From Grey To Red

From Grey To Red
BAB 33 : Pembersihan



Hiruma yang sedang mengurusi mayat tergantung di atas pohon, mendapati laporan akan orang yang ingin menemuinya di luar hutan.


Situasi sibuk dan ramai, membuatnya menghela nafas akan bebannya karena bertambah. Hiruma mengkonfirmasikan kesibukannya agar seseorang yang menunggunya bisa sabar lebih lama. Ia pun meminta agar memberinya pelayanan terlebih dulu untuk mengulur waktu. Staf yang menerima jawaban Hiruma, mengkonfirmasikannya dan segera menuju keluar hutan menemui Rikka.


"Apakah itu gadis iseng sebelumnya? Kukira Ard yang menolong kemari. Dia orang tangguh." Ujar Hiruma dalam hati sembari membungkus para mayat dan mengidentifikasinya.


"Tuan Hiruma." Ujar petugas pria menghampirinya.


"Ada apa, Noa?" Tanya Hiruma sembari berdiri.


"Maaf. Wilayah disini sudah dibersihkan. Apakah kita langsung melanjutkan lebih dalam?" Lanjut tanya Noa sembari memberikan papan laporan.


"Tidak. Hutan ini bukan hutan biasa seperti dulu untuk sementara waktu. Istirahatlah secara bergantian sembari memeriksa ulang apa yang kurang dan diperlukan." Balas Hiruma sembari menerima laporan dan melihatnya dengan seksama.


"Baik." Seru Noa sembari bergegas kembali bertugas.


Di lain tempat, Pinggiran Sungai Gal. Vicchy duduk merenung sembari memeluk kedua kakinya seorang diri.


"Kenapa, aku melakukan ini? Padahal bukan hal yang besar..." Ujar Vicchy dalam hati.


"Yang terlontar dari mulutnya terasa menusukku. Menyakitkan... namun juga bukan salahnya..." Lanjut Vicchy sembari menarik kedua lengan baju.


"Meskipun sudah sejauh ini, kurasa suaraku tak sampai juga. Aku pun heran, kenapa bisa jatuh padanya. Dia hanya orang bodoh yang tak pandai akan hal ini." Ujar Vicchy sembari menangis kecil.


Disaat Vicchy berada di tengah rasa sakit, seseorang yang menuntun sepeda berhenti dengan derit rem yang memecah tangis Vicchy. Gadis tersebut menjadu penasaran akan Vicchy.


"Permisi..." Ujar gadis tersebut dengan perlahan.


Vicchy yang mendengar panggilannya, menghentikan tangis sementara waktu dan sedikit menoleh. Ia pun dengan segera mengusap air mata karena merasa malu ditanya oleh orang asing.


"Uhm. Aku baik. Terima ka--" Balas Vicchy sembari terkejut dengan kalimat yang terpotong.


"Kau..." Gumam Dyenna yang ikut terkejut melihat Vicchy.


Dyenna yang bertemu Vicchy secara kebetulan, menguatkan niat untuk mendengarkan Vicchy sembari duduk menemani. Mereka mengingat sekilas akan pertemuan terakhir, ketika Ard mendapati panggilan dari Dyenna saat Festival Budaya El'Vee.


"Maaf, jika aku lancang akan hal ini. Kau boleh memarahiku jika salah." Ujar Dyenna seolah meminta izin pada Vicchy untuk berbicara.


"Uhm. Tak perlu secanggung itu, Hehe~. Aku Vicchy." Ujar Vicchy mencairkan suasana.


"Ah, aku Dyenna. Senang bertemu denganmu. Dan..." Balas Dyenna sembari sedikit menunduk.


"Dan...?" Tanya Vicchy sembari menatapnya dengan penasaran.


"Pasti perihal Ard, kan...?" Lanjut tanya Dyenna sembari menatap Vicchy.


"Eh? Bagaimana kau bisa tahu?" Balas tanya Vicchy sembari terkejut.


"Jika kau sering bersamanya, aku tak akan heran. Aku sudah mengenal Ard sejak lama dengan bagaimana sifat dan perilakunya." Lanjut Dyenna sembari menatap jauh.


"Ah, kau teman masa kecilnya, ya? Kurasa sedari dulu, dia memang orang bodoh, hehe~" Balas Vicchy sembari tertawa kecil dan mengusap air mata dengan telunjuk kanannya.


"Begitulah. Tapi, yang kutahu... dia tentu tak bermain kasar padamu hingga menangis seperti ini. Dan itu pasti hal yang lebih membingungkan lagi." Ujar Dyenna sembari tersenyum tipis.


"Astaga. Aku merasa seperti ditemani malaikat secara tiba-tiba. Hahahaha. Kau benar-benar mengenalnya dengan baik." Balas Vicchy sembari merubah gaya duduknya dengan meluruskan kedua kakinya.


"Hahaha. Itu berlebihan. Jadi, apa yang dilakukannya padamu?" Tanya Dyenna dengan ramah.


"Tidak ada. Hanya saja, ini salahku tidak jujur padanya. Aku pun bingung dengan siapa yang salah disini." Balas Vicchy sembari menatap jauh.


