From Grey To Red

From Grey To Red
BAB 16 : Perubahan Vicchy



Mereka kembali bergegas menuju Villa Bukit Thyfaro sembari membawa serpihan tersebut. Sesampainya di sana, Hiruma tak ada di tempatnya yang mereka pikir masih sibuk dengan urusannya.


"Sekarang berlanjut pada Hiruma, kah? Aku tak menyangka kau terlibat diam-diam dengannya." Ujar Xion sembari duduk pada sofa.


"Sesungguhnyapun aku tak ingin seperti ini. Namun, keadaan sangat tak memungkinkan untuk melibatkan kalian. Ditambah jika harus menarik kata-kataku atas permintaan Hiruma yang kupahami." Balas Ard bersandar bokong pada belakang sofa.


"Aku ingin segera mengetahui kebenaran dari benda berbahaya ini. Darimana dia tercipta sebenarnya?" Tanya Xion sembari melihat serpihan.


"Sekalipun kita mengetahuinya, kita harus siap dengan segala kepahitannya. Aku turut berduka pada Hiruma yang menanggung beban ini." Sanggah Ard sembari menengok sedikit.


"Dan hal apa yang kau maksud dengan bantuan Hiruma untuk mengembalikan pecahan ini, Ard? Katakanlah secepatnya." Lanjut tanya Xion.


"Seperti yang kau tahu dengan kejeniusan mata empat sialan itu. Dia memiliki revolusi baru yang kulihat pertama kali. Dia memiliki piranti karena bisa mematahkan teori nasi menjadi bubur." Balas Ard dengan senyum tipisnya.


"Ha?! Maksudmu dia bisa mengembalikannya?! Jadi piranti itu yang dia maksud?! Dia orang yang penuh dengan kejutan gila." Seru Xion sembari berdiri dengan tiba-tiba.


"Dan lagi... aku bersyukur masalah kekacauan ini berakhir. Kukira Exgalya akan menjadi kota lautan api." Ujar Ard sembari menyilangkan kedua tangannya.


"Jika itu terjadi, maka cepat atau lambat Exgalya akan mengalami kepunahan di masa depan. Permasalahannya ialah orang-orang yang masih memiliki nafsu dan ambisi, serta sifat primitif mereka. Mereka disini, hanya akan membawa petaka baru." Lanjut Xion dengan sembari kembali duduk mengepalkan tangan kanan.


"Permisi. Maaf terlambat. Sepertinya aku tertinggal banyak hal." Ujar Jay sembari datang dengan tiba-tiba.


"Ah, Jay! Kenapa kau kemari?" Tanya Xion sembari memalingkan kepalanya ke belakang melihat Jay.


"Ehehehe... maaf. Aku tak bisa langsung pulang ketika tahu situasi kejadian hari ini." Balas Jay dengan canggung.


"Aku berterima kasih kau cemas akan hal ini. Tapi keadaan sudah membaik, Jay." Ujar Ard sembari tersenyum lebar.


"Syukurlah. Kepalaku sakit ketika melihat kerusuhan disini. Aku tak menyangka hal ini terjadi dengan sangat tiba-tiba." Keluh Jay sembari memegangi belakang kepalanya dan memejamkan mata meringankan diri.


Ketika mereka sedang berbincang, Jay tersadar ketika melihat serpihan Summer Sparking yang hancur menjadi butiran pasir di atas meja beralaskan kain hitam. Tak lama kemudian, Hiruma datang bersama Miccha.


"Selamat Datang, Hiruma. Miccha?! Kau juga kemari?!" Sapa Jay sembari terkejut.


"Harusnya aku yang terkejut melihatmu disini. Kau meninggalkan sesuatu?" Balas Miccha sembari tersenyum sarkastik.


"Apa-apaan dengan senyuman itu? Aku hanya mampir kemari." Balas tanya Zay dengan heran.


"Aku kemari karena urusan kecil dengan Tuan Jenius ini." Lanjut Miccha sembari bertolak pinggang menatap Hiruma dengan sinis.


"Maaf." Balas Hiruma sembari memejamkan mata sesaat.


Seusai mereka berbasa-basi kecil, Hiruma mengajak mereka ke dalam laboratorium rahasia. Dengan melangkah ke rak buku di ujung pertigaan koridor, Hiruma mengeluarkan Digi-Access sembari menempelkan kartu pada sensor pembacanya.


Seketika, rak tersebut bergeser ke kanan dan terdapat bagian tembok yang ditarik ke atas hingga menampilkan lorong gelap. Mereka berlanjut melangkah masuk ke dalam, bersamaan lampu yang menyala di lorong.


"Sudah lega membereskan si muka tegang itu?" Tanya Xion sembari berjalan.


