
..."Sifat kamu terlalu nano-nano. Tapi entah kenapa aku suka."...
...-Gibran Rahardian K-...
...πΌπΌπΌ...
"Ayo Ra, gue akan antar lo pulang!!" Kata Gibran dengan sedikit menarik tangan Naura.
"Gue takut akan semakin merepotkan lo Gib." Ujar Naura sebelum ia naik keatas motor Gibran.
"Ah elah, santai aja. Lagian liat tuh langitnya udah mendung, lo mau hujan-hujanan disini??"
"Ya enggak sih."
"Makanya udah ayo naik!! Gue sama sekali ga merasa direpotin kalo itu berhubungan dengan lo."
Setelah mempertimbangkannya, Naura pun memilih untuk menerima tawaran Gibran.
"Thanks ya Gib."
Sedetik kemudian motor Gibran melesat membelah keramaian jalan raya.
Awan mendung itu semakin pekat, seakan-akan berkumpul dilangit ibu kota. Dan beberapa menit kemudian air hujan mulai menetes membasahi bumi dimana Naura berpijak.
Awalnya memang hanya rintikan biasa, namun lama-kelamaan berubah menjadi guyuran besar. Gibran yang saat itu tidak membawa mantel untuknya ataupun untuk Naura pun memutuskan untuk berteduh di salah satu teras toko yang sedang tutup.
Ia menoleh kearah Naura yang sibuk mengibaskan rambutnya yang sedikit basah. Baju gadis itu juga tampak sudah basah di beberapa bagian.
Akhirnya Gibrana memutuskan melepas blazer seragamnya, lalu memakaikannya ketubuh Naura. "Sorry ya gara-gara gue, lo harus kehujanan gini." Katanya.
"Ih Gib gausa!!" Tolak Naura dengan mengembalikkan blazer abu itu.
"Gpp Ra pakai aja!!" Gibran kembali memasangkan seragamnya itu ke tubuh Naura. Gadis itu menatap kearah Gibran. Dan lelaki itu membalas tatapan Naura dengan senyuman.
Lalu tangan Gibran terulur ke arah puncak kepala Naura, dan ia mengelus pelan puncak kepala gadis itu. "Gue ga mau kalo lo sampe sakit Ra!!"
Ah ucapan buaya. Dan Naura hafal akan trik-trik seperti itu. Sehingga ucapan serupa tak akan langsung membuat hatinya luluh. Ia pun samar-samar tersenyum miring.
Setelah percakapan itu, keduanya kembali terdiam. Tak ada lagi yang membuka suara hingga hujan yang turun mereda.
"Ra, lo gapapa pulang sekarang??" Tawar Gibran, karena memang masih ada beberapa rintik hujan yang membasahi tanah itu.
Naura mengangguk. "Gapapa Gib, lagian cuma gerimis. Nanti kalo nunggu terang tambah kemaleman."
"Oke, yuk!!" Ajak Gibran lalu mendekati motor miliknyan diikuti Naura yang mengekor dibelakangnya.
Beberapa detik kemudian, motor Gibran kembali melesat menerobos rintik hujan yang masih setia membasahi tanah itu.
Setelah menempuh 10 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah Naura. Gadis itu pun langsung turun dari motor Gibran.
"Thanks ya Gib!" Kata Naura sembari menyerahkan blazer yang sedari tadi ia kenakan, kepada sang pemilik asli.
"Iya santai aja Ra. Eee gue balik dulu ya?!" Setelah mengucaokan itu, Gibran langsung memakai kembali helm nya. Namun saat Gibran hendak menyalakan motornya, tangan Naura terulur penahan tangan lelaki itu.
"Gib. Eee lo mau ga mampir ke rumah gue?!"
Gibran yang seperti mendengar kata-kata impossible itu pun langsung membuka kembali kaca helm nya.
"What? Lo barusan ngomong apa??"
Naura berdecak. Kenapa Gibran tidak peka sih, padahal dirinya tadi sudah memberanikan diri untuk menawarkan hal itu. Telinga kelaki itu sepertinya perlu sucikan.
"Haishh! Maksud gue, lo mau mampir ke rumah bentar ga?? Tadi kan lo nolak buat ke rs, jadi sebagai gantinya gue yang akan ngobatin luka lo." Jelas Naura akhinya.
"Ah, gausa repot-repot Ra! Ini cuma luka ringan kok. Palingan 5 hari kedepan langsung sembuh."
