
CyMotoBike milik Xion yang dikendarai Ard pun menghantam tanah dengan kerasnya dan meledak seketika. Ketika melihatnya, mereka hanya bisa merelakan. Xion yang mencoba bangkit, merasa nyeri pada lengan atas sebelah kanannya.
"Xion?!" Tanya Ard dengan khawatir.
"Hanya sedikit terkilir. Yang lebih penting, bagaimana dengannya?" Balas tanya Xion melihat Vicchy.
"Vicchy. Vicchy. Hei, kau tak apa?" Tanya Ard sembari menyadarkan Vicchy.
Vicchy yang sebelumnya mendapati kekosongan, sadar kembali dan bingung dengan apa yang terjadi. Risu pun berlari pada Xion dan memeluknya dengan erat.
"Huh? Dimana ini? Ard? Xion? Risu? Kenapa kalian disini?!" Tanya Vicchy sembari terkejut.
"Akan kuberitahu dan kutanyakan nanti. Situasi kita sedang tidak bagus. Kau bisa berdiri?" Bantah Ard sembari mengulurkan tangan.
Vicchy melihat kembali situasi di sekitar dan mendapati hal aneh. Vicchy melihat Xion dan Ard yang terluka serta melihat Risu yang tampak menangis dengan CyMotoBike yang terbakar.
"Ini... perbuatanku, kan? Hei... Ard." Ujar Vicchy akan rasa takutnya.
"Tidak. Hanya saja ada yang menyerang kita disini." Balas Ard berbohong.
"Pembohong. Aku tahu senyum itu. Apanya yang menyerang? Bahkan aku tak tahu kenapa ada disini. Karena sebelumnya aku pun berpisah jalur denganmu!" Bantah Vicchy dengan kesal.
"Berpisah? Oi, Ard!" Sanggah Xion sembari menarik kerah Ard dan memukul pipi kirinya.
"Hei! Apa yang terjadi?!" Seru Jay datang dengan tiba-tiba sembari bertanya.
"Huh? Situasi mengerikan apa ini?" Tanya Karu dalam hati melihat CyMotoBike yang terbakar.
"Jay... aku lega kau datang..." Ujar Risu tersungkur lemas.
"Aku akan menjelaskannya nanti. Jay, bawalah Xion. Karu, bantulah Risu." Pinta Ard.
"B-Baik. Bagaimana denganmu? Itu... CyHovermu, kan?" Tanya Karu.
"Bahan bakarku habis. Maaf, kali ini aku akan sangat merepotkan kalian berdua." Balas Ard sembari menjaga Vicchy.
"Jika begitu, kita akan kembali lagi. Ayo, Karu." Ujar Jay sembari bergegas membawa Xion.
"Kumohon hati-hati, Ard." Pinta Risu.
"Roger." Balas Ard dengan senyum tipisnya.
Karu pun bergegas membawa Risu dan berniat membawa bantuan. Ard dan Vicchy yang dalam kondisi buruk, mencoba berbincang.
"Hei. Ard. Katakan sejujurnya. Apa yang terjadi? Apa yang kau lihat?" Tanya Vicchy sembari memeluk kedua kakinya.
"Harusnya aku yang bertanya. Apa yang membuatmu bisa terseret kemari? Hingga kau memanjat pohon besar itu untuk bunuh diri." Bantah Ard kembali bertanya pada Vicchy.
"Aku tidak tahu. Aku tidak tahu!" Seru Vicchy akan kebingungannya.
"Maaf." Balas Ard akan bersalahnya.
Jay, Karu, Risu dan Xion pun bergegas menuju titik kemah. Sesampainya di sana, mereka yang melihat kedatangan Jay dan kawan-kawan, terkejut sembari berdiri. Jay dan Karu dengan perlahan menurunkan Xion dan Risu.
Dengan bantuan Gant dan Miccha, mereka mencoba merawat Xion dan Risu. Risu yang tampak memberikan pandangan traumatik, dibawa Miccha kedalam tenda. Xion yang terluka, dilayani Gant dengan memberikannya CyMedKit sembari dibantu oleh Jay.
Mereka berdua menahan diri untuk tidak terburu-buru mengajukan pertanyaan yang menghantui rasa khawatir yang begitu besar. Seusai mengobati Xion, Jay meminta bantuan pada Gant untuk menyusul Ard. Gant yang tak pikir panjang, mengambil CyHover dan mengikuti Jay menjemput Ard dan Vicchy.
