From Grey To Red

From Grey To Red
BAB 20 : Langkah Pemulihan



Karu tak menyangka hal itu dapat terjadi dan hanya memandang Risu dengan heran bercampur takut. Dengan nafas Risu tampak menahan emosi, Risu mulai mengutarakan urusannya.


"Hei. Karu. Kenapa kau tak merespon? Karena dia?" Tanya Risu memojokkan Karu.


"Risu... Aku tak ingin melihatnya lagi. Itu hanya akan membuatku mati rasa dan membatu." Balas Karu sembari mengumpulkan keberaniannya.


"Katakan. KATAKAN DENGAN JELAS! DIA KASAR PADAMU?! Dia MENGOTORIMU?! SETIDAKNYA ANGGAP DIA SEBAGAI MANUSIA!" Bantah Risu sembari menggenggam kedua lengan atas Karu dengan erat sembari mendorongnya kedinding.


"Sakit. Sudah cukup. KAU TAHU APA?! KAU BAHKAN TAK MENGERTI DENGAN YANG KURASAKAN JIKA AKU MEMANG TAK MENGINGINKANNYA! KENAPA KAU MEMAKSA?! APA YANG SUDAH IA BISIKAN PADAMU?! AKU TAK INGIN KAU MENJADI ORANG KEDUA YANG TURUT MENJAUHINYA!" Balas tanya Karu meluapkan emosi.


Risu yang dibalas oleh Karu terdiam beberapa saat dan menarik nafas untuk menenangkan diri.


"Memang benar. Aku tak ingin memaksamu. Setidaknya kau tahu, bahwa dia ingin berteman denganmu. Aku melakukan ini atas kehendakku sendiri setelah melihat kalian berdua. Kita semua sudah saling mengenal sejak awal. Dan dia memang orang bodoh yang melakukan banyak hal tanpa pikir panjang, bahkan mengabaikan sekitar. Dia hanya ingin merasakan kesenangan dengan dunia yang cocok dengannya. Namun, meski dunianya itu bertolak belakang dengan yang diharapkan, apakah dia melakukan pembalasan? Sisanya terserah padamu, Karu. Jaga dirimu." Ujar Risu mengakhiri perbincangan dan berjalan keluar kamar.


"Ah! Teman Karu? Sudah mau pulang?" Tanya Bibi Karu yang baru datang berbelanja.


"Iya. Maaf sudah mengganggu. Permisi." Balas Risu sembari keluar Rumah Karu.


"Ah... hati-hati..." Gumam Bibi dengan canggung.


"Sedikit hal kuharapkan padamu, Karu. Kuharap, kita semua bisa melakukan kebahagiaan tanpa ada yang tertinggal." Ujar Risu dalam hati sembari melihat tembok Kamar Karu.


"Ard... apa lagi yang sudah kau perbuat? Ini pasti ulahmu lagi, kan? Kenapa lidahmu begitu berbahaya? Kau ini manusia atau apa?" Gumam Karu menahan kesalnya sembari meringkuk dan membenamkan wajah.


Di lain tempat, sebuah Stasiun Kepolisian Exgalya. Vicchy sudah mendengar kabar sebelumnya dan berkunjung untuk bisa bertemu dengan Ard.


"Selanjutnya. Ada yang bisa kubantu?" Tanya Staf Pria pada Vicchy.


"Aku ingin melakukan kunjungan untuk Ard." Ujar Vicchy.


"Sebagai siapa dan darimana?" Tanya Staf Pria.


"Vicchy, saudaranya. Dari Gal." Lanjut Vicchy.


"Memiliki bukti dokumen keluarga?" Tanya Staf Pria.


"Itu... tidak..." Ujar Vicchy tertunduk malu.


"Begitu. Aku mengerti. Tapi, kami tak bisa mengizinkannya sembarangan tanpa bukti data diri yang jelas karena dia tahanan khusus. Jika berkenan, silahkan kembali lain waktu. Selanjutnya." Balas Staf Pria memperingati Vicchy.


Vicchy mendapat jawaban yang tak diharapkannya. Dia hanya bisa menahan rasa sedih sembari pulang ke apartemen. Vicchy kebingungan akan langkah yang harus ia ambil agar dapat menemui Ard. Kembali pada Villa di Bukit Thyfaro, Hiruma berada di Lab bersama Miccha, Risu dan Willy.


"Mengenai hal ini, aku yakin akan berhasil." Ujar Willy sembari berpikir.


