
Fajar hangat tiba. Ard dan Gant terbangun lebih dulu menyiapkan sarapan. Ketika sinar mentari menembus jendela kamar, satu persatu dari mereka terbangun perlahan. Mereka yang keluar dari kamar, menargetkan aroma yang dihidangkan oleh Ard dan Gant.
"Pagi. Kali ini kita menjadi Herbivora, kah? Selamat makan." Sapa Xion sembari langsung menyantap sarapannya.
"Vegetarian, sialan. Herbivora sebutan untuk hewan." Bantah Willy sembari duduk.
"Aku hanya bergurau." Balas Xion dengan sinis.
"Hidungmu terlalu tajam untuk pagi buta ini." Balas Ard sembari menaruh makanan di meja.
"Aku bersyukur karena membantu dietku." Ujar Miccha sembari menikmati sup sayur hangat.
"Jika begitu, izinkan aku yang membinasakan dagingnya. Selamat makan!" Ujar Risu menyantap daging sapi.
"Kurasa aku harus belajar lagi denganmu seusai ini, Ard." Ujar Vicchy.
"Belajar? Apa yang kau maksud, Vicchy?" Tanya Miccha sembari menengoknya.
"Ehh? Tidak. Aku hanya bercanda. Ahahaha." Balas Vicchy dengan malu.
"Miccha! Ajari dia memasak!" Sanggah Ard mempermalukan Vicchy.
"Ard!" Seru Vicchy dengan kesal.
"Heh? Kau ingin belajar memasak, Vicchy?" Tanya Miccha dengan penasaran.
"B-Begitulah. Hoi, Ard! Kau puas?!" Seru Vicchy sembari menengok Ard.
"Hahahaha! Maaf-maaf. Jangan khawatir. Kau akan menjadi ahli ketika belajar dengan Miccha." Lanjut Ard menyarankan Vicchy.
"Hoi, Ard. Sekarang kau membuatku malu disini." Sanggah Miccha menatap kesal.
Seusai sarapan, pagi yang hangat mereka manfaatkan untuk bergegas menuju Prime Wood Alya. Ard, Jay, dan Willy mengeluarkan CyHover untuk memboncengi Vicchy, Karu dan Fhay. Sedangkan Xion dan Gant mengeluarkan CyMotobike untuk memboncengi Risu dan Miccha. Sedangkan Dyenna mengeluarkan CyHover untuk dirinya.
"Baiklah! Ayo!" Seru Ard mulai pergi dengan mereka.
Perjalanan mereka pun tidak memakan waktu panjang. Selang tiga belas menit, mereka tiba di kawasan Prime Wood Alya. Ard mencoba mencium bau dengan bantuan angin dan mendapati aroma mengusik hidungnya.
"Sialan. Bau busuk ini benar-benar tak diurus." Ujar Ard dengan kesal.
"Aku bisa mencium aromanya dari kejauhan. Cukup menyengat jika angin berhembus kesini. Jadi, bagaimana untuk hal pertama?" Tanya Miccha sembari melihat Ard.
"Hal utama adalah membereskan kebusukan ini terlebih dulu di setiap Titik Perkemahan. Selanjutnya kita pasang titik kita dengan diskusi mendadak disini." Balas Ard sembari menyilangkan kedua lengannya.
"Jika bertanya mengenai rekomendasi, aku mendapati di Titik Kemah Prime Wood 5. Lurus dari sini hingga ke tengah hutan sejauh 1 Kilometer." Lanjut Miccha sembari melihat statistik Hutan Prime Wood Alya.
"Bukankah jika begitu kita memasang kemah terlebih dulu lalu menyebar, Ard ?" Sanggah Vicchy dengan heran.
"Ah, begitulah maksudku. Maaf." Balas Ard dengan canggung.
"Tapi, apakah masih bisa menggunakan CyGPS ketika masuk ke dalam hutan?" Tanya Fhay.
"Aku akan berasumsi tidak. Hutan Prime Wood adalah musuh sebuah sinyal." Balas Willy.
"Memang benar. Sejarah sedari dulu bahwa hutan bukan kawan yang bagus untuk teknologi." Lanjut Gant sembari menyilangkan lengan.