Selang delapan menit, Jay dan Gant menemui mereka sembari membantunya untuk naik dan mengambil CyHover milik Ard yang tergeletak. Ard menumpang pada Gant dan terduduk cemas selama perjalanan memikirkan Vicchy.
Sesampainya di titik kemah, suasana hening seusai mereka mengetahui insiden Ard dan kawan-kawan.
"Terima kasih banyak, Gant, Jay. Kalian istirahatlah. Kalian bisa menginterogasiku nanti." Ujar Ard sembari mengambil CyMedKit.
"Kau yakin tidak merasa lebih buruk pada tubuhmu?" Tanya Gant sembari turun dari CyHover.
"Luka ini tak sebanding dengan mereka bertiga. Bahkan aku bisa berlari jika kumau." Balas Ard meyakinkan Gant.
"Begitu. Jika itu dirimu, aku tak akan ragu. Jika butuh sesuatu aku bisa melakukannya. Istirahatkan juga dirimu." Lanjut Gant merasa lega dan memasuki tendanya.
"Jay. Bawa Vicchy pada Miccha. Biarkan dia tidur nyenyak." Ujar Ard menepuk bahu kiri Jay.
Jay yang sedari tadi tertunduk, terbangun oleh tepukan Ard. Jay masih memasang ekspresi resahnya, memilih menuruti Ard dan mengantar Vicchy. Ard melanjutkan melihat Dyenna dan Willy sembari meminta mereka untuk beristirahat.
"Jangan khawatirkan aku, Ard. Sedari tadi aku sudah bersantai ria disini. Dyenna, kau tidurlah." Bantah Willy sembari tidur bers pada Hammock dan melirik Dyenna.
"Uhm. Terima kasih. Kalian berhati-hatilah." Balas Dyenna menuruti mereka.
"Ternyata, hutan ini melebihi ekspektasi kita, Ard." Ujar Willy sembari mengayun Hammocknya.
"Ya. Bahkan jauh diluar dugaan. Padahal liburan kali ini, aku berharap hantu atau semacamnya." Balas Ard sembari melapisi luka-lukanya.
"Begitu. Karena tak ada yang bisa kutanyakan, aku akan tidur. Persiapkan dirimu, Ard." Ujar Willy sembari menutup wajahnya dengan topi.
"Tentu. Bangunlah saat makan malam." Ujar Ard sembari berbalik.
Seluruhnya telah tertidur pulas dan mengistirahatkan diri. Ard tersisa sebagai yang aktif terjaga menyiapkan berbagai hal. Ketika sedang mengatur barang-barang, Ard mendengar dengingan yang perlahan dan menguat didalam kepalanya.
"Akh ! Apa ini ? Padahal aku tak merasa anemia. Sepertinya, ini tampak dari hutan ini. Apakah mereka merasakannya juga?" Tanya Ard dalam hati sembari menahan rasa sakitnya.
Ard pun memeriksa tenda satu persatu. Ard yang melihat mereka, mendapati dua hal yang dilihatnya. Vicchy dan Risu memiliki raut wajah yang sama seperti merasa tertekan dalam tidurnya.
"Kurasa memang ada yang tak beres ditempat ini secara khusus." Lanjut Ard dalam hati sembari berpikir.
Dengingan dalam kepalanya pun berlangsung singkat. Ard yang mendapatinya, belum bisa menyimpulkan akan kebenaran dari masalah di Hutan Prime Wood.
Waktu menunjukkan pukul tujuh sore dan hari mulai gelap gulita. Dengan penerangan akan cahaya dari CyLamp, Ard menyiapkan makan malam sembari melihat sekitar. Xion, Gant dan Jay terbangun lebih dulu.
Selang tiga menit, mereka ikut bangun dan berniat makan malam yang disajikan Ard.
"Ada hal aneh yang kau temui, Ard?" Tanya Willy sembari memakan Barbeque.
"Sebelumnya ingin kupastikan terlebih dulu. Kalian merasakan sebuah dengingan kuat disini?" Tanya Ard ikut memakan Barbeque.
"Tidak. Justru aku mendapati dengingan aneh yang padahal aku tak memiliki anemia. Dengingan itu perlahan dan menguat hingga cukup untuk membuatku lemas." Balas Ard.
