
..."Kebenaran terpahit adalah ketika kita mengetahui bahwa seseorang yang sangat kita percayai banggakan, ternyata telah habis-habisan membohongi kita." ...
...-Gibran Rahardian Kendrick-...
...๐ผ๐ผ๐ผ...
Setelah mengantarkan Naura pulang dengan selamat, Gibran melanjutkan perjalanannya menuju rumah Raka.
Di kepala Gibran saat ini dipenuhi pertanyaan terkait penyelidikan yang sedang mereka lakukan. Sungguh, pernyataan Kenzie tadi sedikit membuatnya khawatir.
"Ka, apa yang lo pikirkan terkait kasus ini?" ucap Gibran tiba-tiba. Sungguh awalan yang terucap begitu saja dari bibirnya.
"Kasus penculikan Naura?"
Gibran menjawabnya dengan anggukan.
Sebelum menjawab, Raka menarik nafasnya. "Sepertinya posisi Naura saat ini sedang tidak aman Gib. Entah siapapun itu yang mengincar keselamatan Naura, yang pasti gue ga akan tinggal diem atas hal itu."
Penuturan Raka membuat Gibran terdiam. Mungkin jika ia di posisi Raka jelas dirinya akan melakukan hal yang sama dengan lelaki itu. Karena memang keselamatan Naura adalah yang paling utama.
"Tapi sebelum penyelidikan kita mulai, kasus yang kita ajukan kemarin gatau kenapa di tutup sepihak oleh pihak kepolisian." lanjut Raka.
Ya, Kenzie yang melakukan semua itu. Ucapan Kenzie sore tadi kembali terputar di benak Gibran. Dan ia juga berpikiran yang sama dengan Kenzie. Sebaiknya teman-temannya tidak terlibat terlalu jauh dengan insiden yang diciptakan oleh papanya.
Tapi Gibran rasa Raka perlu tau atas apa yang sebenarnya terjadi. Siapa tau nantinya Raka akan menjadi penolong Naura jika dirinya tidak ada. Karena memang feeling Gibran saat ini sudah mulai tidak enak.
"Kalo gue ngomong satu kebenaran yang lain, apa lo bisa percaya Ka?" pertanyaan itu Gibran lontarkan saat mobilnya sudah berhenti tepat di depan rumah Raka.
"Kebenaran apa lagi yang harus lo ungkapkan Gib?"
"Sebenarnya... Bokap gue adalah dalang dibalik penculikan Naura."
Deg!
Kalimat yang barusan Gibran katakan berusaha di cerna dengan baik oleh Raka. Bagaimana jika pendengarannya saat ini yang keliru?
Raka tertawa. "Dark jokes banget sih lu Gib."
Gibran menatap Raka di sebelahnya dengan tatapan serius. "Gue serius Ka. Gue ga lagi bercanda."
Raka terdiam sejenak, ia berusaha mencerna lagi apa yang sudah dikatakan oleh Gibran.
"Tapi maksud lo apaan ha?! Motivasi apa yang bikin bokap lo sampe tega melakukan semua itu ke Naura?" suara Raka naik satu oktaf saat mengucapkan klimat tersebut.
"Bokap ga menyetujui hubungan kita." balas Gibran dengan suara memelan.
"Anjing! Kenapa ga lo bujuk bokap lo baik-baik Gibran!! Kalo lo bisa ngambil hati bokap lo, pasti dia ga bakal sampai merencanakan acara ga bener kayak gitu!!"
"Sepertinya ada hal lain yang membuat bokap gue kayak gitu Ka. Semuanya masih menjadi pertanyaan abu-abu di otak gue."
"Gue mohon bantu gue untuk melindungi Naura Ka. Gue ga yakin bisa sendiri dalam menyelesaikan masalah ini.Entah nanti akan berakhir seperti apa yang penting gue bisa memastikan Naura aman dan bahagia. Meskipun nantinya tidak bersama gue." Imbuh Gibran
Raka memejamkan matanya sejenak. Ia berusaha meredam emosinya yang sedikit meluap. Persoalan Naura akan selalu menjadi tanggung jawabnya.
"Kalo gitu, gue akan mendukung apapun keputusan yang lo buat Gib."
...๐ผ๐ผ๐ผ...
Besoknya, setelah Gibran memastikan bahwa saat ini adalah waktu yang tepat, akhirnya ia menyusup masuk ke ruangan Vito. Vito yang saat itu masih sibuk dengan meeting sampai nanti malam, membuat rencana Gibran berjalan dengan mulus.
"Gue pernah denger, Papa lo menyembunyikan semua kenangan bersama Papa gue di ruangan kerjanya. Jadi coba lo mencari tau mulai dari sana. Setelah lo mengetahui sendiri, lo boleh kembali menghubungi gue. Dan kita bisa membicarakan langkah selanjutnya yang harus kita ambil."
Suara Kenzie tempo hari kembali terputar di otaknya.
Gibran mengumpat pelan. Jujur ia bingung harus mencari di bagian mana. Karena tidak mungkin ia menelusuri semua sisi ruangan ini. Bisa-bisa nanti saat Papa nya pulang dirinya belum menemukan apa-apa.
Lelaki itu berjalan menyusuri rak buku di pinggir ruangan. Siapa tau Papanya menyimpan berkas penting itu diantara tumpukan berkas di lemari tersebut.
Namun, saat tangan Gibran tanpa sengaja memindahkan satu buku tebal disana, lemari tersebut mengalami pergerakan.
Gibran mundur satu langkah. Membiarkan lemari tersebut menggeser menampilkan sebuah pintu.