"Jadi, kita berburu sampahnya dengan mengandalkan hidung kita?" Lanjut tanya Fhay.
"Benar." Balas Gant.
"Apa hanya perasaanku saja, jika melihat langit tiba-tiba menjadi gelap?" Tanya Karu akan keheranannya.
"Kurasa tidak. Sedari tadi seharusnya masih terang untuk pagi ini." Balas Dyenna yang ikut heran akan suasana di hutan.
"Hutan terbaik ini seketika menjadi ajang horor yang tak diminta. Kurasa lebih baik kita bergegas menuju titik kemah." Ujar Ard akan sarannya.
"Jika begitu, kita berdua harus berjalan kaki. Karena CyMotobike tidak bagus untuk ini." Balas Xion sembari memasukkan CyMotobike dengan Cyber Shape
"Berjalan kaki? Sayangnya kau tak akan menyiksa diri dengan itu. Periksa CyBagmu. Kalian juga." Bantah Ard menatap Risu, Miccha, Fhay dan Karu.
"Kejutan apa yang kami terima disini? CyHover?! Jangan bilang..." Ujar Xion sembari mengeluarkan CyHover dari CyBagnya.
"Mata empat sialan. Dia pasti berpikir untuk tak menyiksa kalian lebih jauh." Balas Ard.
"Begitu. Aku tak akan heran jika ini hadiah darinya." Lanjut Xion.
"Bagaimana dengan Vicchy? Dia bersamamu?" Tanya Miccha sembari menaiki CyHover.
"Ya. Gadis nakal ini lebih baik kuawasi." Balas Ard sembari menunjuk Vicchy dengan ibu jarinya.
"Oi." Sanggah Vicchy dengan kesal.
"Jika semuanya sudah siap, kita langsung saja menuju titik lalu berburu kebusukan ini. Ayo!" Seru Ard sembari mengajak mereka bergegas.
Mereka pun langsung melesat ke dalam hutan. Suasana ketika mereka masuk, terasa menggelap perlahan seakan fajar berganti malam. Dengan bau busuk menyengat, mereka mencoba bertahan sebisa mungkin.
Sesampainya di titik yang ditujukan, mereka mengeluarkan barang-barang kemah dari CyBagnya. Seusai mereka memasang tenda dan segala peralatan keamanan, mereka melanjutkan berburu sampah yang tersebar di berbagai titik.
Dengan mengandalkan CyPen sebagai jejak agar tidak tersesat, masing-masing dari mereka mulai mengangkuti dengan CyWeb sekaligus melenyapkannya. Satu jam berlalu, mereka kembali berkumpul ke titik kemah.
"Kerja bagus semuanya. Ada hal aneh yang kalian temui?" Tanya Ard.
"Tidak. Kurasa karena kita terlalu fokus mencari dan mengangkuti sampahnya. Jadi kita tidak bisa melihat hal lain." Balas Miccha.
"Aku bisa memahaminya. Hanya saja aku berharap ada sesuatu sebagai tamu tak diundang." Ujar Ard sembari memegangi belakang leher dengan tangan kanannya.
"Karena kita sudah selesai, kita bisa mengurusi hal utama yang menjadi teror disini. Bagaimana jika kita langsung saja, Ard?" Tanya Karu.
"Itulah yang ingin kulakukan. Jika ada yang merasa lelah, istirahatlah lebih dulu sekaligus menjaga titik ini. Sisanya berkeliling." Balas Ard sembari melihat tenda.
"Baiklah, Aku akan beristirahat. Bagaimana denganmu, Fhay, Dyenna?" Tanya Miccha melihat Fhay dan Dyenna.
"Tentu." Balas Dyenna dengan canggungnya.
"Tentu. Terima kasih." Balas Fhay.
"Tiga gadis, berbahaya di tempat mengerikan ini. Willy, kau ambil bagian." Sanggah Ard dengan senyum tipisnya.
"Baiklah. Terima kasih juga." Balas Willy sembari duduk di depan tenda.
"Jika begitu kita langsung saja. Xion dengan Risu, Jay dengan Karu. Sisanya menjadi pria jantan. Ayo!" Seru Ard bersama Vicchy dengan segera.
