From Grey To Red

From Grey To Red
BAB 5 : Topeng dan Benang Merah



Mereka lanjut berpindah ke Kamar Vicchy di lantai dua. Ard menceritakan sedikit akan perasaannya pada Karu. Vicchy yang semakin mendengarnya hanya bisa mengambil kesimpulan bahwa Ard memang berat sebelah.


Vicchy berusaha memberitahu Ard, namun tak bisa menembus keras kepalanya. Ard dianggap oleh Vicchy yang terus menerus menyakiti dirinya sendiri akan perasaannya pada Karu.


"Jika mereka mendengar ini, mereka sudah memukulmu habis-habisan, Ard." Ujar Vicchy sembari mengalihkan pandangannya dari Ard.


"Hahahahaha! Tak akan terjadi sampai begitunya. Kau ini ada-ada saja." Balas Ard sembari melihat keluar jendela.


"Lantas... kenapa kau melakukan ini?! Dia tidak membutuhkanmu! Dia terganggu olehmu!" Seru Vicchy dengan kesalnya.


"Sudah kukatakan. Aku hanya memantaunya dari jauh." Balas Ard berpaling menatap Vicchy.


Vicchy yang berlanjut mendengar hal tersebut, kehilangan kesabarannya. Dia langsung melayangkan tamparan keras pada sisi kiri pipi Ard seakan berusaha membuatnya tersadar.


Ard yang tertampar dengan keras, hanya membalasnya dengan senyum pada Vicchy. Vicchy kembali terbakar emosi pada kelakuan Ard yang keras kepala.


Dia kembali melakukan kekerasannya pada Ard sembari mencengkeram kerahnya dan menabrakkannya ke tembok.


"HENTIKAN HAL INI! KAU TAHU RASANYA SEPERTI YANG PERNAH KURASAKAN DULU! ITU SANGAT MENYAKITKAN, HINGGA CUKUP UNTUK MEMBUATKU BERTERIAK!" Seru Vicchy dengan luapan emosinya.


"Jangan khawatir. Aku tak akan lebih dari ini. Aku janji." Balas Ard membujuk Vicchy.


"DAN SECARA PERLAHAN DIA JUGA AKAN MEMBUNUHMU DENGAN KALIMATNYA!" Seru Vicchy.


"Karu bukanlah orang yang buruk, Vicchy." Ujar Ard dengan senyum tipisnya.


Vicchy terkulai lemas dan kembali memohon pada Ard untuk menghentikan perilakunya pada Karu. Dia kembali mengingatkan Ard akan hal yang sering di bahasnya di masa lalu.


Ard yang berada di depan Vicchy, melangkahkan kakinya kembali ke dekat jendela. Bulan purnama yang bersinar, memberikan cahayanya dan memasuki jendela Kamar Vicchy.


"Setelah kakakku menghilang, jangan buat tangan ini merah lagi karena mu, Ard." Pinta Vicchy sembari masih tersungkur.


"Dan kau berbohong mengenainya?" Balas Ard tak menatapnya.


"Merepotkan jika membahasnya." Bantah Vicchy sembari menutup mulut dengan punggung tangan kanannya.


"Jika begitu kita impas. Jangan membahasnya lagi." Ujar Ard perihal Karu.


"Dan hal ini menggangguku. Berapa topeng yang kau punya?" Tanya Vicchy sembari berdiri di belakang Ard.


"Selama 5 tahun, kau sudah mengetahuinya tanpa bertanya." Balas Ard menengok Vicchy.


"Kau memang orang yang mengerikan." Ujar Vicchy sembari melompat pada kasurnya.


"Istirahatlah. Mimpi indah." Ujar Ard.


Ard melewati malam yang panjang sementara waktu di Villa Vicchy. Tiga bulan berlalu dan mencapai Liburan Semester Universitas El Vee. Miccha, Karu, Risu dan Aziru mendapati waktu kosong yang panjang.


"Akhirnya! Pikiranku lebih ringan untuk sementara waktu!" Seru Miccha.


"Jaaadiiii~ apa yang ingin kita lakukan saat ini? Berjalan-jalan lagi?" Tanya Risu dengan pendapatnya.


"Tapi, bukankah mereka sibuk kembali? Dan tak bisa berkumpul sekarang." Sanggah Karu.


"Aaaaaaaa !! Riiisuuuuu ! Tak seru tanpa Gant !" Seru Miccha sembari menarik kedua pipi Risu.


