From Grey To Red

From Grey To Red
BAB 17 : Jawaban Ard



Vicchy yang diberitahu Ard, memilih menunggu hingga keputusan dibuat. Ard pun meminta Vicchy untuk kembali ke apartemen jikalau ia tak memiliki kegiatan. Vicchy yang mencoba membantah, menyadari bujukan Ard. Ia dengan berat hati menurutinya dan memilih kembali ke apartemen.


Seusai Xion melihat Ard dari kejauhan, ia memasang kuda-kuda seorang Pitcher dengan kaleng minuman kosong di tangan kanan sembari melemparnya dengan kencang mengenai kepala Ard.


"Aduh!" Gumam Ard terpukul kaleng minuman.


"Berhenti bermesraan dan segeralah mengangkuti!" Seru Xion dari kejauhan sembari membawa kotak.


"Sialan. Set. Hat. Hat!" Seru Ard sembari membalas lemparan Xion dengan kuda-kuda Pitchernya.


"Meleset!" Seru Xion sembari menghindar berjongkok.


"Aduh! Oi, Kalian!" Sanggah Paman Zaunt yang terkena lemparan Ard di belakang Xion.


Mereka pun ditegur untuk tidak bermain-main dan segera bekerja. Hiruma yang berada di Lab Villa Thyfaro, ditemani oleh Willy.


"Aku terlambat menanyakan ini. Bunga Cylfagera dan Kristal Altrofya, apa yang dimiliki benda itu?" Tanya Willy.


"Cylfagera, Bunga Bersinar. Awalnya disebut sebagai tanaman herbal ketika mereka masih mendengar rumornya dari kejauhan. Namun, ketika mereka mencoba mencari tahu kebenarannya, tanaman itu digunakan untuk eksekusi mati." Balas Hiruma menghentikan praktiknya.


"Eksekusi... dengan sebuah bunga?!" Balas tanya Willy seakan tak percaya.


"Benar. Jika disentuhkan kontak fisik pada manusia, mereka akan musnah menjadi partikel-partikel kecil bersinar." Lanjut Hiruma.


"Lalu... Kristal Altrofya...?" Tanya Willy dengan sedikit gemetar.


"Kristal Altrofya, memiliki elektromagnetik tinggi dan dapat merusak otak. Bisa membuat manusia menjadi amnesia maupun kesadaran otaknya diatur sesuka hati. Tergantung bagaimana mereka mengolahnya hingga menjadikan dua itu benda terlarang." Ujar Hiruma sembari mengeluarkan CyBook dari CyBag.


"Eksperimen gila apa ini? Apakah itu digunakan sebagai hukum mereka di masa lalu?" Tanya Willy sembari melihat informasi di CyBook Hiruma.


"Begitulah. Namun, keduanya terlalu terjamah publik hingga mereka menggunakannya sesuka hati. Bunga Cylfagera paling menakutkan untukku." Ujar Hiruma sembari melihat serpihan dalam tabung beberapa lama.


"Yang lebih mengkhawatirkan adalah jika kedua benda itu terlahir kembali karena ulah spesies ini. Membayangkan kita musnah dengan tiba-tiba membuatku mual." Lanjut Willy sembari bersandar bokong pada sisi meja.


"Hal lainnya, mustahil untuk menang melawan orang jenius. Namun, kita tetap harus melawan dan melihat akan keberuntungan apa yang bisa kita dapat suatu saat nanti." Ujar Hiruma sembari bersandar dan memejamkan mata sesaat meringankan diri.


Willy merasa cukup setelah mendapat informasi dari Hiruma. Mereka mulai mencari cara untuk bagaimana melawan sosok tersebut. Hiruma pun meminta Willy untuk berhati-hati ketika mencari keberadaannya.


Ia kembali mengingatkan bahwa pelaku tidak mungkin tinggal diam ketika tahu sedang mereka buru. Seusai nasihat dari Hiruma, Willy memilih untuk pamit terlebih dulu akan urusannya. Hari senin yang hangat, menyambut Risu dan kawan-kawan. Ujian Semester mulai dihadapinya untuk lima hari.


