
Ard yang berada di ruang staf, membersihkan wajah di wastafel. Sembari melihat cermin beberapa lama, Ard berbincang akan jati dirinya.
"Entah berapa banyak masalah yang kusebabkan. Seingatku, dulu ingin kubuat sebuah dunia agar aku bisa tenang dan terhindar dari permasalahan." Gumam Ard dalam hati sembari menutup bibir dengan handuk kecil pada sekitar bibirnya.
"Tapi, kenyataan yang terjadi hanyalah berlari. Dan entah kerumitan apa yang ada didalamku ini. Kurasa aku hanya perlu lebih ringan dan ringkas seperti sebelumnya." Lanjut Ard sembari mematikan air keran di wastafel dengan tertunduk sembari tersenyum tipis.
Malam dingin terus berlanjut. Vicchy yang berada di Kamar Ard dengan keadaan lampu dimatikan, duduk di atas kasur sembari memeluk boneka dan kedua lututnya.
Sembari melihat pemandangan di luar jendela, ekspresi Vicchy tampak kosong dan tidak tahu akan arah yang ingin dia tuju. Semenjak Ard menghilang tanpa kabar apapun yang bisa ia terima maupun ia cari.
Ketika sepuluh menit melamun, terdengar deritan suara pintu dan langkah kaki yang menyadarkan kekosongannya perlahan. Suara langkah kaki yang semakin dekat di belakangnya, membuat Vicchy menoleh perlahan.
Ketika terlihat secara penuh, mata Vicchy melebarkan pandangan karena terkejut. Vicchy pun langsung melesat dan memeluk Ard yang kembali secara tiba-tiba. Vicchy memulai tangisnya begitu keras di tubuh Ard seolah itu mimpi baginya.
"Dia seperti menganggapku sudah mati dan kembali dalam bentuk arwah, ya? Hahaha." Gumam Ard dalam hati sembari tersenyum canggung.
"BODOH! SIALAN! TIDAK BERGUNA! TERBURUK!" Seru Vicchy akan emosi yang meledak sembari memeluk Ard dengan posisi terduduk di lantai.
"Aku tak akan mengatakan maaf karena kuyakin tak cukup untuk kesekian kalinya. Akan kudengar hukuman darimu." Ujar Ard sembari menyentuh kepala Vicchy dengan tangan kanannya dan memejamkan mata sesaat.
"LUPAKAN! LUPAKAN! Aku tak memiliki ide untuk menghukummu kali ini... kau juga sudah terbunuh semenjak awal... kenapa juga aku harus membunuhmu dua kali...?!" Seru Vicchy dengan tangis yang terisak-isak.
"Jika sudah selesai, kau bisa menghentikan khawatirmu. Aku akan menyelesaikan semuanya. Setelah itu kudengar kembali ocehanmu." Lanjut Ard membujuk Vicchy.
"Kepalaku sakit... aku benar-benar tak mengerti kau ini makhluk apa...? Bagaimana caranya agar aku bisa menghilangkan keras kepalamu... agar kau mau menggunakan ego mu sebagai manusia sedikit saja...?" Tanya Vicchy dengan nada rendah.
Pertanyaan yang diajukan Vicchy, kembali membingungkan Ard karena baru ia pikirkan sebelum datang. Jati diri yang tidak jelas dan tak berarah membuat mereka berdua larut dalam kebingungan.
Vicchy kembali mempertegas Ard agar ia bisa memikirkan apa yang paling ingin dilakukan dengan menunjukkan ego nya. Malam dingin dengan suasana hangat, terasa kompleks merekat mereka.
Ketika Vicchy merasa lebih baik sembari masih memeluk Ard, mereka dikejutkan akan lampu yang tiba-tiba dinyalakan hingga mereka menengok ke arah pintu masuk sembari terkejut.
"Benar-benar pasangan yang romantis." Ujar Jay sembari berjalan mendekat dan mengambil posisi duduk di dekat meja dan menaruh bungkusan.
"Aku tidak tahu ini keberapa kalinya kau membuat dia menangis, Ard. Kau memang yang terburuk." Ujar Xion sembari duduk di sofa dan menyalakan TV.
"Xion, berhenti bermalas-malasan sebagai tamu dan bantu aku memasak." Ujar Risu akan rasa kesalnya sembari mendekati dapur.
"Dan ini. Aku kurang tahu selera sepatu dan ukuran kakimu. Jika kau tidak suka, berikan pada Vicchy." Ujar Willy memberikan hadiah sembari menepuk bahu Ard dan mendekati ruang tengah.
