From Grey To Red

From Grey To Red
BAB 23 : Dunia Baru



Misi Ard telah dimulai. Ia dengan segera menghabiskan waktunya untuk melakukan hal baik dan mencari lebih hal baru. Waktu demi waktu terus berlalu, Ard berkeliling ke segala penjuru sembari ditemani oleh CyHovernya.


"Maru! Turunlah! Jangan khawatir!" Seru seorang anak laki-laki berteriak pada kucing peliharaannya yang terjebak di dahan pohon besar.


Kucingnya yang panik dan tak tahu cara turun dengan aman, hanya bisa mengeong dengan nada gemetar. Ard yang berada di dekat area, mendengar seruan samar dari seorang anak laki-laki akan masalahnya.


Ard dengan segera melakukan Boost ke tempat kejadian. Ketika masalahnya ditemukan, ia langsung melakukan manuver di udara dengan cepat untuk mengambil kucing kecil yang terjebak sembari memberikannya pada anak laki-laki tersebut.


"Terima kasih, Kak Ard." Ujar Anak laki-laki sembari memeluk kucingnya.


"Dia mengetahui namaku? Tentu. Jangan lalai dan selalu lindungi dia. Dia adalah teman terbaikmu, bukan? Siapa namamu?" Gumam Ard dalam hati dengan heran dan menasehatinya sembari tersenyum tipis.


"Tentu! Aku takkan melepaskannya lagi. Tyra, Kak Ard." Seru anak laki-laki.


"Tyra, kah? Jika begitu, sampai jumpa lain waktu!" Balas Ard dan melanjutkan perjalanannya sembari melakukan Boost.


Di lain tempat, Universitas El'Vee. Risu, Miccha dan Karu berbincang sembari mengerjakan tugas. Miccha teringat akan suatu hal, melihat sekelilingnya. Risu yang melihat Miccha, ikut merasa heran.


"Miccha? Kau mencari sesuatu?" Tanya Risu sembari memainkan pena.


"Aku teringat sesuatu. Aku tak melihat Aziru sedari beberapa waktu lalu. Kemana dia?" Balas tanya Miccha dengan cemas.


"Sial. Aku pun menyadarinya! Dari yang kutahu, dia selalu sibuk dan fokus dengan tugasnya. Jika begitu kucoba untuk kuhubungi saja." Lanjut Risu mengambil CyPhone dan melakukan panggilan pada Aziru.


Dering getar yang terdengar, memakan beberapa waktu dan cukup lama karena tak diangkat oleh Aziru. Risu yang ikut cemas, hanya bisa berasumsi bahwa Aziru melakukan hal seperti biasa. Karu yang melihat Risu, merasa hal yang janggal karena kepekaannya.


Kemudian, Karu melihat Pak Rougaku berjalan di koridor. Dengan segera, ia menghampirinya dan berniat mendapatkan informasi.


"Pak Rougaku!" Seru Karu dari belakangnya.


"Hmm? Karu? Ada apa?" Tanya Pak Rougaku berbalik.


"Aku ingin bertanya sedikit. Perihal Aziru, dia tak hadir belakangan ini. Kami sudah mencoba menghubunginya, Anda tahu informasinya, Pak Rougaku?" Tanya Karu dengan cemas.


"Aziru? Ah, dia yang sering bersama kalian? Dia pindah dari sini." Balas Pak Rougaku.


"Heh?! Pindah? Kenapa?" Tanya Karu sembari terkejut.


"Dari yang kudengar, ini menyangkut insiden sebelumnya. Kurasa orang tuanya tak bisa tinggal diam setelah itu terjadi. Dan asumsiku, mereka tak ingin mengambil resiko dilain waktu. Bagaimana dengan itu? Bapak harus kembali." Lanjut Pak Rougaku.


"Begitu. Terima kasih banyak, Pak Rougaku. Tentu. Anda bisa melanjutkan tugas anda, permisi." Balas Karu dengan tertunduk dan melanjutkan senyum tipisnya.


