
Dyenna yang usai mendapati bantuan Ard, mengucapkan terima kasihnya. Ard saat itu, masih ragu akan keadaan Dyenna. Namun, ia dibantah olehnya untuk tak berpikir terlalu jauh. Ard yang mendapati respon tersebut, hanya menuruti kemauannya dan Dyenna mulai berjalan pergi.
Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi dan membuat Ard memutuskan untuk berolahraga kemudian menuju Pelabuhan Gal-Alya. Disaat Ard sedang melakukan jogging di area Taman Exgalya, dia dikejutkan oleh hantaman bola tenis yang menyasar pada pelipis kanannya hingga terjatuh.
Hikky dan Karu yang sedang berlatih terkejut, karena pukulan Hikky tak terduga mengenai orang. Pelindung tersebut tampak mulai rusak karena berkedip berkali-kali. Hikky dan Karu pun langsung keluar membantu Ard.
"Ah! Maaf! Ini salahku terlalu bertenaga, kau tak apa?" Tanya Hikky yang menghampiri dan mengulurkan tangannya.
"Ah... tentu. Bukan masalah, terima kasih." Balas Ard sembari memegangi kepalanya yang terasa berdenging dan berdiri perlahan.
"Sekali lagi aku mohon maaf." Lanjut Hikky.
"Tak apa, tenanglah. Kau memiliki pukulanmu yang bagus." Balas Ard sembari memuji Hikky."
"Ah, terima kasih. Itu belum seberapa untuk kemampuanku. Tapi aku akan melatihnya terus." Ujar Hikky dengan senyum hangatnya.
"Begitu." Balas Ard sembari melihat Karu di belakang Hikky dan menatap satu sama lain beberapa saat.
"Kalian... saling mengenal?" Tanya Hikky dengan bingung sembari melihat Ard dan Karu.
"Ah, tidak. Kurasa halusinasiku saja. Dia hanya mirip dengan teman lamaku." Bantah Ard berbohong pada Hikky dan Karu.
"Heee~ sepertinya kalian terpisah jauh. Kuharap kalian bisa bertemu satu sama lain. Aku Hikky, kau ?" Balas Hikky sembari menyemangati Ard.
"Hahahaha. Kuharap. Aku Azzel. Salam kenal." Balas Ard kembali berbohong pada Hikky dan Karu.
Karu yang mendengarnya, hanya memendam rasa kesal karena kebohong Ard sembari mengepalkan tangannya lebih kuat menggenggam raket. Hikky yang dibohongi oleh Ard tetap bersikap ramah dan tak diberitahu oleh Karu.
Seusai Ard dan Hikky berbincang kecil, Ard melanjutkan joggingnya untuk segera menuju Pelabuhan. Mereka yang telah berpisah, Hikky dan Karu melanjutkan latihannya.
Disaat Ard sudah dekat dengan Pelabuhan Gal-Alya, Xion menyamai joggingnya dengan tiba-tiba dan mengejutkan Ard.
"Yo. Tumben sekali kau jogging hari ini." Sapa Xion dengan guraunya.
"Kau mengejekku atau apa ?" Bantah Ard dengan sinisnya.
"Tepat sekali." Balas Xion dengan guraunya sembari mulai berlari serius.
"Sialan. Kemari kau!" Seru Ard sembari mengejar Xion.
Sesampainya di Pelabuhan Gal-Alya. Ard dan Xion terhenti dengan nafas berat dan terengah-engah.
Dikala mereka berbaring, Paman Zaunt melihat mereka sembari mengendarai CyForklift yang mengangkuti barang.
"Jadi, apa yang kalian lakukan di pagi-pagi segar seperti ini?" Tanya Paman Zaunt.
"Jogging yang berakhir kejar-kejaran karenanya." Balas Ard sembari menunjuk Xion dikala masih berbaring.
"Berhenti... menyalahkanku... sialan..." Bantah Xion dengan terengah engah.
Seusai mereka memulihkan tenaga, mereka dengan segera membantu Paman Zaunt. Di lain tempat, Karu dan Hikky beristirahat sejenak dengan latihannya.
Hikky memberikan Karu minuman kaleng dinginnya pada pipi kanan Karu. Karu yang menerimanya melanjutkan senda gurau dengan Hikky.
"Tak kusangka, kemampuanmu bisa terasah dalam waktu singkat." Ujar Hikky dengan senyum tipisnya.
"Itu berkat pelatihanmu. Terima kasih, Hikky." Balas Karu sembari mengatur nafasnya.
"Begitukah? Aku bersyukur memiliki rekan sepertimu." Ujar Hikky sembari tersenyum tipis.
"Uhm. Aku juga." Lanjut Karu sembari mulai meminum.
"Kuharap bisa lebih dari sekarang." Balas Hikky sembari bergumam.
"Sekarang?" Tanya Karu dengan heran.
"Ah, tidak. Maaf. Cukup untuk hari ini, Karu. Istirahatlah di rumahmu." Ujar Hikky.
"Uhm. Baiklah---" Balas Karu sembari berdiri dan kehilangan keseimbangannya.
"Karu?!" Seru Hikky sembari menahan bahu Karu.
