From Grey To Red

From Grey To Red
BAB 28 : Teman Baru Dunia Air



Ard beranjak keluar dari dalam hutan sembari melihat jauh ke ujung jalan mereka datang sebelumnya. Ard kembali terdiam dan menghela nafas. Di perjalanan, mereka melaju bersama-sama dan Gant melihat ke arah Xion.


"Xion." Ujar Gant dengan cemas.


"Jangan sekarang Gant. Kita bisa berpisah disini. Aku akan mengurus sisanya sebagai laporan." Balas Xion melesat lebih dulu meninggalkan mereka.


Mereka yang terhenti merasa heran dan khawatir sedari tadi sembari menatap satu sama lain. Mereka tak memiliki hal lain karena keberanian mereka tampak kurang untuk membalas respon Xion.


Mereka pun memilih untuk berpisah karena urusan dengan Hutan Prime Wood Alya telah selesai. Ketika mereka berpisah, Dyenna tinggal seorang diri karena tempatnya memanglah di Alya.


Dyenna terdiam sesaat dan berpikir. Ia menengok ke belakang sembari menatap jauh. Ard yang masih berada di depan jalur masuk hutan, duduk dan menenangkan diri sembari meminum minuman kalengnya.


"Aku... tak bisa menjadi pria lagi... kah... ?" Gumam Ard akan kebingungannya.


"Baru saja lolos dari kematian, aku justru membunuh diri sendiri, bahkan mereka. Jika sudah begini, maka tak akan bisa kembali. Tak ada pilihan yang kupunya." Lanjut Ard sembari berdiri.


"Kuharap mereka selalu sehat dan menjaga pola makannya. Kurasa ini pemberhentian terakhirku di depan wajah mereka." Ujar Ard sembari tersenyum tipis dan menaiki CyHover.


Ard yang usai dengan urusannya, melesat menuju apartemen di Gal. Dyenna yang sedang berteduh di salah satu Warung Tradisional Alya, berbincang dengan Nenek Rhuta.


"Ada apa dengan wajahmu itu, Dyenna?" Tanya nenek sembari menyodorkan limun soda.


"Ah, nek? Tidak. Tak apa." Balas Dyenna sembari berbohong.


"Ampun. Kau masih seperti dulu dan mengatakan segalanya baik-baik saja. Jika Ard melihatmu seperti ini, dia akan menyentil keningmu lagi. Dan aku belum melihat Ard akhir-akhir ini." Lanjut nenek sembari menghela nafas.


"Dia baik, nek. Hanya terjadi masalah internal dengan kami. Aku yakin hal ini akan cepat berlalu." Balas Dyenna dengan senyum tipisnya meyakinkan nenek.


"Begitu. Jika itu Ard aku tak akan heran. Dia orang yang kupercaya tak akan memperpanjang masalah. Semenjak tahun lalu, aku sulit melihatnya lagi menjadi pelanggan setia tempat ini." Ujar nenek sembari memandang jauh.


"Begitupun denganku. Maaf." Balas Dyenna sembari tertunduk dan tersenyum tipis.


"Tak apa. Bahkan dia seringkali membangunkanku secara paksa di pagi buta akan hal-hal yang disukainya." Lanjut nenek ikut duduk di sebelah Dyenna.


"Dia cukup sibuk karena terlibat perihal tahun lalu. Atau mungkin bisa ku asumsikan bahwa dia tak memiliki keberanian mengunjungi tempat ini setiap harinya." Ujar Dyenna sembari tertunduk.


"Kau memahaminya cukup baik, Dyenna. Keceriaan adalah hal paling menakutkan untukku. Jika aku melihatnya tersenyum lebar disini, kurasa aku akan memukulnya beberapa kali." Ujar nenek sembari menatap jauh.


"Uhm. Aku belum melakukan sesuatu sebagai timbal balik untuk mendorongnya." Balas Dyenna sembari tersenyum tipis.


"Seperti yang Ard bilang, kah? Dia orang yang mengerikan." Gumam nenek sembari melihat Dyenna dan tersenyum tipis.


"Seperti yang Ard bilang? Apa maksud nenek?" Tanya Dyenna dengan heran.


"Beberapa waktu lalu ketika dia berkunjung ke Alya, dia mampir dan mengatakan sesuatu padaku. 'Jika Dyenna mampir dan tersenyum dikala merenung, tolong dorong dia untuk tidak berbohong'. Jadi, yang kau lakukan adalah sebaliknya, Dyenna. Kau sudah melakukan timbal balik untuk membantu masalahnya." Ujar nenek.