"Baiklah. Permisi." Lanjut Pak Rougaku sembari berpisah dengan Karu.


Karu yang mendapati informasi, hanya bisa tertunduk dan kembali ke Risu dan Miccha. Karu yang duduk dilihat oleh mereka dan heran dengan apa yang terjadi.


"Risu. Miccha. Aziru... sudah tak di El'Vee lagi." Ujar Karu sembari mengkerutkan dahinya.


"Heh?!" Gumam Risu dan Miccha bersamaan sembari terkejut kaku.


"Ini... ini terlalu mendadak!" Bentak Risu yang terbawa suasana sembari menggebrak meja.


Miccha yang melihatnya menenangkan Risu yg dilihat oleh sekitar. Risu yang tersadar, kembali duduk sembari menutup wajahnya dan tertunduk malu.


"Jadi... kita takkan bertemu dengannya lagi? Bahkan kita tak bisa menghubunginya serta entah dia di mana." Ujar Miccha dengan cemas.


"Tak ada hal lain, Miccha. Jika itu yang terbaik untuk Aziru, maka kita hanya bisa merelakannya. Hal yang wajar jika mereka khawatir. Namun, aku yakin jika kita bisa bertemu lagi dengan Aziru. Ayo, sebaiknya kita selesaikan tugas ini dan beristirahat." Balas Karu menyemangati Miccha dan Risu.


Vicchy yang duduk di dekat Pelabuhan Gal-Alya, dilihat oleh Xion. Xion yang berniat menghampirinya, tertahan sesaat karena keraguannya. Hal yang ingin disampaikan oleh Xion pun ikut tertunda dengan memilih lain waktu. Xion yang melakukan pekerjaannya di dalam Kapal Transport, dihampiri oleh Paman Zaunt sembari berbincang.


"Kau menundanya? Itu tak baik, lho." Ujar Paman Zaunt sembari mengangkuti barang dengan CyForklift.


"Aku tahu. Hanya saja waktunya tidak bisa kulakukan sekarang. Dan aku belum siap melihat raut wajahnya." Balas Xion sembari keluar bersama Paman Zaunt mengangkuti barang dengan CyForklift.


"Raut wajah gadis, bisa meruntuhkanmu, ya? Aku mengerti. Kau memang berniat menjaganya. Pastikan kau melakukannya dengan cepat, apapun yang akan kau dapat." Lanjut Paman Zaunt.


"Aku mengerti." Balas Xion menghela nafas sembari menaruh barang.


Vicchy yang sedang duduk, kembali berpikir beberapa hal.


"Tampaknya, aku belum diizinkan untuk bergabung dengan anak laut itu disini. Kenapa, ya?" Tanya Vicchy dalam hati sembari menggerakkan kedua kakinya bergantian.


"Lupakanlah. Aku yakin tak semudah itu membiarkanku masuk." Lanjut Vicchy dengan pesimisnya.


"Karena anak laut itu sedang berusaha, kurasa aku akan mendukungnya dengan membuat makan malam. Atau mungkin sekaligus makanan sehari-hari? Tapi, bagaimana caranya memasak? kurasa aku hanya harus mencobanya satu persatu." Gumam Vicchy dalam hati dengan senyum lebarnya.


Siang yang terik, Ard terus berkeliling setelah menemukan berbagai hal. Ard melanjutkan perjalanannya dengan berkeliling di Pemukiman Gal Estate 5. Di salah satu blok dari Pemukiman Gal Estate 5 terlihat seorang nenek berdiri di depan rumah dan menatap ke bawah saluran air berupa gorong-gorong.


"Aahh... buruk. Bagaimana caranya mengambil kunciku di bawah sana? Bagaimana ini?" Gumam nenek kebingungan dengan nada seraknya.


"Ahhh... punggungku." Lanjut nenek mengeluhkan asam urat.


