From Grey To Red

From Grey To Red
BAB 10 : Yang tertinggal



Hikky yang kembali ke festival, sudah berganti pakaian menjadi formal dan elegan. Hikky memutuskan untuk menunggu di aula sembari menerima jamuan minum.


Hikky mengenakan Tuxedo hitam dengan kemeja biru gelap, kembali memeriksa sedikit tampilannya agar tak melewatkan sesuatu. Ard dan kawan-kawan pun melakukan hal yang sama dan telah berganti pakaian formal. Dikala mereka telah berkumpul, Risu, Miccha dan Aziru menemani Karu turun dari ruangan aula lantai dua.


Seorang pengunjung yang sedang berdansa, melihatnya dan terpaku hingga membuat tamu lain ikut melihat Karu. Dugaan rencana mereka tampak akurat, karena Karu terlihat mempesona. Hikky yang melihatnya dari dekat, mendekati Karu.


"K-Karu?" Gumam Hikky.


"H-Hikky? Uhm..." Balas Gumam Karu dan canggung akan pertemuannya.


"Baiklah, baiklah~ Karu. Berdansalah dengannya. Hikky, lakukan dengan lembut, ya?" Ujar Risu pada Karu dan berbisik pada Hikky.


"Baiklah. Karu, kau berkenan melakukannya denganku?" Tanya Hikky akan pintanya.


"Aku tak keberatan. Ayo." Balas Karu menerima ajakan Hikky.


Hikky dan Karu mulai berdansa bersama dengan lembut. Hikky melakukan gerakannya dalam memimpin dansa dengan Karu. Xion, Willy dan Gant menyusul Risu, Fhay dan Miccha sembari memulai dansanya. Sedangkan, Ard dan Vicchy diam di tempat sementara waktu melihat mereka dan menikmati suasana di aula.


"Hei, Ard." Panggil Vicchy.


"Hmm?" Balas Ard sembari menengoknya.


"Setelah melihatnya, kau yakin tak apa?" Tanya Vicchy dengan cemas.


"Bukan masalah. Ini adalah roda takdirnya. Dia bebas memilih dan kita tak diperkenankan merusaknya." Balas Ard sembari meminum limunnya.


"Jika begitu temani aku. Daripada mematung disini, membuat kakiku mati rasa." Lanjut Vicchy mengambil minuman Ard dan menaruhnya.


Vicchy langsung menarik Ard dan mengajaknya berdansa. Ard yang ditarik olehnya, justru memimpin dansa dari Vicchy.


"Kukira kau hanya orang bodoh yang tak bisa berdansa." Ujar Vicchy dengan guraunya.


"Sebuah kesalahan jika kau meremehkanku." Balas Ard dengan senyum tipisnya.


"Kau berniat mempermalukanku?" Ujar Vicchy dengan sinisnya.


"Itu tidak penting. Kakimu tak apa mengikuti alurku?" Tanya Ard.


"Untungnya, sepatu yang kukenakan bukanlah yang suka menggila." Lanjut Vicchy.


"Begitu. Mungkin aku akan mencoba bagaimana rasa sepatu seorang gadis." Balas Gurau Ard sembari memutar Vicchy dan menangkapnya.


"Kaki besarmu hanya akan merusaknya, jangan konyol." Bantah Vicchy.


"Kaki wanita sangat mungil seperti balita walau dewasa, ya?" Lanjut Ard dengan guraunya.


"Jika kau meledekku lagi, aku akan menginjaknya tepat dikelingkingmu." Sanggah Vicchy dengan kesal.


"Hahahaha. Kumohon, jangan kelingking." Pinta Ard sembari mengerutkan dahi.


Dikala Ard dan Vicchy sedang berdansa, Ard mendapati getaran pada CyPhonenya. Ard membisik pada Vicchy untuk menghentikan sementara waktu dansa mereka. Ard yang berhenti, menerima panggilan masuk pada CyPhonennya dari Dyenna.


"Yo. Ada apa?" Tanya Ard.


"Maaf mengganggumu di festival, Ard. Bisa kau kemari? Jembatan Sungai Gal." Ujar Dyenna dalam panggilan.


"Begitu. Tentu. Aku segera ke sana." Balas Ard menerima permintaan Dyenna.


"Ard, ada apa?" Tanya Vicchy dengan cemas.


"Kau bisa ikut. Ayo." Balas Ard sembari bergegas.


Vicchy yang penasaran akan sesuatu yang terjadi, menuruti Ard dan mengikutinya. Ard dan Vicchy langsung keluar dari festival sembari berjalan kaki menemui Dyenna.


Sesampainya di jembatan dekat Pinggiran Sungai Gal, mereka melihat Dyenna, begitu pula sebaliknya. Dyenna yang berada di dekat salah satu pohon, berdiri dan memberitahu Ard akan sesuatu yang ditemukannya di bawah pohon. Sebuah serpihan kecil berwarna biru, seukuran dengan butiran nasi terlihat berkelap-kelip.


