From Grey To Red

From Grey To Red
BAB 24 : Aku pulang



Dua hari sebelum satu bulan berakhir akan Reset Ard, ia terus berkeliling tanpa henti. Siang yang sejuk, Ard melihat seorang wanita dewasa menyebarkan brosur berupa orang hilang. Ard yang melihatnya, tak berani bertanya karena tahu situasinya. Tanpa pikir panjang, Ard melakukan misi dengan tenaga ekstra. Ard mulai berkeliling dengan cepat dan berharap menemukan orang hilang tersebut. Exgalya yang begitu luas, membuat Ard kesulitan untuk menjamah ke tempat detil. Hari yang cukup buruk menyapa Ard hingga hari telah gelap. Ia tak menemukan sesuatu untuk misinya, bahkan orang hilang yang dicari Ard. Untuk mencapai Reset, Ard membutuhkan dua lagi sebelum waktu berakhir. Ard tak menyangka bahwa dua hal yang dicarinya, bahkan tak ditemukan.


"Kurasa Exgalya terlalu polos untuk mendapati sebuah musibah. Aku merasa bersyukur berada didalamnya. Namun, aku tetap belum bisa tenang akan hal yang menggangguku ini. Hal yang sederhana, tapi tak bisa kuremehkan." Gumam Ard dalam hati dengan cemasnya.


Malam yang datang, semakin membuatnya cemas. Ard pulang ke apartemen dan memasuki kamar sembari beristirahat. Vicchy yang berada di dalam, langsung menyambutnya. Pada saat itu, Vicchy merasakan sesuatu yang meresahkan hatinya.


"Ard. Terjadi sesuatu?" Tanya Vicchy sembari berada di atas Ard dengan bertongkat lengan.


"Maaf, Vicchy. Aku ingin beristirahat. Kau juga beristirahatlah." Balas Ard dengan nada rendahnya.


"Aku tak bisa berdiam diri bahkan hanya dengan melihatmu seperti ini. Berhentilah menjadi pembohong yang seringkali kupukuli." Lanjut Vicchy mengganti posisinya sembari duduk memeluk kedua kakinya di sebelah Ard.


"Maaf. Hari ini saja, kumohon." Bantah Ard sembari melanjutkan tidurnya lebih awal.


"Jika kau keras kepala, maka aku akan melakukan hal yang sama. Besok adalah hari terakhir. Sudah berapa banyak yang kau dapatkan? Kumohon, jangan gagal." Pinta Vicchy dalam hati.


Malam panjang telah dimulai. Vicchy yang tertidur, membuat Ard terbangun dan mencoba meringankan kepalanya dari dengingan. Ard yang merasa lebih baik, memilih melanjutkan misi di gelap malam. Dingin yang menusuk, ditembus oleh Ard dan diacuhkannya. Waktu Ard, sudah tak bersisa. Ia memilih bergegas sembari melakukan Boost ke berbagai penjuru. Waktu menunjukkan sebelas malam dan digunakan oleh Ard dengan nekat. Ia pun melanjutkan ke daerah yang belum dijamah olehnya. Hingga dua jam berlalu, tubuh Ard terasa lemas karena tertusuk dinginnya angin malam. Ard yang hampir tumbang, menguatkan diri menopang tubuhnya dengan bertongkat lutut. Ketika berada di luar Terowongan Pantai Exgalya, Ard mengatur nafas dan melihat sekitar. Pandangannya tertuju pada sosok yang berada di pasir pantai seorang diri. Sosok tersebut terlihat bertubuh pendek dan sedikit membungkuk. Dengan berjalan sangat pelan, ia mengarahkan diri ke air laut. Ard yang berasumsi akan niat negatif dari sosok tersebut, melakukan Boost dengan segera dan menahannya.


"Tahan! Tahan! Eh?! Nenek-nenek?!" Seru Ard menahan nenek dan memindahkannya ke tepi pantai sembari bergumam dalam hati.


"Lepaskan! Kau mengganggu! Kukira aku bisa melakukannya dengan tenang kali ini." Seru nenek sembari memukul Ard dengan tongkatnya.


"Kumohon tahan dulu! Nenek, tunggu disini. Aku segera kembali." Pinta Ard dengan lembut membujuk nenek tersebut dan menjauh sementara waktu.


"Siapa orang itu?! Dasar pengganggu. Sialan." Gumam nenek sembari memalingkan wajahnya.


