Evanescent

Evanescent
Mengakhiri Luka



..."Kamu tau? Hal tersulit yang pernah aku lakukan ialah, melepas kamu disaat hati tak ingin jauh darimu." ...


...-Revan Adyan Nughroho-...


...🌼🌼🌼...


"Gue tau yang dimaksud Serinda. Dan gue bisa jelasin ke kalian." Bukan Serinda yang berkata. Melainkan Raka. Karena ia pikir sekarang adalah saat yang tepat untuk ia mengatakan segalanya yang ia tau.


"Raka, maksud lo apa? Jangan bilang selama ini ada sesuatu yang kalian sembunyiin dari kita?" Tanya Bryan dengan tatapan curiga.


Sebelum mulai bercerita, Raka menatap ketiga temannya secara bergantian. "Sorry kalau selama ini gue belum bisa ngomong yang sejujurnya ke kalian. Tapi, gue rasa perbuatan Revan kali ini sudah diluar batas."


Raka menceritakan semuanya yang ia tau kepada mereka. Tak hanya Bryan, Dika, dan Aldo yang terkejut. Tetapi hal ini juga sangat mengejutkan bagi Naura dan Alissa.


"Ka, lo seharusnya cerita ke kita. Biar kita bisa perbaiki sama-sama. Dan mungkin kita bisa cegah apa yang terjadi hari ini." Ucap Dika.


Mereka sudah menjalin hubungan kurang lebih 6 bulan yang lalu? Tapi kenapa Reina tak pernah cerita apapun soal Revan? Dan waktu pertama kali mereka ke GOR, kenapa Reina sok tidak peduli dengan Revan yang jelas-jelas juga termasuk kedalam tim Raka.


"Gue yakin ini cukup mengejutkan bagi kalian." Kata Raka kepada Naura dan teman-temannya. "Tapi sebagai pacar, Reina ga bisa memaksa Revan untuk segera mempublish hubungan ke banyak orang, terutama ke kalian. Tapi tenang aja, selama mereka pacaran Revan ga pernah menyakiti fisik Reina." Lelaki itu menjeda ucapannya.


"Tapi... Gue ga yakin dengan apa yang Revan--"


BUGH!!


Sebelum menyelesaikan ucapannya, Raka tiba-tiba saja mendapat serangan dari Aziel yang sudah terlanjur tenggelam dalam emosi.


"BANGSAT!! BALIKIN REINA SEKARANG!!"


"KALO MAU BALES DENDAM KE KITA GAUSA BAWA-BAWA CEWEK ANJING!!!"


Raka hanya diam. Ia tak berhak membalas pukulan bertubi-tubi yang lelaki itu berikan.


"Aziel cukup!!!" Naura tak tinggal diam, ia berusaha melerai kedua lelaki itu. Dan berharap Aziel segera menyudahi aksinya.


Aziel melempar kasar tubuh Raka hingga tubuhnya menghantam lantai.


"Gue sekarang tanya, dimana kalian nyembunyiin Reina hah??!"


"Zi, udah. Kita bicarain dengan kepala dingin. Lo udah kalut dalam emosi, kalo lo terusin endingnya ga bakal baik." Kata Gibran dengan menarik mundur Aziel.


Dengan dibantu Bryan, Raka berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Pukulan Aziel tak bisa dianggap remeh. Beberapa bagian tubuhnya berhasil terkena serangan Aziel, terutama wajah.


"Kita ga ada sangkut pautnya dengan kehilangan Reina. Tapi, gue rasa sebagai pacarnya, Revan lebih tau dengan apa yang terjadi kepada Reina." Jelas Raka dengan menahan sakit saat merasakan perih mulai menjalar di pipi serta bibirnya.


Pacar? Apa Aziel tak salah dengar?


Emosi menggebu yang lelaki itu rasakan seketika menguap, digantikan dengan rasa kekecewaan yang cukup mendalam.


Setelah dipikir-pikir, Aziel jadi paham kenapa saat itu Reina menolaknya. Ah, ternyata selama ini cintanya hanya berlaku sepihak. Apakah memang semenyakitkan ini saat merasakan cinta tanpa mendapatkan balasan.


