From Grey To Red

From Grey To Red
BAB 25 : Harapan Karu



Ard yang telah pulih sepenuhnya, berjalan bersama Vicchy menuju Pelabuhan Gal-Alya. Ia yang mendapati pesan dari Komandan Vygas, merasa lega akan jawabannya. Ketika sampai di sana, Ard disambut oleh pelukan Paman Zaunt yang sudah menunggunya.


"Ard. Selamat untukmu. Aku benar-benar lega kau melewati maut seperti itu. Pilihlah! Lobster atau Tuna?!" Tanya Paman Zaunt sembari memegang kedua bahu Ard.


"Lobster!" Seru Ard dengan semangat.


"Tentu! Nah, temuilah Komandan. Jangan berbuat aneh lagi!" Seru Paman Zaunt sembari menepuk punggung Ard.


"Kau membuatnya terdengar ambigu!" Bantah Ard dengan kesal.


Ard dengan segera menuju Komandan Vygas di kantor bersama Vicchy. Sesampainya, Ard mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk.


"Permisi. Meja yang bagus, Komandan." Ujar Ard sembari mulai bergurau.


"Kau pikir ini ulah siapa? Selamat untukmu. Kau melakukannya dengan baik." Balas Komandan Vygas sembari berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung.


"Hahahaha! Maaf. Anda berlebihan. Terima kasih." Lanjut Ard sembari tersenyum lebar.


"Vicchy, ya? Duduklah." Ujar Komandan Vygas kembali mempersilahkan Vicchy.


"Terima kasih." Balas Vicchy sembari duduk.


"Langsung pada intinya. Maaf, Vicchy. Jawaban kami, kau tidak diterima disini." Lanjut Komandan Vygas.


"Ah, begitu. Hahahaha. Sudah kuduga." Balas Vicchy dengan canggung.


"Jangan khawatir. Aku mempersiapkan tempat untukmu. Kau bisa memulainya di Toko Souvenir Axeru di kota." Ujar Komandan Vygas sembari tersenyum hangat.


"Eh?! Begitu, kah?!" Tanya Vicchy dengan antusias.


"Ya. Pemilik toko itu teman baikku. Untungnya dia memiliki tempat kosong. Bagaimana?" Balas tanya Komandan Vygas.


"Aaaahh! Aku mau!" Seru Vicchy dengan semangat.


"Syukurlah. Jika begitu, Ard. Kau bisa mengantarnya. Kau ingat tempatnya, kan?" Pinta Komandan Vygas.


"Roooooger! Ayo, Vicchy. Terima kasih banyak, Komandan!" Seru Ard sembari membuka pintu.


"Terima kasih banyak! Permisi!" Seru Vicchy bergegas sembari berdiri dan membungkuk.


"Tentu. Hati-hati di jalan." Balas Komandan Vygas sembari tersenyum lebar.


Mereka langsung menuju Toko Souvenir Axeru menggunakan CyHover Ard. Ketika sampai, Vicchy melihat bagian luar dengan antusias. Mereka berlanjut masuk dan disambut oleh pemilik toko. Pria berpostur tubuh gemuk dengan tinggi rata-rata dan berkacamata.


"Ah, Selamat Datang." Sapa Pemilik Toko.


"Yo, Paman Kai." Balas Ard sembari mengangkat tangan kanannya.


"Ah, Ard, kah? Lama tak bertemu. Bagaimana dengan Paman Zaunt?" Lanjut tanya Paman Kai sembari mengulurkan tangan untuk berjabat.


"Baik. Dia masih segar karena banyak mengonsumsi air laut." Balas Ard akan guraunya.


"Hahahahaha! Jika dia mendengar ini, dia akan menjadikanmu umpan untuk hiu putih." Ujar Paman Kai membalas gurau Ard.


"Baiklah~ baiklah~. Ini sahabatku, Vicchy. Dia akan mulai disini sesuai yang diberitahu Komandan." Ujar Ard sembari memperkenalkan Vicchy.


"Tentu. Aku juga membutuhkan orang disini. Kau bisa mempercayakannya padaku." Balas Paman Kai sembari menunjukkan ibu jari tangan kanannya.


"Roger. Jika begitu, Vicchy. Lakukanlah dengan rajin." Lanjut Ard sembari berbalik.


"Uhm! Terima kasih, Ard. Mohon bimbingannya, Paman Kai." Balas Vicchy sembari sedikit membungkuk.