Ard dan Vicchy terkejut bukan main akan temuan Dyenna yang mereka duga bahwa itu adalah salah satu serpihan Summer Sparkle. Ard yang sedikit panik, memotretnya untuk berjaga-jaga. Dyenna tak tahu dengan apa ia harus membawa dan mengamankannya pada Ard.


Dyenna memilih Ard lah untuk bertindak kali ini. Ard melihat sekeliling area dan mencari sesuatu yang bisa digunakan. Ketika ia turun ke bagian rendah tepi sungai, dia menemukan toples kaca tanpa penutup.


Ard merasa lega karena itu belumlah pecah pada bagian manapun. Ard dengan segera mengambilnya dan kembali ke tempat serpihan itu berada. Ard yang ragu dengan menyentuhnya, memilih menaruh toplesnya ke tanah dan mendorong serpihan tersebut dengan hembusan anginnya hingga masuk kedalam toples.


Ard berlanjut meminta Dyenna memeganginya sembari Ard melepas jas untuk menutup permukaan toples. Ketika Ard mengangkat toples yang telah tertutupi jas, nafas Vicchy tampak berat dengan ekspresinya yang tak biasa.


Ard yang berbalik melihatnya, seketika memahami Vicchy. Ard dengan langsung meminta Dyenna untuk mengamankan serpihan tersebut padanya. Dyenna yang kurang mengetahui detilnya, hanya menuruti pinta Ard dan bergegas pulang.


Vicchy tersungkur lemas sembari memeluk kedua bahunya dengan gemetar dan nafas yang tak beraturan. Ard tak menyangka bahwa Vicchy memiliki trauma dan melihat Vicchy sembari memanggilnya beberapa kali.


Beberapa detik kemudian, Vicchy menggila dengan nafas tak beraturan. Ard dengan segera memanggil Cytaxi sebagai transportasinya sembari menahan Vicchy.


Dyenna yang memegangi toples sembari berdiri, tampak melihat neraka kecil pada pandangannya dan gemetar untuk bagaimana menolong Ard. Untungnya, respon dari permintaan Ard datang dengan cepat karena Supir Cytaxi yang mereka dapati ialah Android Exgalya.


Ard langsung masuk ke dalam Cytaxi dan mulai pergi dengan tambahan pendorong agar cepat sampai. Satu menit berlalu, Ard sampai di apartemen, memasuki kamar sembari menggendong Vicchy yang masih menggila.


Ard pun langsung menaruh Vicchy dengan perlahan di kasurnya. Ard yang tak memiliki obat bius, meyakinkan perasaan Vicchy agar tetap tenang. Kemudian, Vicchy tenang secara perlahan akan arahan dari Ard agar menenangkan diri.


Tubuh Vicchy tampak gemetar menahan takutnya. Dengan seketika, Vicchy menutup wajah sembari meringkuk dan melepaskan tangisnya dengan kencang. Ard pun kebingungan dengan tindakannya dan hanya membiarkan Vicchy melepaskan seluruhnya.


"Pasti berat untukmu, Vicchy. Dengan melihatnya saja, itu bisa meruntuhkanmu." Ujar Ard dalam hati.


Kembali pada Universitas El'Vee, mereka merasa puas dengan festival dan mengakhiri pestanya. Xion dan Hiruma tampak bingung dengan hilangnya Ard saat itu.


Sedangkan Karu dan Hikky telah melewati masa-masa terbaik mereka sembari berbincang di atap.


"Aku tak menyangka akan mengalami hal ini denganmu, Karu." Ujar Hikky sembari menyentuh pagar pembatas.


"Begitupun denganku. Aku berterima kasih padamu untuk segalanya, Hikky." Balas Karu dengan senyum bahagianya.


"Dan mengenai hal itu, jika mereka bertanya... tolong rahasiakanlah, Karu." Pinta Hikky dengan malunya.


"Tentu. Aku mengerti." Lanjut Karu sembari melihat dan memegangi jari manisnya yang di hiasi oleh cincin.


"Terima kasih. Aku... menyukaimu, Karu." Ujar Hikky dengan yakinnya.


"H-Hikky ?!" Balas Karu dengan gumam malunya.


"Aku tak akan ragu-ragu lagi." Gumam Hikky sembari mengepal kedua tangannya.


"Bukankah, ini terlalu awal?" Balas tanya Karu dengan khawatir.


"Tidak. Aku sudah menyingkirkan keraguanku. Aku akan meyakinkannya." Balas Hikky dengan tegas.


"Uhm... bisa, kau memberiku waktu?" Pinta Karu sembari menatap Hikky.