"Ringan atau berat ga masalah, yang penting gue mau ngobatin lo, sebagai balas budi karena tadi lo uda nyelametin gue. Niat gue itu doang kok. Ga lebih. Jadi gue harap lo mau."
Dibalik helm full face nya Gibran tersenyum tipis. Hal sederhana yang Naura tawarkan entah kenapa berhasil membuatnya bahagia. Gimana kalo gadis itu beneran suka sama dia?? Ah bisa-bisa dia jadi cowok paling bahagia di dunia.
Akhirnya Gibran mengangguk pelan. "Yaudah deh kalo lo maksa."
"Nah gitu dong! Yaudah yuk masuk." Ujar Naura dan langsung berjalan menuju pagar rumahnya, dan membukakan jalan untuk Gibran.
"Rumah lo sepi amat Ra. Lo tinggal sendirian??" Tanya Gibran yang baru turun dari motornya.
Naura yang sedang membuka pintu rumah pun menoleh. "Ya enggak lah. Bunda masih kerja, abang gue masih kuliah."
"Ohh.. Eh tapi ini ga bener loh Ra, kan dirumah jadinya cuma ada kita" kata Gibran yang langsung mendapat decakan dari Naura.
"Ck! Kenapa isi otak cowok selalu negatif si?? Lagian gue juga ga mau ngapa-ngapain sama lo Gib!!"
"Yee kan gue cuma wanti-wanti Ra."
Naura menghela nafas. "Kalo pun itu terjadi pasti itu diawali karena niat mesum lo. Tapi tenang aja, iman gue kuat jadi ga akan kemakan hasutan setan kayak lo!! Udah ih ayo masuk!! Keburu malem juga." Ia pun langsung memasuki rumahnya, diikuti Gibran yang matanya masih dilemparkan ke-sepenjuru rumah.
"Tunggu di sini dulu, gue mau ganti baju sama ambil kotak P3K." Kata Naura lalu berjalan meninggalkan Gibran yang duduk di sofa ruang tamu.
Sejak memasuki rumah gadis itu, mata Gibran tidak bisa diam. Meskipun rumah Naura tidak sebesar rumahnya, namun suasana di rumah ini adem, membuat dirinya betah.
Cukup banyak dekorasi diruang tamu tersebut. Namun ada satu yang menarik perhatiannya. Yakni, beberapa foto yang tertata apik di lemari kaca pojok ruangan. Ia pun berjalan mendekati lemari tersebut.
Ada sekitar lima pigura foto disana. Satu foto keluarga dimana Naura masih terlihat berusia sekitar tujuh tahun dan Kenzie yang masih remaja.
Di keempat foto lainnya pun Naura masih sekitar tingkat anak sd. Tapi itulah yang menarik bagi Gibran. Buktinya saja ia tanpa sadar melengkungkan senyum saat melihat masa kecil gadis incarannya.
"Ngapain lo?!" Seru Naura yang sudah tiba dengan membawa kotak P3K ditangan kirinya dan segelas es jeruk ditangan kanannya.
Gibran membalikkan badannya. Lalu berjalan kembali menuju sofa. "Sorry gue tadi lihat foto lo. Btw, lo kenapa dulu bisa se kiyutt itu sih?"
"Takdir." Singkat jelas padat. Memang Naura malas menanggapi perkataan Gibran, apalagi menyangkut foto-foto itu.
"Haish.. Nyebelin!"
"Mending lo minum es yang udah gue buatin deh, daripada bicara unfaeah kek gitu." Kata Naura dengan wajah datar yang menatap Gibran. "Btw sorry cuma itu yang ada di kulkas."
Sebelum meminum es tersebut, Gibran menghela nafas pelan. Lalu meminumnya sedetik setelah ia mengucapkan bismillah.
"Its okay Ra, es jeruk juga nyegerin kok. Apalagi kalo yang buat kamu." Gombalan itu lagi-lagi keluar dari bibir Gibran. Emang ya, skill gombalan buaya ga perlu diraguin lagi.
"Kalo udah, giliran gue yang mau obatin lo. Biar lo bisa cepet pulang!!"
"Jadi, lo ikhlas nggak nih ngelakuin ini??"
"Ikhlas Gibrann!! Udah ah daripada lo ngomong terus mending tu luka gue obatin sekarang aja."
Mata Gibran menatap intens perempuan yang tengah fokus mengobati luka ditangannya. Seakan-akan perih yang ia rasakan bisa tersamarkan dengan perhatiannya yang terpusatkan kearah gadis itu.