"Sakit! Sakit! Sakit! Micchaaaaaa!" Seru Risu meminta Miccha berhenti.


"Kak Aziru, bagaimana denganmu?" Tanya Karu.


"Maaf. Aku ingin mengunjungi kampung nenekku. Kalian bersenang-senanglah." Balas Aziru berpamitan dengan yang lain secara mendadak.


"Ah. Lagi?" Gumam Risu dan Karu bersamaan.


"Ini akan semakin sepi. Mungkin aku hanya akan menemui Xion saja." Gumam Risu dengan kecewanya.


"Aku akan mengunjungi Gant jika begitu!" Seru Miccha dengan kesalnya.


"Ah... begitu. Sepertinya kalian memiliki rencana masing-masing." Ujar Karu.


"Ah, iya. Karu, Kau bisa menemui Ard jika kau mau." Ujar Miccha.


"Eh? Itu..." Gumam Karu dengan canggung.


"Aaaa~ sebentar Miccha. Aku lupa memberitahumu. Gant memintaku saat liburan agar kau segera ke sana sekarang." Sanggah Risu mengelabuhi Miccha.


"Gant? Sekarang?!" Balas Miccha dengan terkejut.


"Dia akan memberikanmu segala makanan disana. Pergilah." Lanjut Karu.


"Aaaaaa!! Aku pergi dulu!" Seru Miccha dengan semangat dan pergi meninggalkan Karu dan Risu.


"Karu." Ujar Risu.


"Maaf... sama sekali. Aku tak menginginkannya." Balas Karu dengan nada kecil dan canggung.


"Aku mengerti. Jadi, apa yang ingin kau lakukan? Kau harus menemukan hal yang menyinarimu, Karu." Lanjut Risu membujuk Karu.


"Aku akan baik-baik saja, Risu. Terima kasih. Jika begitu, temuilah Xion. Aku lebih dulu. Bye." Balas Karu meninggalkan Risu.


Risu yang tinggal seorang diri, langsung menuju Rumah Xion. Karu yang telah pergi lebih dulu, merasakan bimbang dan cemas yang melekat pada pikirannya.


Karu yang berjalan mengarah Taman Exgalya, menghentikan langkahnya dan duduk di kursi taman. Disaat Karu sedang merenung akan rasa cemasnya, bola tenis menggelinding pada kakinya.


Karu yang menghadap kebawah seketika tersadar dan mengambil bola tenis tersebut. Pemilik bola tenis pun menyerukan bolanya pada Karu. Sosok pria tinggi dengan potongan rambut hitam tipis dan postur tubuh yang ideal, tampak seperti seorang atlit menghampiri Karu.


Pria tersebut menerima bolanya dan memulai perbincangannya dengan Karu. Dia langsung memberikan minuman kaleng berupa Teh Soda di sebelah kursi taman yang Karu duduki.


Karu pun hanya menerimanya dengan wajah polos dan canggung. Pria tersebut menghentikan permainannya dan berbincang dengan Karu.


"Maaf jika aku mengejutkanmu. Aku Hikky. Bagaimana denganmu ?" Tanya Hikky dengan akrabnya.


"Tidak. Tak apa. Aku Karu. Kau atlit tenis?" Balas tanya Karu.


"Belum. Aku hanya sedang menajamkan kemampuanku. Kau ingin bermain?" Lanjut Hikky sembari menawarkan raket tenis pada Karu.


Karu kembali merasa canggung dengan Hikky yang baru dikenalnya. Hikky pun langsung mengajarkan Karu dengan perlahan akan tenisnya. Karu yang mengalami banyak kegagalan, terus diajarkan Hikky sebisa mungkin.


Seusai Karu melakukan pemanasan dan teknik dasar, Karu mulai bisa menguasainya. Hikky yang melihat Karu, langsung merasa senang akan perkembangannya. Karu pun mulai terbiasa berbincang dengan Hikky dan melakukan hal lebih dengannya.


"Karu. Boleh aku menanyakan sesuatu?" Tanya Hikky dengan rasa malunya.


"Tentu. Silahkan." Balas Karu.


"Itu... bisakah aku mendapatkan kontak DG-ID mu?" Tanya Hikky dengan canggung.


"Tentu." Balas Karu sembari tersenyum tipis dan mengeluarkan DG-ID nya.