"Ard sialan." Gumam Gant dengan senyum tipisnya.
"Gant." Panggil Miccha.
"Hmm?" Gumam Gant sembari menengoknya.
"Hati-hati." Ujar Miccha dengan cemas.
"Aku mengerti. Kau juga. Aku berangkat." Balas Gant sembari bergegas.
Ard dan kawan-kawan melanjutkan pencarian mereka akan sesuatu yang janggal sembari fokus melihat sekitar. Vicchy yang diboncengi Ard, merasa khawatir sembari menggenggam kaki Ard dan memegang CyPen sebagai penanda untuk kembali.
Suasana yang mencekam, terasa dengan jelas oleh mereka. Waktu menunjukkan pukul sebelas siang justru terasa ditipu oleh kegelapan yang mereka dapatkan.
"Apa ini? Papan peringatan? 'Jangan beritahu yang kau lihat disini, atau kau akan mati dengan segera'?" Gumam Gant dengan heran.
Gant yang memahami peringatan tersebut, melihat sekelilingnya. Ketika Gant berjalan beberapa meter ke depan, Gant mengarahkan pandangannya ke atas dan melihat sesuatu hingga terkejut membeku.
"A-Apa ini?! M-Mayat?!" Gumam Gant seakan tak percaya.
Gant melihat sosok mayat perempuan yang tergantung di atas pohon dengan terjerat akar gantung pada lehernya. Gant yang mendapati situasi tak bagus, sulit berbuat sesuatu karena termakan peringatan yang mengancamnya.
Gant pun mengambil kesimpulan sementara akan hal yang menjadi teror di Exgalya. Belum selesai Gant mendapati pandangan tak menyenangkan, Gant melanjutkan perjalanan sembari melihat ke beberapa penjuru di atas pohon
untuk memastikan sesuatu.
Dengan memfokuskan pandangannya ke atas, Gant semakin tak percaya bahwa tak hanya satu mayat yang gantung diri, melainkan ada beberapa dari mereka yang jaraknya berjauhan dari mayat yang ia temui.
"Sialan. Apa ini?! Kenapa Prime Wood Alya menjadi tempat bunuh diri?!" Gumam Gant dengan panik dan berhenti sesaat.
Gant merasa ragu bahwa hal itu bukanlah bunuh diri karena terdapat pesan berupa ancaman. Gant kembali berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan.
Dia yang mengambil kesimpulan tersebut, waspada terhadap sekeliling akan pembunuh yang dimaksud. Ia tak henti-hentinya berpikir dan melihat dengan seksama.
Gant meragukan bahwa mayat tersebut tak memiliki luka fisik, bahkan tergantung dengan lengkap. Ia pun kembali bimbang dengan keputusannya. Bahkan hal lain yang Gant pikirkan, pohon itu mustahil dipabjat manusia normal karna diameter batangnya luar biasa besar.
"Teror ini benar-benar tidak wajar. Sialan! Bagaimana aku memberitahu mereka perihal ini? Haruskah aku melanggarnya? Bisa saja aku berpikir itu sebagai bentakkan. Tapi, jika benar terjadi maka aku melakukan hal ceroboh dan tak bisa memberitahu sepenuhnya." Ujar Gant memilih kembali ke titik kemah.
"Berarti, untuk membuat mereka tahu, secara alami dengan membiarkan mereka berkeliling dan melihatnya bersamaan. Sialan. Kenapa aku sangat terpojok dengan hal ini?!" Tanya Gant dalam hati dengan kesal.
Gant pun sampai lebih dulu di titik kemah setelah perjalanan panjang menyusuri bagiannya.
"Ah, Gant! Syukurlah kau baik. Kau menemukan sesuatu?" Seru Miccha sembari bertanya.
"Tidak. Hutan ini terlalu luas. Dan kita tidak tahu dengan teror apa yang ada di dalamnya." Balas Gant mengambil minuman hangat.
"Begitu. Kurasa kita hanya harus mengandalkan mereka." Ujar Miccha menyemangati Gant.
