
Keinginan Hiruma untuk meminimalisir hal yang diragukannya, ia kembali melanjutkan pencarian Summer Sparking. Di lain tempat, Vargotora Nuke Corporation, Kota Vargotora tempat Gant bekerja. Gant berbincang dan mendapatkan beberapa hal dari rekan kerjanya, Delta.
"Mengenai yang kau minta, entah ini sebuah keberuntungan atau bukan, aku mendapatkannya. Kuharap ini membantumu." Ujar Delta sembari menyerahkan dokumen rahasia.
"Sesuai ekspektasiku. Aku bersyukur masih ada jejak yang tersisa. Aku hanya berpikir bahwa hal semacam ini telah hilang seluruhnya." Balas Gant melihat isi dokumen.
"Begitukah? Aku lega. Jika begitu, kalian selangkah lebih dekat, Gant. Dan, kau harus ingat untuk tidak lengah, bahwa ini adalah data lama. Kau mungkin melihat jejak ayam, tapi bisa saja yang kau temukan adalah serigala." Lanjut Delta akan kekhawatirannya.
"Kau benar. Terlebih, ini dimulai 300 Tahun lalu. Tapi, aku lebih suka jika mencoba seluruhnya hingga ke akar. Jika data ini masih bisa didapatkan, masih ada 1% kebodohan dari kejeniusannya." Ujar Gant dengan keyakinannya.
"Berjuanglah. Aku yakin kalian akan menemukannya. Entah makhluk apapun itu. Jika kau sudah selesai, aku akan melanjutkan tugasku. Cukup traktir aku makan malam, See Ya." Lanjut Delta berpisah dengan Gant.
"Tentu. Terima kasih banyak. Hiruma, kita akan menyelesaikan ini secepat mungkin." Balas Gant sembari bergumam akan tekadnya.
Hari menjelang sore hari yang hangat. Xion dan Paman Zaunt usai menemui Ard cukup lama. Xion dan Paman Zaunt berniat kembali ke Pelabuhan Gal-Alya menggunakan CyMotoBike Xion. Di perjalanan, Xion memulai kembali keresahannya.
"Hei, Paman Zaunt." Ujar Xion memanggilnya.
"Hmm?" Gumam Paman Zaunt merespon.
"Setelah apa yang terjadi, masih mungkinkah dia kembali?" Tanya Xion.
"Untuk hal itu, aku tak bisa menjaminnya, Xion. Kita hanyalah penghuni, bukan pemilik. Exgalya memanglah lembut, tapi tetap keras di dalamnya." Ujar Paman Zaunt sembari melihat sekitar kota.
"Niatku untuk menghukumnya dari jauh-jauh hari, didahului oleh hal diluar nalar." Sanggah Xion sembari mengerutkan dahi.
"Jika yang kita duga bahwa itu tidaklah bisa untuk kembali, maka kita hanya bisa berpikir bahwa ada alasan terbaik dari hal ini, Xion." Balas Paman Zaunt meyakinkan Xion.
"Jadi, kita hanya harus menerima kenyataan jika terjadi, kah? Mengecewakan untukku karena tak bisa semudah itu." Ujar Xion akan keresahannya.
"Hal yang sama selalu terjadi selama waktu terus berlalu. Mengabaikan 1001 kebaikan, tapi melihat 1 keburukan. Anak itu benar-benar dikutuk." Lanjut Paman Zaunt.
Waktu terus berlalu sembari mereka memperjuangkan hari-hari yang berharga setiap detiknya. Hingga waktu telah tiba, satu hari sebelum penghakiman Ard dari penahanannya. Keadaan pun memanas ketika Hiruma beserta Miccha, Willy dan Xion berada di ruangan Petinggi Exgalya akan keputusannya.
"Maksud anda... sama sekali tak ada harapan akan kehidupannya? Setidaknya berikanlah celah untuk satu ini!" Bantah Hiruma pada Dewan 3 Urtora.