"Eh? Apa?" Gumam Vicchy dengan bingung.
"Permisi!" Seru Miccha dan Karu masuk bersamaan.
"Ah, Ard. Lama tak bertemu. Bagaimana keadaanmu?" Tanya Miccha sembari berdiri di depan Ard.
"Ah, baik. Terima Kasih." Balas Ard dengan senyum lebarnya.
"Begitu." Lanjut Miccha sembari mengangkat tangan kanannya dengan kedua jari mencubit ****** kiri Ard dengan keras dan menahannya.
"A-A-A-A!!! SAKIT! SAKIT! M-MICCHA! A-A-AAA!!!" Seru Ard dengan terbata-bata kesakitan.
"Teknik kuno yang menjengkelkan. Kapan terakhir kali aku mendapati itu?" Sanggah Xion sembari sedikit berpikir.
"Ah, 5 tahun lalu. Kau mau lagi, Xion?" Sanggah Miccha sembari melirik Xion dan masih mencubit Ard serta menambah cubitannya.
"Tak sudi! Karenamu jadi maju sebelah." Balas Xion sembari melihat kedalam bajunya.
Miccha pun puas bergurau dengan Ard dan melepaskan cubitannya sembari melangkah ke tengah menyusul Karu yang duduk.
Seusai mempersiapkan diri, Vicchy sedikit menyerukan suara dan membungkuk untuk memohon maaf akan sesuatu yang dilakukannya. Mereka yang melihatnya, mencoba bertindak biasa dengan tidak terkejut akan apa yang dilakukan Vicchy.
"Nah, nah~ Semua ini bukan salahmu, Vicchy. Pada dasarnya hanya karena anak laut bodoh itu yang seringkali bertindak seenaknya." Ujar Xion menyindir Ard.
"Vicchy. Sudah cukup. Semakin kau rasakan, semakin sakit yang kau terima. Pada dasarnya kita adalah manusia sosial dan teman, bukan?" Ujar Miccha membujuk Vicchy sembari tersenyum.
"Uhm. Terima kasih..." Balas Vicchy sembari mengangkat kepala dan membalas senyum Miccha dengan canggung.
"Yah, yang berlalu biarlah berlalu. Benar begitu, Xion?" Ujar Ard mendinginkan suasana sembari mengambil soda dari bungkusan.
"Setidaknya tunjukkan raut wajah bersalahmu, sialan!" Bantah Xion.
"Aku merasa serba salah jika di dekatmu. Lebih baik kau rajin-rajin mengangkuti kawan lautku dengan baik." Lanjut Ard sembari meminum soda.
"Bagaimana aku mengangkutinya dengan tangan seperti ini?! Dan kau pikir ini ulah siapa?!" Bantah Xion sembari menunjukkan cidera di tangan kanan.
"Berhenti mengeluh! Kau bisa menggunakan gigimu jika perlu untuk menarik jaringnya!" Lanjut Ard.
Suasana hangat pun tercipta dengan tiba-tiba. Miccha menyuruh Vicchy mendekat dan berniat mengajarinya memasak bersama mereka. Mereka yang menikmati makan malam di Kamar Ard, bersenda gurau sembari berbincang.
Malam yang sudah larut, mereka memilih menginap di Apartemen Ard. Willy, Vicchy dan Xion tertidur lebih dulu. Sedangkan Jay, Karu, Risu dan Miccha masih terbangun karena memiliki tugas yang padat.
"Maaf, kami memenuhi kamarmu, Ard. Kami juga datang dengan tiba-tiba tanpa seizinmu." Ujar Miccha sembari mengetik tugasnya.
"Jangan konyol. Kamarku kamar kalian juga. Jangan anggap aku seperti orang baru disini." Bantah Ard sembari meminum soda di dekat jendela.
"Heee~ begitukah?Baiklah~ Aku tak akan segan-segan lain kali jika begitu." Ujar Jay sembari mengetikkan laporannya.
"Tugas kuliah tampak sangat merepotkan, ya?" Tanya Ard sembari bergurau.
"Begitulah. Dosenku orang yang menyebalkan jika sudah bertindak." Balas Miccha akan keluh kesahnya.
Senda gurau yang mereka lakukan, menghapus dinginnya malam dengan perlahan. Ard yang telah kembali, menatap langit di luar sembari menaruh harap akan masalah yang dipendamnya.
Esoknya, kawanan Ard yang menginap, merasa ringan karena mendapati istirahat yang cukup. Ketika mereka sudah bangun, mereka mempersiapkan diri sebelum berangkat akan tugasnya masing-masing.