Berpindah pada Ard dan Vichhy, mereka terus berkeliling sembari melihat sekitar untuk mencari teror yang menghuni hutan. Ketika mereka melihat jalan bercabang, mereka terhenti sesaat dan Vicchy turun dari CyHover.
"Vicchy? Apa yang kau lakukan? Tetap di CyHover!" Pinta Ard.
"Kau bodoh atau apa? Tentu saja kita akan menyusurinya secara terpisah. Lagipula aku membawa teman terbaik ini." Balas Vicchy dengan bantahannya sembari menunjukkan CyPen.
"Kaulah yang bodoh disini. Sudah kubilang aku harus mengawasimu. Lagipula, kita bisa menyusurinya bersama." Bantah Ard akan keras kepala Vicchy.
"Sudah cukup." Lanjut Vicchy dengan sedikit bentakannya.
"Huh?" Gumam Ard dengan heran.
"Ard. Satu hal yang kubenci kali ini. Kau benar-benar meremehkanku. Kau berpikir aku tak bisa melakukannya seorang diri? Aku bisa menjaga diriku untuk beberapa kali, bahkan berkali-kali jika aku mau. Tapi, nadamu membuatku jatuh, dasar bodoh!" Ujar Vicchy dengan bentakannya diakhir kalimat.
"Oi, Vicchy. Apa yang kau ocehkan? Jelas aku khawatir--" Tanya Ard terpotong.
"Itu hanya bualanmu! Kau akan mengatakan itu terus-menerus. Biarkan aku melakukan yang kubisa saat ini. Aku akan kembali tanpa masalah." Bantah Vicchy dengan emosinya sembari mengambil jalur sebelah kiri.
"Vicchy!" Seru Ard sembari menangkap tangan kanan Vicchy dan terhenti.
"1 hal yang ingin peringatkan padamu." Ujar Vicchy tak berbalik.
"Huh?" Gumam Ard dengan heran.
"Lepaskan tanganku, atau aku tak ingin melihatmu lagi." Lanjut Vicchy berbalik dengan tatapan tajamnya.
"Tentu tak mung--" Bantah Ard terpotong.
"Aku sangat serius... benar-benar serius. Ini peringatan terakhir. Jika kau tak melepasnya... jangan bicara, menatap bahkan melihatku lagi." Ujar Vicchy sembari mengangkat lengannya yang du genggam Ard.
Ard yang dikalahkan oleh Vicchy, melepas genggamannya perlahan. Vicchy yang merasa emosi mulai menjauh dan berpisah dengan Ard. Ard yang dilanda kebingungan dan rasa takut, memilih mempercayainya dan segera mengambil jalur kanan.
Selang dua belas menit, Ard menyusuri jalur sembari merasa khawatir tiada henti dan ragu akan keputusannya. Vicchy yang nekat berkeliling seorang diri bermodalkan CyPen sebagai penanda untuk kembali, melihat-lihat sekitar sembari terus berjalan.
Dikala ia sedang berjalan, CyPennya mendapati kehabisan warna.
"Ah, menyebalkan. Dan lagi aku tak membawa cadangan lebih. Yah, lagipula hanya tinggal lurus dan kembali seperti yang diingat." Ujar Vicchy melanjutkan perjalanannya.
Dikala terpisah cukup jauh dengan Ard, Vicchy terhenti sesaat sembari melihat pohon-pohon besar yang ukurannya tak biasa, bahkan tak bisa dipanjat orang normal.
Vicchy yang sedang berhenti, mendapati dengingan pada kepalanya dan merasakan sakit yang cukup hingga membuatnya terduduk lemas.
"Akh! Apa ini?! Sakit! Sakit!" Ujar Vicchy sembari menahan kepala dengan kedua tangannya.
Vicchy yang terduduk sembari tertunduk menahan sakit, mendapati panggilan samar-samar dan perlahan menjadi jelas. Dengan perlahan pula, Vicchy mendongakkan kepala dan melihat kedepan.
Vicchy yang mendapati dengingan tersebut, seketika mengabaikan sesaat karena sangat terkejut akan sesuatu di depan. Vicchy yang melihatnya, mendapati kekosongan pada pandangannya. Sosok tersebut terlihat sebagai Kakak Vicchy yang terkena tragedi Summer Sparking.