Hari demi hari, mereka lewati dengan seluruh kemampuan mereka. Seusai menyelesaikan misinya, Karu berlari keluar kampus dan berniat menuju suatu tempat mengenakan CyBus Gal-Alya.


Empat menit berlalu, Karu tiba di Halte CyBus Gal-Alya, Distrik Taman Gal. Karu memiliki janjinya untuk segera menemui Hikky yang sulit ia temui belakangan ini. Hikky sudah berada di dekat lapangan dengan terduduk di bangku taman.


Dia mendapati suara langkah yang tergesa-gesa dari area masuk Taman Gal. Hikky yang melihatnya, mendapati pelukan Karu dan seketika menghantamnya. Karu membenamkan wajah pada pelukannya.


"Selamat Datang. Bagaimana dengan tes mu?" Tanya Hikky sembari dipeluk Karu.


"Bisa kita kesampingkan itu? Halangan belum berakhir, dalam empat hari kami akan Study Tour. Kau tentu mengerti akan hal itu, Hikky?" Balas Karu akan pintanya.


"Aku mengerti. Yang kuinginkan adalah kau baik-baik saja selama aku tak ada. Kau bisa melampiaskan seluruhnya padaku apapun yang kau rasakan." Ujar Hikky sembari memeluk Karu dengan erat.


"Kau tahu? Kelemahan terbesarku ialah kebaikan. Jika kau melebihi ini, maka aku tamat, Hikky." Lanjut Karu akan kepercayaannya.


"Aku mengerti. Namun, apa yang kau rasakan, kau harus membagi rata denganku. Agar keberadaanku memiliki arti lebih. Lakukan yang terbaik untuk dirimu sendiri. Jika sudah cukup, berikan aku kebahagiaanmu dan aku akan melakukan hal yang sama seperti yang kau lalui." Balas Hikky sembari mendekap kepala Karu dan mengelus rambutnya.


"Terima kasih. Jika begitu, kita bermain." Ujar Karu melepaskan pelukannya dan bersiap di lapangan.


"Kalahkan aku jika bisa." Balas Hikky dengan percaya dirinya dan mulau bermain dengan Karu.


Keresahan Hikky setelah tak bertemu Karu sekian lama, hilang seketika. Dalam empat hari, Karu dan kawan-kawan sebagai mahasiswi Universitas El'Vee akan menjalani Study Tour mereka.


Kembali pada Ard di Pelabuhan Axeru. Ia melangkahkan kakinya ke bangunan kantor dan berniat memasuki ruangan pimpinan.


"Permisi." Sapa Ard sembari mengetuk pintu.


"Silahkan." Balas Pimpinan.


"Syukurlah anda tampak sehat, Komandan Vygas." Ujar Ard dengan hangat sembari tersenyum tipis.


"Aku sudah mendengarnya dari Zaunt. Kenapa kau bersikeras melanggar peraturan, Ard?" Tanya Komandan Vygas dengan kedua tangannya bersilang ibu jari.


"Kuyakin anda akan membantah segala maksudku disini. Dia tak memiliki siapapun lagi untuk dipercaya. Akulah penanggung jawabnya." Balas Ard pada intinya.


"Itu memang terdengar konyol. Padahal banyak tempat yang bisa kau jamah selain disini, Ard." Bantah Vygas sembari tersenyum membujuk Ard.


"Dalam kata lain, anda ingin melepaskannya begitu saja, dengan resiko tak memungkinkan di dunia luar yang tak kami kenal?" Lanjut tanya Ard memojokkan Komandan Vygas.


"Bukankah seperti yang kau bilang bahwa kau sebagai penanggung jawabnya?" Bantah Komandan Vygas.


"Memang. Jika aku bisa mengawasinya di dua tempat bersamaan." Balas Ard dengan keadaan memanas.


"Ard. Kurasa ketidaksopananmu semakin tinggi." Ujar Komandan Vygas berniat mengakhiri perbincangan dengan paksa.


"Sedari tadi." Balas Ard dengan tak menurunkan pertahanan.


Dengan seketika, Komandan Vygas menghancurkan meja menjadi dua bagian dengan sedikit beranjak dari kursi hingga mengejutkan karyawan lain.