"Social State, Reset. Aku harus memastikannya lagi dengan ketentuan ini." Balas Miccha sembari melihat syarat dan ketentuannya kembali.


"Memperbaiki Social Statenya dengan ketentuan Reset. Yang berarti, membuat Ard menjalani hukuman untuk mencapai status normalnya lagi dari awal. Aku hanya akan berasumsi positif bahwa ini dapat dilakukan." Lanjut Risu.


"Sama denganku. Dan dengan bantuan Hiruma sebagai perantara, hal ini sebenarnya tertulis di Hukum Exgalya, hanya saja kita tak menyadarinya. Dan mereka pasti berpikir bahwa kita harus menemukan solusi ini." Ujar Miccha.


"Jika ini terjawab, terima kasih untukmu, Hiruma." Ujar Risu melihat Hiruma.


"Cukup traktir aku makan malam jika begitu. Kuharap ini tak memakan proses lama untuk persetujuannya." Balas Hiruma akan kekhawatirannya.


Hiruma yang hendak melewati ruang tamu, terhenti ketika melihat Xion sedang berbaring santai di sofa.


"Hal apa lagi yang kau khawatirkan?" Tanya Hiruma.


"Tidak. Aku hanya mencoba untuk rileks dan menenangkan diri. Aku bersyukur akan hal ini. Kuharap tak ada hal gila lainnya." Balas Xion sembari bersantai di sofa.


"Ada sesuatu yang kau inginkan?" Tanya Hiruma berbalik.


"Sedikit. Aku pinjam aksesmu untuk mengunjungi anak laut itu." Balas Xion berganti ke posisi duduk.


Hiruma yang dipinta oleh Xion, mengeluarkan DIGI-ID dan melempar padanya. Dengan segera, Xion berangkat bersama Hiruma. Ketika diperjalanan, Xion memulai basa-basi dengan Hiruma yang sedang mengemudi.


"Jika kuingat lagi, musuhmu begitu banyak hingga saat ini, Hiruma." Ujar Xion sembari melihat keluar.


"Hal yang kukecewakan. Exgalya sudah menjadi kota luar biasa, tapi tidak untuk beberapa yang ada di dalamnya." Balas Hiruma.


"Apakah ini hanya perasaanku saja, jika dia sudah dikutuk sejak lama ?" Tanya Xion sembari melihat pemandangan luar.


"Kurasa. Senyum yang dia lakukan setiap hari beserta tindakan bodohnya, seringkali membuatku ingin memukul sesekali. Tapi, untuk menyalahkannya bukanlah hal bagus untuk merubah keadaan. Dia hanya melakukan apa yang baik untuk saat ini." Balas Hiruma.


"Kukira masalah kita hanya ada pada tragedi serpihan ini. Tak kusangka jika aku akan mendapatkan banyak musuh." Lanjut Xion.


"Mereka bukanlah musuhmu, Xion. Dan bukan sepenuhnya bebanmu untuk masuk kedalam milikku. Sebagian ada pada kalian, keduanya ada padaku. Jika ingin membantu, cukup lakukan hal kecil. Itu sudah sangat berpengaruh." Ujar Hiruma membantah Xion.


"Aku mengerti. Sejujurnya, tanpa anak laut itu, tempat kami terasa suram sekarang." Ujar Xion sembari bersandar dan memejamkan mata sesaat.


"Satu hal yang kukhawatirkan. Apakah mereka masih bisa menerimanya?" Tanya Hiruma mengenai Paman Zaunt dan yang lain.


"Untuk hal itu... entahlah. Aku masih terlalu takut untuk menanyakannya. Terlebih anak laut ini prioritas utama." Balas Xion.


Usai melakukan perjalanan dari Bukit Thyfaro ke Kepolisian Exgalya di pusat kota, Xion diantarkan lebih dulu oleh Hiruma akan kunjungannya untuk Ard. Saat akan memasuki kantor, Paman Zaunt secara kebetulan bertemu dengan Xion dan Hiruma.


"Paman Zaunt? Hal yang sama?" Tanya Xion akan keperluannya.


"Begitulah. Ah, Tuan Hiruma. Selamat Siang." Balas Paman Zaunt sembari menyapa Hiruma.


"Siang. Aksesnya tak akan mudah untuk umum, akan kubuat untuk kalian." Ujar Hiruma mengajak mereka masuk ke Kantor Kepolisian Exgalya.


"Selamat Siang. Ah, Tuan Hiruma. Ada yang bisa kubantu?" Tanya Staf Polisi Pria.