"Aaaah~ kurasa Paman Zaunt akan menghela nafas lagi begitu tahu anak laut ini tidak kembali." Ujar Xion sembari sarapan dengan gerutunya.
"Oi oi oi~ setidaknya aku masih setia dengan duniaku. Hanya penempatannya yang berbeda, heuheuheu." Balas Ard sembari menjemur pakaian diluar jendela.
"Sakitnya~ Aku merasa seperti dikhianati." Lanjut Xion.
"Umm... Ard." Ujar Karu memanggilnya.
"Kapan perayaan hubunganmu dengan Vicchy?" Tanya Karu.
"He??" Gumam Ard dengan terkejut.
". . .?!" Hening mereka bersamaan sembari terkejut.
"E-Eh?? M-Maaf... pertanyaanku aneh, ya??" Balas tanya Karu dengan canggung.
"Ard? Kau sudah berpacaran dengan Vicchy, kan? Kenapa kau terkejut?" Tanya Jay dengan heran.
"Tunggu. Kenapa kau bertanya itu? Kurasa otakku Lag." Balas tanya Ard semakin bingung.
"Ha?! Kukira kau sudah berpacaran dengannya!" Seru Xion ikut heran.
"Oi oi oi. Kapan aku bilang begitu?!" Bantah Ard sembari terkejut.
"Eh? Kukira--" Ujar Karu terpotong.
"Lupakan!" Seru Vicchy dengan tiba-tiba sembari berjalan keluar dengan cepat.
"Oi, Ard!" Seru Xion akan kesalnya.
"T-Tunggu! Apa?!" Bantah Ard semakin bingung.
"Aaahh... tidak peka memang sebuah kejahatan, ya?" Sanggah Miccha sembari membuat kopi.
"Ard... jadi selama ini kau menggantungnya seperti jemuran?" Tanya Willy akan guraunya.
"Menggantung apa?! Berhenti memakai kiasan! Katakan intinya!" Seru Ard yang terus kebingungan.
"Dasar bodoh! Vicchy sudah menyukaimu sedari awal! Aku tak menyangka jika sahabatku seperti ini..." Seru Xion sembari berkeluh kesah menahan keningnya.
"Menyukaiku?! Kenapa?!" Tanya Ard.
"Mana kutahu! Setidaknya bicarakan itu dengannya!" Balas Xion dengan emosi.
"Aaahh, sialan!" Seru Ard menyusul Vicchy yang kabur.
"Dia memang pandai menyelesaikan masalah orang lain. Tapi tidak untuk diri sendiri." Ujar Jay sembari menghela nafas.
"M-Maaf... ini salahku bertanya hal aneh..." Ujar Karu sembari tertunduk.
"Tidak. Kau melakukan hal benar yang mengejutkan, Karu. Jika masalah ini ditunda lebih lama, itu lebih menyakitkan lagi." Balas Miccha.
"Sialan! Aku benar-benar tak menyangka Ard bodoh dalam asmara." Ujar Xion akan rasa kesalnya.
"Kurasa mereka sudah teramat dekat seperti saudara. Itulah yang melarutkan Ard didalamnya." Sanggah Willy sembari terbangun dari duduknya.
"Willy benar. Aku juga tak bisa membayangkan bagaimana Ard ada di dalam lingkaran asmara jika terjadi." Ujar Risu sembari mencuci piring.
Pagi hangat seketika berubah menjadi panas seakan ada api yang membakar di sekeliling mereka. Perasaan Vicchy yang tersegel sekian lama, telah diketahui oleh Ard secara tidak langsung. Masalah yang baru selesai, dengan tiba-tiba timbul hal baru secara tidak diduga oleh Ard.
Di lain tempat, Villa Bukit Thyfaro, Hiruma mendapati panggilan dari seseorang agar segera menemuinya. Suara lembut dan ringan, membuat Hiruma penasaran akan takdir apa yang mendatanginya. Ketika mendapati panggilan tersebut, ia mengabaikannya untuk sementara waktu.
Penelepon dari lain tempat pun merasa bingung dan kesal akan perlakuan Hiruma. Hiruma kala itu, hanya menyadari bahwa hal itu adalah keisengan belaka. Ia langsung melanjutkan urusan dan tugas-tugasnya yang menumpuk dipagi hari. Penelepon yang berada ditempatnya berpikir sejenak akan hal yang sudah dilakukannya.
Ia pun beranjak keluar untuk melancarkan niatnya mengenai Hiruma. Dengan bergegas masuk ke CyMobile, ia pergi menuju Kota Exgalya.