"Ah, kaki ku?" Gumam Karu sembari melihat kakinya.
"Memar. Maaf, Karu." Lanjut Hikky sembari menggendong Karu dengan paksa.
"H-Hikky?!" Balas Karu dengan terkejut.
"Tolong izinkan aku, Karu. Ini sudah jadi kesalahanku karena membuatmu seperti ini." Sanggah Hikky.
"Tapi! Tak seharusnya kau melakukan ini. Ini memalukan..." Balas Karu sembari bergumam dan memerah.
"Maaf. Aku tak bisa mengabulkan penolakanmu kali ini. Kumohon, Karu." Lanjut Hikky membujuk Karu.
"Hikky..." Ujar Karu dalam hati dan masih memerah.
Hikky mulai berjalan sembari menggendong Karu hingga sampai rumahnya. Karu yang digendong oleh Hikky hanya bisa terdiam dan menahan malunya. Perjalanan yang sedikit panjang berlalu dan Hikky tiba di Rumah Karu.
"Ayah dan ibumu?" Tanya Hikky akan keadaannya.
"Mereka masih bekerja. Dan ini baru siang hari." Ujar Karu dengan nada kecilnya.
"Ah, begitu. Maaf, kau bisa mengeluarkan Digi-ID mu untuk membuka kuncinya?" Tanya Hikky berdiri di depan pintu rumah.
"Tentu." Balas Karu sembari mengeluarkan Digi-ID dan memberikannya pada Hikky.
Hikky yang menerimanya, membuka pintu Rumah Karu dan masuk perlahan sembari menuju kamar atas izinnya. Hikky langsung merebahkan Karu pada kasur sembari melihat ruangannya.
"Maaf melibatkanmu hingga seperti ini, Hikky." Ujar Karu dengan rasa canggungnya.
"Tidak. Tak apa, Karu. Aku akan mengambil peredanya, di mana kotakmu ?" Balas Tanya Hikky.
"Wastafel dekat tangga." Lanjut Karu.
"Tentu." Balas Hikky mengambil kotak obat.
Hikky dengan segera mengambil obat pereda untuk mengobati memar Karu. Sesudahnya ia mengambil, Hikky langsung meredakan memar Karu dengan perlahan dan menutupnya dengan perban kecil.
"Terima kasih lagi, Hikky. Aku tertolong." Ujar Karu.
"Tak perlu dipikirkan. Kau harus terus mengasah kemampuanmu." Ujar Karu menyemangati Hikky.
"Aku mengerti. Terima kasih. Jika kau membutuhkan sesuatu, kirim pesanmu. Aku pergi dulu dan jaga dirimu." Lanjut Hikky sembari pamit.
"Hati-hati." Balas Karu dengan senyum tipisnya.
Hikky mulai keluar dari Rumah Karu. Karu yang berada di kasur, mengeluarkan kalung pemberian Hikky dari sakunya dan melihat beberapa saat. Hujan kembali membasahi Kota Exgalya di kedua bagian. Ard yang lebih dulu selesai dari Pelabuhan Gal-Alya, kembali ke bagian Alya untuk sementara waktu. Ard yang sedang berjalan melewati Jalur Utama Penghubung Gal dan Alya, berpapasan dengan Dyenna yang sedang mengenakan sepeda.
"Ard? Tumben sekali kau disini." Ujar Dyenna menghentikan kayuhnya.
"Yo, Dyenna. Hanya sementara waktu. Dan kenapa kau berkeliaran di hujan deras seperti ini?" Tanya Ard dengan guraunya.
"Aku baru mengantarkan kiriman ke Bagian Gal." Balas Dyenna sembari berjalan bersama Ard.
"Kenapa kau justru menuntun sepedamu?" Tanya Ard dengan heran.
"Bukan apa-apa. Lagipula jas hujan ini melindungiku." Balas Dyenna.
"Tetapi tidak pada wajahmu." Bantah Ard dengan heran.
"Huuuumph~" Gerutu Dyenna dengan kesal.
"Dan tampaknya kau semakin baik disini. Selamat untukmu." Ujar Ard dengan guraunya yang berlanjut.
"Ard... nadamu tampak mengejekku." Balas Dyenna dengan sinis.
"Hahahaha! Maaf, maaf. Aku tak mungkin mengejek kawan baikku sendiri." Sanggah Ard sembari menepuk bahu Dyenna.
"Jadi, apa yang ingin kau lakukan di Alya?" Tanya Dyenna sembari melihat Ard.
"Menemui tempat tidur mereka berdua." Balas Ard tak menatap Dyenna.
Dyenna yang mendengar hal tersebut terhenti sesaat dan menjatuhkan sepedanya. Dia mengetahui maksud Ard dan benar-benar mengejutkannya, karena Ard tak pernah memberitahu perihal ayah dah ibunya.
Ard yang mendengar sepeda Dyenna terjatuh, berbalik dan mendapati tamparan cukup keras pada pipi kanannya dan membuat payung Ard terjatuh seketika.
Hujan semakin deras dan keheningan merekat pada mereka berdua. Ard kembali memberikan senyum tipis yang membuat Dyenna semakin kesal.
