From Grey To Red

From Grey To Red
BAB 12 : Ambisi Hiruma



Sesampainya di tempat rahasia Hiruma, Ard melihat sekitar bahwa tempat tersebut berada di Laut Tyxa. Tempat yang berada di ujung timur Kota Exgalya, dan tak terdapat kehidupan di sekitarnya.


"Sebelumnya ini adalah favoritku. Namun, karena misi ini aku tak bisa menikmatinya untuk waktu yang panjang." Ujar Ard sembari melihat sekitar pandangannya.


"Jika ini dibuka, maka milikku terganggu. Jangan paksa mereka ke tempat terpencil ini." Bantah Hiruma sembari mulai berjalan.


Tempat yang dimaksud Hiruma, berada delapan ratus meter kedepan dari badan jalan mereka berhenti. Jalur tersebut terasa sempit karena melewati lembah kecil yang diakibatkan pembentukan alam dari gempa tektonik berskala besar.


Sesudahnya, telah tampak perwujudan dari tempat rahasia Hiruma. Sebuah tempat berbentuk seperti pabrik yang tak terlalu besar. Bagian luar dengan dinding beton berwarna abu-abu dan pagar kawat sebagai pembatas.


"Benar-benar tertutup dan tak tersentuh. Jika ingin mendapatkan pemandangan ini maka udara jawabannya." Gumam Ard sembari masuk kedalam.


"Jika kau bertanya-tanya dengan apa yang dilakukan tempat ini, aku akan memberinya dengan singkat." Ujar Hiruma.


"Katakanlah." Balas Ard sembari melihat seluruh bagian pandangannya.


"Tempat ini kubuat untuk mengantisipasi sekaligus menganalisa hal yang tak wajar di Kota Exgalya secara tertutup. Mungkin kau berpikir tak ada bedanya dengan laboratorium biasa. Namun..." Lanjut Hiruma sembari berbisik pada Ard.


"Hmm?" Gumam Ard.


"Mereka sudah kuubah menjadi tertutup, sama seperti tempat ini." Bisik Hiruma akan rahasianya.


"Begitu. Dalam kata lain, ini tempatmu yang paling berharga dan tak ingin menerima data apapun dari luar. Agar tempatmu tak menjadi sasaran, beserta tak melibatkan orang luar agar mereka tak terbebani dengan teror yang ada?" Balas tanya Ard sembari menaruh tangan kiri pada pinggangnya.


"Otakmu memang berbahaya. Jika aku mengajak yang lain, mereka hanya akan mengerutkan dahi dan membocorkannya." Ujar Hiruma sembari menuju ruangan utama.


"Kepercayaanmu bahkan tak mencapai setengahnya pada sahabatmu sendiri." Sanggah Ard dengan senyum tipisnya dan kembali mengikuti Hiruma.


Ard dan Hiruma telah masuk ke ruangan utama. Hiruma perlahan memasukan serpihan tersebut pada tabung besar di tengah ruangan. Serpihan tersebut menjadi mengambang karena gravitasi di dalamnya.


Hiruma hanya ditemani Ard ketika masuk kedalam ruangan utama, sedangkan penjaganya berjaga di luar ruangan. Ard kebingungan dengan seluruh alat praktik Hiruma, dia pun memilih diam melihat Hiruma melakukan aksinya. Dikala serpihan tersebut berada di dalam tabung, Hiruma menekan tombol pengatur yang tampak rumit di depannya.


Seusai Hiruma melakukannya, dengingan kecil terdengar beberapa lama dan serpihan tersebut bersinar lebih terang dari sebelumnya. Reaksi dari serpihan tersebut tampak bersinar semakin terang dengan perlahan dan pecah seketika hingga mengejutkan Ard.


Hiruma yang memahaminya, menekan beberapa tombol hingga membuat serpihan tersebut kembali ke bentuk semula.


"Sungguh gila. Sebuah revolusi yang mematahkan nasi menjadi bubur. Aku terkesan. Sangat terkesan." Ujar Ard dengan kagumnya.


