
Ard yang melihat situasi tersebut, memilih menuju kapal dan mengajak Karu. Kapten yang melihat mereka, menanyakan perihal Xion. Sembari mengoper peralatan kapal, Ard memberi alibi mengenai Xion sementara waktu.
"Jadi, siapa ini, Ard?" Tanya Kapten dari atap kapal.
"Dia temanku, Karu. Kapten mengizinkannya?" Balas tanya Ard.
"Aku tak melarang selama dia tetap menjadi gadis baik. Nikmatilah laut ini." Sapa Kapten.
"Uhm. Terima kasih." Balas Karu.
"Kemarilah. Akan terasa berbeda jika kau berada diatas sini." Ujar Ard sembari mengulurkan tangan pada Karu untuk menuntunnya.
Ard mengajak Karu ke bagian kapal yang paling atas, sembari melihat laut dan pemandangan.
"Karena yang kutahu, favoritmu berada di luar angkasa. Aku ingin memperkenalkanmu sedikit pada duniaku." Ujar Ard sembari melihat laut lepas.
"Laut?" Tanya Karu dengan penasaran.
"Kehidupannya, pemandangannya, serta penghuninya. Terlebih lagi, laut membuatku bisa melepaskan segala beban." Ujar Ard memperjelas maksudnya.
"Begitu. Aku hanya mengagumi luar angkasa. Tak tahu perihal laut." Balas Karu dengan canggung.
"Dan hal yang membuatmu kagum?" Tanya Ard sembari menengoknya.
"Luas dan misteri di dalamnya." Lanjut Karu sembari memandang jauh.
"Begitu. Jika kau meyakini dengan usaha, impianmu akan datang memelukmu. Berjuanglah!" Seru Ard menyema
"Bodoh. Kenapa harus kucurahkan?" Ujar Karu dalam hati.
Disaat mereka sedang berbincang, Xion dan yang lain kembali sembari menaiki kapal. Xion membujuk Kapten untuk mendapatkan izin agar mereka ikut sesekali. Kapten pun dengan ramah mengizinkannya asalkan tak mengacau isi kapal.
"Xion. Kau yakin tak apa? Kami hanya takut menjadi beban kalian dikala mengangkuti ikan." Tanya Gant dengan ragu.
"Tak apa. Kapten mengizinkan kalian. Lagipula ada bagian yang bisa ditumpangi. Dengan begitu kalian bisa menikmati laut dan tidak kaku." Lanjut Xion.
"Jika begitu baiklah. Untuk kali ini saja. Mungkin bisa mendapat hal yang menakjubkan." Sanggah Miccha.
"Hal menakjubkan selalu terjadi setiap hari. Kau menaiki kapal yang tepat, nona." Gurau Xion.
"Hooo~ jika begitu tunjukkanlah, Tuan Lautan." Balas Gurau Miccha.
"Xion! Sudah semua dengan peralatannya?" Tanya Kapten dari belakang kapal.
"Sudah! Kita siap lepas!" Balas Seru Xion.
"Nah, Karu. Nikmatilah waktumu. Jika ada sesuatu yang mengganggumu, katakanlah." Ujar Ard sembari turun melepas pengait kapal.
Kapal Ikan Axeru mulai berlayar. Xion dan Ard berlayar sembari mengajak Miccha, Gant, Risu dan Karu kali ini. Gant dan Miccha menikmati momen mereka berdua. Risu menemani Karu di bagian depan kapal.
Risu tampak khawatir dengan Karu yang tak bersemangat. Dengan angin laut yang terasa sejuk dan langit berawan, suasana tercipta sangat rileks untuk mereka.
"Karu? Kau sakit? Mabuk laut?" Tanya Risu dengan khawatir.
"Ah, maaf, Risu. Aku baik. Hanya saja, ini pertama kali nya aku menaiki kapal." Balas Karu meredakan Risu.
"Begitu. Tapi, melihatmu sekarang aku sangat khawatir denganmu, Karu. Apa yang membuatmu tertekan?" Tanya Risu semakin khawatir.
"Bisa kau meninggalkanku untuk saat ini, Risu?" Tanya Karu tak menatap Risu.
"Ekspresimu sekarang ini, tentu aku tak bisa meninggalkanmu begitu saja. Kau pikir berapa kali aku melihat ekspresi itu?" Bantah Risu akan keraguan Karu.