"Aku tak ingat melihatmu seperti ini ketika kau datang kemari pertama kali, Ard." Ujar Komandan Vygas menahan kesabarannya.


"Aku tak ada bedanya dengan yang dulu, Komandan. Kenapa kau bersikeras melarang gadis bergabung?" Lanjut tanya Ard memojokkan Komandan Vygas.


"Kau tak harus tahu, Ard. Aku akan mempertimbangkan keputusanku padanya dan juga padamu akan hal ini." Balas Komandan Vygas sembari tersenyum tipis.


"Dengan senang hati. Semoga anda sehat selalu. Permisi." Ujar Ard sembari beranjak keluar.


Komandan Vygas yang usai berdebat dengan Ard secara mendadak, mengambil nafas dalam dan menenangkan dirinya. Meja rusak yang dihancurkannya, ia lihat beberapa lama dan memejamkan mata kemudian.


Seketika, karyawan yang berada di luar pintu mengetuk beberapa kali sembari menanyakan keadaan Komandan Vygas. Ia yang merespon dengan mencoba terlihat baik-baik saja, meminta karyawannya perihal meja baru.


Karyawan yang merasa bingung, hanya menuruti kemauannya dan kembali bertugas. Kembali pada Xion dan Paman Zaunt di dekat gudang. Mereka membahas permasalahan yang diceritakan Paman Zaunt.


"Kau takut, Xion?" Tanya Paman Zaunt sembari melihat Ard dari kejauhan.


"Jika sesuatu terjadi, aku tak bisa melakukan apapun untuk menolongnya." Balas Xion sembari berjalan untuk kotak barang pada rak.


"Ard adalah orang ternekat yang tak bisa kutebak. Kau bisa melakukan sesuatu saat nanti sebagai sahabatnya, Xion." Bujuk Paman Zaunt sembari ikut menaruh barang.


"Jadi, yang harus kulakukan hanya mempercayainya? Bagaimana caraku untuk bertahan dari segala kebodohannya seperti hari ini?!" Tanya Xion berbalik pada Paman Zaunt sembari meluapkan emosi dengan tiba-tiba.


"Benar. Dan mengenai Ard, kau harus belajar dari kebodohannya. Optimis adalah kawan yang bisa menolongmu saat ini." Lanjut Paman Zaunt menepuk lengan atas kanan Xion.


"Itu pilihan yang sulit kuterima. Aku tak ingin terganggu akan masalah ini, hanya saja bagaimana aku menyembuhkan kebodohannya?!" Ujar Xion sembari bertanya-tanya dengan tangan kanan yang dikepal erat.


"Kuyakin Ard memiliki alasan kuat untuk memaksakan gadis itu kemari. Dia bukan orang yang melakukan sesuatu tanpa alasan mentah." Lanjut Paman Zaunt sembari berjalan.


"Tanpa petunjuk, harus memburunya dengan mentah seperti ini. Sungguh tidak efisien." Gumam Hiruma sembari melihat daftar kependudukan.


"Bahkan kemungkinannya sangat tinggi jika dia menghapus jejak. Terlebih jika dia terbantu oleh orang-orang kotor akan kepintarannya." Lanjut Hiruma sembari berpikir kritis.


"Sebagai akar, setidaknya aku membutuhkan nama untuk ditelusuri. Namun, otakku memukul dengan keras bahwa dia menyerah. Hal yang wajar jika mencari sesuatu tanpa petunjuk yang jelas." Ujar Hiruma sembari bersandar punggung pada kursi dan mendongakkan kepala.


Sore telah tiba. Ard dan Xion berniat makan bersama. Xion yang masih memiliki keresahannya, meminta Ard untuk mengajak Vicchy ke Kedai Daging Gal 1. Ard yang mendengarnya, menghubungi Vicchy.


Ketika sudah dikonfirmasi, dengan semangat, Vicchy mengikuti ajakan Xion. Dengan segera, Xion mengeluarkan CyMotoBike dari CyBag. Sedangkan Ard mengeluarkan CyHover untuk memboncengi Vicchy. Ketika sudah siap, mereka langsung menuju kedai.