Kedai Daging Gal 1 yang buka tengah malam, dikunjungi oleh Ard dan memesan sepaket daging sapi hangat. Ketika usai dengan urusannya, ia kembali menemui nenek dan berharap tak ada hal buruk selama ia pergi. Saat Ard kembali ke Pantai Exgalya, ia melihat nenek tersebut melanjutkan mengarah kembali ke air laut. Ard yang menaruh bungkusan daging sapi, langsung melakukan Boost dan kembali memindahkannya.


"Apa yang kau lakukan?! Kau pasti melapor padanya jika aku disini, bukan?! Aku tak percaya padamu!" Seru nenek sembari memukul Ard dengan tongkatnya.


"Tidak! Tidak! Aku tak akan melakukannya. Aku hanya membeli daging! Aku janji." Balas Ard sembari meyakinkan nenek.


"Kau... apa yang kau mau?" Tanya nenek dengan emosi yang diturunkannya.


Ard membujuk nenek agar duduk bersamanya. Ard pun mempersilahkan nenek untuk tak sungkan menikmati Daging Sapi hangat. Ard memahaminya, bahwa nenek tersebut tidak makan akhir-akhir ini karena masalah yang menyangkutnya. Ard memilih diam beberapa lama hingga nenek kenyang memulihkan diri. Setelah tujuh menit berlalu, nenek merasa cukup dengan jamuannya.


"Ampun. Ada apa dengan anak muda jaman sekarang? Mereka sangat keras kepala dan tak sopan masuk kedalam masalah orang." Ujar nenek dengan kesal.


"Hahahahaha! Nah, nah. Untuk masalah nenek ini jelas berbeda dan tentu aku tak bisa tinggal diam. Nenek tak memiliki pendengar, bukan? Anda bisa mempercayakannya padaku. Aku akan tutup mulut sepenuhnya. Bahkan dengan sumpah jika perlu?" Balas Ard sembari menyantap daging sapinya.


"Cih. Anak muda sepertimu penuh omong kosong. Jika begitu, siapkan telingamu." Lanjut nenek menatap jauh.


"Roooger." Balas Ard dengan senyum tipisnya.


"Suami dan anak perempuanku satu-satunya, telah diambil dari sini. Sudah kukatakan untuk fokus di jalan. Tapi mereka mengacuhkan ocehanku." Ujar nenek mula bercerita.


"Baiklah. Aku tahu kemana arah satu ini. Aku turut berduka, nek." Ujar Ard dalam hati sembari memandang jauh.


"Inginnya, kutarik salah satu telinga mereka. Namun, hal itu tak bisa kulakukan ketika sudah melihat mereka tidur panjang." Lanjut nenek sembari tertunduk.


"Itu adalah penyesalan terbesar yang pernah kudengar. Aku kagum anda bisa bertahan sebelumnya." Lanjut Ard dalam hati.


"Kenyataan ini tak bisa kuterima setelah aku merajut syal musim dingin untuk mereka dalam waktu dekat. Untuk orang tua sepertiku, tujuan dan jalan hidupku usai ketika melihat mereka tidur." Lanjut nenek sembari melihat langit.


"Begitukah? Nenek berpikir bahwa hal yang nenek lakukan adalah pilihan terbaik dari semuanya?" Balas tanya Ard sembari berdiri dengan kedua tangan di saku.


"Apa maksudmu? Kau tak bisa menyamaratakan orang disini! Kau ingin bilang bahwa aku harus kuat, semudah itu?! Kau tak tahu rasanya bagaimana ditinggalkan! Bahkan wajahmu tak memiliki bekas apapun!" Seru nenek akan emosinya sembari memukul Ard dengan tongkatnya.


"Nenek yakin?" Tanya Ard sembari tersenyum tipis.


"Seperti yang kuduga! Kau tak bisa kupercaya! Anak muda sepertimu tak tahu apapun dan hanya bisa membual!" Lanjut nenek berniat untuk pergi.


"Nenek. Tunggu." Balas Ard dengan tenang.


"Apa lagi?! Bagaimana aku bisa percaya dengan orang sepertimu yang bisa tetap tersenyum seperti tanpa dosa?!" Seru nenek membantah bujukan Ard.


"Kemarilah. Kumohon." Balas Ard meyakinkan nenek.


"Ini yang terakhir." Ujar nenek sembari menghela nafas dan kembali ke sebelah kanan Ard.


"Aku mohon maaf sebesar-besarnya atas kelancanganku. Tapi, aku belum selesai mengatakannya." Balas Ard sembari membungkuk hormat.