"Aku berterima kasih atas bantuan kalian, bahkan mengamankan benda itu dengan cepat." Balas Hiruma sembari berjalan dengan kedua lengan di belakang punggung.


"Tak masalah. Sekarang kembali padamu agar bisa mengembalikan nasi yang sudah menjadi bubur ini." Balas Xion sembari menunjuk serpihan.


"Ard..." Ujar Hiruma melirik Ard dengan sinis.


"Hahahahaha. Maaf-maaf. Dengan ini mereka tahu bahwa kau memang bisa diandalkan dan penting untuk semua, Hiruma." Lanjut Ard membujuk Hiruma.


Seusai perjalanan singkat, sebuah ruangan yang persis seperti lab di Laut Tyxa, membuat mereka terkejut.


"Fyuuuuw~ cadangannya, ya? Seperti yang kuduga." Ujar Ard sembari bersiul kagum dan melihat sekeliling.


"Berapa banyak yang kau sembunyikan akan hal ini, Hiruma?" Tanya Xion akan keluh kesahnya.


Hiruma langsung mengarah pada komputernya sembari memasukkan CyDisc untuk melihat data yang telah diperoleh. Sembari memasukan serpihan tersebut pada tabung, dia mengembalikan pecahan ke bentuk semula.


Komputer dan tabung itu melakukan sinkronisasi dan pengiriman data beberapa saat. Empat menit berlalu, seluruh data telah diperlihatkan. Mereka yang melihatnya, penasaran dengan keseluruhannya.


"Bunga Cylfagera dan Kristal Altrofya? Ini benda yang punah 300 tahun lalu." Ujar Hiruma sembari berpikir.


"Hiruma. Bisa kita katakan ini sebagai versi manusia?" Tanya Ard sembari menduganya.


"Tidak. Ini bahkan bukan manusia. Kau tentunya tahu dengan 300 tahun ini." Bantah Hiruma melihat Ard.


"Mungkinkah, ada makhluk biologis dari masa lalu?" Lanjut Jay sembari berpikir.


"Jadi, ini bukan alam? Melainkan ulah makhluk hidup? Keparat." Gumam Xion menahan kesalnya.


"Makhluk 300 tahun lalu... Pemusnahan... mungkinkah mendominasi?!" Lanjut tanya Jay sembari menduganya.


"Aku senang kau memiliki opini itu, Jay. Tapi, pikirkan lagi kenapa dia tidak membasmi semuanya jika dia bisa melakukan itu." Sanggah Xion menguatkan pendapat.


"Bagaimana jika proyek yang dijalankannya belumlah sempurna dan akan datang kembali?" Lanjut Jay meyakinkan Xion.


"Untuk saat ini, aku bisa memegang opinimu, Jay. Kerja bagus." Ujar Hiruma sembari menengok.


"Jika selama itu dan ada spesies yang berbeda, maka pasti akan ada berita atau data yang tersimpan. Bukankah begitu?" Tanya Ard sembari memegang dagunya.


"Tidak. Jika memang ada spesies yang berbeda dan memiliki kepintaran seperti ini, maka mereka akan tutup mulut sebagai keuntungan mereka." Sanggah Ard pada Willy.


"Dan bagaimana kita mencari tahu? Jika melihatnya melalui Statisik Exgalya, tentu kita ragu akan ada di muka publik." Ujar Jay dengan pesimisnya.


"Tak ada salahnya kita mencoba. Sekarang kita harus memburu spesies yang bersembunyi di kota ini." Sanggah Willy sembari menyilangkan kedua lengannya.


Mereka langsung menyimpulkan bahwa serpihan dari Summer Sparking ialah eksperimen buatan makhluk hidup. Petunjuk awal telah di dapatkan dan kembali membuat mereka mendapatkan misteri lain.


Di lain tempat, Universitas El'Vee. Risu, Karu dan Aziru berada dikampus untuk belajar. Ujian yang akan tiba lusa, membuat mereka tak dapat melakukan hal lain. CyPhone Karu yang berada di CyBag, tampak bergetar akan panggilan masuk dari Hikky.


Hikky yang berada di lapangan, bertanya dalam hati dengan kegiatan yang Karu lakukan. Panggilan tersebut diabaikan Karu karena memilih fokus untuk belajar terlebih dulu.


Kembali pada tempat yang terbuang, sosok peneliti yang mendiami tempat tersebut tampak sibuk dengan proyeknya.


"Tidak ada jalan untuk kembali. Sebenarnya ini bukan bagian dari rencanaku, tapi... karena mereka... mereka membuatku melakukan cara kasar. Ini lebih baik. Karenanya, aku bisa memulai dengan lebih bervariasi. Aku akan membuat Exgalya menjadi kota yang sempurna, beserta isinya." Ujar pria tersebut dalam hati.