Sesampainya disana, Xion memilih ruangan VIP. Meja dengan ruangan tertutup dan sejuk sebagai fasilitas kenyamanannya.


"Ah, Vicchy, ya? Bagaimana dengan kabarmu?" Tanya Xion dengan ramah.


"Luar biasa. Aku berterima kasih untuk orang ini untuk segala bantuannya." Balas Vicchy sembari menunjuk Ard di sebelahnya yang sedang menyantap daging.


"Hah? Apa?" Sanggah Ard karena tak fokus dengan obrolan mereka berdua.


"Haaaah~ Jika kau tidak sedang makan, aku sudah memukulmu sekarang ini." Keluh Vicchy dengan kesal.


"Sial. Aku kecewa dengan Ard yang bodoh perihal gadis. Kau menyakiti perasaannya, kawan." Lanjut Xion mempermainkan Ard.


"Aku tak mengerti dengan obrolan kalian berdua, tapi aku mendengar 'Bodoh' padaku dengan jelas." Bantah Ard sembari memakan daging panggang dengan kesal.


"Itu karena kau tidak memperhatikan perasaan orang lain! Kau harus lebih peka pada sekitarmu!" Balas Xion memojokkan Ard.


"Setelah keramahanmu, ini yang kau tunjukkan? Lebih baik segera kau makan semua daging ini!" Seru Ard dengan kesal menutup ocehan Xion.


"Hahahahaha! Walau kau orang yang penuh semangat, namun kau bisa marah juga, ya?" Lanjut Vicchy mengambil daging dan menyantapnya.


"Kasarnya. Aku manusia, bukan mesin!" Bantah Ard ikut memakan dagingnya.


"Ah, aku lupa mengatakan ini. Aku Xion. Salam kenal." Sapa Xion akan keterlambatannya.


"Uhm. Dia bercerita banyak tentangmu. Kurasa kalian memang solid." Balas Vicchy dengan senyum lebarnya.


"Kau tak mengatakan hal aneh, kan?" Tanya Xion sembari menatap Ard dengan sinis.


"Kau menyebutku pembohong?" Bantah Ard dengan tatapan kesalnya.


"Aku mengawasimu, anak laut." Lanjut Xion sembari memakan dagingnya.


Satu jam lewat lima belas menit telah berlalu. Ard, Xion dan Vicchy keluar seusai kenyang dengan makan malamnya. Ard bergegas mengantar Vicchy lebih dulu pada apartemennya, sembari di ikuti oleh Xion. Sesampainya disana, Ard meminta pada Vicchy agar beristirahat. Vicchy yang heran dengan Ard, memilih menuruti bujukannya. Xion yang menunggu di luar area kawasan apartemen dengan CyMotoBike, dihampiri oleh Ard akan janji mereka. Ard dan Xion menuju Pelabuhan Axeru dan berniat menikmati perbincangan mereka.


"Jadi, kau sudah di ambang batas?" Tanya Ard sembari berdiri di tepi dermaga dengan kedua tangan di saku.


"Kenapa kau mengambil resiko ini? Kau lupa akan kesepakatanmu ketika disini?" Tanya Xion dengan heran.


"Hidupku lebih beruntung ketimbang dia. Kenapa aku harus membuang harapannya ketika dia membutuhkan pertolongan yang bahkan tak diinginkan?" Balas tanya Ard membantah Xion.


"Ini sudah menjadi duniamu, Ard. Yang telah susah payah kau bangun dan nikmati! Kenapa Kau menjadi orang bodoh yang tak ingin berpikir kritis?!" Bantah Xion sembari membujuk Ard.


"Dunia yang ingin kumiliki, bisa kubuat kapanpun. Aku berterima kasih akan simpatimu. Tapi, dia membutuhkan lebih dari ini. Untuk melakukan hal dia, cukup lakukan apa yang ingin kau lakukan. Semakin rumit kau menghindari resikonya, semakin besar kesempatanmu dalam bahaya." Balas Ard memojokan Xion.