"Cih. Dasar. Aaah! baiklah, lanjutkan." Ujar nenek kembali menatap laut.


"Jawabanku adalah nenek tak akan bisa bersama dengan mereka jika melakukannya." Ujar Ard memperingati.


"Lebih rinci." Pinta nenek akan kebingungannya.


"Mereka akan pergi ke Surga dan nenek ditempatkan di Neraka. Itulah yang mereka sebut Penghakiman. Mereka dicabut karena memang sudah waktunya. Sedangkan nenek melanggar aturan." Ujar Ard sembari memasukkan tangan kiri ke saku.


"..." Gumam nenek menahan sabarnya.


"Dan jika nenek berpikir masalah rasa sakit didalam akan selesai, nenek salah. Di Dunia selanjutnya, rasa sakit yang nenek rasakan berkali-kali lipat. Mereka pun tak ingin melihat nenek seperti ini, bukan?" Lanjut Ard.


"Kita... tak akan bersama?" Gumam nenek dengan khawatir.


"Jika nenek meragukan jawabanku, nenek bisa menyebutku pembohong. Lalu nenek bisa bertanya pada setiap orang akan hal ini. Dan nenek bisa mendengar jawaban mereka." Ujar Ard meyakinkan nenek.


"Jika aku ikut menemui mereka, mereka akan kecewa padaku? Begitu?" Balas tanya nenek tertunduk.


"Tepat. Mereka akan kecewa dan bertanya, 'kenapa nenek menyusulnya susah payah?' Padahal waktu nenek belum selesai." Ujar Ard sembari kembali duduk bersila.


"Banyak hal yang tidak nenek ketahui dan belum nenek lakukan. Jika nenek melakukan ini karena mereka, pikirkan dia yang mencari nenek hingga menempelkan brosur di setiap jalan!" Seru Ard sembari mendadak berdiri dan menunjukkan brosur orang hilang.


"Dia? Melakukannya hingga sejauh itu?" Gumam nenek khawatir sembari berdiri gemetar menerima brosur.


"Jika terjadi sesuatu pada nenek, maka kemungkinan besar dia akan melakukan hal yang sama, begitu pula seterusnya!" Seru Ard menegur nenek.


"Berarti, aku membahayakan mereka...?" Gumam nenek sembari bertanya-tanya dan melihat kedua tangannya.


"Yang ingin kukatakan adalah... nenek memikirkan perasaan mereka hingga ke akar. Dan menjalani hari dengan normal. Kehidupan adalah hal yang tak bisa nenek beli dua kali. Ketika nenek pergi dan menyesalinya, nenek tak bisa memohon untuk menyelesaikan penyesalan. Serta tak bisa memohon untuk Penghakiman." Ujar Ard terus membujuk nenek.


"Lalu, bagaimana caranya kembali dengan normal? Rasa sakit ini, bagaimana caraku bertahan?" Tanya nenek akan keraguannya.


"Seseorang pernah mengatakannya padaku. 'Bersikaplah egois sesekali, karena kau adalah manusia'." Lanjut Ard sembari melihat langit.


"Mustahil. Mustahil jika aku harus bertindak egois! Itu lebih menyakitkan lagi! Kau gila?!" Bantah nenek.


"Hal itu dengan cara, meminta eksistensinya bersama nenek sebagai pendukung. Karena pada dasarnya, nenek sebagai makhluk sosial.


"Kubilang mustahil..." Gumam nenek mencengkeram brosur.


"Menanggung seluruhnya sendiri, untuk nenek adalah sebuah kesalahan." Bantah Ard.


"Dan... bagaimana jika dia terganggu? Bukankah itu terlalu egois?" Tanya nenek kembali sembari menengok Ard.


"Sisanya adalah kepercayaan. Dia yang melakukan hal sejauh itu, tentu akan bersedia untuk seseorang yang penting untuknya. Jika nenek mengatakan ini hanya bualan anak muda, aku tak keberatan. Tapi, silahkan lihat ekspresinya jika dia bisa bersama dengan nenek kembali." Lanjut Ard sembari tersenyum lebar menengok nenek.


"Begitu. Dasar. Anak muda jaman sekarang pandai bersilat lidah, itulah kenapa aku membenci mereka." Balas nenek akan guraunya.


"Hahahahaha! Nenek tak bisa menyamaratakan mereka. Terima kasih." Ujar Ard dengan senyum tipisnya.


"Tidak. Terima kasih. Aku siap, anak muda. Siapa namamu?" Balas tanya nenek.


