From Grey To Red

From Grey To Red
BAB 9 : Malam yang bersinar



Karu yang ditemui Hikky, masih terdiam malu dan kehilangan percaya dirinya. Hikky pun membujuk Karu dengan lembut, hingga Karu mau mengangkat kepalanya dan menatap Hikky.


Hikky langsung berdiri dan mengulurkan tangannya membantu Karu. Karu yang sebelumnya merasa ragu, menerima uluran Hikky.


Hikky melanjutkan tindakannya dengan mengeluarkan sapu tangan berwarna biru dan putih sembari mengelap wajah


Karu yang sedikit berantakan. Selepas mendapatinya, Karu hanya diam sesaat dan menerimanya.


"Bagus. Lebih baik. Kau sangat lucu, Karu. Aku terkejut." Ujar Hikky memuji Karu.


"Hikky... jangan membuatku lemas lagi..." Pinta Karu akan rasa malunya yang masih membekas.


"Tidak. Itu kenyataan yang harus kau terima. Ayo, kita kembali. Mereka kekurangan maskotnya." Sanggah Hikky sembari menarik Karu perlahan.


Sesampainya Hikky dan Karu ke kafe, Risu mencoba menegur Karu. Namun, Hikky dengan langsung melindungi Karu dan menyampaikan alibinya agar Risu tak memarahi Karu. Risu yang heran menanyakan perihal Hikky yang tak dikenal oleh mereka.


"Aku berterima kasih atas bantuanmu. Tapi, sebenarnya kau ini siapa?" Tanya Risu dengan heran dan sinis.


"Maaf atas kekacauan yang kubuat. Aku Hikky, teman Karu." Sapa Hikky dengan ramah.


"Hikky? Teman Karu? Begitu. Baiklah, aku tak akan memarahinya. Tak gunanya juga aku melakukan itu pada teman baikku. Aku Risu, dia Fhykumi, Ketua Kafe dan Aziru." Balas Karu sembari memperkenalkan mereka.


"Salam kenal." Ujar Aziru dan Fhykumi bersamaan.


"Ah. Hikky. Karena kau sudah disini, ingin menjadi pelanggan untuk kami?" Tanya Karu sembari menghadap Hikky.


"Karu?! Kau sudah baikan?" Tanya Risu dengan terkejut.


"Uhm. Aku baik. Bagaimana, Hikky?" Tanya Karu kembali.


"Tentu. Kau bisa memberikan sajian terbaik yang kau punya." Balas Hikky sembari duduk di salah satu kursi.


Karu pun langsung melayani Hikky dengan menunya. Hikky yang sedang memilih, langsung menunjuk Nasi Goreng dengan Telur Gulung. Karu menerima pesanan Hikky dan langsung mulai memasak.


"Tak ada yang bilang Karu bisa memasak?!" Gumam Fhykumi.


"Sejauh aku menjadi temannya, aku tersanjung. Kerja bagus, Karu." Gumam Risu dengan kagumnya.


"Karu mengejutkan kita semua." Lanjut Aziru.


Setelah lima menit, Risu membantu Karu mengantarkan milik Hikky. Begitu dilihat olehnya, tata sajian Karu tampak rapih dan terlihat sangat baik.


Nasi Goreng melingkar dengan Telur Gulung dan saus tomat dipinggir piring, mulai disantap oleh Hikky. Ketika Hikky mencoba nasi gorengnya, Hikky terdiam memberikan ekspresi yang memancing pandangan mereka bertiga.


"Ah, Karu... kau yakin tak ada yang salah di dalamnya?" Bisik Risu dengan khawatir.


"T-Tidak... hanya bumbu biasa. Tapi aku khawatir jika itu tak cocok dengan seleranya." Balas Karu dengan khawatir.


"Rasa ini..." Gumam Hikky dalam hati.


Hikky yang memahami rasa buatan Karu, melanjutkan lahapannya. Mereka yang melihatnya tampak terkejut dan lega karena khawatir jika ada sesuatu yang salah.


"Dia... menikmatinya." Ujar Aziru.


"Ahh... ini membuatku lega, Miaw~" Gumam Risu sembari terduduk lemas.


"Syukurlah. Hikky menyukainya." Gumam Karu dalam hati.


Hikky terus melahapnya hingga habis seluruhnya. Seusainya, Hikky mengangkat tangan kanannya dan meminta sesuatu pada Karu. Karu yang menghampirinya memastikan pesanan Hikky. Ketika Karu mendengarnya, dia terkejut sekaligus merasa senang.


Seusai Karu menerima pesanan Hikky, Karu langsung pergi ke dapur dan berniat memasak lagi. Dengan sigap dan fokus, Karu melakukan efisiensinya karena memasak dua buah nasi goreng.


Seusainya, Karu langsung memberikan pesanan Hikky untuk di bawa pulang dan membayarnya sembari pamit dengan Karu.