"Hiruma! Sudah cukup! Jika sahabatmu sudah melakukannya, maka itu adalah konsekuensinya. Mereka bahkan sudah disini untuk melihat lebih jelas isi dari Exgalya. Ini bukan perihal perasaan dari keputusan yang sudah diambil sebaik mungkin. Hukum tetap berjalan, Hiruma." Bantah Dewan 3 Urtora.
"Hiruma. Kita sudah cukup jauh. Api dan api tak akan membuatnya menjadi es, karena memang berbeda elemen. Jika itu yang mereka maksud, ayo." Sanggah Xion mendinginkan keadaan dan mengajak mereka kembali dengan tangan kosong.
Hiruma yang mencoba merelakannya, tetap merasakan berat mendalam. Cuaca kembali ditutup awan gelap dan hujan siap turun kapanpun hingga membuat suasana mengiringi mereka.
Mereka yang menunda langkah untuk pulang, memilih memijakan kaki di atap Twin Tower Exgalya. Keputusan mengerikan telah didengar oleh mereka, bahwa Ard akan dihukum mati dan menyebabkan Exgalya dalam target kota lain.
"Berpisah dengan anak laut itu? Keparat. Bahkan kita belum mampir kembali ke Kedai Paman Zecko. Ini adalah hal tergila yang pernah terjadi dalam sejarah semenjak aku dilahirkan." Ujar Xion memandangi langit.
"Bagaimana dengan Karu? Dia tak menggubrisnya?" Tanya Hiruma tak menoleh.
"Lupakan, Hiruma. Tak ada kerenggangan dari Karu untuknya. Anak itu benar-benar sudah dikutuk. Sebagai sahabatnya pun, aku gagal mencairkannya. Karu terlalu sulit untukku." Sanggah Risu yang terduduk lemas dan memeluk kedua kakinya.
"Aku tak begitu tahu akan keadaan dari Ard dan Karu. Tapi, yang kutahu adalah Ard tidak mungkin melakukan hal gila terhadap Karu hingga dia membencinya sejauh itu. Bahkan untuk orang seperti Ard, dia adalah orang bodoh tanpa beban yang seringkali berniat memberikan segala hal untuk Karu." Ujar Willy sembari bersandar dan menyilangkan kedua lengannya.
"Memang benar. Karu hanya tak menerima Ard karena dia bukan yang Karu inginkan. Sebaik apapun orang itu, seperti halnya bumi dengan lubang hitam. Untuk mendekatinya butuh jutaan tahun cahaya. Dan ketika kau sampai, kemungkinan mati sangat tinggi." Lanjut Risu sembari menampakan sedikit wajahnya.
"Padahal kita sudah mendapat langkah yang lebih dekat. Tapi, justru seperti ini yang terjadi? Kita tak bisa menyalahkan siapapun akan hal ini." Gumam Miccha akan kekhawatirannya yang mendalam.
Di lain tempat, Prime Road Exgalya. Seorang gadis dari kota seberang datang berkunjung sebagai Client yang berurusan dengan Kota Exgalya. Dengan mengendarai CyLimo, dia ditemani kakak laki-lakinya sembari berbincang di perjalanan.
"Kota yang hebat. Kurasa aku jatuh cinta dengan kota ini, Kak Rhezu." Ujar adik perempuan sembari melihat pemandangan Kota Exgalya.
"Begitu, kah? Kuharap kau bisa menemukan pendampingmu disini, Rikka. Pencarianmu sudah sangat banyak, tahu?" Balas Rhezu akan keluhannya.
"Hoooiiii~ standarku tak setinggi itu. Kau jahat, Kak Rhezu." Bantah Rikka sembari menyilangkan kedua lengannya.
"Hahahaha. Maaf. Habisnya, pilihanmu itu mungkin hanya dimiliki 1 atau 2 orang saja, Rikka. Tapi, kuyakin kau akan menemukannya disini." Lanjut Rhezu akan guraunya.