Jujur, selama ini Gibran tak pernah merasakan hal yang ia rasakan saat ini. Bersama Syahnaz maupun mantan-mantan yang lain, rasanya hambar. Karena memang hatinya sedikitpun tak tergoyahkan. Dan karena ia tidak ingin merasakan reportnya jatuh cinta. Ya, menurut Gibran cinta adalah hal yang merepotkan. Benar bukan??
Tapi, hal yang ia rasakan hari ini sepertinya bisa mematahkan prinsip yang sudah ia pegang selama bertahun-tahun lalu. Apa benar ia jatuh cinta?? Lantas bagaimana dengan ucapannya beberapa hari lalu?? Apa berarti ia gagal dalam taruhan itu??
Wah! Gibran tidak bisa membayangkan bagaimana respon teman-temannya jika mengetahui hal ini. Seorang fakboy kelas kakap akhirnya jatuh juga. Berita yang menggemparkan bukan??
Setelah selesai mengobati lengan Gibran, sekarnag Naura beralih ke pelipis serta beberapa lebam di pipi laki-laki itu.
Hal itu seketika membuat detak jantung Gibran berdetak lebih cepat dari biasanya. Karena memang jarak wajahnya dengan Naura pun bisa dibilang cukup dekat. Iris gadis itu pun bisa terlihat jelas oleh matanya. Serta bentukan bibir dan wajah Naura yang bisa melemahkan iman Gibran.
"Kalo lo sekali lagi mikir yang aneh aneh, gue akan membuat luka lo ini lebih parah, Gib!!" Ancaman Naura itu seketika menarik Gibran dari pikiran fantasinya.
"Apaan sih! Jangan suka suudzon jadi orang. Tenang aja iman gue ga selemah yang lo kira, jadi jangan harap gue mikirin hal-hal begituan." Untung saja mulut Gibran lebih pro dari yang ia kira. Beberapa alibi itu berhasil ia ucapkan dengan lancar.
Aww!!
Karena kesal, Naura menekan kuat dibagian salah satu luka di ujung bibir lelaki itu. "Makanya jangan coba macem-macem sama gue!!" Setelah mengucapkan itu, Naura langsung menjauhkan dirinya dari lelaki mesum macam Gibran. Dan ia duduk di sofa yang berbeda dengan Gibran.
"Tuh minumnya abisin dulu! Dan setelah itu lo harus pulang!" Imbuhnya.
"Iya Naura!!" Nada jawaban yang Gibran ucapkan itu terdengar tidak ikhlas.
'Ga mungkin kan gue jatuh cinta sama cewek jutek sombong plus nyebelin ini?!' kata hati Gibran yang berusaha mematahkan asumsinya beberapa saat lalu.
Dan beberapa menit kemudian, seperti yang Naura suruh, Gibran segera pergi dari sana setelah menghabiskan segelas es jeruk yang telah gadis itu buatkan. Saat ia keluar dari rumah Naura, langit sudah menggelap, serta suara adzan maghrib yang terdengar sudah mulai berkumandang itu terdengar samar-samar ditelinganya.
...πΌπΌπΌ...
"Udah lewat 2 minggu bro!! Ga sabar gue dapet traktiran dari Gibran!!" Kata salah satu lelaki yang sedang bersandar di sofa tersebut.
Dentuman lagu itu terdengar jelas di telinga mereka. Hal tersebut tidak mengherankan karena memang pada jam malam seperti ini pastilah tempat yang sudah biasa mereka kunjungi ini akan semakin ramai. Semakin malam semakin ramai, ya kan??
"Gue juga yakin kalo dia kalah dalam taruhan ini. Lihat aja tuh respon cewek itu, sedikitpun dia ga menunjukkan ketertarikan ke Gibran." Sahut lelaki yang baru saja menuangkan minuman kedalam gelasnya.
"Gila ga sih? Coba pikir, cewek mana yang bisa bikin seorang Gibran rela membuang-buang waktunya untuk membuat seorang cewek jatuh cinta??"
"Bener tuh kata Darel. Gue rasa kali ini bukan ceweknya yang jatuh, tapi si Gibrannya!" Raut terkejut bercampur excited itu Aziel perlihatkan. "Amazing banget kalo hal itu beneran terjadi!!"
"Setelah beberapa tahun cuma main-main akhirnya hati temen kita berlabuh juga!!" Sahut Mahesa yang juga sama excited nya seperti Aziel.