Pria tersebut melakukan uji coba dengan diam-diam. Sebuah replika proyektil di arahkannya pada langit dan menembakkannya. Tembakan berupa Chip dengan kecepatan cahaya, mengenai Satelit Exgalya sembari menempelnya tanpa terdeteksi.


Satelit yang sedang bekerja, seketika membuat transmisi menjadi aneh beberapa saat.


"He? Kenapa siarannya terulang-ulang seperti kaset rongsokan?" Gumam pemuda yang sedang menonton televisi di rumahnya.


"Mungkin gangguan kecil." Balas ibu dari pemuda tersebut sembari mencuci gelas.


"Lihat, kan?" Balas Ibu sembari tersenyum tipis.


Sore hari telah tiba, mereka usai dengan urusan sementara waktu dan memilih mendinginkan kepala akan jawaban yang mereka dapat. Ard pun pulang menuju apartemennya.


Ketika Ard berada di luar kamar, ia menyadari bahwa kamarnya menjadi tak terkunci. Ard merasa penasaran sembari membuka pintunya dan masuk kedalam.


Terlihat Vicchy sedang berbaring telentang di atas kasur sembari melihat majalah dewasa milik Ard dengan datar.


"Yo. Darimana saja? Lama!" Tanya Vicchy sembari protes.


"Apa yang kau lakukan disini?" Balas tanya Ard dengan heran.


"Hanya bermain. Dan lagi, seleramu ada pada gadis muda yang seumuran dan lebih muda darimu, ya? Cabul." Lanjut Vicchy melihat setiap lembaran.


"Kau menganggapku penjahat wanita? Lagipula ini hanya keisengan belaka." Balas Ard mengambil majalah dan menutupnya.


"Kau tak tertarik dengan wanita dewasa atau semacamnya?" Tanya Vicchy dengan gurau dan merubah posisi tidurnya menjadi tengkurap.


"Lupakan hal itu. Ada apa kau kemari? Apa yang terjadi dengan pemarahmu sebelumnya?' Bantah tanya Ard semakin heran.


"Kasarnya. Yang kuingin? Ikut bekerja di tempat yang sama denganmu." Balas Vicchy memeluk bantal dengan senyum lebarnya.


"Haaa?! Jangan bercanda. Dan kenapa tiba-tiba?" Bantah Ard dengan semakin heran.


Vicchy yang merasa kesal, berdiri dan membalik tubuh Ard sembari memukul belakang lehernya dengan keras.


"Aku tak bercanda! Lagipula, aku tak memiliki kegiatan atau apapun. Kau lupa dengan apa yang kumiliki? Berhentilah jadi pria bodoh yang selalu kupukuli." Ujar Vicchy melampiaskan kekesalannya.


"Jangan memaksakan diri untuk melakukan yang bukan sesungguhnya." Balas Ard membujuk Vicchy.


"Aku melakukan ini untuk diriku sendiri. Dan seperempat, karena aku tak ingin melibatkanmu lagi. Aku ingin bergerak maju. Hanya itu." Lanjut Vicchy menyanggah Ard.


"Ampun... Jika itu yang kau mau. Aku akan membantumu sedikit hingga kau menjadi orang yang tangguh." Ujar Ard dengan senyum tipisnya.


"Jika begitu, bersiap juga jika ocehanku dua kali lipat mulai sekarang, anak laut." Lanjut Vicchy dengan berdiri dan berjalan keluar menuju kamarnya.


"Lakukan yang kau mau." Gumam Ard sembari mengambil istirahatnya.


Berpindah pada Villa Bukit Thyfaro. Hiruma kembali mengisi waktunya untuk meneliti serpihan tersebut lebih lanjut dan mendapati panggilan video dari Gant dengan tiba-tiba.


"Yo. Kau masih memaksakan diri?" Tanya Gant melihat sekitar Hiruma.


"Kau seharusnya mengerti, aku bukanlah yang suka berdiam diri seperti patung pahatan. Apa yang membuatmu memanggilku di gelap malam?" Balas tanya Hiruma.


"Tak ada. Hanya ingin mengganggumu agar tak terus menerus menatap layar pada layar komputermu." Balas Gant dengan guraunya.


"Aku berterima kasih. Sebaiknya kau hentikan keraguanmu. Aku akan meminta kalian jika kubutuhkan." Lanjut Hiruma sembari menutup panggilan.


"Dia benar-benar keras kepala. Tak banyak yang bisa kau selesaikan seorang diri, Hiruma." Gumam Gant sembari bersandar dan menatap langit-langit.