"Kuharap. Ah, sudah sampai. Hotel yang indah." Ujar Rikka di depan Luxury Exgalya Hotel.
"Rikka. Biar aku yang membawakannya, pasti berat untukmu." Ujar Rhezu menarik koper dari Rikka.
"Apa yang kau bicarakan? Aku bukan gadis manja. Terima kasih untuk simpatimu, Kak. Sudahlah, ayo." Bantah Rikka sembari mengambil kembali kopernya dan beranjak ke bagian administrasi.
"Dasar. Yah, kurasa aku terlalu terbawa suasana." Gumam Rhezu sembari ikut berjalan.
Mereka yang sudah mengurusi administrasi di hotel, bergegas menuju kamar. Kamar yang tampak besar, dinikmati oleh mereka. Dengan ruangan berwarna putih dan berbagai fasilitasnya, Rikka membuka tirai dari jendela yang menampilkan pemandangan indah sekitar Exgalya.
"Luar biasa! Aku tak bisa meremehkan kota ini. Aaaah~ aku ingin berkeliling dengan seseorang yang kuidamkan untuk ini." Ujar Rikka dengan kagum.
"Aku mengerti. Tapi, kita belum punya waktu untuk hal itu, Rikka. Ayah akan tiba besok ketika kita sudah mengetahui situasinya." Balas Rhezu sembari ikut melihat pemandangan.
"Huh? Hujan? Jika begitu kita terjebak disini." Gumam Rikka dengan lesu.
"Sayang sekali. Aku pun sebenarnya penasaran untuk berkeliling. Hei, tunggu, Rikka." Ujar Rhezu mengingat sesuatu.
"Hmm? Apa itu?" Tanya Rikka sembari menengok.
"Kita bisa mengenakan mobil dan payung. Bagaimana?" Lanjut Rhezu akan pendapatnya dengan percaya diri.
"Hah? Kak Rhezu bukan orang bodoh, jadi kuyakin tak akan kebal dengan demam. Jadi lupakan." Balas Rikka dengan ucapan pedasnya.
Kembali pada Twin Tower Exgalya. Para Petinggi Exgalya berkumpul akan klimaks yang sedang terjadi.
"Mereka sudah sampai di Exgalya. Bagaimana menanggapi ini? Hanya dia yang sulit kurenggangkan." Ujar Dewan 4 Erzoga.
"Lebih baik kita ikuti lebih dulu kemauannya. Jika melakukan bantahan, segala curiga akan ada pada Exgalya dan tak ada celah untuk kita menutupinya. Keputusannya sangat berpengaruh untuk kelangsungan Exgalya." Ujar Dewan 1 Galya.
"Anda yakin semudah itu, Tuan Galya? Menurutku, kita harus lebih matang untuk menghindarinya. Seperti contohnya membuat dia menjauh akan resiko dari milik kita ini." Bantah Dewan 2 Zyroxa.
"Tidak. Dia akan menyadarinya. Kita tak bisa semudah itu mengelabuhi dia. Bahkan kita akan terlihat kotor jika kita mengulur-ulur waktu. Tuan Ryoga bukanlah orang bodoh. Kau akan dalam bahaya jika salah dalam 1 kalimat." Lanjut Dewan 1 Galya.
"Begitu. Tak ada pilihan lain. Kita berikan yang terbaik untuknya, agar kita bisa lihat seberapa baik yang kita dapat." Ujar Dewan 5 Syxera.
"Tentu. Jika begitu, aku akan kembali ke Pangkalan Udara. Katakanlah yang perlu kubantu jika saatnya tiba, terima kasih." Ujar Dewan 6 Artora sembari beranjak pergi lebih dulu.