"Dengingan? Semacam frekuensi tinggi? Dan yang lebih mengherankan, kenapa hanya kau yang mendapatinya?" Tanya Gant sembari berpikir.
"Kurasa bukan hanya aku. Tapi, ketika memeriksa kalian semua untuk memastikannya, aku melihat hal aneh pada ekspresi Risu dan Vicchy. Kurasa mereka merasakannya." Ujar Ard.
"Risu... Vicchy... dan kau. Aku tak mengerti akan hubungan kalian bertiga." Ujar Willy semakin bingung.
"Misteri ini kuyakin cukup jauh. Yang lebih penting, Xion menjauhimu, Ard." Ujar Jay sembari melirik Xion dari kejauhan.
"Aku akan mengutarakannya besok. Jika kulakukan sekarang kalian akan sulit tidur." Balas Ard sembari lanjut memakan Barbequenya.
"Dan jika dilihat lagi, malam yang hangat ini justru sedingin es. Tak sesuai yang kuharapkan dari sebuah kemah musim panas." Ujar Willy sembari melihat sekitar.
"Tragedi di hutan ini membuatnya bertolak belakang dengan momen yang kita harapkan." Ujar Gant sembari lanjut memasak Barbeque.
Di malam itu, mereka masih belum bisa menikmati suasana seperti semula. Malam yang panjang, berganti fajar dengan Ard dan Willy terbangun lebih dulu sembari menyiapkan sarapan.
Willy yang membantu Ard memasak, Ard memeriksa CyHovernya sembari mengisi energi. Ketika seluruhnya telah terbangun dan mengisi perut, mereka bersiap menjelajah bersama.
Gant yang mengarahkan pandangannya pada jalur yang ia jelajah sebelumnya, diperhatikan oleh Ard, Xion dan Dyenna.
"Gant? Gant." Ujar Ard mencoba memanggilnya.
"Huh? Apa?" Balas tanya Gant menengok Ard.
"Sedari tadi kau melihat jalur itu. Ada apa?" Lanjut tanya Ard dengan heran.
"Haruskah aku memberitahunya? Tidak. Aku hanya akan memberi kode seolah karena firasatku. Aku tak ingin ragu dan memperpanjang hal ini. Persetan dengan yang akan terjadi padaku, asalkan mereka mengetahuinya." Gumam Gant dalam hatinya.
"Mengenai jalur yang akan kita ambil, aku terpikirkan sesuatu, Ard." Ujar Willy.
"Apa itu?" Tanya Ard menengok Willy.
"Karena Gant melihat jalur itu, maka kita jelajahi saja. Mungkin maksudmu kau merasakan sesuatu yang kuat begitu, Gant?" Ujar Willy akan asumsi kebetulannya.
"Ah, ya... begitulah. Entah dengan firasatku ini membuatku tertuju pada jalur itu." Balas Gant akan canggungnya.
"Begitu. Baiklah. Seperti kata orang, 'Percaya pada insting adalah jawaban terbaik'." Lanjut Ard meyakinkan mereka.
"Jika begitu, sudah diputuskan. Kuharap kita menemukan sesuatu di jalur itu." Ujar Jay sembari mempersiapkan diri.
"Perasaan tidak enak apa ini? Mungkinkah aku merasakan hal yang sama seperti Kak Gant?" Gumam Dyenna dalam hati.
"Kuharap kalian bersiap, kawan. Entah ini bisa kusebut membocorkan atau tidak, aku tidak peduli lagi. Kuharap misteri satu ini terkuak dengan hubungan yang dimaksud Ard." Gumam Gant akan kepercayaan dirinya.
Mereka pun tidak menunda waktu lagi dan bergegas mengambil jalur yang dipandang Gant sedari tadi. Dengan beramai-ramai dan berfokus agar tidak ada yang terpisah, mereka pun tak lupa melihat sekeliling.
Selang delapan menit, Ard yang berada dibarisan paling depan terhenti akan hal yang mengganggunya. Mereka di belakang Ard, ikut melakukan rem.
"Ard? Ada apa?" Tanya Jay.
"Semuanya! Lihat papan itu!" Seru Ard menunjuk papan peringatan yang terpasang di tengah jalan.
"Papan? Ah, benar. Kurasa kita bisa menemukan sedikit petunjuk. Ayo!" Balas Miccha sembari bergegas.