Musim panas pun dimulai pada awal Bulan Juni. Ard tak bisa kembali ke Pelabuhan Axeru dan Gal-Alya seperti biasa karena keputusan Komandan Vygas. Ard lanjut menuju Taman Bermain Exgalya yang dalam tahap pembangunan Hiruma, lalu berbincang dengannya.


"Ada kejutan lain yang ingin kau sampaikan hingga menyeretku kesini?" Tanya Ard sembari mengangkuti batang besi.


"Beritahu pada mereka. Pergilah berkemah lusa nanti. Hutan Prime Wood Alya." Balas Hiruma sembari menengok Ard.


"Hah?! Untuk apa?! Kau tahu itu adalah tempat terburuk untuk berkemah! Kau ingin menyiksa anak orang?!" Bantah Ard sembari bertanya.


"Bukan tanpa alasan aku meminta kalian kesana. Ketika disana, kalian akan berkemah dan menyelesaikan sebuah tugas." Lanjut Hiruma sembari memantau pekerjaan.


"Tugas? Langsung saja." Balas Ard menaruh batang besi di depan Kincir Ria.


"Seperti yang kau katakan, bahwa tempat itu adalah yang terburuk. Banyak penghuni kemah kabur dari tempat itu dan tidak sempat mengurusi sampah-sampah mereka. Singkatnya, kalian akan membersihkannya dan menguak apa yang menjadi teror di sana. Aku tak bisa meminta tukang untuk keseluruhannya dan mereka pasti akan panik." Ujar Hiruma melihat ke atas Kincir Ria.


"Sekian lama aku tak menyentuh Alya, aku tak menyangka baru mendengar rumor itu." Balas Ard dengan keluh kesahnya.


"Begitupula denganku. Rumor ini terlalu tiba-tiba. Dan juga aku tak mendapati informasi mengenai apa yang mereka lihat. Ketika ditanyakan, mereka memilih tutup mulut." Ujar Hiruma.


"Kurasa ada sesuatu mengancam mereka. Entah kutukan atau apapun itu, aku seringkali melihat hal ini." Ujar Ard sembari berasumsi akan rasa herannya.


"Opinimu masuk akal. Jika begitu, tolong kau urus. Akan kuberikan layanan tambahan jika kalian menyelesaikannya." Balas Hiruma sembari meninggalkan Ard.


"Mata empat sialan. Dia berhasil bertingkah layaknya seorang bos." Gumam Ard dengan senyum sinisnya.


Ard yang mendapati tugas, melakukan kontak dengan mereka yang dapat membantunya. Ketika pesan terkirim, mereka melakukan respon.


"Seluruhnya bisa? Aku takkan heran dengan liburan musim panas ini. Kecuali Aziru, kah? Gadis yang malang." Gumam Ard.


"Kita akan jadi petugas kebersihan sekaligus detektif? Hiruma sialan." Gumam Xion sembari bersantai menggigit es krim di rumahnya.


"Rumor Hutan Prime Wood, kah? Rumor ini sedang panas-panasnya seperti musim ini. Aku penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tak ada testimoni dari siapapun untuk unjuk bicara." Gumam Miccha dalam hati sembari mencari informasi di CyNet.


"Misteri apa lagi sesudah Summer Sparking ini? Berapa banyak misteri dan masalah yang ada di Exgalya? Tak habis pikir." Gumam Gant melihat pesan Ard.


"Kemah di tempat terburuk, kah? Padahal itu adalah tempat terbaik sebelum rumor menyerang. Ada apa dengan manusia zaman sekarang?" Ujar Vicchy sembari melihat CyPhone.


"Vicchy! Tolong kemari!" Pinta Paman Kai.


"Ah! Baik!" Seru Vicchy dan bergegas membantu Paman Kai.


"Permisi, Paman Kai." Ujar Vicchy dengan malu.


"Ada apa, Vicchy?" Tanya Paman Kai sembari menaruh kotak di rak gudang.


"Mengenai esok... bisa aku mendapat izin untuk tidak hadir? Aku akan mulai dengan rajin setelahnya! Kumohon!" Pinta Vicchy dengan menahan malunya.


"Eh? Ahahahaha. Tentu." Balas Paman Kai.


"Eh?! Tak apa?!" Balas tanya Vicchy dengan ragu.