"Ard. Seorang pemuda yang mencintai laut dan dunia air. Baiklah, kurasa aku akan kasar membangunkan mereka diwaktu seperti ini. Nenek ingin daging lagi?" Balas Ard sembari berjalan dan bertanya kembali.


"Hentikan! Tubuhku tak bisa menampung kolesterol!" Seru nenek dengan kesal.


"Hahahaha! Rooooger!" Balas seru Ard.


Ard berjalan ke suatu toko yang ditempeli brosur. Ia mengambil dan melakukan panggilan pada orang yang bersangkutan. Sembari berjalan kembali ke arah nenek, Ard menunggu balasan panggilannya. Setelah beberapa detik, panggilan Ard pun diangkat.


"Ah, halo? dengan siapa ini?" Tanya Wanita dewasa yang terbangun dari tidurnya.


"Nenekmu. Aku kebetulan menemukannya, di Pantai Exgalya." Balas Ard pada intinya.


"Nenek?! Dia baik-baik saja?! Bisa aku bicara padanya?!" Tanya wanita tersebut dengan tergesa-gesa.


"Tentu! tentu! Nah, silahkan." Balas Ard sembari memberikan CyPhonenya pada nenek.


"Tyfa? Ini nenek. Kemarilah dengan segera." Ujar nenek dalam panggilannya.


"Nenek! Tentu! Aku akan kesana!" Seru Tyfa bergegas menjemput nenek dan menutup panggilan.


"Baik." Balas nenek sembari memberikan CyPhone Ard.


"Terima kasih kembali. Jadi, siapa dia?" Tanya Ard dengan senyum tipisnya.


"Cucuku. Jika kau berminat aku bisa merestuimu." Balas gurau nenek.


"Tidak. Terima kasih." Lanjut Ard.


Ard dan nenek menunggu kedatangan Tyfa. Selang tujuh menit, Tyfa datang dan berlari memeluk neneknya dengan erat. Nenek pun menyesali tingkah lakunya yang membuat Tyfa cemas selama ini.


Tyfa yang melihat Ard, mengucapkan terima kasihnya. Mereka pun terlibat adu maaf satu sama lain dan berpisah dengan Ard. Hari semakin mendekati fajar, nenek dan Tyfa telah pergi jauh. Ard kehilangan keseimbangannya dan terjatuh telentang tak sadarkan diri.


Berpindah pada apartemen Ard, kawanan Ard seluruhnya datang menunggu Ard bangun. Mereka tampak khawatir dengan kondisi Ard yang tidak sehat. Setelah sekian lama, mereka lega dengan Ard yang membuka matanya perlahan.


"Aku pulang." Ujar Ard menyapa mereka.


Vicchy yang tak kuasa akan rasa sedih, memeluk Ard pada sekitaran bahu dan lehernya.


"Ard bodoh! Sepanjang hari aku khawatir dengan perjuanganmu! Maka dari itu, mulai sekarang hentikan segala kebodohanmu! Kau hanya akan membuat panik!" Seru Vicchy dengan tangisnya.


"Ard. Selamat, kawan. Atas pertaruhan hidup dan matimu. Judi mu tak baik, tahu? Aku tak akan ikut perjudianmu lagi, Ard. Ah, sialan!" Ujar Xion sembari mengusap mata dengan lengan kanannya.


"Ard. Nikmati hadiahmu, kawan. Karya terbaikku saat ini. Kuharap kau menyukainya." Ujar Willy menaruh kotak hadiah di mejanya.


"Ard. Ada yang ingin berbicara denganmu." Ujar Risu sembari menarik Karu.


"Denganku? Heh?!" Gumam Ard dan terkejut dengan Karu.


Karu yang melihatnya, tak menguasai diri dan berlari keluar hingga Risu menyusulnya.


"Selanjutnya, kau harus mengurus Karu, Ard." Ujar Gant sembari duduk di sebelah kiri kasur.


"Ampun. Apa lagi yang terjadi kali ini?" Gumam Ard dengan heran sembari menutup mata dengan lengannya.


"Hei! Hei! Ard. Kau tak keberatan dengan Cover baru ku? Dengarkan dan nikmati, ya?" Ujar Fhay menaruh CyDiscnya pada meja.


Mereka merasa lega dan merayakan Reset Ard yang berhasil. Karu mendapati dirinya dalam kebingungan, dibujuk oleh Risu. Ard pun kembali melanjutkan aksinya dalam misteri di Exgalya.