Hanya jeda beberpaa detik saja, tiba-tiba suara ornag yang mereka bicarakan terdengar. Ah rupanya dia sudah tiba.
"Gue yakin kalian lagi ghibahin gue?! Ya kan??" Gibran melempar tatapannya kearah tiga lelaki yang menyengir tak bersalah itu.
"Its okay sih, toh nanti dosa gue berkurang karena kalian ghibahin. Ya gak??" Imbuhnya.
"Sialan jan bawa dosa dong ogeb!!" Seru Darel yang langsung menonyor pelan kepala Gibran.
"Eh tunggu. Kenapa muka lo jadi bonyok gini Gib??" Rupanya Darel menyadari hal tersebut.
Aziel dan Mahesa yang kepo pun langsung mendekatkan diri kearah Gibran. Dan benar beberapa lebam masih samar-samar dapat mereka lihat. Serta plester di pelipis dan tangan lelaki itu.
"Bjirr luka lo banyak banget Gib?? Kali ini siapa lawan lo??" Karena sudah terlanjur kepo, Aziel pun melemparkan dua pertanyaan itu sekaligus. Siapa coba yang ga khawatir jika sohibnya terluka??
"Kalo mau berantem kenapa ga call kita sih Gib?? Kalo kita bantuin gue yakin lo bakal lebih aman." Sahut Mahesa.
"Apaan sih?? Kenapa kalian jadi alay gini?! Lagian cuma luka ringan kok yang gue dapet."
"Trus siapa yang berani lawan lo?? Emang mereka ga tau kalo macem-macem sama lo berarti mereka cari masa--"
"Mereka preman, ya kalian tau sendiri gue uda cukup buat nanganin mereka. Dan mereka pun udah gue kirim ke tempat dimana seharusnya mereka berada."
"Ha?? Lo bunuh mereka??"
Pletakk!!
Pukulan itu sontak Gibran berikan ke kepala Aziel. "Bukan itu maksudnya ogeb!! Gue udah ngirim mereka ke kantor polisi. Yakali gue bunuh orang!"
"Jangan bilang lo ngelawan mereka karena cewek itu?!" Celetuk Mahesa.
Gibran terdiam beberapa detik. Sebelum akhirnya ia hanya mengangguk menjawab pertanyaan Mahesa. Ketiga lelaki itu tercengang. Lalu beberapa saat kemudian Aziel bertepuk tangan heboh.
"And see, tebakan gue bener!! Gibran udah mulai jatuh cinta bro!!" Heboh Aziel menanggapi kejadian yang cukup langka itu.
"Gila gila gila!! Gue ga nyangka!!"
"Dih, apaan sih kalian?? Siapa coba yang jatuh cinta??" Gibran tertawa. "Gue yakin Naura sama kaya mereka, dan gue akan meyakinkan kalian dalam dua minggu kedepan!! I'll win the bet, guys !!"
"Okey!! Dua minggu kedepan kita akan tau jawaban dari semua ini!! Apakah lo menang, dan apakah lo kalah karena lo yang punya perasaan ke dia bukan sebaliknya!" Tantang Aziel.
"Oke!! Siapa takut!!"
Tapi, lagi-lagi keraguan itu menghampiri hati Gibran. Apakah jawaban yang akan ia dapatkan dua minggu kedepan adalah jawaban yang ia inginkan?? Bagaimana jika sebaliknya??
Ah tidak. Ia harus yakin bahwa ia tidak mempunyai perasaan apapun kepada Naura. Setidaknya hanya itu keyakinan yang saat ini masih Gibran pegang. Semoga keyakinannya benar.
...πΌπΌπΌ...
...Hai readers!!...
...Gimana-gimana? Penasaran ga nih sama perasaan Gibran yang sebenarnya??...
...Pasti penasaran kan??π...
...Untuk mengetahui kebenarannya ikuti cerita ini sampai ending yaaπ...
...Terus dukung cerita ini ya guys!!...
...dengan cara Like+Komen+Vote+ dan Rate π 5 π...
...Agar author semangat updatenya π...
...Terimakasih juga buat yang udah mendukung karya ini β€οΈβ€οΈ...
...Seperti biasa, Komen di seluruh part cerita ini pasti akan mendapat feedback dari author!! π...
...Jan lupa share cerita ini sebanyak-banyaknya yaa, agar mereka bisa ikut baca kisah Gibran-Naura π€...
...Thank You β€οΈ...
...TO BE CONTINUED...