"Kau..." Gumam Xion sembari berlari mencengkeram Ard dan menjatuhkannya ke tanah.


"Kau menyebutku pecundang?! Kau sangat meremehkan hal yang bernama 'resiko'?! Kau menerima hal itu terus menerus tak akan membuatmu jantan!" Seru Xion sembari memukul pipi kiri dengan tinju kanannya.


"Keraslah sedikit pada seorang gadis! Bahkan hanya untuk menegurnya! Kau terlalu lunak pada mereka sebagai seekor serigala!" Lanjut Xion memukuli Ard.


"Aku menyesal memperkenalkanmu pada mereka. Jika ini yang terjadi, aku hanya ingin mereset otakmu. Kau bukan masokis, kan?" Ujar Xion sembari mencengkeram kerah Ard.


"Sekarang aku memahami kenapa Karu membencimu. Kau memang penyebab rasa sakitnya, Ard." Lanjut Xion mengakhiri kalimatnya.


"Xion. Berat. Menyingkir." Pinta Ard dengan senyum tipisnya.


Xion yang dipinta Ard, menahan sabar dan berdiri. Ard pun langsung bangun perlahan dan membersihkan tubuhnya.


"Aku tak menyangka. Sahabatku sendiri adalah makhluk terbodoh sejagat raya. Cobaan yang menjengkelkan." Gumam Xion menahan rasa kesalnya.


"Hahahahaha! Kasarnya. Walau begitu, aku pria baik hati, lho." Balas Ard dengan guraunya.


"Maaf." Ujar Xion akan pintanya.


"Jadi, kau ingin aku bagaimana?" Tanya Ard akan kepastian Xion.


"Berhati-hatilah dalam keputusanmu. Kumohon." Pinta Xion sembari menatap jauh Laut Axeru.


"Roooooger." Balas Ard dengan hormat guraunya.


Pertikaian kecil Xion dan Ard usai dengan baik. Xion kembali menaruh harapan agar Ard tak melakukan kebodohannya kembali. Xion memilih pulang lebih dulu meninggalkan Ard.


Ard yang masih di Pelabuhan Axeru, berdiam diri dan berpikir untuk beberapa saat. Seusainya, Ard langsung kembali ke apartemen dan berniat beristirahat.


Waktu telah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Ard yang akan memasuki kamarnya, menyadari pintu kamar tak terkunci. Ard yang mengira itu ulah Vicchy, dugaannya akurat karena melihat Vicchy bersantai ria di kasurnya.


"Lagi-lagi, kau lama!" Ujar Vicchy dengan kekecewaannya.


"Hahahaha. Maaf-maaf." Balas Ard sembari mendekat.


"Wajahmu... apa yang terjadi?!" Tanya Vicchy khawatir sembari menyentuh wajah Ard.


"Tak apa, tak apa." Balas Ard meyakinkan Vicchy.


"Kau berkelahi dengan Xion? Hei, apa yang terjadi?" Lanjut tanya Vicchy.


"Hanya urusan pria. Gadis tak perlu tahu." Lanjut Ard sembari tersenyum lebar.


"Pembohong." Gumam Vicchy.


"Minggir. Aku ingin beristirahat." Balas Ard sembari merebahkan diri di kasurnya.


"Pengganggu! Aku hanya sedang menikmati waktu ini!" Bantah Vicchy sembari berdiri di sebelah kasur Ard.


"Lakukan itu di kamarmu. Memangnya seburuk apa kamarmu hingga seringkali kemari?" Tanya Ard dengan heran sembari tidur.


"He-he-he. Sayangnya kamarku lebih baik dibanding milikmu. Aku kemari karena memang ingin menikmati kamar ini. Denganmu contohnya." Balas Vicchy dengan gumam di kalimat akhirnya.


"Pergilah tidur, kau ini manusia atau robot?" Lanjut Ard dengan tanya dalam kantuknya sembari berbalik.


Ard yang baru mengatakan hal itu, terkejut dan heran bahwa Vicchy tidur kembali di sebelahnya. Ard yang berniat memindahkan Vicchy ke kamar miliknya, mengurungkan niat dan membiarkan Vicchy menikmati tidurnya.