"Yah, karena ini liburan musim panas, aku ingin menemui keluargaku sebentar. Pembeli yang ramai seperti biasa juga sedang tak disini karena kurasa semua pergi berlibur. Bahkan tempat ini mendadak seperti kota hantu." Lanjut Paman Kai.


"Begitu, ya? Terima kasih banyak! Maaf atas kelancanganku!" Seru Vicchy lanjut membungkuk.


"Tak apa. Jika begitu kita lanjutkan sebelum esok." Ujar Paman Kai sembari mengajak Vicchy.


"Baik!" Balas Vicchy dengan semangat.


Esoknya, seluruh kawan Ard berkumpul di Lapangan Bermain Alya sebagai persiapan esok hari. Ard yang sedang berunding, bertanya pada Dyenna.


"Dyenna. Kau mendapati informasi mengenai hal ini?" Tanya Ard sembari melihatnya.


"Tidak. Mereka justru menyarankanku untuk menjauh dari hutan. Aku semakin khawatir jika ada rumor tak bagus di Alya dan meneror seisinya hingga jangka panjang." Balas Dyenna tertunduk.


"Dan hutan itu setara luasnya dengan Kota Gal. Bisa dibilang itu adalah Induk Alam Exgalya. Kita sudah mencari ke CyNet dan mereka melakukan hal yang sama. Misteri satu ini patut diurus." Ujar Gant sembari berdiri menyilangkan kedua lengannya.


"Mereka sudah termakan rumornya. Kurasa pilihan dari Hiruma memanglah yang terbaik. Kita akan menjarahnya sebisa mungkin. Karena sebelumnya, Hutan Prime Wood tidaklah seperti ini. Bahkan bisa membuat kita menikmatinya hingga ke ujung hutan." Ujar Willy.


"Rumor ini sedari tahun lalu. Tapi, mereka baru menghangatkannya sekarang karena sudah begitu banyak korban." Ujar Risu melihat informasi di CyNet.


"Aaaahh! Sialan. Kukira rumor-rumor ini hanya berupa hantu atau semacamnya. Tidak hanya membuat penasaran, namun juga membuat keresahan." Ujar Ard dengan kesal.


"Jika begitu, di mana kita akan istirahat hari ini sebelum berangkat besok?" Tanya Fhay.


"Di rumahku. Untuk para gadis bisa tidur di 2 kamar. Sisanya menjadi pria sofa dan pria tenda di halaman belakang. Tentunya akan ada penghangat dan tak perlu khawatir mendapati demam." Ujar Ard dengan percaya diri.


"Bagaimana dengan orang tuamu?" Tanya Jay dengan heran.


"Mereka di luar kota. Tak perlu dicemaskan." Balas Ard berbohong.


Dyenna yang mendengarnya teringat akan hal yang pernah dibahasnya. Mereka pun sepakat beristirahat di Rumah Ard untuk mempersiapkan barang-barang, sebelum berangkat menuju Hutan Prime Wood Exgalya.


Sesampainya di sana, waktu menunjukkan pukul tujuh sore. Mereka menikmati waktu senggang dan menyiapkan barang-barang yang dibutuhkan. Ard pun pergi keluar sementara waktu dan berniat membuat jamuan berupa masakan kombinasi daging sapi dan sayur, beserta menu lainnya. Seusai berbelanja, Ard mulai memasak untuk mereka.


"Kuharap masakanmu tak gosong." Ujar Gant akan guraunya.


"Kau menyebutku pemalas yang tak pernah menyentuh dapur?" Bantah Ard sembari menengoknya.


"Hahahaha. Maaf. Karena aku tak mendapati waktu melihatmu melakukan hal ini." Lanjut Gant membantu Ard mengiris sayuran.


"Aku tak bisa menyalahkanmu jika begitu. Kau bisa duduk dan menunggu." Ujar Ard sembari fokus memasak.


"Baiklah." Balas Gant.


Seusai lima belas menit berlalu. Mereka dijamu oleh Ard dengan berbagai menu.


"Kurasa lain kali aku harus mengurasmu lebih dari ini. Aroma yang bagus." Ujar Xion akan guraunya.


"Maaf merepotkanmu, Ard." Ujar Miccha.


"Nah~ Nah~ Aku tahu apa yang dipikirkan Ard. Tak perlu sungkan, bukan? Jika begitu kita binasakan ini dengan segera. Selamat makan!" Sanggah Risu dengan cerianya.