Ard yang melintasi salah satu blok, melihat nenek yang sedang membungkuk menatap tanah. Terlihat nenek tersebut berdiam diri di atas saluran air. Ard yang khawatir dengan apa yang dilakukannya, melakukan Boost dan menghampirinya.


"Nenek? Apa yang anda lakukan diterik panas ini? Apa yang terjadi?" Tanya Ard dengan heran.


"Ah, Anak muda. Kunci rumahku terjatuh ke bawah sana. Dan aku tak tahu bagaimana mengambilnya." Balas nenek dengan cemas.


"Baiklah! Nenek berteduhlah disini." Lanjut Ard menggendong nenek tersebut kedepan pintu rumahnya.


"Anak muda, apa yang ingin kau lakukan? Tanya nenek dengan heran.


"Baiklah, aku membutuhkan CyLaser. Kurasa tak ada pilihan lain." Gumam Ard dalam hati sembari membeli CyLaser.


CyLaser yang telah terkirim ke CyBag, dikeluarkan oleh Ard. Ia memotong bagian efektif agar tak terlalu merusak penutup saluran. Dengan memotongnya pada sisi kanan dan kiri, Ard berhasil membuka dan melihat ke bawah. Dengan kedalaman yang cukup berbahaya, Ard turun dengan segera sembari menahan hidung.


"Sialan! Baunya!" Seru Ard sembari menembus kotornya gorong-gorong.


"Anak muda! Kau tak apa?!" Seru tanya nenek dari atas gorong-gorong.


"Tak apa! Nenek jangan berdiri di atas lubang! Tunggulah!" Seru Ard memperingati nenek.


Nenek yang mendengarnya, menuruti nasehat Ard dengan menjauh dari lubang.


"Dapat! Ah, aku tak menyangka jika di bawah Exgalya sejorok ini." Keluh Ard sembari melihat sekeliling dan tubuhnya yang kotor.


"Dia tak apa, kan?" Gumam nenek khawatir.


Ard usai mendapati kuncinya segera kembali ke permukaan dan menutup kembali lubang tersebut.


"Aku mendapatkannya! Dan lebih baik kucuci lebih dulu. Dimana selang airnya, nek?" Tanya Ard sembari menunjukkan CyKey nya.


"Terima kasih, anak muda. Kutunjukkan." Balas nenek sembari mengajak Ard ke samping rumahnya.


Ard yang ditunjukkan oleh nenek akan selangnya, langsung mencuci hingga bersih. Seusainya, Ard langsung memberikan kunci tersebut.


"Terima kasih, anak muda. Mandilah lebih dulu. Kau tak bisa berkeliling dengan kondisi seperti ini. Akan kusiapkan pakaian gantinya." Ujar nenek sembari memasuki rumah.


"Ahh... Ingin kubantah, namun dia ada benarnya. Kotor dan bau ini tak bisa ditolerir." Gumam Ard dalam hati sembari menunggu diluar.


"Anak muda! Kau bisa masuk dan nikmati waktumu!" Seru nenek dari dalam.


"Ah, baik! Permisi." Balas Ard sembari langsung menuju kamar mandi.


Ard dengan segera membersihkan segala tubuhnya karena tak memiliki banyak waktu untuk dibuang. Seusai sepuluh menit, Ard mengenakan pakaian ganti yang dipinjamkan oleh nenek dan beranjak keluar.


"Baiklah. Sudah selesai. Terima kasih untuk pakaiannya." Ujar Ard memberi hormat.


"Kau bisa meninggalkan milikmu disini terlebih dulu. Dan kau bisa miliki yang kau kenakan, anak muda." Balas nenek dengan senyum tipisnya.


"Heh? Memilikinya? Milik siapa ini?" Tanya Ard dengan bingung.


"Mendiang suamiku. Dia pernah berkata satu hal. 'Sesuatu yang kita tinggalkan saat nanti, haruslah menemukan pemilik baru yang baik.' Maka dari itu, kau bisa memilikinya, anak muda. Aku akan membersihkan milikmu disini. Dan suatu hari bisa kau ambil kembali." Lanjut nenek.