"Ehh?! Kau yakin?!" Lanjut Tanya Hikky sembari terkejut


Hikky pun menerima DG-ID Karu dan menyalinnya. Hikky merasa lebih lega dapat dekat dengan Karu, begitu pun Karu sebaliknya.


Berpindah pada Kota Tengah Gal-Exgalya.Ard menghabiskan waktunya sendiri dan memancing di Pelabuhan Axeru. Selang beberapa lama, Ard merasa bingung dengan kegiatan yang ingin dilakukan selanjutnya dan memilih pulang dan beristirahat di apartemen sembari membawa hasil tangkapan seadanya.


Waktu menempati pukul tiga sore, dan dikala Ard sedang tertidur, bel pintu berbunyi beberapa kali secara perlahan. Ard yang mendengarnya, langsung bangun dengan rasa kantuk yang masih membekas sembari membuka pintu.


Ketika dibuka, Dyenna menjadi tamu tak diundang mendatangi Ard secara tiba-tiba.


"Dyenna? Ah, masuklah." Sapa Ard sembari membukakan pintu.


"Uhm. Terima kasih." Balas Dyenna sembari masuk Kamar Ard.


"Silahkan. Teh, soda, kopi atau jus? Tak perlu sungkan." Ujar Ard sembari membuka lemari es.


"Uhm. Teh dingin." Balas Dyenna.


"Tentu." Lanjut Ard menyajikan teh dingin.


"Terima kasih. Maaf sangat mendadak dan mengejutkanmu." Ujar Dyenna dengan canggung.


"Tak apa. Apa yang terjadi?" Tanya Ard sembari duduk menghadap Dyenna.


"Soal itu... Um... bisa aku menginap semalam di sini?" Tanya Dyenna akan pintanya.


"Mereka lagi?" Tanya Ard menduga permasalahan Dyenna.


"Uhm. Aku ingin mengistirahatkan pikiranku untuk tidak di sana sementara waktu. Aku tak bisa menahannya saat ini." Balas Dyenna sembari tertunduk.


"Tak masalah. Aku bisa memahami rasanya. Jika butuh waktu lebih, tak perlu sungkan." Lanjut Ard mempersilahkan Dyenna.


"Ku tak bisa semudah itu, kau tahu?" Bantah Dyenna akan tawaran Ard.


"Hahahaha. Yah, buatlah dirimu senyaman mungkin. Ini bukanlah pertama kalinya kita saling mengenal." Ujar Ard membuka lemari esnya.


"Ngomong-ngomong. Kenapa kau tak bermain dengan mereka?" Tanya Dyenna.


"Mereka? Mereka memiliki kegiatannya masing-masing. Mustahil untukku bersikap egois pada mereka." Lanjut Ard mengeluarkan sebotol besar teh dingin.


"Kau tak tertarik mencari seorang gadis untuk mengisi hari-hari mu?" Tanya Dyenna mengisi cangkirnya dengan tehnya.


"Bagaimana caranya membuat hati seorang gadis senang?" Tanya Ard dengan guraunya.


"Bagaimana? Kau bisa melakukan banyak hal. Kencan, melakukan hobinya, membahas kesukaannya, memberikan hal yang berarti untuknya. Dan lainnya lagi." Balas Dyenna.


"Dan setelah dilakukan, dia merasa canggung sepanjang hari. Kau mengerti maksudnya, bukan?" Tanya Ard memojokkan Dyenna.


"Itu karena sifatnya yang pemalu. Kau harus bisa beradaptasi dengannya." Bantah Dyenna.


"Dan jika bukan karena sifatnya?" Tanya Ard kembali.


"Itu..." Gumam Dyenna sembari terdiam.


"Dyenna... yang utama ialah kebahagiaanmu yang selalu kukhawatirkan. Karena kau gadis yang sunyi dan rapuh" Balas Ard membujuk Dyenna.


"Apa salahnya jika aku mengkhawatirkan orang lain? Bisa kau beritahu yang kumaksudkan?" Tanya Dyenna sembari membantah Ard.


"Aku bersyukur memiliki sahabat sepertimu. Namun, kau harus menyelesaikan milikmu lebih dulu. Kau tak bisa menanggung keduanya hanya dengan sebuah topeng." Balas Ard kembali membujuk Dyenna.


"Begitupun denganku. Tapi, topeng yang kau kenakan saat ini justru akan membuat mereka kesal denganmu!" Bantah Dyenna.