"Dia itu, aku tak menyangka sifatnya benar-benar buruk." Gumam gadis akan Hiruma dengan kesalnya.
"Tapi, aku tak akan menyerah begitu saja. Dia hanya berlagak acuh pada orang asing seperti orang pada umumnya." Lanjut gadis tersebut.
"Walau begitu... jatuh cinta memang berbahaya, ya? Hehe~" Gumam gadis tersebut sembari tersenyum tipis.
Gadis tersebut berniat menghampiri Hiruma sembari melakukan pelacakan koordinat tempat Hiruma berada berdasarkan jalur telepon. Ketika diamati, posisi Hiruma berubah drastis dan tampak menuju suatu tempat yang jauh.
Gadis tersebut pun berhenti sesaat untuk memastikan tempat yang ingin dituju Hiruma. Ketika sudah diketahui, Hiruma berhenti di Hutan Prime Wood Alya. Gadis tersebut, langsung melanjutkan perjalanannya.
Ketika sedang mengemudi, gadis tersebut mendapat panggilan telepon dari dalam mobil. Ia pun berhenti sesaat dengan rasa sedikit kesal begitu mengetahui kakaknya yang menelepon. Ia langsung mengangkat panggilan dan memulai perbincangan dengan tergesa-gesa.
"Ada apa, Kak Rhezu? Aku sedang ada urusan!" Seru gadis tersebut.
"Urusan? Kau bilang tak ada jadwal, Rikka?! Kemana kau pergi?!" Bals tanya Rhezu dengan khawatir.
"Aku menemukannya." Balas Rikka.
"Eh? Menemukan apa?" Lanjut tanya Rhezu dengan bingung.
"Seseorang untuk masa depanku. Sudah, ya?" Balas Rikka sembari menutup telepon.
"Heh?! Sudah ketemu?! Halo?! Rikka?! Rikka !" Seru Rhezu sembari terkejut akan panggilannya yang diakhiri.
Rhezu tak menduga hal itu terjadi sangat tiba-tiba. Ia mendapati penasarannya akan orang yang dimaksud Rikka.
Sesampainya di Hutan Prime Wood Alya, Rikka mencari tempat parkir yang nyaman untuknya. Situasi kawasan di luar hutan tampak dijaga CyDroid Guardian Type A karena urusan Hiruma. Rikka pun mencoba berpikir terlebih dulu untuk memutuskan akan menerobos masuk atau menunggu.
Seusai memutuskannya, Rikka tak bisa menahan sabar dan memilih menerobos penjagaan CyDroid Guardian Type A. CyDroid yang melihatnya, menahan Rikka agar tidak melewati penjagaan dari dua CyDroid tersebut.
Kemudian, CyDroid menodongkan CyRifle pada Rikka. Rikka diminta akan kepentingan urusannya. Ia pun menunjukkan identitas dirinya. Digi-ID yang ditunjukkan pun ditolak oleh CyDroid, karena tak menerima siapapun masuk kecuali komando dari ketua ataupun yang bersangkutan.
Rikka dan CyDroid tersebut mulai terlibat adu mulut hingga menyebabkan keributan. Para staf yang berada di dekat pintu masuk hutan, mendengar keributan di daerah penjagaan CyDroid. Mereka yang melihatnya, menghampiri untuk memastikan apa yang terjadi.
Dua staf yang melihatnya ikut terkejut bahwa Rikka adalah salah satu pihak dari Argolya's Herbal Institute Corporation, Investor terbesar dan perusahaan yang sangat berpengaruh akan kelangsungan bisnis Exgalya.
Mereka pun langsung menurunkan keamanan CyDroid dengan Digi-ID mereka sembari melakukan komando sesuai pengaturan. Sistem CyDroid menjadi turun ke Level Low-Guard dan menurunkan senjata yang ditodongkannya. Kedua staf tersebut menanyakan perihal keperluan Rikka dengan hati-hati.
"Aku? Aku kemari untuk menemui Hiruma. Karena ingin melangsungkan pertunangan dengannya." Ujar Rikka dengan tegas sembari kedua lengan di pinggangnya.
Mereka yang mendengarnya, terkejut dan tak bisa berkata-kata. Mereka merasa bingung akan tindakan yang harus dilakukan. Kemudian, mereka memilih mengantar Rikka lebih dulu ke kawasan bagian luar hutan yang sejuk. Sebelum mengantar Rikka, mereka kembali mengaktifkan penjagaan tinggi CyDroid Guardian A ke level semula. Kedatangan Rikka secara tiba-tiba, membakar suasana secara tidak terduga.