Seusainya, komputer di belakang Hiruma, aktif dengan sendirinya dan mengkalkukasi sebuah data secara otomatis.


"Kau mungkin berpikir bahwa dengan ini akan selesai. Tapi, pertempuran kita baru saja mulai, Ard." Ujar Hiruma sembari menengoknya.


"Sudah pasti. Data yang akan kita dapatkan, justru hanyalah pagarnya. Bukan pintunya." Balas Ard sembari duduk dekat tabung.


"Sedikit petunjuk akan tiba dalam waktu seminggu, karena aku sangat sibuk mulai sekarang. Aku tak bisa memberikannya dengan cepat. Kurasa memang ada yang tak beres di dalam benda mungil dan berbahaya ini." Lanjut Hiruma menengok pada serpihan.


"Seminggu? Terserahlah. Aku tak akan meremehkan benda mungil ini." Ujar Ard mengetuk kecil pada tabung.


"Jika kau penasaran dengan tempat ini, aku akan mengajakmu berkeliling secara." Ujar Hiruma sembari berdiri.


"Aku tak keberatan. Lakukan yang kau mau." Balas Ard sembari membukakan pintu.


Dikala Ard menghabiskan waktu dengan Hiruma, berpindah pada tempat yang jauh dan tertutup di perbatasan Kota Exgalya. Tempat itu didominasi dengan tumbuhan liar menjalar, memenuhi bangunan terbengkalai dan terlarang untuk dimasuki.


Lorong panjang dan gelap, beserta tetesan air di beberapa bagian, membuat tempat tersebut benar-benar tak layak huni. Pada bagian terdalam, terdengar bantingan sebuah benda akan aktifitas fisik dari seseorang.


"Sialan! Benda itu justru hilang. Bahkan hanya 1?! Jika mengulangnya lagi, maka akan membutuhkan waktu yang panjang!" Seru pria misterius dengan jubah putih layaknya ilmuwan.


"Aaaakh! Keparat! Jika begini mereka tak akan percaya dan membuangku. Aku sangat tak ingin mendapat perlakuan hina semacam itu. Akan kulakukan apapun agar dapat menyelesaikannya, dengan temaku pada mereka." Lanjut pria misterius tersebut menahan amarahnya.


Kembali pada Laut Axeru. Xion melakukan pekerjaannya bersama Kapten tanpa Ard yang mengambil cuti.


"Tanpa anak laut itu, entah kenapa terasa hambar." Gumam Xion mensortir tangkapan sementaranya.


"Ada apa, Xion?" Tanya Kapten dengan tiba-tiba dari dek atas.


"Whoa! Kapten... kau menguping atau apa?" Balas tanya Xion sembari menengoknya dan terkejut.


"Hahahaha! Kau merindukan ocehannya? Terasa kurang, bukan? Hahahaha!" Gurau Kapten kembali mengemudi.


"Kaaapteeeen!" Seru Xion dengan kesal.


Waktu terus berjalan sembari latar berganti. Dyenna yang berada di Alya, seringkali mampir pada makam orang tua Ard sembari membersihkannya. Awan di Alya lebih gelap dan tampak akan hujan.


Ketika Dyenna usai dari area makam dan secara kebetulan melihat langit, terlihat percikan biru seperti kembang api. Percikan tersebut sangatlah samar dan hanya berlangsung tiga detik, hingga membuat Dyenna heran dengan apa percikan itu dan memilih mengabaikannya.


Di tengah Kota Gal, Aziru yang sedang berjalan seusai dari kampus. Ia Berjalan sembari melihat CyPhonennya hingga bertabrakan dengan seseorang dari arah berlawanan.


"Ah, maaf. Aku tak fokus." Ujar Aziru dengan canggungnya.


"Aziru?" Tanya Jay sembari melihatnya.


"Jay? Kenapa kau disini?" Tanya Aziru dengan heran.


"Kau luang?" Tanya Jay kembali dengan ramah.


"Uhm..." Gumam Aziru dengan tertunduk.


"Masih menjaga konsistensimu, ya? Jika begitu jangan dipikirkan." Balas Jay sembari kembali berjalan.