"Karu!" Seru Risu dan Fhykumi bersamaan sembari memeluk Karu.


"Aku sungguh tak menyangka kau mampu mendapatkannya. Kurasa aku harus belajar banyak darimu." Lanjut Risu sembari memegang bahu Karu.


"Ah, Risu... aku hanya melakukan hal yang biasa. Tidak lebih." Balas Karu dengan canggung.


"Sebagai hadiah, aku akan memberikan sesuatu padamu nanti malam." Ujar Risu.


"Eehh?!" Gumam Karu sembari terkejut.


Karu yang mendapati kesuksesannya, berbincang ceria dengan mereka. Ard yang senggang, berniat mencari Hiruma akan urusannya. Ketika ia memastikan suatu tempat, Ard menuju atap gedung kampus.


Terlihat Hiruma sedang menjalani rencananya dengan duduk dan menyejukkan diri dibawah payung serta ditemani oleh seorang agen di dekat pintu keluar atap.


"Padahal kau punya tempat lebih baik dari ini, Hiruma." Ujar Ard dari kejauhan.


"Biarkan dia kemari. Aku tak ingin memanjakan diri di tempat ber-AC, Ard. Masalah kita lebih buruk dari itu." Balas Hiruma memberi kode pada agennya.


"Keramaian ini, mereka memang mengabaikannya. Kau dapat sesuatu?" Tanya Ard sembari melihat kebawah.


"Tidak. Masih buruk untukku." Balas Hiruma.


Agen yang berjaga, mendapati laporannya dan mendekati Hiruma akan urusan mereka. Hiruma pun beranjak dari tempat duduknya dan harus berpisah dengan Ard terlebih dulu.


"Rajinlah dan jangan sering membolos." Ujar Ard akan guraunya.


"Sangat disayangkan. Sudah kuduga tak semudah itu, ya?" Gumam Hiruma sembari tersenyum tipis.


"Ini masih terlalu awal, Hiruma. Kita juga tidak bisa memprediksinya. Regangkanlah dulu untuk saat ini, jika terjadi sesuatu aku akan memberitahumu." Ujar Ard sembari bersandar pada pagar pembatas dan menyilangkan kedua lengannya.


"Tentu. Kuharap tak ada tangis dan teriakan disini." Ujar Hiruma sembari beranjak pergi dengan agennya.


"Ard bodoh! Dimana kau?! Aku mencarimu!" Seru Vicchy dalam panggilannya.


"Hahahaha! Maaf. Dan kenapa kau tak memanggilku sejak tadi?" Tanya Ard dengan heran.


"Itu... CyPhoneku bermasalah, maaf." Balas Vicchy mengecilkan suaranya.


"Begitu. Aku bisa memahaminya. Jika begitu, kutunggu di depan gerbang. Berhati-hatilah." Lanjut Ard.


"Uhm. Terima kasih." Lanjut Vicchy.


"Ampun... Jangan kecilkan suaramu. Ini bukan salahmu, berhenti merenung." Bantah Ard akan gumam Vicchy.


"Aku mengerti! Aku mengerti!" Seru Vicchy menutup panggilannya.


"Dasar. Setidaknya perutku sudah penuh dan aman. Tinggal anak itu saja." Gumam Ard sembari bersandar pagar tembok.


Selang delapan menit, Vicchy sampai dengan CyBus Exgalya dan menemui Ard di luar halaman. Vicchy tampak mengenakan setelan tipe Dress putih dan magenta dengan bagian rok tiga sentimeter di atas lutut.


Ard yang melihatnya terdiam kagum dan membuat Vicchy menyadarkan tatapan Ard dengan sentilannya.


"Kau memikirkan hal mesum, ya?" Tanya Vicchy dengan kesal.


"Sembarangan. Aku hanya kagum karena kau tampak sangat baik dengan setelan ini." Ujar Ard sembari memujinya.


"Berhenti menggodaku. Sudah, ayo!" Bantah Vicchy dengan malu dan menarik Ard kedalam.


Ketika Ard dan Vicchy kembali ke dalam, Ard berpapasan dengan Kapten yang membawa banyak barang. Ard berniat membantu Kapten, namun dibantah olehnya.


Kapten meminta Ard agar menikmati festival tersebut. Kapten berpamitan untuk kembali ke Pelabuhan Axeru karena tak terbiasa berlama-lama dikeramaian.


Seusainya, Vicchy menarik Ard untuk menikmati festival. Mereka mencoba berbagai tempat seperti stan makanan, kafe dalam ruangan, rumah hantu, stan permainan dan lainnya. Ketika mereka telah puas, mereka pergi ke atap melihat pemandangan festival yang masih ramai.


"Padahal aku sudah memberitahumu jika perutku sudah penuh. Kau justru memaksaku menelan semuanya." Sanggah Ard sembari bersandar pada pembatas.


"Tidak mudah untukku jika menikmati makanan seorang diri sedangkan temanku tak menikmatinya." Bantah Vicchy dengan kesal.