"Ard... lagi-lagi bersandiwara. Hahahaha." Ujar Dyenna sembari menggenggam soda.


"Kau tidak bisa terus menjatuhkan dirimu hanya karena kau tidak merasa puas." Balas nenek sembari mendukung Dyenna.


"Ard... mengatakan itu? Aku tak tahu sejauh mana batas imajinasinya." Ujar Dyenna sembari tersenyum tipis.


"Yah, kau hanya harus melakukannya untuk dirimu sendiri. Ard pun meminta agar kau bisa merawat dirimu sendiri lebih baik lagi. Dan, aku ingin menutup toko ini untuk seterusnya." Ujar nenek sembari bangun dari kursi.


"Heh?! Tutup?!" Tanya Dyenna sembari terkejut dan berdiri.


"Aku sudah mencapai batas mengurusi ini. Mendiang suamiku memikirkan hal yang sama agar aku beristirahat jika sudah tiba waktunya. Atau mungkin, Dyenna. Kau mau menjadi pemilik toko kami yang sangat berharga ini? Kau bisa menerimanya kapanpun selama kau masih muda dan tangguh." Balas nenek sembari tersenyum tipis.


"Aku... mewarisi toko ini? Uuhmm..." Gumam Dyenna sembari berpikir mengumpulkan tekadnya.


"Begitu. Tak perlu terburu-buru, Dyenna. Kau bisa memikirkannya lain kali." Lanjut nenek meredakan keraguan Dyenna.


"Tidak. Aku siap, nenek. Izinkan aku merawat toko ini!" Seru Dyenna memperkuat tekadnya dan membungkuk sembari Hormat.


"Tentu. Terima kasih banyak, Dyenna. Ard juga bisa membantumu suatu saat jika kau membutuhkannya. Kupercayakan padamu." Lanjut nenek sembari berjalan perlahan ke depan.


"Baik." Balas Dyenna sembari berdiri dan tersenyum.


"Jika begitu, aku akan pergi ke Gal mengurusi milikku. Jaga dirimu, Dyenna." Balas nenek sembari menerima kedatangan CyTaxi Gal.


"Terima kasih banyak! Mohon berhati-hati." Ujar Dyenna sembari bergumam.


"Selamat tinggal, Dyenna!" Seru nenek dari kejauhan.


"Selamat Jalan... Nenek Rhuta." Gumam Dyenna sembari menaruh tangan di dekat dadanya.


Ketika berada di depan toko, Dyenna melihat Ard melaju melewatinya dan menuju Gal. Dyenna yang melihatnya, masih belum memiliki keberanian untuk memanggil Ard. Seusai dari Alya, Ard tiba di Gal dan menuju apartemen.


Sesampainya di depan kamar, Ard menunjukkan DIGI-ID untuk membuka kunci dan mendapati hal yang seringkali terjadi. Kuncinya telah terbuka sebelum Ard membuka kuncinya. Ard yang tak pikir panjang, membuka pintu dan memasuki kamar.


Ketika ia melihat ke kasur, Vicchy terlelap dalam tidurnya. Keadaan mereka terasa kacau hingga membuat Ard tak berani mendekati Vicchy dan memilih kembali keluar kamar apartemen, sembari menutup pintu.


Ard pun tak memiliki kegiatan dikarenakan telah keluar dari pekerjaannya di dua tempat, Pelabuhan Gal-Alya dan Laut Axeru. Ard mendapati hal yang terpikirkan olehnya, berniat menuju Wonderfull Gal Park.


Di lain tempat, Villa Bukit Thyfaro, Xion berbincang dengan Hiruma akan masalah Hutan Prime Wood Alya.


"Situasi yang tak bisa kuimajinasikan. Bahkan aku telah melibatkan kalian pada pilihan hidup dan mati. Terlebih juga tubuhmu." Ujar Hiruma seusai cerita dari Xion.


"Dia adalah manusia yang keras kepalanya tak memiliki obat, Hiruma. Dia bahkan tak ingin mendengarkan kalimat untuk kuteriakkan pada telinganya." Ujar Xion sembari duduk di sofa ruang tengah.