Ketika Jay memulai langkahnya kembali, seketika Aziru menarik jas Jay dengan cubitan jarinya. Jay pun terkejut sembari berbalik dengan heran.


Aziru merasa sulit dengan apa yang ingin di katakannya, justru disanggah oleh Jay karena mengerti akan maksud Aziru sembari mengajaknya ke Dermaga Axeru.


Selama perjalanan dengan CyBus Exgalya, Aziru hanya terdiam ragu dengan apa yang dipikirnya. Sesampainya disana, mereka turun dan mengambil tempat untuk makan bersama.


"Aziru." Panggil Jay.


"Hm?" Gumam Aziru menatap Jay.


"Itu sudah sangat lama, kau tak perlu membahasnya. Dan itu bukan salahmu." Balas Aziru dengan senyum tipisnya.


"Aku hanya canggung merasa bersalah padamu, dan sulit membuatku tenang." Lanjut Jay.


"Lagipula, semua sudah berubah, Jay. Apa yang menyangkut di masa lalu, maka tak akan bisa kau perbaiki. Kau harus bergerak maju." Lanjut Aziru membujuk Jay.


"Seperti yang kuduga, obat bicaramu memang masih sama." Balas Jay dengan kagum.


Suasana canggung pun terjadi. Jay dan Aziru yang terdiam satu sama lain, terdiam beberapa saat. Jay tak ingin mengecewakan waktu Aziru dan berniat membuat pesanan untuk mereka berdua. Aziru yang ditawari oleh Jay, hanya menerimanya dengan berat hati.


"Selagi disini, lebih baik kita menikmatinya, Jay." Sanggah Aziru melanjutkan senyum tipisnya.


"Kau benar. Baiklah, aku akan mentraktirmu kali ini." Ujar Jay dengan senyum hangatnya.


"Begitukah? Terima kasih." Balas Aziru.


"Kau kuat mengisi kapasitas perutmu?" Tanya Jay dengan guraunya.


"Kau meremehkanku. Dan ngomong-ngomong, kenapa kau disini?" Balas tanya Aziru dengan heran.


"Singkatnya. Aku mulai di pindahkan di Exgalya. Itulah perintah dari atasan yang kudapat." Balas Jay dengan curahannya.


"Pasti berat untukmu." Ujar Aziru dengan simpatinya.


"Tidak terlalu. Justru ini memudahkanku dan bisa berkumpul. Termasuk menemuimu." Lanjut Jay akan alibinya.


"Sayangnya, godaanmu sangat tak menarik minat. Terima kasih." Balas Aziru sembari menerima kopi.


"Maksudmu kau menyamakanku dengan yang seringkali kau temui? Itu membuatku sakit hati, hahahaha." Keluh Jay dengan guraunya.


"Lebih tepatnya, kau adalah seekor buaya. Tidak. Serigala." Lanjut Aziru dengan guraunya.


"Menyakitkan. Bahkan aku tak pandai dengan seorang gadis. Itu adalah kelakuan Ard." Bantah Jay memberi alibinya.


"HAAACWIIHH !" Seru Ard dengan bersinnya.


"Kau demam?" Tanya Hiruma sembari menengoknya.


"Tidak. Kurasa karena besi-besi dingin di tempat ini." Balas Ard mengusap hidungnya.


Dikala Jay dan Aziru menikmati waktunya, Ard telah puas dari tempat Hiruma. Ard mendapati banyak rahasia darinya dan memilih tutup mulut dari mereka yang tak diinginkan Hiruma. Sesampainya di apartemen, Ard turun dan berpisah dengan Hiruma.


Ard langsung memasuki apartemen dan naik menuju kamarnya di lantai tiga. Vicchy yang melihat Ard dari kejauhan, berlari menuju apartemen Ard. Waktu masih menunjukkan pukul tiga siang, Ard memilih mengistirahatkan diri dikala cuti.


Vicchy yang tiba di lantai tiga dan sampai di depan kamar Ard, menekan bel agar Ard membukakan pintu dengan segera. Ard baru merebahkan tubuhnya, mengangkat diri dari kasur dan membukakan pintu.