"Oi, Ard! Mie ini hanya asin yang bisa kurasakan. Kau kehabisan bumbu?." Ujar Xion akan kekecewaannya.


"Yang kau makan itu Spaghetti, bukan Mie, sialan!" Bantah Ard dengan kesal.


Makan malam yang hangat, berlangsung bersamaan dengan senda gurau. Mereka pun merasa cukup seusai mengisi perut.


"Rumahmu ini, tidak buruk. Aku suka halaman belakangnya." Ujar Gant sembari meminum jus jeruk dingin.


"Aku akan mempercayaimu jika begitu." Balas Gant dengan senyum tipisnya.


Hari panas, berganti malam yang hangat. Para gadis tidur lebih dulu di dua kamar dibanding kawanan Ard. Xion dan Jay memasang tenda di halaman belakang, sedangkan Gant dan Willy mendapati bagian di ruang tamu dengan sedikit pengaturan agar nyaman untuk mereka. Ard pun teringat sesuatu dan memberitahu mereka.


"Ah! Aku teringat sesuatu yang jahat." Ujar Ard dengan senyum canggungnya.


"Apa itu?" Balas tanya Gant sembari dilihat oleh mereka.


"Aku lupa kita bisa menggunakan kamarku di lantai atas." Lanjut Ard dengan senyum percaya dirinya.


Mereka yang mendengarnya, hening sembari melihat Ard dan terdiam sesaat.


"Xion! Nyalakan api unggunnya!" Gurau Gant menahan Ard dari belakang.


"Tentu!" Balas Xion pergi ke halaman belakang.


"Oi! Gant!" Seru Ard dengan khawatir.


"Ada yang memiliki bensin?" Tanya Xion.


"Serahkan padaku!" Balas Willy sembari mendekat kearah Xion.


"Aku menyerah! Aku menyerah!" Seru Ard memberontak.


"Api sudah dinyalakan." Ujar Jay sembari mengangkat kaki Ard seperti hewan buruan.


Mereka pun tak segan-segan akan guraunya pada Ard. Gant dan Jay menahan Ard di atas api unggun bagaikan hewan buruan yang siap dibakar. Dengan bokong Ard yang dipanaskan, Ard mulai memberontak.


"Panas! Panas! Oi, Gant! Hentikan!" Seru Ard.


"Musim panas ini memang terbaik jika bermain dengan api unggun." Ujar Xion sembari menyilangkan lengan.


Usai puas mengerjai Ard, Gant dan Jay menuruti permintaan Ard. Ard pun dengan segera menuju kamar mandi mendinginkan bokongnya. Mereka pun puas tertawa seusai mengerjai Ard.


"Kawanan sialan! Ah, bokongku yang malang." Gumam Ard sembari mendinginkannya.


Xion dan Jay merapihkan kembali tenda yang dibangunnya. Sedangkan Ard, Gant dan Willy merapihkan sofa dan meja ke tempat semula. Malam yang larut, membuat mereka menguap. Ard menyambut mereka di kamarnya pada lantai dua, dengan kasur lantai setebal mungkin dan menyiapkan penghangat.


"Tak perlu berlebihan, kawan. Ini adalah musim panas." Ujar Xion bersandar ditembok dekat pintu.


"Aku tahu. Aku hanya khawatir peliharaanmu yang justru kedinginan." Balas Ard dengan gurau kotornya.


"Ard. Kau ingin dibakar lagi atau dipanggang?" Balas Xion akan peringatannya.


"Aku menyerah! Aku menyerah!" Pinta Ard sembari tersenyum canggung.


"Ard. Kecilkan suaramu. Mereka kau abaikan?" Sanggah Willy akan para gadis yang tertidur.


"Ah, maaf. Aku terlalu terbawa suasana." Balas Ard akan sesalnya.


"Jika begitu, kita langsung istirahat saja. Aku khawatir jika ada salah satu dari kita yang terjaga dari tidurnya." Ujar Gant akan nasihatnya.


"Kumohon pada kalian, nikmati tidur dan mimpi yang ada. Jangan pikirkan apapun, mengerti?" Pinta Ard sembari duduk di kasurnya.


"Tentu." Balas mereka bersamaan.


Malam yang panjang pun dimulai. Risu teringat akan sesuatu dan berniat membangunkan Karu. Ketika ia akan menyentuhnya, Risu merasa ragu karena tak tega akan egonya.