Malam panjang berlalu dan berganti fajar yang hangat. Ard yang masih dalam tidurnya, merasakan beban menahan tubuhnya. Ard perlahan membuka mata dan penasaran dengan apa yang menindihnya.


Hal tak terduga terjadi, Vicchy kembali memasuki kamar Ard dan tidur di atas tubuhnya. Ard yang tak ingin kasar, bergerak perlahan memisahkan diri dari Vicchy yang masih tertidur.


"Gadis berbahaya. Sebuah kesalahan ketika android itu ada disini." Guman Ard sembari berdiri menggaruk kepalanya dengan heran.


Dikala Vicchy masih tertidur, Ard kembali menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Ard yang telah usai dengan persiapan pagi, Vicchy terbangun perlahan dan melakukan sedikit peregangan.


"Aroma yang bagus untuk perutku. Pagi, anak laut." Sapa Vicchy sembari menghampiri meja dan menikmati sarapan.


"Aku bersyukur kau tak mengocehkan bebanmu seperti biasa." Ujar Ard sembari meniknati sarapan.


"Pikiranmu hanya penuh keraguan padaku. Sebaiknya persiapkan dirimu, karena aku akan bergabung denganmu." Bantah Vicchy menunjuk Ard.


"Keyakinanmu terlalu tinggi. Cobalah jika bisa untuk bergabung." Lanjut Ard membalas bantahan Vicchy.


Awal pagi sudah mereka nikmati dan berganti pada jam berikutnya. Vicchy tampak antusias menuju tempat Ard bekerja dengan berangkat bersama mengenakan CyHover.


Sesampainya di Pelabuhan Gal-Alya, Vicchy melihat sekitar dengan semangat. Paman Zaunt yang sedang mengendarai CyForklift, berhenti sesaat dan turun menemui Ard dan Vicchy.


"Ard, pagi sekali? Dan dia?" Tanya Paman Zaunt sembari menyapa mereka berdua.


"Teman lamaku, Vicchy. Dia berniat bergabung dengan kita disini." Balas Ard membujuk Paman Zaunt.


"Vicchy, ya? Maaf, Ard kupinjam dulu. Ayo, Ard." Lanjut Paman Zaunt sembari mengajak Ard ke Gudang Sortir.


"Heee?! Apa ada sesuatu yang salah?!" Balas tanya Vicchy dengan khawatir.


"Sekarang apa, Paman?" Tanya Ard dengan heran sembari bersandar dan menyilangkan lengan.


"Ard, kau lupa dengan peraturannya?" Lanjut tanya Paman Zaunt.


"Aku ingat. Seluruhnya adalah tanggung jawabku." Balas Ard sembari terus membujuknya.


"Kau tak bisa semudah itu mengambil tanggung jawab. Jangan terlalu lunak pada seorang gadis. Itu akan menghancurkanmu." Ujar Paman Zaunt menegur Ard.


Dengan seketika, Ard menegaskannya dengan menghantam sisi tangannya pada tembok alumunium di sisi kiri kepala Paman Zaunt sembari memojokannya.


"Paman. Itu urusanku. Dia membutuhkan bantuan sekarang. Seperti yang kukatakan, tanggung jawabnya adalah diriku disini." Bantah Ard dengan senyum tipisnya.


"Tapi, aku tak bisa membantumu jika kau lebih dari ini. Aku sudah memperingatkanmu. Kenapa kau justru keras kepala?!" Tanya Paman Zaunt dengan heran.


"Begitulah aku, Paman. Apa yang kulakukan saat ini, adalah yang kubisa sebagai tanggung jawabnya." Ujar Ard dengan senyum lebarnya.


"Kau tak perlu mengambil tanggung jawab itu! Kau bisa membantu mencarinya!" Seru Paman Zaunt membujuk Ard.


"Aku kecewa. Paman tak mengerti apapun. Kuharap aku masih bisa melihatmu esok dan seterusnya." Balas Ard sembari tersenyum tipis dan beranjak pergi.


"Ard. Bahkan sebagai mentornya, aku gagal kasar padanya. Jika sesuatu terjadi... maafkan aku, Ard." Gumam Paman Zaunt dalam hati.


Vicchy yang berada di dekat kapal, dipanggil oleh Ard. Dengan segera, Vicchy turun ke dermaga dan diberitahu perihal akses perekrutannya.


"Begitu. Masih harus menunggu prosesnya, ya? Yah, sudahlah. Aku hanya perlu menunggu, bukan? Aku menantikan hasilnya, anak laut." Balas Vicchy sembari tersenyum lebar dan bertolak pinggang.


Ard yang menyembunyikan situasinya, mencoba mengurus keinginan Vicchy untuk bergabung. Pagi hangat terus menaikkan suhunya bersamaan dengan cuaca yang cerah.