"Seharusnya kubungkus semua itu dan kusantap di rumah." Keluh Ard.


"Dasar. Ngomong-ngomong, kau masih menyukainya, ya? Gadis itu." Ujar Vicchy.


"Kau masih mau membahasnya? Mustahil jika aku harus membencinya. Karena itu tak akan membantu." Balas Ard sembari menikmati angin.


"Bukankah kau sudah mengetahuinya?! Dia benar-benar membencimu! Kenapa kau justru suka menyakiti diri sendiri?!" Seru Vicchy membujuk Ard.


"Entahlah. Itu menurutmu?" Tanya Ard dengan senyum tipisnya.


"Ard, mungkinkah kau... Masokis?" Tanya Vicchy dengan sinis.


"Hahahahaha! Sembarangan. Jika ditusuk juga aku tak mau, dasar bodoh." Bantah Ard dengan guraunya.


"Jika aku jadi kau, aku tak ingin mengenalnya lagi." Lanjut Vicchy.


"Itu adalah kejahatan. Tak semudah membalikkan telapak tangan, tahu?" Balas Ard sembari melihat pemandangan.


"Memangnya bagaimana gadis kriteriamu? Jika banyak ketentuan, aku akan melemparmu dari sini." Ujar Vicchy sembari memperingatkan Ard.


"Hahahaha! Kau pikir bisa mengangkatku ? Hmm... Entahlah. Jika mengenai wajah, itu juga membingungkanku karena aku tak punya hak untuk memilih. Karena, seluruh gadis di dunia ini sudah melebihi kriteria setiap orang." Balas Ard menatap Vicchy.


"Jika begitu, bagaimana jika ada gadis yang menginginkanmu?" Tanya Vicchy sembari tertunduk.


"Akan kutanyai penyebabnya terlebih dulu." Balas Ard.


"Menjengkelkan." Gumam Vicchy.


Siang yang cerah dan ramai, berganti malam. Volume pengunjung tampak berkurang sebagian, sisanya tertarik akan minat pesta dansa yang akan digelar. Aula besar Universitas El'Vee telah tertata dengan elegan dan rapih.


Pembukaan telah dilakukan dan selanjutnya ditujukan pada Hiruma sebagai pengada sumber daya yang membantu Festival El'Vee. Tepuk tangan yang ramai, menyambut Hiruma akan pembukaannya.


"Semuanya, aku berterima kasih atas segala partisipasi dan kunjungan kalian untuk memeriahkan Festival Budaya Universitas El'Vee. Hal ini tak akan terjadi tanpa dorongan dari kalian semua. Aku harap, semuanya selalu bisa menikmati acara hari ini. Salah satu momen tahunan kita untuk memeriahkan, sekaligus mempromosikannya keluar. Dan mohon, untuk kerjasamanya hingga acara ini berakhir. Terima kasih." Ujar Hiruma akan pidato singkatnya.


Sambutan yang diberikan Hiruma, membuat mereka berdecak kagum ketika melihat maupun mendengarnya. Mereka pun bertepuk tangan dengan meriah menghormati Hiruma.


Malam di Festival El'Vee terasa ramai namun tenang untuk dinikmati. Alunan musik yang lembut telah dinyalakan dan mempersilahkan mereka untuk Pesta Dansa. Risu, Aziru, Miccha dan Fhykumi memberi hadiah pada Karu berupa gaun untuk pesta dansa.


Gaun berwarna putih bersih, dengan tipe Knee Length Dress beserta mawar putih kanan atas menghiasinya. Tak lupa, Risu dan Miccha menata rambut Karu yang panjang menjadi Crown Braid Bun sembari menarik beberapa helai rambut Karu ke samping kanan menjuntai ke bawah dekat telinganya.


Hingga tampaklah elegan dan pesona Karu. Karu yang tampak ragu dan malu, melihat hasil Miccha dan Risu sembari terkejut.


"Karena kau adalah yang paling muda, kuyakin sepenuhnya ini sangat cocok untukmu, Karu." Ujar Miccha meyakinkan Karu.


"Daaaaaan mereka akan terpesona pada bintang kita ini." Ujar Risu sembari merangkul Karu.


"Kuyakin. Pria itu akan tertegun begitu melihatnya." Ujar Aziru.


"Pria itu? Oooh... Hikky, ya? Jika dia kuyakini 100% akan menyukainya." Sanggah Fhykumi.


"Ehh Ketua?!" Kejut Risu.


"Yo. Mari kita buat acara ini menjadi salah satu yang tak terlupakan." Lanjut Fhykumi.


Karu yang diberi kejutan oleh mereka, mengumpulkan percaya dirinya. Pesta Dansa telah dimulai sedari tadi, membuat Hikky bertanya-tanya dengan keberadaan Karu. Suasana pada malam tersebut menjadi berbanding tegang dan indah dari sebagian oleh mereka.