"Sial. Permintaannya terlalu dalam untukku." Gumam Ard dalam hati dengan cemas.


"Jika kau sedang sibuk, bergegaslah. Terima kasih untuk sebelumnya." Lanjut nenek mempersilahkan Ard.


"Tentu! Aku akan mampir lagi lain waktu. Terima kasih kembali, nek! See Ya!" Balas Ard sembari melanjutkan perjalanannya.


Siang terik berganti malam. Ard yang tak melihat kejadian buruk, memilih kembali ke apartemen dengan berat hati. Sesampainya di depan kamar, Ard membuka pintu dan menyadari bahwa itu tidaklah terkunci. Ard yang memasuki kamar, terkejut melihat Vicchy sedang memasak sembari melihat berbagai makanan yang tertata di meja.


"Selamat datang, Ard. Duduk dan nikmatilah. Aku akan mencoba berbagai menu baru sesuai kreasiku!" Ujar Vicchy sembari lanjut memasak.


Menu yang terlihat di meja begitu variatif dari daging hingga sayuran. Bahkan ada yang terlihat agak gosong dan tak beraturan. Ketika Vicchy selesai, ia menaruhnya di meja sebagai yang terakhir akan percobaannya.


"Ini... pertama kalinya aku memasak. Jadi aku tak tahu bagaimana rasanya, hehehe." Lanjut Vicchy dengan ragu.


"Sebanyak ini? Terima kasih, Vicchy." Balas Ard dengan senyum lebarnya.


"Jangan berterima kasih! ketahui dulu bagaimana rasanya." Ujar Vicchy dengan malunya.


"Hahahaha! Baik~ baik~ Jika begitu begitu, selamat makan." Lanjut Ard memulai santapannya.


Tangan Ard mengarah ke daging sapi yang di lumuri tepung goreng, dirasakan olehnya. Raut wajah Ard memberikan jawaban seperti tertekan akan sesuatu. Vicchy yang khawatir, mencoba memanggilnya tertunda akan Ard yang mencoba menghabiskan seluruh makanan dengan mengabaikan rasanya. Vicchy yang tidak tenang pun menahan Ard seakan menghentikannya.


"Ard! Sudah cukup! Jangan lanjutkan! Kumohon!" Seru Vicchy sembari menahan tangan Ard.


Ard yang mengabaikan permintaan Vicchy, melanjutkan makannya tanpa pandang bulu. Vicchy yang kesulitan menahannya, tak memiliki kekuatan dan meringkuk takut.


"Kumohon... hentikan... Ard..." Gumam Vicchy menahan tangisnya.


Ard yang usai dengan makannya, menarik nafas dan bersiap menjelaskannya pada Vicchy.


"Vicchy. Terima kasih banyak. Aku menyukai buatanmu sepenuhnya. Buatkan lagi lain kali, ya?" Ujar Ard tak berbalik pada Vicchy yang berada di belakangnya.


"Kenapa? Cukup katakan sejujurnya bahwa itu merusak mulutmu." Balas Vicchy akan isak tangisnya sembari menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Tidak. Sama sekali. Aku menyukainya. Maka dari itu kukatakan padamu untuk membuatkannya lagi. Bukan karena aku tak tega atau mengasihanimu. Tapi, apa yang kau lakukan adalah hal yang sangat berharga." Ujar Ard sembari tersenyum lebar.


"Apanya yang berharga? Yang kulakukan hanyalah nyaris membuatnya jadi abu gosok!" Bantah Vicchy.


"Kau ingat? Kau tak bisa memukul rata bahwa semua orang itu sama. Sesederhana itu, Vicchy." Lanjut Ard membujuk Vicchy.