Baru sebagian Ard membuka pintu, Vicchy menerobos masuk dan mendorong Ard beberapa meter sembari mendekapnya hingga terjatuh.


"Vic-- ?!" Ujar Ard terpotong dan terkejut.


Ard jatuh terduduk, didekap oleh Vicchy dengan erat. Tangisnya terasa kencang dan membingungkan Ard hingga ia tak bisa melakukan sesuatu. Vicchy menangis tak mau menunjukkan wajahnya pada Ard. Ard meyakinkan diri sembari menyentuh punggung dan mengelus kepala Vicchy dengan perlahan.


"Padahal baru saja dia sembuh dan tersenyum. Apa yang terjadi kali ini?" Tanya Ard dalam hati.


Selang tujuh menit, Vicchy menghentikan tangisnya dan tertidur. Matanya terlihat sembab dengan pipi yang basah, membuat Ard membersihkannya


Perlahan. Dengan segera, Ard menggendong Vicchy dan merebahkan di kasur sembari menyelimutinya.


"Apapun itu, dia pasti mendapatinya lagi. Gadis yang malang." Ujar Ard dalam hati.


Ard yang sedang menjaga Vicchy, kembali mendapati bel berbunyi dari luar. Dengan segera, ia menuju pintu dan membukakannya. Secara tak terduga, Hiruma justru mampir pada Ard akan sesuatu.


"Aku lupa memberimu ini." Ujar Hiruma sembari memberikan kunci berupa ID Card.


"Hee~ Seketika aku merasa seperti tamu VIP. Ada lagi?" Balas Ard dengan guraunya sembari menerima kunci.


"Aku penasaran dengan suara nafas itu." Lanjut Hiruma sembari melirik sedikit.


"Telingamu berbahaya. Masuklah. Kau akan tahu dengan yang kumaksud." Balas Ard mempersilahkan Hiruma.


Hiruma mulai memasuki kamar apartemen Ard untuk pertama kali. Pandangannya tidaklah tertuju pada seisi ruangan. Melainkan ia melihat Vicchy yang tertidur di kasur Ard.


"Dia? Yang saat itu kau bawa dan mendapati tamu tak diundangnya ?" Tanya Hiruma sembari memastikan.


"Tepat. Kali ini, entah apa yang terjadi padanya. Ketika aku baru membuka pintu, dia menyerudukku seperti banteng yang ingin bebas dari arena." Balas Ard sembari menyilangkan lengannya.


"Dia seringkali terlihat kasar, namun sangat rapuh. Terlihat mirip seperti anak itu." Lanjut Hiruma menilai Vicchy.


"Dia pengguna topeng. Sedangkan yang satu ini, dia orang jujur." Bantah Ard sembari bersandar pada dinding.


"Ard. Pinjamkan D-Cashmu." Pinta Hiruma.


Ard yang dipinta oleh Hiruma, langsung memberikan D-Cashnya. Hiruma ikut mengeluarkan D-Cash miliknya, dan mentransfer beberapa pada Ard lalu mengembalikannya. Ard yang menerima dan melihatnya terkejut membantah Hiruma.


"Oi. Ini terlalu banyak, sialan!" Seru Ard dengan menurunkan volumenya.


"Itu bukan untukmu. Lakukanlah untuknya. Dia tak terlihat memiliki yang lain dibanding dirimu." Balas Hiruma membantah Ard.


"Kau memberi berlebihan akan obatnya." Keluh Ard dengan guraunya.


"Yang terpenting adalah hatinya. Sisanya kuserahkan padamu." Ujar Hiruma sembari pamit.


"Sebanyak ini? Terserahlah. Jika ampuh untuknya, itu membuatku lega." Gumam Ard sembari duduk melihat Vicchy.


Ard kembali khawatir pada Vicchy dengan apa yang terjadi memilih menunggunya bangun. Hal yang terjadi akan keanehan pada Exgalya, mulai menunjukkan ujung taringnya. Dengan Hiruma yang dibantu oleh Ard akan proyeknya, memilih berhati-hati agar tak melibatkan mereka.