Seumur-umur Gibran hidup disini, ia tak pernah mendengar Papanya berbicara mengenai ruang rahasia atau apapun itu. Sehingga ini semua adalah hal diluar dugaannya.
Tanpa pikir panjang, Gibran langsung memasuki pintu hitam tersebut. Ia harus gerak cepat sebelum Papanya kembali.
Ruangan tersebut bercat abu-abu berbeda dengan ruangan kerja Papanya yang bercat putih bersih. Ia menyalakan lampu agar bisa melihat apa saja isi ruangan berukuran 3ร3 meter itu.
Ada sekitar 4 frame foto yang menggantung disana. Frame pertama sama seperti frame yang terpajang di ruang keluarga mereka. Ya, foto dimana menampakkan keluarga bahagia mereka disaat masih hadirnya sang mama.
Gibran bergeser untuk menyaksikan frame kedua. Frame tersebut menampilkan masa muda Papa dan Mamanya. Ya, Gibran langsung mengenalinya karena wajah kedua orang tuanya sangat persis dengan apa yang ia kenal selama ini.
Lalu, di frame ketiga Gibran melihat Papanya berfoto dengan seorang pria dengan pose pria tersebut merangkul akrab bahu Papanya.
"Apa dia Samuel? Papa Naura?" terka Gibran saat melihat keakraban kedua orang tersebut.
Asumsi Gibran semakin kuat saat melihat frame keempat. Menampilakan dua keluarga bahagia. Ya, keluarganya dan keluarga Naura. Karena terlihat dirinya saat masih kecil dan seorang gadis kecil yang duduk di sebelahnya.
Ah, ternyata sudah sedekat ini dirinya dengan Naura. Tapi mengapa semua seakan-akan tidak pernah ia ingat sebelumnya, terutama pertemuan dengan Naura.
"Kalau memang benar Papa sama Om Samuel sahabatan sejak dulu, kenapa Papa tega melakukan semua itu?" pertanyaan demi pertanyaan bermunculan di otak Gibran saat ini.
Untuk mendapatkan semua jawaban itu, Gibran memutuskan untuk membongkar isi lemari yang terletak di ujung ruangan. Tinggi lemari yang hanya sebatas pundaknya, membuat Gibran tidak kesusahan dalam membuka semua pintu lemari tersebut.
Ternyata seperti dugaannya, berkas-berkas lama yang Papanya simpan semua berada disini. Ia membaca sekilas semua tumpukan map coklat dan beberapa map lainnya. Semua map tersebut ternyata menyimpan seluruh rahasia yang selama ini Papanya sembunyikan.
Ada map yang sangat menyita perhatian Gibran. Yakni mengenai kasus kebakaran rumah keluarga Samuel, yang tak lain adalah keluarga Naura.
Tubuh Gibran seketika melemas saat melihat tuntas isi berkas kasus tersebut. Rupanya tak hanya satu map yang membahas terkait kebakaran sepuluh tahun silam. Masih ada sekitar 2 map lainnya.
"Apa yang Papa pikirkan saat itu Pa?"
Gibran tak habis pikir atas keputusan yang Vito buat sepuluh tahun lalu. Sebenarnya apa yang membuat Papanya tega melakukan hal se kejam itu kepada Naura dan keluarganya?
Di tengah-tengah tumpukan berkas tersebut, Gibran membaca satu kalimat yang membuat pertanyaan dikepalanya semakin membesar.
Akuisisi Samudra Corp.
Karena rasa penasaran Gibran berada pada puncaknya, ia langsung membuka berkas tersebut. Ada beberapa surat penting bermaterai disana dan tanda tangan Vito menimpa di atasnya.
Gibran sangat heran, mengapa dirinya sama sekali tak pernah mengetahui akan akuisisi perusahaan Papa Naura?
Sungguh, Gibran sangat kecewa dengan kebenaran yang ia ketahui saat ini. Saat ini semua sangat rancu di otaknya. Tentang kematian Samuel, akuisisi Samudra Corp, dan balas dendam yang dilakukan Kenzie. Tapi ia tau persis bahwa semua itu ada kaitannya. Begitu pula mengapa Papanya selama ini sangat tidak merestui hubungannya dengan Naura.
Tanpa sadar Gibran meremas kertas di tangannya. Entah kenapa emosinya saat ini bercampur aduk menjadi satu. Kecewa sekaligus marah akan apa yang Papanya lakukan.
Berada di posisi ini membuat dirinya merasa semakin bersalah kepada Naura yang notabene tak tau apa-apa mengenai hal ini. Gadis itu terlalu polos untuk mengetahui semua kebenarannya.
Entah mau Gibran taruh mana muka nya jika berhadapan dengan Naura. Sebagai anak Vito, dirinya juga memikul seluruh kesalahan yang sudah Papanya lakukan di masa lalu.
Tak lama setelah itu, tangan Gibran mencari nomor seseorang yang ia rasa bisa ia ajak bicara mengenai hal ini. Tanpa pikir panjang ia langsung mendial nomor tersebut.
"Bang, semua keabu-abuan ini semakin jelas. Gue ga nyangka kalo Papa bener-bener membunuh Papa lo." Suara Gibran terdengar parau saat mengucapkan itu lewat telepon.
Di sebrang sana Kenzie terdiam sejenak. Sepertinya Gibran telah mengetahui semua yang selama ini Vito sembunyikan.
"Malam ini gue tunggu di cafe kemarin." ucap Kenzie singkat dan langsung menutup panggilan tersebut.
...๐ผ๐ผ๐ผ...