"Ard bodoh! Pembohong sialan! Kau mengatakan itu justru menakutiku. Tapi... aku akan melakukannya lagi untukmu. Maka dari itu, raut wajahmu akan benar- benar mengatakan bahwa masakanku sesuai dengan lidahmu!" Seru Vicchy sembari berdiri.


"Hahahahaha! Tentu. Seperti yang kukatakan, aku menyukai masakanmu bagaimanapun bentuknya. Berusahalah!" Lanjut Ard menyemangati Vicchy.


"Uhm. Pasti." Angguk Vicchy mengumpulkan tekadnya.


"Dan, perutku sudah penuh. Terima kasih. Beristirahatlah." Ujar Ard sembari berbaring di kasurnya.


Vicchy yang mendengarnya, berlari dan menindih Ard sembari memeluknya.


"Oi! Berat! Minggir!" Seru Ard agar Vicchy melepaskan diri.


"Ard. Padahal kau adalah orang bodoh yang jelek dan tak tahu situasi. Tapi, kau membuatku beruntung bertemu denganmu. Terima kasih." Ujar Vicchy dalam hati sembari tersenyum lebar.


Malam dingin, berganti fajar dan masih menyisakan dinginnya. Waktu menunjukkan pukul lima pagi, Vicchy tertidur kembali di kamar Ard.


Ard yang masih tertidur pulas, justru membuat Vicchy terbangun dan beranjak dari kasur. Vicchy pun dengan iseng, menyumbat kedua telinga Ard seakan tak ingin membuatnya mendengar sesuatu. Vicchy yang melakukan tes pendengaran pada Ard, berjalan sesuai rencana.


Ia kembali pada ambisinya agar bisa memasak dengan cepat. Vicchy yang tak bisa sabar kembali mencoba memasak beberapa menu. Hingga satu jam berlalu, Vicchy masih belum puas dengan rasanya.


Raut wajahnya yang menunjukkan kekecewaan, tak menurunkan tekad Vicchy. Ard terbangun perlahan dan membuka matanya. Ia melihat Vicchy kembali memaksakan diri. Vicchy tak sadar akan Ard yang terbangun dan Ard berdiri di belakangnya secara diam-diam.


"Aroma yang bagus." Ujar Ard dengan tiba-tiba.


"AH! Ard?! Sejak kapan?!" Tanya Vicchy sembari terkejut.


"Kau menyumpal telingaku tak akan merubah apapun, dasar bodoh. Kau melakukannya lagi?" Balas Ard sembari menyicipi irisan ayam panggang.


"B-Bagaimana? Masih, ya?" Tanya Vicchy dengan murung.


"Hahahahahaha! Jangan khawatir. Kau akan menguasainya dengan cepat. Aku bisa merasakan perkembanganmu. Jangan menyerah, mengerti?" Balas Ard sembari menyantap ayam panggang Vicchy.


"Baik. Dasar keras kepala. Lama-lama bisa merusak tenggorokanmu, tahu? Setidaknya tunggulah hingga sesuai dengan lidahmu." Lanjut Vicchy menasehati Ard dan lanjut memasak.


"Tak mau. Aku akan makan apapun yang tersedia. Kau bahkan sudah bekerja keras membuat ini, seharusnya kau bisa membanggakan dirimu." Bantah Ard sembari menghabiskan sarapannya.


"Tak semudah itu, bodoh." Bantah Vicchy.


"Jika begitu. Aku berangkat! Aku menantikan buatan terbaikmu! See Ya !" Seru Ard beranjak pergi dengan segera.


"Hei! Dasar. Kau melupakan makan siangmu. Tapi, aku tak bisa membuatnya memakan ini. Disisi lain, aku menyukai respon bodohnya juga. Jika begitu kulanjutkan saja lain waktu." Gumam Vicchy bergegas membersihkan diri.


Ard melanjutkan misinya hari demi hari. Begitu banyak yang ia temui, hingga ia tak merasakan beban apapun saat menjalani hukumannya. Disisi lain, Vicchy mendapati dunia barunya akan dorongan dari Ard.