"Mereka berdua ingin melakukan kunjungan untuk Ard dibawah tanggung jawabku." Balas Hiruma menunjuk Xion dan Paman Zaunt.


"Begitu. Baiklah. Bisa kuminta identitas lengkapnya?" Balas tanya Staf Pria sembari lanjut meminta Xion dan Paman Zaunt.


Mereka dengan langsung mengeluarkan DIGI-ID dan menunjukkannya pada Staf Pria. Identitas dikonfirmasi olehnya dan mendapat akses masuk untuk menemui Ard. Paman Zaunt yang heran karena Hiruma tidak ikut, menanyakan perihalnya.


"Tuan Hiruma, anda tidak ikut?" Tanya Paman Zaunt.


"Begitu." Gumam Paman Zaunt.


"Paman, ayo!" Pinta Xion bersama Polisi Pria.


"Ah, tentu." Balas Paman Zaunt.


Kantor Kepolisian Exgalya terasa cukup dalam untuk melewati berbagai selnya. Hingga tiga menit kemudian, mereka tiba di sel paling ujung sembari petugas membukakan kunci areanya.


Mereka yang memasuki ruangan, terkejut melihat Ard akan kondisinya dan segera memanggil Ard yang sedang tertidur santai.


"Ard! Oi! Ard!" Seru Xion membangunkan Ard.


Usai dengan tidurnya, Ard terbangun perlahan dan menoleh kebelakang.


"Xion?! Yo, kawan. Bagaimana kabarmu?" Tanya Ard dengan santainya.


"Harusnya aku yang bertanya begitu, sialan! Nekatmu itu melebihi batas!" Bantah Xion akan kekecewaannya pada Ard.


"Hahahahaha! Maaf-maaf." Balas Ard menenangkan Xion.


"Ard. Bagaimana denganmu? Xion sulit bertahan di pelabuhan tanpa ocehanmu." Ujar Paman Zaunt memulai obrolan hangatnya.


"Aku baik. Terima kasih. Daaaan begitukah? Aku berhutang banyak pada kalian." Balas Ard sembari bergurau.


"Hei. Jika kau bisa keluar dari sini, izinkan aku memukulmu sepenuhnya, mengerti?" Ujar Xion akan pintanya pada Ard.


"Hahahahahaha! Tentu." Balas Ard.


"Dan... kenapa kau melakukan hal gila ini, Ard?" Tanya Xion mengganti nadanya.


Ard menceritakan berdasarkan instingnya. Singkatnya. Mereka mengincar Exgalya dan Exgalya memiliki Hiruma. Hiruma yang ia rasa sedang dipojokkan sesuatu, membuat Ard harus mempertahankannya.Karena Hiruma merupakan kekuatan mereka saat ini.


Mengingat banyak yang menargetkan Hiruma dan berniat mengubah Exgalya menjadi neraka, Ard tak memiliki pilihan lain.


"Kemudian, neraka justru memelukmu. Kalian tampak sudah ditargetkan sedari jauh-jauh hari. Hal yang kutakutkan adalah mereka yang dekat dengan Hiruma, maka akan menjadi sasaran empuk oleh mereka yang lain." Ujar Paman Zaunt akan opininya.


"Maksudmu Hiruma sebagai pembawa bencana?! Aku tak percaya akan kalimat yang keluar dari mulutmu, Paman Zaunt!" Bantah Xion sembari berdiri dengan seketika.


"Nah-nah~ Xion, tenangkan dirimu. Paman Zaunt, tolong jaga kalimatmu. Terima kasih." Ujar Ard melerai Xion dan Paman Zaunt.


"Ah, mulut burukku. Maaf." Balas Paman Zaunt dengan menyesal.


Dikala mereka sedang berbincang, kembali pada Hiruma yang mendapati misinya untuk menyelesaikan kasus Ard dengan menemui Petinggi Exgalya. Hiruma yang menuju ruangan pertemuan, tampak kosong begitu ia masuk kedalamnya. Selang beberapa detik saat dia masuk, Petinggi Satu, Galya menemui Hiruma sebagai satu-satunya yang dapat hadir.


"Mereka tak bisa hadir untuk waktu yang tak ditentukan. Kota lain sudah menargetkan Exgalya, Hiruma." Ujar Dewan Galya.


"Secepat ini?! Aku butuh bantuan anda, Tuan Galya." Pinta Hiruma sembari membungkuk.


"Hm?" Gumam Dewan Galya.


"Aku meminta izin anda untuk melakukan Reset Social State atas nama Ard." Lanjut Hiruma.