Seusai segala pembahasan, para Petinggi Exgalya membubarkan diri dan kembali ke urusannya masing-masing. Kawanan Hiruma, berniat menemui Ard untuk terakhir kali. Sesampainya di Penjara Kepolisian Exgalya, mereka melihat bersama-sama keadaan Ard di depan mereka. Ard tampak santai dan duduk bersandar sembari membaca novel dengan senyum tipisnya.
"Ard. Hei, kawan." Ujar Xion memanggil Ard.
"Yo, Xion. Dan kalian disini. Ada apa?" Balas tanya Ard menenangkan Xion.
"Sialan. Setidaknya tunjukkan air matamu sekali saja! Bukan dengan senyum bodohmu ini !" Lanjut Xion menahan emosi.
"Ard. Aku mohon maaf, tak bisa membawa Karu kemari. Aku gagal melunakkannya." Ujar Risu menahan tangisnya.
"Oi oi oi. Hahahahaha. Risu, kau tak perlu sejauh itu memaksanya. Itu adalah hak Karu untuk datang atau tidak. Yang terpenting adalah kalian menjaga kesehatan masing-masing dan tidak terlarut terlalu lama dengan kesedihan." Lanjut Ard berganti pada Risu.
"Ard. Kau sama sekali tak memahami kami? Yang dikatakan Xion adalah kebenaran. Itu salah satu yang kuharapkan agar kau bisa berhenti keras kepala sejenak. Kami tak bisa semudah itu tersenyum disegala situasi, Ard. Kami semua masih bisa merasakan rasa sakit. Maka dari itu, kami sulit paham denganmu yang berbeda dengan kami." Ujar Miccha untuk meluruskan Ard.
"Miccha. Terima kasih. Aku memahaminya. Tapi, inilah yang kubisa. Memang menyakitkan jika berpisah dan kalian sudah melakukan hal yang sangat jauh untukku." Ujar Ard.
"Kami senang melakukannya, karena itu sudah seharusnya, Ard." Sanggah Jay membujuk Ard.
"Hutangku sudah terlalu banyak. Dan ketika itu tidak berhasil, inilah yang bisa kulakukan jika memang sudah takdirnya. Dan pada akhirnya, aku meninggalkan permintaanku pada Hiruma untuk tragedi itu." Lanjut Ard sembari melirik Hiruma.
"Kau berlebihan jika mengatakan hal itu adalah hutang, Ard. Kau sudah melakukan hal luar biasa, tapi aku menyayangkan jika itu adalah kebodohanmu." Sanggah Willy sembari bersandar.
"Hutang adalah hutang, Willy. Katakan padaku, bagaimana aku untuk membayarnya? Mustahil, bukan?" Balas Ard sembari bertanya akan kebimbangannya.
"Ard. Lihat aku. Lihat aku!" Ujar Vicchy akan emosinya.
"Vicchy. Maaf, aku menunjukkan penampilan yang buruk ini untukmu." Balas Ard dengan senyum tipisnya.
"Sialan! Jangan tunjukkan senyum itu padaku! Aku membencimu! Kau tak pantas dimaafkan! Dengan mudahnya kau meninggalkanku disini dengan wajah bodohmu itu?! Sialan! Ard bodoh!" Seru Vicchy sembari berlari keluar menahan air matanya.
"Kau memang tak memahaminya, Ard. Aku kecewa padamu. Ayo." Ujar Miccha dengan kecewanya sembari mengajak Xion dan Risu.
Willy, Gant dan Jay yang tak mampu mengeluarkan kalimat, hanya memilih mengikuti Miccha. Sedangkan Hiruma masih menemani Ard dengan keheningannya. Hingga beberapa saat kemudian, Hiruma mengeluarkan kalimat pada Ard.
"Hei, Ard. Jika keajaiban memukulmu dari atas langit, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Hiruma bersandar pada jeruji sembari membelakangi Ard.
"3 hal. Aku akan memeluknya dengan senang hati dan memulai segalanya dari nol. Sisanya, yang ingin mereka lakukan padaku." Balas Ard akan keyakinannya.