"Jika begitu... bisa kau menjaga rahasia ini?" Tanya Karu akan permintaannya.
"Kulakukan. Katakanlah." Balas Risu sembari membujuknya.
"Aku... membenci Ard." Ujar Karu dengan sedikit gumamnya.
"Bisa kau beritahu yang menjadi alasanmu? Agar bisa membuatku yakin." Tanya Risu dengan heran.
"Sekian lama aku mengenalnya, dia sangat mengganggu. Seolah-olah dia bisa akrab denganku. Dia hanya orang bodoh yang tak mengerti situasi." Ujar Karu sembari bersandar pada pembatas kapal.
"Jika itu yang kau minta, baiklah. Namun, aku akan mengatakan hal ini." Balas Risu terpotong.
"Hmm?" Gumam Karu sembari melirik Risu
"Dia memang kekanak-kanakan, mengganggu dan jahil. Sifat genitnya pada setiap gadis terkadang menyebalkan. Dan dia pernah mengatakan padaku mengenai masalahnya." Lanjut Risu sembari memandang jauh.
Risu menceritakan perihal Ard pada Karu di masa lalunya. Ard yang mengatakan pada Risu bahwa yang seringkali genit dengan gadis ialah sekedar mengakrabkan diri.
Ard saat itu, memberitahu rahasianya pada Risu. Dia hanya terpaku dan menyukai Karu semenjak awal. Namun, Ard tak bisa mengungkapkannya. Karu yang mendengarnya, kebingungan dengan langkah yang harus ia ambil.
Karu pun hanya meminta pada Risu untuk tidak membahasnya lebih jauh. Risu yang mendengar permintaan Karu, langsung mengerti dan merasa lega.
Gant memberitahu Karu dan Risu akan tangkapan besar Xion dan Ard di bagian belakang kapal. Risu pun bergegas mengajak Karu untuk melihatnya.
"Apakah ini yang kau maksud dengan 'Jackpot' itu, Ard?" Tanya Gurau Risu.
"Jackpot yang kumaksud seharusnya ada disini. Akan kulihat nanti jika disortir." Ujar Ard dengan bangganya.
"Ya. Aku baik saja." Balas Karu.
"Hmmmm! Angin di laut memang luar biasa!" Seru Miccha sembari membentangkan kedua tangannya.
Waktu berjalan hingga senja hari. Mereka telah puas menaiki kapal atas ajakan Xion dan Ard. Gant pulang bersamaan dengan Miccha, Risu dan Karu. Ard dan Xion yang berpisah dengan mereka, langsung membongkar muatan untuk mensortir. Seusai dengan pekerjaan mereka yang cukup panjang, Xion mengajak Ard menemui Gant di rumah Hiruma pada malam hari. Sesampainya di sana, Ard dan Xion disambut oleh penjaga dan dipertemukan dengan segera.
"Lama. Aku sudah menunggu kalian." Ujar Gant yang bersandar di dekat jendela.
"Hahaha! Maaf. Lama tak bertemu, Hiruma." Sapa Ard.
"Oh, Ard. Baguslah kau sehat. Dan kita bisa berkumpul disini." Ujar Hiruma sembari menuangkan tehnya.
"Kurasa perhitunganmu kurang tepat, Hiruma." Sindir Ard menyadarkan Hiruma.
"Aku belum mendengar kabar anak trendi itu. Bagaimana dengannya?" Tanya Hiruma sembari meminum teh.
"Dari yang kudengar terakhir kali, dia sedang menambahkan tema baru pada sepatu-sepatunya." Balas Ard sembari mengambil teh.
"Jika itu kabar yang kudengar, baguslah. Aku menantikan produk terbarunya." Sanggah Xion.
"Dan selamat untukmu yang bisa menggeser si muka tegang itu, Hiruma." Lanjut Ard.
"Dia pria yang tangguh. Aku tak akan meremehkannya." Bantah Hiruma.
"Kau mendapati sesuatu mengenai tahun lalu?" Tanya Gant perihal insiden tersebut.
"Tak ada data yang bisa kugunakan. Kurang beruntung mengenai hal itu, maaf." Balas Hiruma.
"Kami memahaminya. Dan Aku merasa kasihan padanya." Gumam Ard mengenai Risu.
"Senyum yang dia lakukan meresahkanku setiap hari. Walau alurnya selalu kuikuti." Sanggah Xion.