"Itu mungkin saja bisa menolong. Tapi, mereka sedang tak bisa disini, Hiruma. Meskipun aku sebagai pemimpin, tetaplah mutlak membutuhkan perundingan mereka. Aku akan menyimpan permohonanmu. Akan kubantu lain waktu." Balas Dewan Galya meyakinkan Hiruma.


"Begitu. Terima kasih banyak." Ujar Hiruma akan rasa sedikit leganya.


"Masalah kita bertambah banyak, Hiruma. Kau yakin bisa bertahan dan menyelesaikan semuanya?" Tanya Dewan Galya meragukan Hiruma.


"Untuk segala aspeknya, akan kuusahakan. Tapi, mereka memaksaku agar tak melakukannya seorang diri." Balas Hiruma akan kebingungannya.


"Hal wajar jika sahabatmu satu pemikiran untuk mendukung. Beban yang kau pikul mendorong mereka untuk melakukan yang mereka bisa untukmu. Sahabat keras kepala adalah keberuntunganmu, Hiruma." Lanjut Dewan Galya.


"Begitu. Sifat dan pikiranku bertolak belakang, hal itulah yang tak bisa kusembunyikan dari mereka agar mereka tak terseret lebih jauh." Ujar Hiruma akan tekadnya.


"Hiruma. Dibanding kau menahannya, lebih baik kau memahami niat mereka untukmu dari jauh. Pada dasarnya, kita semua adalah makhluk sosial. Jika mereka siap untukmu, cukup katakan yang kau butuhkan." Balas Dewan Galya.


"Tuan Galya... Terima kasih banyak. Aku mohon bantuannya untuk Ard dan akan kulakukan segala yang kubisa untuk Exgalya. Permisi." Ujar Hiruma sembari pamit.


"Sejauh itu untuk sahabatmu, kah? Aku terkesan, Hiruma." Gumam Tuan Galya sembari pergi melanjutkan urusannya.


Hiruma yang mendapatkan hal di luar ekspektasinya, pulang dengan kecewa berbanding lega.


"Bulan depan... adalah penghakimannya. Apakah bisa kucegah hal yang tak kuinginkan? Kurasa tak ada hal lain." Gumam Hiruma dengan rasa khawatirnya.


Hari kembali disambut oleh awan gelap dengan hujan siap turun kapanpun. Dyenna yang sedang senggang, melangkah ke pemakaman dan berniat membersihkan nisan ayah dan ibu Ard. Dengan doa yang ia tuturkan, Dyenna berbincang sedikit.


"Tuan Aruza. Nyonya Ruru. Dyenna disini. Aku merasa buruk, akan kabar yang kudapat saat ini mengenai Ard. Aku harap, aku bisa membantunya... tapi, hal apa yang harus kulakukan?" Tanya Dyenna akan buntunya.


"Aku tak mempunyai petunjuk atau kekuatan. Dia orang tangguh yang bahkan mengabaikan banyak hal. Tolong, lindungi dia. Dan, secepat mungkin... apapun itu... aku ingin membantunya. Terima kasih." Lanjut Dyenna akan curahannya dan melangkah pulang.


Hiruma kembali ke Villa di Bukit Thyfaro dan menemui Willy dan kawan-kawan.


"Ah, Willy mendapat panggilan tugasnya dan Risu ikut akan urusan yang tak kuketahui." Ujar Miccha sembari mengetikkan tugasnya.


"Begitu. Terima kasih untuk waktunya, Miccha." Balas Hiruma.


"Tak masalah. Kita akan berkumpul lagi lain waktu. Aku harus memfokuskan tugasku terlebih dulu agar tak merusak otakku, hahahahaha." Ujar Miccha sembari berkemas.


"Aku mengerti. Berhati-hatilah." Lanjut Hiruma.


"Jika begitu, informasikan ke semuanya hal yang kau dapat. Dan... kuharap bisa kulakukan lebih dari ini." Balas Jay sembari bergumam.


"Kau sudah cukup membantu, Miccha. Begitu juga dengan mereka." Sanggah Hiruma tak melirik Miccha.


"Begitukah? Aku mengerti. Kita tak memiliki waktu yang bagus akhir-akhir ini. Perjuangkan terlebih dulu hal yang menjadi masa depanmu, dengan begitu kau akan memiliki penyesalan yang minim, Hiruma." Ujar Miccha sembari mulai pergi.


Hiruma yang berada di villa, menenangkan diri untuk sementara waktu sembari menunggu hal yang dinantikannya dan berharap berakhir baik.