Ketika mereka berada tepat di depan papan peringatan, mereka melihatnya dengan seksama. Papan tersebut berupa ancaman seperti yang dilihat Gant. Mereka terkejut dengan apa yang dimaksud disini. Gant yang ada dibagian belakang menguatkan keyakinannya pada mereka.
Mereka terus merasa penasaran dan melanjutkan langkah untuk masuk lebih dalam. Setelah dua ratus meter, mereka mulai menyadari sesuatu dan terkejut hebat. Mereka terdiam kaku akan mayat yang tergantung di atas pohon besar.
"Kita kembali." Ujar Xion dengan tiba-tiba.
"Xion?" Gumam Risu sembari berbalik.
"Dengan kejutan ini, kita tidak akan bisa berpikir jernih. Dan ada yang harus diberitahukan perihal ini, kan? Ard?" Ujar Xion.
"Heh?! Ard?!" Gumam Miccha dengan heran.
"Tentu. Dengan dua masalah ini, kita akan terganggu untuk berpikir disini. Ayo." Balas Ard mengajak mereka kembali.
"Firasatku justru menjadi nyata." Ujar Dyenna dalam hati dan semakin khawatir.
"Ini jauh lebih buruk dari dugaanku." Gumam Gant dalam hati.
Mereka memilih kembali ke bekas titik kemah sebelumnya sembari mendapati hening akan rasa khawatir dari masing-masing yang tak diketahui permasalahannya.
Sesampainya disana, mereka mempersiapkan diri akan Ard yang ingin mengatakan hal sebelumnya. Sebelum bercerita, Ard memohon maaf akan kekhawatiran mereka.
Hal sebelumnya adalah ketika Ard dan Vicchy berpisah jalur. Vicchy menyusuri jalur yang berbeda dengan Ard dan mendapati masalahnya ketika ia kehabisan CyPen sebagai bantuan jejak. Ard yang merasa khawatir dengan terlambat, mencoba menjemputnya dan mengetahui jejak yang sempat hilang.
Dan ketika ia telusuri lebih lanjut, Ard melihat mimpi buruk yang tak pernah ia harapkan untuk melihatnya. Ard melihat Vicchy memanjat sangat tinggi menaiki pohon besar dan hampir menjadi mayat seperti yang tergantung di beberapa tempat. Ard yang mencoba menangkap Vicchy tak mendapati kekuatan karena kehabisan daya pada CyHover.
Buruknya lagi, ia tak berhasil untuk memanjat pohon tersebut karena terlalu besar. Karena teriakan dari frustasi Ard, ia mendapat bantuan dari Xion yang mendengarnya. Ketika Vicchy ditanya oleh Ard, Vicchy tak mendapati hal untuk membantunya dan tenggelam dalam frustasi.
Vicchy yang mendengarnya, kembali terkulai lemas dan memegangi kepala dengan kedua tangannya. Xion tertunduk menahan kesal sembari mengepal tangan kirinya dan mendengar suara pukulan yang keras.
Ketika dilihat, Gant memukul Ard seperti yang Xion lakukan hingga Ard sedikit terpental dan terjatuh. Mereka hanya terdiam dan terkejut ketika itu terjadi.
"Ard... aku sangat kecewa denganmu. Kau gagal sebagai pria. Maaf, untuk saat ini aku tak ingin mengenalmu bahkan sebagai kawan. Kecerobohanmu hampir menghilangkan nyawa seseorang. Terlebih ia adalah seorang gadis yang sangat dekat denganmu." Ujar Gant akan kekecewaannya dan beranjak pergi meninggalkan Hutan Prime Wood.
Xion ikut melakukan hal yang sama tanpa pikir panjang mengikuti Gant. Dengan seketika, satu persatu dari mereka pergi meninggalkan Ard tanpa kalimat.
Willy yang melihatnya, mencoba menenangkan diri namun dikalahkan oleh rasa kekecewaan dengan begitu besar.
"Sampai jumpa... Ard." Ujar Willy ikut dengan mereka.
Kawanan Ard pergi dari Hutan Prime Wood lebih dulu meninggalkannya. Karu yang tak percaya, mencoba meyakinkan diri dengan maksud Ard. Musim panas terus berlanjut dan menjadi sedingin es akan insiden dari kecerobohan Ard.
Ard yang mendapatinya, telah kehilangan dunia berharganya dan mencoba berpikir dengan apa ia membayarnya.