


"Kau harus cepat memeriksanya. CyDroid, Boost." Balas Hiruma sembari memerintahkan CyDroid menambah kecepatan CyLimonya.


Seusai perjalanan singkat, Hiruma mengantarkan Ard pada apartemennya. Ard yang turun dari CyLimo langsung bergegas berpisah dengan Hiruma.


Ard langsung menuju kamar apartemennya dan merasa heran bahwa kamarnya terkunci dari dalam. Ard memiliki firasat buruk sembari mencoba mengetuk pintu dengan keras untuk memastikan sesuatu.


Vicchy yang berada di luar jendela kamar Ard, terdiam sesaat untuk memastikan pendengarannya. Pikiran Vicchy menjadi tak menentu karena berpikir bahwa dia berhalusinasi. Ard yang tak direspon Vicchy, menarik CyDroid Keeper untuk melakukan Hacking pada pintu kamarnya.


Ketika berhasil terbuka, Ard langsung menerobos masuk dan terkejut melihat Vicchy yang berada di tepi luar jendela dan berniat bunuh diri. Ard tak pikir panjang dan segera menarik Vicchy menjauh dari tepi jendela sembari mendekapnya menenangkan Vicchy.


Vicchy yang terdiam kaku, masih memasang ekspresi traumatik seakan tak percaya apa yang ia lihat dan ia rasakan. Vicchy mulai mengeluarkan air mata perlahan hingga berubah menjadi isak tangis yang keras.


Vicchy pun meluapkan emosinya dan membalas dekapannya dengan mengikat punggung Ard menggunakan kedua tangannya.


"Kau bahkan lebih berbahaya dibanding denganku, Vicchy. Aku mohon maaf atas segala yang terjadi. Serta ketidakpekaanku pada sekitar. Aku seakan lupa pada keberadaanmu yang terlalu kuanggap sepele." Ujar Ard menenangkan Vicchy.


"DASAR BODOH! KAU YANG TERBURUK! ARD SIALAN!" Seru Vicchy meluapkan emosi dengan tangisnya.


"Aku tahu. Tapi, ini belum seluruhnya. Seusai satu ini, katakan yang kau inginkan." Lanjut Ard mendekap erat kepala Vicchy.


"KAU HARUS TAHU APA YANG KURASAKAN JIKA ITU TERJADI, SIALAN! BERHENTI MELAKUKAN HAL BODOH DAN CUKUP HIDUP DENGAN NORMAL!" Seru Vicchy sembari mencengkeram punggung Ard.


"Hahahaha. Maaf." Ujar Ard sembari bergurau.


"Setidaknya keluarkan ego-mu sesekali. Kau manusia. Kau adalah manusia!" Seru Vicchy sembari memukul punggung Ard.


"Tentu. Aku tak akan melakukannya lagi. Aku janji. Jika sudah seluruhnya, tidurlah untuk saat ini." Balas Ard mengelus perlahan kepala Vicchy.


"Baik. Lakukan hal yang sama denganku, jika kau akan melakukannya esok hari. Dan pastikan kau berhasil, Ard." Lanjut Vicchy dengan gemetar dan tertidur seketika.


"Baik. Selamat malam." Gumam Ard dengan senyum tipisnya.


Sesudahnya, Ard menggendong Vicchy ke kasur dan menuruti kemauan Vicchy dengan tidur bersama seperti sebelumnya. Di lain tempat, Risu kembali mendatangi Rumah Karu. Ketika ia menekan bel rumahnya, Risu menunggu respon Karu untuk membuka pintu.


Karu yang tertidur di kamarnya, terbangun perlahan dengan ekspresi datar. Karu yang melihat dari dalam kamar akan kehadiran seseorang, menyadari kedatangan Risu. Dengan seketika, Karu memberi akses masuk untuk Risu. Risu yang berada di depan Karu, berlari dan memeluk Karu.


"R-Risu? Ada apa?!" Tanya Karu dengan heran.


"Hehehehe. Maaf, Karu. Aku hanya merasa senang akan kabar baik hari ini. Ard tak jadi dieksekusi." Balas Risu dengan senyum lebarnya.


"Begitu... kah?" Gumam Karu.


"Hei, Karu." Ujar Risu.


"Hmm?" Gumam Karu.


"Kau masih ingin membencinya? Katakan padaku, apa yang sebenarnya kau inginkan dari yang terdalam saat ini?" Tanya Risu membujuk Karu.


"Risu. Sebenarnya, aku tak tahu apa yang kurasakan. Lebih seperti, aku ingin menolak keberadaan Ard, sekalipun dia tidak bersalah. Apakah ada sesuatu yang salah dalam diriku? Seperti setan atau semacamnya?" Tanya Karu sembari mengeluarkan air mata kecilnya.


"K-Karu?! Hei, ada apa? Heeeei~ jangan menangis!" Pinta Risu dengan panik.


"Hahahaha. Entahlah, Risu. Kurasa ada yang salah dalam diriku. Bahkan aku tak tahu kenapa aku menangis dengan tiba-tiba. Aku seperti merasakan pukulan dari dalam dengan keras. Aku..." Lanjut Karu sembari mengusap air matanya.