Disaat yang bersamaan, Karu mengeluarkan gumam dari pergerakannya dan berbalik dengan tiba-tiba menghadap Risu. Risu yang masih terbangun saling menatap dengan Karu.


"Ada apa? Kasur ini menyiksamu?" Tanya Risu dengan nada kecil sembari tersenyum tipis.


"Tidak. Tidak ada." Balas Karu mengerutkan dahinya.


"Tidak. Ard, kan?" Bantah Risu menebak Karu.


"Risu... dasar. Jangan terlalu terbuka." Balas Karu sembari menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Kau punya energi digelap malam? Kita akan jahat padanya malam ini." Tanya Risu.


"Hentikan. Itu terlalu jahat." Bantah Karu.


"Karu. Dia bukan manusia dengan ego tinggi, mengerti? Justru dia akan senang. Kau pun tak bisa terlelap, bukan? Kusarankan untuk tidak menundanya jika kau punya energi untuk melakukannya." Bantah Risu sembari bertanya.


"Risu, bodoh." Balas Karu sembari menutup wajahnya dengan guling.


"Gadis pintar. Jika begitu, tunggu dan persiapkan dirimu." Ujar Risu sembari beranjak dari kasur.


Risu mengendap-endap menuju lantai dua dan berusaha tidak membangunkan yang lain. Risu yang sampai di depan Kamar Ard, memutar gagang pintu perlahan dan bersyukur karena tidak dikunci.


Cukup sulit untuk Risu melewati Xion, Willy dan Jay yang tidur lantai, hingga dia berada di depan kasur Ard. Ketika berada di depan kasur Ard, Risu memanggilnya dengan sentuhan jari telunjuk pada tangan kirinya beberapa kali.


Ard yang merasakan kontak fisik mengusik tangannya, terbangun dan terkejut melihat Risu. Disaat bersamaan, Risu menyuruh Ard untuk menahan suaranya dengan kode jari telunjuk pada bibirnya.


"Risu?" Gumam Ard dengan heran.


Risu yang berhasil mengamankan situasi, mendekatkan wajahnya pada Ard.


"Karu." Balas Risu sembari mundur perlahan dan beranjak keluar.


"Karu?" Gumam Ard semakin heran.


Ard penasaran dengan apa yang terjadi, memahami kode dari Risu perihal Karu. Ard pun turun dari kasur perlahan agar tidak membangunkan mereka. Ard berjalan dengan Risu dan disuruh olehnya untuk menunggu di halaman belakang.


Risu dengan segera menuju kamar dan memberitahu Karu. Karu yang masih mengumpulkan keberanian, dibujuk oleh Risu. Tak lama akan bujukan Risu, Karu pun pasrah dan memberanikan diri menemui Ard.


Ard menyiapkan penghangat di halaman belakang agar dingin tak merusak suasana. Karu yang merasa canggung, bertatapan dengan Ard.


"Silahkan, Karu." Ujar Ard mempersilahkan Karu untuk duduk di dekat penghangat.


"Terima kasih." Balas Karu duduk di sebelah Ard.


"Dia duduk sedekat ini? Kurasa aku sedang bermimpi." Gumam Ard dengan heran dalam hati.


"Aku... mohon maaf untuk hal mendadak ini. Risu terus memaksaku, meskipun aku tidak siap." Ujar Karu sembari memeluk kedua kakinya sembari merenung.


"Ini tidak seperti dirimu, Karu. Kau bisa cerita darimanapun. Aku akan memahaminya." Balas Ard dengan senyum tipisnya.


"Uhm. Aku memang tidak tahu, harus mulai darimana. Karena, ini cukup besar untukku. Tapi, akan kumulai dari alasanku menjauhimu selama ini." Lanjut Karu dengan menahan malunya.


"Lanjutkan." Balas Ard.


Karu mulai bercerita akan awalnya. Karu merasa bahwa Ard tampak terus mengusiknya. Karu yang merasa terganggu, dengan perlahan membenci Ard.


Walaupun Ard dianggapnya adalah orang baik, Karu tetap tak mengerti dengan dirinya sendiri yang seringkali membenci orang tanpa sebab yang jelas. Padahal Karu mengetahui bahwa mereka tidak melakukan hal kasar padanya.


"Gadis yang malang." Ujar Ard dalam hati.


Dengan curahan berlanjut. hal yang paling Karu sesalkan selama ini adalah dia membenci Ard selama beberapa tahun tanpa melihat apa yang Ard pikul lebih dulu.