"Mungkinkah... kau menyukainya...?" Tanya Dyenna mencoba menebaknya.


"...Uuuhmmmm~" Gumam Vicchy menahan malu sembari kembali memeluk kedua kaki dan membenamkan wajahnya.


"Eh? Benar, ya? Ahahaha~ maaf, maaf. Tak kusangka Ard meluluhkanmu. Kurasa aku mengerti dengan perasaanmu juga." Lanjut Dyenna dengan canggung.


"Itu karena dia membuatku kesal. Dia tak pernah menunjukkan ego padaku sebagai manusia normal. Apapun yang ingin kulakukan, dia menghargai keputusanku lagi dan lagi." Ujar Vicchy dengan ekspresi datarnya.


"Dalam kata lain, dia ingin memastikan kebahagiaanmu, ya? Awalnya aku pun mengira bahwa dia memang aneh. Kurasa itu hanya sifat bawaannya saja yang menjengkelkan." Ujar Dyenna.


"Ah, aku pun mengira itu. Kurasa yang perlu kulakukan hanyalah menyatakannya secara langsung. Karena dia orang bodoh yang tidak mengerti panjang lebar." Lanjut Vicchy sembari berdiri dan tersenyum tipis.


"Begitu. Kuyakin dia akan mengerti semua yang kau lampiaskan. Berusahalah." Ujar Dyenna sembari ikut berdiri dan menyentuh sepedanya.


"Uhm! Kurasa aku harus meminta restu kedua orang tuanya juga agar dilancarkan." Ujar Vicchy sembari mengangkat kedua lengannya keatas melakukan peregangan.


Dyenna yang mendengar kalimat Vicchy saat itu, tertunduk sesaat dan meminta Vicchy untuk ikut dengannya sementara waktu. Perkataan Vicchy barusan, mengaitkan ingatan Dyenna akan suatu hal, yang harus ia beritahu pada Vicchy.


Sepanjang perjalanan, Dyenna mempersiapkan diri sembari dilihat oleh Vicchy yang penasaran dengan tingkah laku Dyenna yang sunyi. Sesampainya disana, Vicchy merasa nostalgia akan kampung halamannya sekaligus menyembunyikan trauma masa lalunya.


Kemudian, Dyenna mengeluarkan sepedanya kembali dari CyBag dan berniat memboncengi Vicchy. Vicchy pun lanjut menuruti Dyenna dengan semakin penasaran, akan apa yang ingin ditunjukkan Dyenna.


Ketika mereka sampai di depan Area Makam Alya, mereka berhenti. Dyenna berlanjut menaruh sepedanya di pinggir pintu masuk dan mengajak Vicchy untuk masuk. Ketika mereka melangkah beberapa meter ke depan, Dyenna menghentikan langkah dan berbalik menghadap Vicchy. Vicchy yang bingung sedari tadi, melihat hal yang ditunjukkan Dyenna ke sebelah kanan.


Terlihat dua makam yang belum sempat Vicchy tanyakan, ia diberitahu perihal makam tersebut. Ketika mendengarnya, Vicchy terkejut hebat dan terdiam kaku menatap kedua makam yang berdampingan. Keceriaan Vicchy sebelumnya, langsung hancur kembali. Perasaannya pada hari itu terasa jatuh bangun akan momen yang terjadi. Vicchy pun terkulai lemas bahwa dia mendapati kenyataan yang tak pernah diceritakan oleh Ard.


Dyenna mulai menguatkan diri akan hal yang telah diperbuatnya. Tubuh Dyenna bergetar ketakutan karena rasa bersalah yang terpaksa. Vicchy kembali menangis sembari menutupi wajah dengan kedua tangannya. Dengan kening yang menyentuh batu makam, Dyenna tetap berdiri bergetar dan ketakutan hingga tak mampu melihat Vicchy di depannya. Usai beberapa lama, Vicchy menghentikan tangis sembari kembali menguatkan diri untuk bangkit.


Usai dengan kesedihannya, Vicchy mengucapkan terima kasih pada Dyenna yang justru mengejutkannya. Ia pun berdiri sembari mengusap air mata dan tersenyum tipis.


"Maaf... Vicchy. Sebenarnya aku takut akan hal ini untuk kuberitahukan padamu." Ujar Dyenna sembari sedikit membungkuk.


Vicchy yang melihatnya, melesat dan memeluk Dyenna untuk menenangkannya.


"Tidak. Kau melakukan hal baik. Aku mengerti dengan maksudmu. Namun yang kau lakukan justru melatihku agar semakin kuat menghadapi orang bodoh itu." Ujar Vicchy sembari tersenyum tipis.


Dyenna yang mendengarnya, merasakan dua hal berbeda bersamaan. Seusai menguatkan diri, mereka menuturkan do'a selagi berada di makam. Vicchy yang merasa lebih baik, berniat kembali ke Gal sembari diantar oleh Dyenna ke Halte CyBus terdekat.


Seusainya, mereka berpisah karena Dyenna memiliki pekerjaan di Alya. Vicchy yang dalam perjalanan, duduk melamun sembari melihat keluar jendela. Ia tak menyangka bahwa banyak hal yang menghabiskan energinya hingga merasa lelah luar dan dalam.