"Tentu. Jangan menekankan dirimu, Karu." Lanjut Hikky sembari memeluk Karu.


Karu yang mendapatinya, terkejut dan terdiam. Gumamnya tak digubris oleh Hikky dan meminta Karu untuk tidak berbicara beberapa saat.


Karu mencoba memahami alur Hikky, yang mendadak melakukannya. Api unggun telah dinyalakan dan membuat dinginnya malam menjadi hangat. Mereka pun berkumpul di tempat tersebut sembari menikmati momen mereka.


Ard yang berada di apartemennya, tetap menemani Vicchy agar tidak terjaga dari tidurnya. Raut wajah Vicchy menunjukkan cemasnya dalam tidur hingga terlihat jelas oleh Ard.


Ard berniat menghilangkan bosan di dinginnya malam dengan membuat makanan untuk mengisi perut. Dengan menu daging sapi dilumuri saus kacang dan daun bawang, Ard menyantapnya sembari membuka tirai sedikit dan melihat pemandangan kota.


Seusai dia mengisi perut, Vicchy membuka matanya perlahan dan menggerakkan posisi kepalanya.


"Ard?" Panggil Vicchy dengan nada berat.


"Maaf. Terlalu berisik untukmu?" Tanya Ard sembari menghampirinya ke pinggir kasur.


"Tidak. Hanya saja mimpi yang kudapat cukup berat." Balas Vicchy.


"Jika matamu sama beratnya untuk dibuka, kembalilah tidur dan mainkan ulang mimpimu." Ujar Ard dengan senyum tipisnya.


"Bodoh. Aku bukan sepertimu, tahu?" Bantah Vicchy.


"Hahaha. Ejekanmu memang menjengkelkan. Jadi, apa itu?" Gurau Ard sembari menaruh kepalanya pada pinggir kasur.


"Kakakku...lenyap tepat di depan mataku." Balas Vicchy dengan cemasnya kembali.


"Tamu tak di undang, ya? Jika begitu..." Gumam Ard sembari pergi membuka lemari pakaiannya.


Vicchy menjadi terbangun melihat Ard dan penasaran dengan yang akan dilakukannya. Tak lama kemudian, dia kembali membawa kotak cukup besar pada Vicchy.


Vicchy semakin terkejut dan penasaran dengan apa yang akan dilakukan Ard pada kotak tersebut. Kotak itu tampak seperti kotak kado berwarna putih dan pita biru, ditaruhnya di pinggir kasur sembari membukanya lalu menunjukan isinya pada Vicchy.


Sebuah boneka beruang berwarna putih dan pita biru pada lehernya. Vicchy tak berhenti terkejut melihatnya ketika tahu bahwa Ard memiliki hal semacam itu.


"Hal unik ini kudapatkan secara kebetulan ketika masih seorang bocah, karena bermain panah dengan ayahku. Dia berpikir ini cocok sebagai teman tidurku, padahal tidak terlalu." Ujar Ard akan ceritanya dengan senyum tipis.


"Dan... apa yang akan kau lakukan dengan itu?" Tanya Vicchy dengan bingung.


Ard secara langsung membuka kedua tangan Vicchy dan mendekapkan boneka beruang tersebut pada Vicchy. Vicchy yang mendapati tindakan Ard, terdiam beberapa saat dan melihat Ard kembali.


"Itu untukmu. Teman tidurmu. Maka kau tak akan mimpi buruk lagi. Tidak kapanpun." Balas Ard sembari menyentuh kepalanya.


"Ard..." Gumam Vicchy sembari mendekap boneka dengan erat.


"Kembalilah tidur, ini baru akan tengah malam." Tegur Ard pada Vicchy.


"Bagaimana denganmu? Ini kasurmu." Tanya Vicchy dengan cemas.


"Aku memiliki sofa andalan. Jangan pikirkan tidurku, perbaiki mimpimu. Selamat malam." Balas Ard membujuk Vicchy.


"Uhm. Selamat malam." Gumam Vicchy.


Vicchy menuruti teguran Ard dan memilih tidur dan mengistirahatkan dirinya sembari memeluk boneka. Mereka yang berada di festival, diberitahu Hiruma untuk pulang seluruhnya dikarenakan Hiruma mengandalkan tukang untuk membereskan festival.


Risu membantah Hiruma, namun dipertegas olehnya. Tukang yang sudah berkumpul ikut membujuk mereka agar tak perlu memikirkan pembersihan festival agar segera pulang mengistirahatkan diri.


Hiruma menegaskan hingga mereka meyakinkan diri dan menuruti permintaannya agar segera pulang. Seusai festival telah sepi, Hiruma mengerahkan para tukang memulai pekerjaannya.


Disaat Hiruma berjalan ke dalam kampus, langkahnya terhenti akan pesan masuk pada CyPhonenya.