Pertaruhan antara hidup dan mati, tetap Ard layani dengan senyum bodohnya. Bahkan saat Ard melakukan hal bodoh sekalipun selama Karu mengenalnya, Ard begitu percaya diri dengan topeng yang sudah lusuh sembari membiarkannya terus menerus, seolah tak ada yang terjadi. Karu usai dengan curahannya yang bercampur emosi.


"Lalu?" Tanya Ard sembari menengok Karu.


Karu pun mengangkat wajahnya yang terbenam perlahan dan berdiri sembari menatap Ard.


"Ard. Aku... ingin memohon ma--" Balas Karu terpotong.


Ard dengan seketika berdiri dan menutup mata Karu dengan tangan kanannya dari belakang hingga menunda kalimat Karu. Karu pun terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Ard.


"Hentikan. Jangan katakan itu. Dan jangan pernah." Ujar Ard dari belakang Karu menutup matanya.


"Heh? Kenapa? Ard?" Tanya Karu dengan heran.


"Dan aku mohon, hentikan air matamu. Aku merasakan basahnya disini. Sekali lagi kukatakan, jangan pernah mengatakannya." Balas Ard dengan senyum tipisnya.


"Kenapa? Hei." Balas tanya Karu masih ditutupi oleh Ard.


"Dengar, Karu. Kau tidak memiliki kesalahan apapun disini, bahkan sedari 3 tahun lalu. Yang kau lakukan adalah hak mu dalam memilih.


"Tapi, Kau memiliki hak untuk meminta juga!" Bantah Karu.


"Kau justru melupakan hal itu. Hal yang dimiliki oleh semua orang. Dan kau menyalahkan dirimu atas hal yang tidak seharusnya? Jujur saja, mengenai ini antara aku tak mengenalmu sebagai Karu atau aku belum melihatmu sepenuhnya." Balas Ard membujuk Karu.


"Begitu pula denganmu, Ard. Apa yang terjadi dengan ego dan emosimu? Kau manusia, bukan? Setidaknya kali ini saja, marahi atau tinggikan nadamu padaku. Berhenti bersikap tegar! Bahkan wajah jelekmu tak terlihat keren setiap kau melakukannya!" Seru Karu menyentuh tangan Ard yang menutupi matanya.


"Hahahahaha! Jahatnya. Aku sudah lebih tampan sekarang. Dasar, tanganku bukannya kering, justru dibuat banjir olehmu." Ujar Ard sembari lanjut bergurau.


"Maaf." Balas Karu.


"Dan, aku tak bisa memenuhi permintaanmu. Karena apa? Inilah aku, inilah yang bisa kulakukan. Kau terlalu memperhatikan orang dan lupa bagaimana caranya kau membahagiakan dirimu sendiri." Balas Ard kembali membujuk Karu agar tenang.


"Kau pembohong. Kau pria terburuk. Setidaknya kurangi sifatmu ini. Aku tak bisa semudah itu membuat diriku bahagia. Tidak ketika melihat seseorang yang berjalan di depan bentengku, melewati jalan yang penuh ranjau sembari tersenyum seolah menikmati ledakannya!" Bantah Karu sembari terduduk menutupi wajah dengan kedua tangannya.


"Kumohon, bantu aku mengeluarkan setan ini. Aku tak mengundangnya!" Lanjut Karu.


"Aku mengerti. Segera kulakukan, Nona Muda." Balas Ard.


"Kau bisa bertanya sekarang, Ard." Ujar Karu mengusap matanya.


"Begitu.Bisa kau katakan harapanmu? Harapan terdalam yang kau miliki, Karu." Ujar Ard meminta kejujuran Karu.


"Hanya satu. Aku ingin, kita semua mendapati kebahagiaan, tanpa ada yang tertinggal. Dan perbaiki dirimu, Ard." Balas Karu sembari berbalik tersenyum.


Seusai Karu mengatakan hal terdalamnya, Karu melesat memeluk Ard untuk pertama kali dengan perasaan lega. Ard yang mendapati itu, seakan merasakan mimpi hebat menerjangnya.


Ard pun masih belum memiliki keberanian untuk membalas Karu. Dengan sederhana, Ard melakukan elusan pada kepala Karu dengan tangan kanan hingga tenang. Malam yang hangat, turut memeluk mereka berdua.