"Aku pun merasakan kekecewaan padanya. Kenapa ia bisa melepaskannya begitu fatal? Jika dia terlambat beberapa detik, maka dia bahkan tak bisa melihatnya kapanpun lagi." Balas Hiruma sembari melihat keluar jendela.


"Kesabaranku sudah tak terbendung. Aku tak ingin melihatnya terlebih dulu. Dan aku tak ingin mendengar suaranya." Lanjut Xion dengan rasa kesal.


"Dia bahkan tak akan mengelak, Xion. Dia tak memiliki kemampuan untuk melakukan itu. Dia benar-benar membuang dirinya kali ini. Tapi, aku belum mendengar langsung dari Vicchy untuk satu ini." Balas Hiruma ikut duduk pada salah satu sofa.


"Kurasa, dia sama dengan Ard. Dia mendapati frustasinya begitu dalam. Yang kutahu, dia tak mengingat akan apa yang terjadi. Aku hanya berharap ada sedikit keajaiban kali ini. Atau mungkin tidak, karena aku sudah begitu banyak meminta." Ujar Xion sembari menopang pipi kirinya.


"Mayat. Dengingan khusus. Manusia yang memanjat. Dengingan yang terdengar oleh mereka, membuat mereka terhipnotis dan memanjat seolah ingin bunuh diri? Terdengar konyol. Dan apa hubungannya dengan mereka? Harus kupikirkan lebih lanjut." Gumam Hiruma dalam hati sembari berpikir.


"Jika ini membingungkanmu, istirahatlah lebih dulu, Hiruma. Jangan berpikir kau bisa memecahkannya seorang diri." Ujar Xion.


"Xion. Kuminta 1 hal padamu." Ujar Hiruma dengan tiba-tiba.


"Huh? Apa?" Tanya Xion dengan heran.


"Tetap beristirahat disini dan jangan membantah untuk sementara waktu. Gunakan kamar, jangan sofa." Balas Hiruma memperingati Xion.


"Dan jika aku menolak?" Tanya Xion berniat membantahnya.


"Kupotong tangan kananmu." Balas Hiruma dengan tatapan dinginnya.


"Berlatihlah lagi dalam bergurau, Hiruma. Kau hampir berhasil." Ujar Xion beranjak bangun dari sofanya dan menuju salah satu kamar.


"Misi kita bertambah, Ard. Bagaimana kau akan memperbaiki dan melanjutkannya?" Tanya Hiruma dalam hati akan harapannya.


Hiruma pun mengeluarkan CyPhonen dan melakukan panggilan pada seseorang sembari memintanya datang ke Villa Bukit Thyfaro.


Sesampainya di Villa Bukit Thyfaro, Hiruma menyambut seseorang seperti dokter dan menunjukkannya pada kamar, tempat Xion beristirahat. Dokter yang memeriksa keadaan Xion, membuat Xion merasakan kontak fisik dan membuka mata perlahan.


Xion yang melihat Dokter dan Hiruma, mencoba bertanya namun dibantah oleh Hiruma dengan menyentil keras pada keningnya.


"Oi! Tak perlu ada Dokter, sialan!" Seru Xion dengan kesal.


"Pemeriksaan medis diperlukan karena lukamu bukan hanya di luar. Diam dan ringankan tugasnya." Bantah Hiruma memperingati Xion.


"Xion, kan? Maaf. Aku harus memberitahu hal ini." Ujar Dokter akan kabar buruknya.


"Kita harus pergi ke Medical Gal. Kau mendapati Tennis Elbow ringan dan merusak sendimu akibat benturan keras dari tulang hingga sarafmu. Bahkan ototmu tak mampu menopangnya." Ujar Dokter.


"Hah?! Rumah sakit?! Tunggu--" Bantah Xion dengan herannya.


"Jika begitu, coba luruskan lenganmu. Tapi, kusarankan untuk tidak melakukannya." Lanjut Dokter meyakinkan Xion.


"Xion. Ini bukan gurauan." Ujar Hiruma.


"Sialan. Berapa lama?" Tanya Xion dengan kesal.


"Jika kau beruntung, kau bisa pulih dalam 3 bulan." Balas Dokter.


"3 bulan?! Jika beruntung?!" Bantah Xion semakin kesal.


Hiruma yang kehilangan kesabarannya, mendorong Xion sembari mencengkeram kerahnya.