"Kalian adalah orang-orang terbaik yang pernah kupunya. Mustahil bagiku menemukan salah satu orang sepertimu atau lainnya dua kali." Lanjut Ard.


Ard kembali membantah mengenai topengnya yang dianggap mengganggu oleh Dyenna dan Vicchy. Hari senja berganti malam dan Dyenna mulai terbiasa menggunakan Kamar Ard. Dyenna menghabiskan waktunya dengan bermain gim dan membahas segala hal bersama Ard sebagai pengisi waktu mereka.


Beberapa jam berlalu, Dyenna tidur lebih dulu dibanding Ard yang masih terjaga sembari mengetik ceritanya. Hingga pukul setengah dua belas malam, Dyenna mengeluarkan kalimatnya dengan mendadak.


"Ard." Tanya Dyenna dalam posisi tidurnya.


"Heh?! Dyenna... Membuat kaget saja." Balas tanya Ard menghentikan ketikannya.


"Kenapa kau belum tidur?" Tanya Dyenna.


"Kantuk belum memukulku. Sederhana saja. Dan kenapa kau terbangun?" Balas tanya Ard dengan heran.


"Mimpiku sangat mengganggu. Dan rasa ini masih membekas." Ujar Dyenna dalam posisi tidurnya.


"Kau bisa bertahan digelap malam?" Tanya Ard menantang Dyenna.


"Apa maksudmu?" Tanya Dyenna sembari terbangun.


Ard berniat mengajak Dyenna keluar sementara waktu karena sulit melanjutkan tidurnya. Ard mengajak Dyenna sembari memberikan jaket tebal sebagai pelindung dingin, serta menggunakan CyMotobike untuk membonceng Dyenna.


Merekapun langsung berangkat menuju tempat yang ditargetkan Ard. Selang beberapa menit, mereka tiba di depan Exgalya Tower, Skylift.


Ard langsung mengajak Dyenna masuk dan menuju puncak Tower Exgalya. Sesampainya di atap gedung, angin dingin terasa menusuk dan menyambut mereka, bersamaan dengan pemandangan lampu yang menyinari Kota Exgalya.


"LIHAT! INI ADALAH TEMPAT YANG LUAS! LEPASKAN SEMUANYA DARI DALAM DIRIMU, DYENNA!" Seru Ard sembari membentangkan kedua tangannya dan menatap Dyenna.


"Kenapa kau melakukan itu, Ard?" Tanya Dyenna dengan heran.


"Kenapa? Jika aku tak memberi energi positif padamu, yang terjadi hanyalah kau semakin murung. Dan tak ada gunanya aku melakukan ini. Teriakkanlah, Dyenna!" Lanjut Ard.


"T-Tapi... ini sudah tengah malam. Bisa-bisa gemanya membangunkan mereka." Balas Dyenna dengan ragu.


"Tidak akan. Aku janji. Lakukanlah!" Seru Ard menyemangati Dyenna.


"Ard... kau menakutiku." Lanjut Dyenna.


"Dyenna. Kau ingin terus menahan ini? Dan membuat dirimu yang didalam berteriak kesakitan? Lepaskan topengmu dan lepaskan juga yang ada di dalammu! Sebelum kau menyuruh untuk melepas milikku!" Seru Ard membujuk Dyenna.


Dyenna yang meyakinkan diri dan bujukkan Ard, mulai mengumpulkan keberaniannya. Dyenna pun langsung meneriakkan rasa sakit dalam dirinya untuk melepaskan segala beban yang menahannya. Dyenna berteriak sebisa mungkin dan berhenti setelah puas dengan batasnya.


"Hei, Ard..." Panggil Dyenna.


"Hmm?" Gumam tanya Ard.


"Boleh aku memukulmu?" Lanjut tanya Dyenna akan batasnya.


Ard yang mendengarnya, langsung memasang kuda-kuda dan mempersiapkan diri. Dyenna yang sudah siap, melayangkan pukulannya sekeras mungkin tepat pada perut Ard.Setelah mendapati pukulan tersebut, Ard mencoba menahan rasa sakitnya sembari terjatuh.


"Maaf. Dan terima kasih, Ard. Itu lebih baik. Kau bisa berdiri?" Tanya Dyenna sembari mengulurkan tangan dengan senyum tipisnya.


"Ah... bukan masalah... tentu." Balas Ard menerima bantuan Dyenna untuk berdiri.


Ard dan Dyenna memutuskan untuk kembali dan beristirahat di apartemennya dan menunggu esok hari.