Sosok tersebut mengarah ke salah satu pohon dan mengajak Vicchy untuk mengikutinya. Vicchy yang terhipnotis, mengikuti arahannya untuk mendekat.
"Kakak. Kakak. Kakak. Kakak. Kakak..." Gumam Vicchy menyebutkannya berkali-kali.
Ard yang berniat acuh, memilih kembali mencari Vicchy dengan rasa khawatir yang begitu besar. Ard pun melakukan Boost dan berharap akan Vicchy yang tak mendapati hal aneh.
"Sialan! Kumohon jangan terjadi sesuatu! Perasaan ini sangat kuat mengusikku akan kabar buruk darimu, bodoh!" Seru Ard dalam hati dengan khawatir dan bercampur kesal.
Ketika Ard mengikuti jejak CyPen milik Vicchy, lajunya mendapati rem karena heran akan jejaknya yang berhenti ditengah jalan. Ard yang tak pikir panjang, langsung melesat dan lurus mengandalkan instingnya.
Selang tiga puluh detik, Ard terkejut hebat melihat Vicchy di depan matanya yang memanjat sangat tinggi menaiki pohon besar. Ard pun melakukan Boost dan berniat melompat menangkap Vicchy.
Hal buruk pun berlanjut karena CyHover Ard kehabisan bahan bakar hingga tak bisa melakukan Teknik Bouncing hingga justru menghantamkan tubuhnya ke batang pohon. Ard pun menahan sakit dan terbangun melihat Vicchy.
"VICCHY! SADARLAH! KUMOHON! VIIICCHHYYYYYYY !!!" Seru Ard akan kekhawatirannya yang mendalam dan berusaha memanjat pohon.
Usaha yang Ard lakukan pun tak membuahkan hasil karena pohon tersebut terlalu besar. Ard pun meneriaki Vicchy terus menerus dengan tenaga suaranya hingga maksimal. Secara kebetulan, Xion dan Risu mendengar teriakan Ard dengan samar-samar.
"Xion, Kau dengar itu?" Tanya Risu dengan terkejut.
"Ya. Sialan! Jika dia berteriak sekeras itu maka ini bukan hal baik!" Ujar Xion dengan kesal sembari melesat menuju sumber suara.
"KUMOHON! SADARLAH! VIIIICHHHYYYYY !!!!" Seru Ard akan frustasinya.
Xion yang menemukan sumber suara, melihat Ard mencoba memanjat pohon besar. Xion yang mencoba memahami situasi, melihat ke atas pohon dan ikut terkejut hebat dengan Risu.
"ARD!" Seru Xion.
"Huh? Xion?!" Gumam Ard.
"SIALAN! GUNAKAN INI! SEKARANG!" Seru Xion melemparkan Cyber Shape pada Ard.
Ard yang membukanya, menerima CyMotoBike dan menggunakannya sebagai kesempatan terakhir. Vicchy yang sudah berada di ujung dahan dan berniat terjun menggantung lehernya.
Dengan melakukan gas hingga maksimal dan menerima resiko antara hidup dan mati dengan menaiki batang pohon dan melompat ke dahan. Vicchy mulai menerjunkan tubuhnya, berhasil ditangkap oleh Ard dengan segera karena melompat kearahnya.
Dengan waktu yang sama, Ard terjun sembari memeluk Vicchy untuk melindunginya. Xion pun bersiap untuk menangkap Ard dan Vicchy sebagai kesempatan terakhir. Dengan degupan hebat, mereka semua bersiap percaya satu sama lain.
Ketika jarak Ard terjatuh mendekati tanah, Xion pun melesat melakukan lompatan jauh dan menangkap Ard sembari melindungi tubuh Vicchy karena terguling keras dengan sangat tiba-tiba. Mereka yang berhasil mendarat, mencoba meredakan detakan jantung yang berdegup dengan kencang.
Dengan nafas yang terengah-engah, Ard dan Xion mencoba mengabaikan rasa sakitnya. Risu yang melihat tragedi itu tersungkur lemas dan merasa lega mereka dapat selamat sembari menyimpan pertanyaan akan tragedi apa yang sebenarnya terjadi dengan tiba-tiba.