"Xion. Liburkan keras kepalamu untuk sementara waktu. Aku tidak main-main disini." Ujar Hiruma dengan nada dingin.


"Hiruma benar. Ini demi kebaikanmu. Setelah pulih, kau bebas menggunakan keras kepalamu." Ujar Dokter membujuk Xion.


"Aaahh!! Baiklah! Sialan." Seru Xion sembari melepas cengkeraman Hiruma.


Xion yang tak menyangka akan mendapati hal lebih buruk dari perkiraannya. Ia hanya bisa menahan kesabaran lebih lanjut. Ard yang berada di Wonderfull Gal Park mengisi waktu dengan mencoba berbagai wahana seorang diri.


Seusainya, Ard duduk di salah satu kursi panjang untuk beristirahat. Ard mendapati hal yang semakin membingungkannya bahwa yang dilakukannya tak menghasilkan apapun.


Angin berhembus menemani Ard dan menerbangkan selebaran brosur yang menampar pipi kanannya. Ketika mendapati brosur tersebut, ia melihat promosi sebuah wahana yang dibangun baru-baru ini berupa Gal Aquarium World.


Ard yang melihatnya merasa mendapati mimpi indah dikala mimpi buruk merangkulnya. Ard tak pikir panjang dan segera mencari letak wahana tersebut. Ketika dilihat dari kejauhan, wahana tersebut tampak menjadi yang paling besar dibanding seluruh wahana yang ada.


Ketika ia memasukinya, Ard terkagum hebat karena isi dari akuarium tersebut melebihi ekspektasi. Ard segera mengeluarkan CyCamera dari CyBag dan mengambil begitu banyak gambar sembari berkeliling dan melihat-lihat.


Ard belum merasa puas, dan melihat suatu lorong yang tak dikunjungi oleh pengunjung. Ard berlanjut merasa penasaran sembari memasukinya dan melihat kanan dan kiri.


Ketika ia berbelok dan memasuki ruangan lain, ia terkejut akan bagian dari akuarium tersebut.


"Dia tak mau menampakkan diri lagi? Aku kecewa." Ujar pengunjung wanita.


"Kurasa dia sangat pemalu. Ayo, kita kunjungi bagian yang lain." Balas pengunjung pria yang sembari menggendong anaknya.


Ketiga pengunjung tersebut keluar dari ruangan yang dimasuki Ard. Ard merasa heran dan ikut melihat pada kaca akuarium lebih dekat. Sebuah informasi tertulis akan info tentang Ikan dengan spesies Paus Putih.


"Kurasa aku mengerti kenapa kau tak menampilkan diri, kawan." Ujar Ard sembari menyentuh kaca akuarium.


Seketika, Ard berniat membuka Cyber Shop. Ard membeli sebuah harmonika kecil sembari menutup pintu dan memainkan melodinya.


Melodi merdu seperti panggilan alam, Ard coba berikan pada paus putih tersebut untuk memanggilnya.


Selang tiga menit, sebuah bayangan dari kejauhan dengan samar terlihat dan mendekat perlahan. Ard yang masih menikmati melodi sembari memejamkan mata, belum berniat membuka kedua matanya hingga ia merasa puas.


Ard terus memainkan melodi tersebut selama beberapa menit selagi paus putih sudah berada di depan matanya dan menikmati alunan melodi dari Ard.


Seusainya, Ard membuka mata dan saling bertatapan dengan paus putih tersebut.


"Kau menyukainya? Begitu. Terima kasih." Ujar Ard sembari tersenyum tipis dan mengelus kaca akuarium.


Paus putih tersebut tampak tenang seolah menikmatinya dengan Ard. Ard pun mencoba bermain dan berkomunikasi dengannya sembari memainkan tangan dan jarinya.


"Berputar. Bagus. Naik. Turun. Anak pintar. Pura-pura mati. Sungguh pintar. Namamu... Tyxa? Seperti tempat yang kuidamkan dan tak terjamah." Ujar Ard akan curahannya.


Salah satu kamera pengawas yang ada di atas sudut ruangan, melakukan fokus pada Ard dan diperhatikan oleh staf yang bertugas.


"Ketua. Tolong lihat ini sebentar." Ujar staf pria.


"Ada apa?" Tanya ketua sembari mendekat.


"Salah satu pengunjung ini, tidakkah menarik perhatian anda? Maksudku, dia tampak sangat akrab dengan Tyxa dibanding pengunjung lain." Ujar staf pria sembari menunjuk Ard.