"Misteri Kota Exgalya ini sungguh menyebalkan. Alam atau ilmiah? Berbahaya untuk jiwa mereka disini." Gumam Gant dengan kesal.
"Kurasa untuk evakuasi pun itu hal yang konyol." Sanggah Ard sembari meminum teh.
"Evakuasi? Hal itu berbandingan setengah dan setengah. Tapi kurasa perlu dicoba." Balas Hiruma sembari berpikir.
Dengan seketika, Ard menyembur teh yang diminumnya ke udara dan tersedak.
"Dicoba?! Maksudmu mengkosongkan seisi Exgalya secara mendadak?!" Tanya Ard dengan terkejut sembari menahan batuk.
"Ard. Ide gila mu bisa dicoba. Dengan begitu kita dapat mengetahui hasilnya." Sanggah Gant.
"Tidak tidak tidak! Itu hanya pikiran sepintasku! Jelas bisa menimbulkan resiko yang lain." Bantah Ard dengan canggungnya.
"Resiko apa yang kau maksud?" Tanya Hiruma.
"Maksudku, jika kita memindahkan seisi Exgalya, maka kota akan kosong. Dan itu bisa menimbulkan penyusupan orang luar yang memanfaatkannya. Dan lagi, kemana kita akan memindahkannya?!" Bantah Ard dengan opininya.
"Jika kita mengevakuasi mereka dan terdapat ancaman pada Exgalya, yang kita spekulasikan melenyapkan jiwa di Musim Panas, maka ancaman tersebut justru bisa terkena imbasnya." Ujar Hiruma membantah Ard.
"Dan maksudmu, kau semudah itu meyakini bahwa Kota Exgalya adalah kota yang berbahaya?! Jika begitu, manusia mana yang akan mengancam Exgalya jika merekalah yang akan terancam?!" Bantah Ard menyadarkan Hiruma dan yang lain.
"Itu--- maaf. Sepertinya kita terlalu lurus pada pembahasan ini." Balas Hiruma sembari memegang kening dengan tangan kanannya.
"Aaaah~ insiden itu bisa membuat kita gila. Sekalipun kita membahasnya." Sanggah Xion.
"Aku terkesan kau bisa ikut menggila, Hiruma." Ujar Ard sembari kembali mengambil duduk.
"Kurasa alangkah baiknya hal ini kita tutup sementara waktu. Kita sendiri tak akan mampu memecahkannya semudah itu." Sanggah Gant memperbaiki keadaan.
Mereka pun kembali tenang setelah beradu opini yang membakar suasana. Ard dan kawan-kawan memutuskan untuk berhenti sementara waktu akan pemikiran mereka pada tragedi tersebut.
Seusai malam panjang, fajar pun tiba. Ard dan Xion mendapati libur dari lautnya dengan bersantai sejenak di pinggiran Laut Axeru. Ard mengisi waktu luangnya dengan memancing.
"Aaaah~ aku memang tak cocok dengan waktu kosong ini. Dan hanya ini yang dapat kulakukan." Keluh Ard sembari tidur telentang menunggu tangkapannya.
"Tak cocok? Kau bodoh atau apa? Kenapa kau tidak mendatangi Karu?" Bantah Xion sembari membaca buku kelautan dan bersantai di atas kapal.
"Apa yang kau maksud? Alasan apa yang harus kuucapkan jika bertamu secara tiba-tiba?" Bantah Ard kembali dengan kebingungannya.
"Kau ini memang payah jika dengan gadis. Padahal kau menyukainya, tapi kau justru mengeluhkan hal tersebut." Balas Xion kembali membantah Ard.
"Aku tak mengeluhkannya. Jika soal gadis aku tak akan menyangkal." Gumam Ard dengan kesal.
"Jadi, apa yang ingin kau lakukan pada saat seperti ini?" Tanya Xion sembari menengoknya.
"Duniaku hanya di laut ini. Ajak aku ke tempat yang menarik, kawan." Ujar Ard dengan guraunya.
"Jika begitu, baiklah. Dan jangan mengeluh kembali." Balas Xion sembari turun dari kapal.
"Jangan mengeluh? Itu tergantung kemana kau membawaku." Bantah Ard sembari merapihkan alat pancingnya ke kapal.
Ard dan Xion mulai beranjak pergi dari Laut Axeru karena merasa bosan dan mencari tempat menarik sebagai permintaan Ard.