"Karu..." Gumam Risu.


"Ingin meminta maaf padanya." Ujar Karu terduduk lemas sembari menutup wajah dan melanjutkan tangisnya dengan keras.


"Karu! Hei! Sudah! Tak apa! Karu!" Seru Risu menenangkan dan memeluk Karu.


"Setan apa yang mengendalikanku selama ini? Alasan logis apa yang kumiliki untuk membencinya? Tak ada, bukan?!" Ujar Karu dalam hati dengan tangisnya yang mendalam.


"Ard. Jika kau melihat ini, dia akan berteriak tepat di telingamu. Aku bersyukur jika ini berakhir. Kita selangkah lebih dekat dengan yang kumaksud, Karu." Ujar Risu dalam hati sembari memeluk Karu.


Hari cerah, berganti malam yang sejuk dan waktu menunjukkan pukul delapan malam. Ard masih melanjutkan tidurnya dengan Vicchy. Vicchy yang melakukan gerakan kecil, terbangun dan melihat Ard dari dekat wajahnya.


"Haruskah aku mengatakannya saat ia selesai? Keberanianku sangat mengecewakan walaupun berhadapan dengan orang bodoh ini. Bahkan hanya dengan wajah bodohnya, keberanianku justru turun drastis. Ilmu hitam apa yang kau miliki, Ard?" Gumam Vicchy dalam hati sembari tersenyum tipis.


Disaat Vicchy bergumam, Ard perlahan membuka matanya dan membuat Vicchy pura-pura tertidur. Ketika Ard ingin bangun dari posisi tidurnya, Vicchy menahan tangan kanan Ard.


"Ada apa dengan senyum bodoh itu? Oi. Lepaskan, sialan." Pinta Ard dengan kesal.


"Tak mau. Kembali tidur. Aku tak mengizinkanmu kemana-mana." Balas Vicchy menahan tangan Ard dengan erat.


"Aku tahu kau merindukanku, tapi aku ingin buang air!" Lanjut Ard dengan kesal.


"Gunakan popok." Ujar Vicchy mempermainkan Ard.


"Sialan. Jangan sampai ku kunci kau di kamar mandi tanpa sehelai benangpun dengan Shower yang menyala." Ujar Ard menahan kesalnya.


"Orang bodoh sepertimu tak akan memiliki keberanian, jadi kembalilah tidur." Balas Vicchy mempermainkan Ard.


"Hoo?" Gumam Ard dengan tatapan kesalnya.


Tanpa pikir panjang, Ard mengangkat Vicchy di bahu kanan dengan selimut yang terbawa. Vicchy yang terkejut, panik dengan apa yang ingin dilakukan Ard. Ard yang berada di depan kamar mandi, memasukkan Vicchy dan menarik selimutnya sembari mengunci kamar mandi dan menyalakan Shower yang dingin.


"Ard! Ard! Buka! Oi!" Seru Vicchy mengetuk pintu dengan keras.


"Kau menyerah?" Balas tanya Ard sembari menyilangkan kedua lengannya.


"Aku menyerah! Aku menyerah!" Seru Vicchy.


Ard yang mendengarnya mematikan Shower dan membuka pintu kamar mandi dan melempar selimutnya pada Vicchy yang terlihat basah. Vicchy yang tak pikir panjang, berjalan dan duduk dipinggiran kasur sembari menutup diri dengan selimut.


"Setidaknya keringkan dulu dengan handuk, sialan. Kasurku jadi basah!" Seru Ard dengan kesalnya.


"Tak mau. Handukmu bau pria tua." Balas Vicchy dengan cemberutnya.


"Hoo?" Gumam Ard sembari berjalan mendekati Vicchy.


"Aku menyerah! Aku menyerah--" Seru Vicchy sembari melepas selimut dan tersadar akan tubuhnya.


"..." Gumam Ard dengan heran.


"KYAAAAAA !!!" Seru Vicchy sembari mengambil selimutnya kembali.


"Keras kepala." Balas Ard kembali ke kamar mandi dan melanjutkan buang airnya.


"Ard sialan! Kau melihatnya!" Seru Vicchy menahan malunya.


"Berisik! Aku tak tertarik! Kembali tidur !" Balas seru Ard dari dalam kamar mandi.


Seusai pertikaian dengan Ard, malam berlalu dan berganti fajar yang hangat.


"Pastikan kau menyelesaikannya, mengerti? Jangan membuang waktumu. Aku akan mendukungmu dengan maksimal." Ujar Vicchy dari dalam kamar Ard.


"Tentu. Jangan lakukan hal konyol, mengerti? Cukup lakukan dengan Do'a mu. Jika begitu, aku berangkat. Reset, Aku datang!" Balas Ard sembari menyerukan misinya dan melesat keluar apartemen dengan CyHover.


"Semoga berhasil. Ard." Gumam Vicchy dengan senyum tipisnya.


Ard yang memulai Resetnya, tak bisa membuang waktu selama satu bulan kedepan. Vicchy yang dilanda keraguan, mencoba mengumpulkan keberanian pada Ard. Mereka yang mengetahui situasi Ard, mencoba mendukung sepenuhnya.