"Memang benar. Yang kutahu, Tyxa sangat sulit beradaptasi dengan orang-orang. Apakah dia dipilih olehnya?" Balas tanya ketua sembari berpikir.


"Dan tolong lihat ini, ketua." Lanjut staf pria semakin fokus pada Ard.


"Dia... bagaimana dia melakukannya? Tyxa, dijinakkan?!" Tanya ketua dengan terkejut.


Staf yang berada di ruang pengawas terus fokus pada Ard karena menarik perhatian mereka.


"Begitu. Untuk saat ini, kau adalah yang terakhir, ya? Sudah kuduga Exgalya dan sekitarnya masih buruk untukmu. Begitu juga untuk kami." Lanjut Ard mengelus kaca akuarium.


Tyxa, Paus Putih yang bermain dengan Ard menjadi sangat jinak padanya. Tyxa mengeluarkan lengkingan pausnya beberapa kali seperti seekor kucing yang mendengkur karena dielus bulunya. Mata Tyxa beberapa kali memejamkan matanya karena merasa tenang.


"Jika begitu, aku ingin berkeliling lagi melihat kawanmu yang lain. Aku akan menemanimu setiap hari. Jadilah anak baik, mengerti? See You." Ujar Ard sembari berpisah dengan Tyxa.


Disaat Ard akan keluar dari pintu, Tyxa melakukan lengkingan keras dan membuat Ard berbalik. Ard kembali melihatnya dan Tyxa melakukan putaran tubuh seperti posisi telentang yang berupa permainan pura-pura mati. Ard pun tersenyum puas karena bermain dengan Tyxa dan berjalan keluar.


Ard melanjutkan langkah memotret bagian lain dan menikmatinya. Ketika Ard sedang berjalan-jalan, ia terhenti akan suara dari Broadcast yang disiarkan.


"Para pengunjung yang terhormat, kami ingin memberitahukan bahwa Pertunjukkan Miko dan Mika sang lumba-lumba jenius, akan segera dimulai. Silahkan menuju kolam utama sesuai arah yang tertera. Terima kasih." Ujar Caster Wanita dalam pengumuman sembari mengulangnya.


"Hari ini sangat baik." Gumam Ard merasa puas sembari menuju kolam utama.


Sesampainya di kolam pertunjukkan, Ard mengambil tempat duduknya sedikit tinggi dan sangat antusias menantikan pertunjukkannya.


Usai sepuluh menit, pertunjukkan dimulai dan menghadirkan dua lumba-lumba menarik mata Ard dan memotret aksinya begitu banyak. Satu jam berlalu, pertunjukkan terasa memuaskan hingga Ard mendapat banyak potret kenangan.


Ketika ia akan keluar dari akuarium, terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa.


"Hei! Kau!" Seru suara pria dengan tiba-tiba.


Ard yang mencoba memastikan, menoleh kebelakang dan melihat suara tersebut memang memanggilnya.


"Ada apa, paman?" Tanya Ard dengan heran.


"Tolong, ikutlah denganku sebentar." Pinta pria gemuk.


"Ah... baik..." Balas Ard dengan canggung dan mengikutinya.


Ard pun pergi dengan pria gemuk tersebut ke dalam wahana. Mereka melewati jalur karyawan karena hanya petugaslah yang di perbolehkan. Hingga Ard memasuki sebuah ruangan dengan beberapa petugas sebagai pengawas.


Ard lanjut diajak memasuki ruangan pribadi dan bertemu dengan kepala pengawas. Ketika Ard dipersilahkan duduk, seorang pria yang sebagai Ketua Pengawas, memulai kalimatnya.


"Siapa namamu?" Tanya ketua.


"Ard. Dan anda?" Balas tanya Ard.


"Kau bisa memanggilku, Ketua Coza. Dan kutahu ini tiba-tiba, Ard. Kau siap?" Lanjut ketua sembari bertanya meyakinkan Ard.


"Tentu. Silahkan." Balas Ard.


"Maukah... kau bergabung dengan kami di Gal Aquarium World?" Tanya ketua memberi kejutan pada Ard.


"Heh?!" Gumam Ard menahan rasa kejutnya.


Ard yang mendengarnya, seolah merasakan mimpi memukulnya. Ard pun mencoba meyakinkan diri dengan kejutan apa yang didapatnya.