"Aku tak menyangka. Kau orang yang begitu buruk, Ard. Menyembunyikan segala hal seolah tak ada yang terjadi. Kehadiranku hanya boneka bagimu?" Tanya Dyenna sembari menimbun rasa kesalnya.
"Sama sekali tak kuanggap begitu. Hanya saja ini hal pribadi yang tak mungkin kupublikasikan. Sudah terlalu banyak kudapati perhatian mereka saat dulu." Balas Ard sembari melihat langit dengan awan gelap.
"Setidaknya kau memberitahu mereka! Kau bahkan tak tahu jika akan ada yang bisa membantumu! Bukan mengenakan topengmu sepanjang hari!" Seru Dyenna dengan emosinya.
"Ada lagi?" Tanya Ard akan rasa kesal Dyenna sembari mengambil payung yang terjatuh.
"Lalu... kau anggap apa teman yang selama ini kau miliki? Apa gunanya mereka jika bukan untuk kau gunakan sebagai tempat berbagi?!" Tanya Dyenna sembari masih menahan emosinya.
"Hahahaha. Aku akan menjawabnya lain kali. Karena aku tak pandai dalam hal sosial." Balas Ard sembari menengok Dyenna dan mulai berjalan pergi.
Dyenna yang mendapati jawaban setengah-setengah Ard, terdiam beberapa detik dan mengambil sepedanya. Dyenna kembali mengikuti Ard hingga sampai di Makam Alya.
Hujan deras terus membasahi seisi Bagian Alya dan membersihkan makam kedua orang tua Ard secara kebetulan. Ard langsung menaruh dua buah bunga Gartalya Putih berukuran sedang pada masing-masing makam dan melanjutkan dengan doa.
Seusainya, Dyenna melakukan gilirannya untuk menyumbangkan doa pada mereka.
"Haaah~ jemuran ku tak akan kering hari ini. Dan, terima kasih, Dyenna." Keluh Ard sembari melihat langit dan menatap Dyenna.
"Karena tahun lalu?" Tanya Dyenna perihal orang tua Ard.
"Begitulah. Kabar yang cukup mengejutkan ketika sedang tak disini." Balas Ard sembari berjalan pergi.
"Bisa aku menanyakan sesuatu?" Seru Dyenna.
"Hmm?" Gumam Ard menghentikan langkahnya sesaat dan tak menengok Dyenna.
"Bisakah kau mulai jujur dan melepas topengmu? Untuk mereka." Lanjut Dyenna.
"Aku mengerti." Balas Ard sembari menengoknya.
Seusai urusan Ard di Alya, dia berpamitan dengan Dyenna. Dyenna yang masih merasakan keraguan pada Ard, hanya bisa menunjukkannya dengan raut wajahnya yang begitu negatif.
Hujan deras terus membasahi Bagian Alya hingga esok hari. Fajar yang tiba masih menyisakan suasana dinginnya. Ard yang sedang berbelanja buah dan sayur di Toko Paman Zaunt, disapa oleh Hikky yang kebetulan lewat.
"Azzel?" Sapa Hikky.
"Hikky? Tumbennya kau lewat sini. Ada apa?" Balas tanya Ard sembari memegangi buah apel.
"Ah, ya... aku memang selalu menggunakan jalur ini dari arah rumahku untuk menuju taman." Lanjut Hikky dengan ramah.
"Begitu." Balas Ard dengan senyum tipis.
"Ngomong-ngomong aku teringat sesuatu. Kau belum berkenalan dengannya kemarin, ya? Temanku, Karu." Ujar Hikky.
"Oh, gadis kemarin? Jadi dia Karu, ya? Tampaknya gadis baik yang pemalu." Balas Ard.
"Kau tampak seperti sudah mengenalnya dengan baik. Kau ingin mencoba mengunjunginya? Dia masih berbaring di rumahnya." Lanjut Hikky dengan sedikit termenung.
"Berbaring? Apa yang kau maksud?" Tanya Ard dengan heran.
"Saat kami sedang berlatih kemarin, seusainya kaki dia tampak memar dari yang kutahu." Balas Hikky dengan keraguannya.
"Jika masih berbaring, berarti hal lain ialah kakinya terkilir." Sanggah Ard dengan opininya.
"Heh?! Berarti, itu lebih buruk dari yang terduga?! Karu..." Balas tanya Hikky sembari bergumam khawatir.
"Sepertinya dia sangat bersemangat hingga mengabaikannya." Lanjut Ard memilih buah dan sayur.
"Karu... Azzel! Bisa aku meminta sedikit bantuan darimu?" Pinta Hikky dengan yakinnya.
"Hmm?" Balas Ard sembari menengoknya.
"Temani aku, untuk menjenguknya. Kuyakin, dia butuh lebih banyak teman. Kumohon!" Pinta Hikky dengan tekadnya.
Ard yang diminta oleh Hikky mengenai Karu, kebingungan akan keputusannya karena hal yang terjadi antara mereka berdua. Suasana yang belum mendapati hangatnya matahari, masih terasa dingin dengan awan menggumpal menemani mereka di atas langit.