"Begitu. Maka, yang tersisa hanyalah doa. Pertaruhan terakhir, Ard." Lanjut Hiruma mengakhiri perbincangan dan beranjak pergi.
"Dasar. Aku sedang malas meladeni perjudianmu, Hiruma. Jaga mereka untukku. Itupun jika kau berkenan." Gumam Ard dengan senyum tipisnya.
Rikka dan Rhezu yang berada di Luxury Exgalya Hotel, mendapat panggilan pada CyPhonenya. Rhezu yang sedang menunggu Rikka mandi, mengangkat panggilannya.
"Ayah? Ada apa?" Tanya Rhezu.
"Rhezu. Jika kalian senggang, bisa secepatnya periksa mereka lebih dulu? Ini sore yang bagus." Balas Ayah Ryoga.
"Tentu. Kuharap tak ada hal di luar jadwal. Kami di Luxury Exgalya Hotel." Lanjut Rhezu mengkonfirmasi.
"Begitu. Terima kasih, Rhezu. Kuharap sekaligus menemukannya untuk Rikka." Balas Ayah Ryoga sembari menutup panggilan.
"Rikkaaaaaa~ kita akan jalan sore ini!" Seru Rhezu dari luar kamar mandi.
"Heeee?! Duh, lagi-lagi ayah tidak sabaran." Keluh Rikka sembari membasuh rambutnya.
Seusai mempersiapkan diri, Rhezu dan Rikka memulai perjalanannya menemui Dewan 1 Galya. Sesampainya di sana, Rhezu dan Rikka menjemput Dewan 1 Galya untuk segera menuju Server CyDroid Exgalya.
Mereka pun berbincang akan kepastian urusan mereka. Sore semakin berlalu hingga berganti larut malam, membuat mereka sulit tidur akan esok yang meneror mereka. Hari Penghakiman telah tiba sebagai eksekusi Ard. Ard dibawa oleh 2 buah CyDroid Guardian Type A yang mengawalnya.
Hari tersebut menjadi hari terakhir untuk Ard menghirup udara segar di Exgalya. Dalam perjalanan Ayah Ryoga, Rhezu dan Rikka, mereka tertuju pada warga yang mengarah pada arah yang sama dan tampak tergesa-gesa. Ayah Ryoga merasa ada yang tak beres.
Dengan segera, ia memerintahkan supir mengikuti arah warga yang membuatnya merasa janggal. Ard diantarkan oleh CyDroid Guardian Type A dan telah sampai di atas panggung Balai Kota Exgalya. Warga di sekitar, berbondong-bondong merapat dan tertuju melihat Ard ditunjukkan ke muka publik.
Sahabat-sahabatnya yang berada di tempat kejadian, menahan emosi karena tak dapat berbuat apapun. Seluruh Petinggi Exgalya berada di dekat Ard. Dengan Hiruma yang ikut mewakili untuk penghakiman Ard, hanya bisa memalingkan wajah dengan ekspresi negatif.
Laser Glaive pada tombak CyDroid Guardian telah dinyalakan dan bersiap akan eksekusinya. Dewan 1 Galya menuturkan sepatah dua kata sebagai kelangsungan upacara eksekusi dan membuat keadaan semakin tegang.
Disaat upacara dari Dewan 1 Galya telah usai, Laser Glaive dipersiapkan untuk menghunus Ard. Ketika akan diayunkan, Ryoga, Ayah Rhezu dan Rikka tiba ditempat kejadian.
"Berhenti!" Seru Ayah Ryoga.
Mereka yang mendengar suara lantang tersebut, berbalik dan seketika menghentikan ayunan Laser Glaive CyDroid Guardian Type A. Petinggi Exgalya ikut terkejut akan kedatangan Client mereka, begitupun Ryoga, Rhezu dan Rikka yang tak menyangka bahwa terdapat hal di luar jadwal mereka.