Vicchy yang merasa tak begitu baik, memilih kembali ke apartemen dan masuk ke Kamar Ard untuk mengistirahatkan diri. Di lain tempat, Ketika Ard berniat mencari Vicchy, ia tertunda karena rekan kerja membutuhkannya. Ard yang berada di Gal Aquarium World, mencoba fokus akan dua hal yang ia pikirkan.


Kembali pada Hiruma karena sibuk turun tangan mengurusi Hutan PrimeWood Alya. Hiruma yang mendapati waktu luang, berjalan keluar dari hutan dan melihat sosok gadis yang tak asing duduk dengan sabar di dekat pintu masuk. Ketika Rikka sedang meminum jus kaleng, ia menoleh secara kebetulan hingga bertatapan dengan Hiruma. Mereka yang melihat satu sama lain, terkejut sesaat.


"Kau..." Gumam Hiruma dengan heran.


"Lama! Padahal kau adalah pimpinan. Apa saja yang sedang kau lakukan? Mengulur waktu?!" Seru Rikka dengan kesal sembari berdiri bertolak pinggang dengan kedua tangannya.


"Kenapa kau disini?" Tanya Hiruma semakin heran.


". . ." Hening Rikka sembari menarik nafas seolah bersiap melontarkan kalimatnya.


"Hmm?" Gumam Hiruma yang semakin heran.


"Hiruma! Aku menyukaimu! Bertunanganlah denganku sekarang!" Seru Rikka dengan tegas sembari menunjuk Hiruma dengan telunjuk tangan kanannya.


". . ." Hening Hiruma yang sedari tadi merasa heran dengan perilaku Rikka karena terdengar tak masuk akal.


"Apa? Kau meragukanku? Aku berniat bertunangan denganmu dan kita menikah dikemudian hari, mengerti?!" Lanjut Rikka mendekati Hiruma hingga tepat di berada di depan wajahnya.


Hiruma yang melihatnya dengan ekspresi datar, memejamkan mata sesaat. Kemudian, ia mendorong Rikka hingga menabrak papan denah sembari menghantamkan lengan ke papan denah, dekat dengan posisi di atas kepala Rikka.


"Maaf. Tapi aku adalah orang paling keras kepala di muka bumi. Dan urusanku jauh lebih penting dari permintaanmu." Ujar Hiruma dengan tegas.


"Tidak hanya keras kepala. Namun juga bodoh. Kau meragukan ketulusanku hanya karena aku mengutarakannya mendadak?" Tanya Rikka sembari menyilangkan kedua lengannya.


"Ini bukanlah ketulusan atau perasaan. Namun urusanku disini adalah masa depan kota-ku dan semua orang. Aku bahkan tidak ingat terakhir kali aku membahas cinta seperti yang kau bicarakan." Ujar Hiruma membujuk Rikka.


"Jadi kau menolakku? Jika begitu masa depan kota-mu juga terancam." Bantah Rikka.


"Kau mengancamku? Inikah ketulusan yang kau maksud?" Lanjut tanya Hiruma.


"Tidak. Aku hanya memintamu untuk sedikit berpikir. Apa yang kau acuhkan, justru tidak akan menolongmu di masa depan. Baik aku maupun mereka sebagai milikmu." Balas Rikka dengan ekspresi tajamnya.


"Dan jika aku menolak?" Tanya Hiruma.


"Tidak masalah. Dengan syarat alasanmu bisa kuterima. Namun, kau tak bisa membodohiku dengan membual akan alibi yang sudah kau susun sedemikian rupa." Balas Rikka mempertegas Hiruma.


"Untuk membual pun aku tak memiliki waktu sebanyak itu. Pada dasarnya kau menargetku hingga terpojok untuk menerimamu." Ujar Hiruma menurunkan lengannya dari papan denah.


"Begitulah Hiruma. Seperti yang kuduga kau memang jenius. Itulah kenapa aku menyukaimu-- tidak. Mencintaimu sepenuhnya." Ujar Rikka sembari tersenyum lebar secara tiba-tiba dan memeluk Hiruma.


"Lanjutkan hal ini lain waktu. Kembalilah ke tempatmu terlebih dulu." Pinta Hiruma sembari menghela nafas.


"Okiedokie! Jika begitu pinjamkan jarimu." Pinta Rikka.


Hiruma yang mendengarnya, tak pikir panjang mengulurkan tangan kirinya. Rikka pun langsung mengeluarkan cincin pertunangan sembari memasangnya di jari manis Hiruma.


Seusainya, Rikka langsung berpamitan dengan Hiruma untuk kembali ke Argolya terlebih dulu akan tugasnya. Hiruma yang melihat Rikka dari kejauhan, belum sempat menawarkan diri untuk mengantar Rikka.


Ia berlanjut melihat cincin permata berwarna perak berkilau melingkar di jari manisnya. Hiruma yang mendapatinya, tak menyangka bahwa hal itu terjadi dengan sangat tiba-tiba, bahkan tak bisa ia tolak akan beberapa alasan masuk akal dalam pertimbangannya.