Selama ini perasaannya terus tumbuh. Sedangkan Reina? Perasaan gadis itu akan selamanya tumbuh untuk hati yang bukan miliknya.


Gibran melirik sekilas kearah Aziel. Perubahan raut muka lelaki itu sangat kentara. Tanpa bertanya pun ia tau jika sahabatnya satu sedang merasakan pahitnya patah hati.


"Jadi, dimana kita bisa nemuin Reina?!" Tanya Gibran to the point.


...🌼🌼🌼...


"Maafin aku Rei... Maafin aku...." lirih Revan dengan penuh penyesalan.


"Maafin aku karena belum.bisa menjadi pacar yang baik buat kamu..."


"Maafin aku yang terlambat menyadari perasaan ini..."


"Maafin aku karena tidak pernah memenuhi ekspektasi kamu...."


"Maafin aku yang selalu menyakiti kamu dengan tempramen buruk ku....."


Perlahan, Reina menyibak bad cover yang menutupi tubuhnya, lalu ia turun dari kasur tersebut. Kemudian menghampiri Revan yang terduduk di depan kaki kasur.


"Maafin akuu Rei...."


"Karena udah tega memiliki niat sebejat itu....."


Reina sontak langsung memeluk lelaki berkaos hitam itu. Pelukan hangat Reina sama sekali tak bisa Revan tolak.


"Aku ga pantes jadi pacar kamu Rei...."


"Cowok brengsek seperti aku ga pantes dapetin cewek sebaik kamu..." Setelah mengucapkan itu, entah kenapa tangisan yang sejak tadi Revan tahan, tumpah begitu saja. Berada di pelukan Reina semakin membuat dirinya rapuh.


"Aku udah maafin semuanya tanpa kamu minta Van. Sebanyak apapun kamu menyakiti aku, perasaanku tetap sama." Tangan Reina menepuk-nepuk punggung Revan untuk sedikit menguatkan lelaki itu.


"Terlalu besar perasaan ini tumbuh, semakin membuat aku terlihat bodoh karena tunduk kepada cinta."


"Semalem, ga hanya kamu yang salah Van, tapi aku juga. Makasih ya udah mau mengontrol diri kamu disaat aku sendiri ga bisa ngontrol diri aku."


Revan semakin menyembunyikan tangisnya dibalik tengkuk gadis itu. Selama ini, ia belum pernah kembali menangis seperti ini, sejak terakhir kali ia menangis dihari duka beberapa tahun silam.


"Rei... Aku rasa udah saatnya menceritakan ini ke kamu." Ujar Revan sesaat setelah ia melepaskan diri dari pelukan hangat yang Reina berikan.


Reina tersenyum. Setelah beberapa bulan mereka pacaran, sisi Revan yang selama ini ia tunggu akhirnya muncul.


"Aku selalu siap mendengar cerita kamu Van." Kata gadis itu.


Revan menarik nafasnya, sebelum akhirnya ia memulai bercerita.


"Kamu tau... Mama aku udah meninggal beberapa tahun lalu. Tepatnya 100 hari setelah kematian abang aku, Reynal."


"Mama aku meninggal karena penyakit jantungnya. Sedangkan bang Reynal.... Dia meninggal dalam kecelakaan tunggal."


"Tahun itu, adalah tahun terberat bagi bang Reynal. Banyak hal yang terjadi. Dan.... Insiden waktu itu berhasil membuat dendam yang selama ini aku simpen, tumbuh semakin besar." Revan menatap manik mata Reina yang juga menatapnya lekat.


"Dendam itu, membuat aku lost control seperti apa yang hampir aku lakuin ke kamu semalem Rei...." Tatapan Revan kembali terlihat sendu. Mengingat apa yang terjadi semalam, seperti kembali mencabik-cabik hatinya.


"Masa depan bang Reynal seketika hancur hanya karena satu cewek bangsat yang gatau diri setelah menerima banyak ketulusan dari abang aku."


"Cewek itu tega hianatin cinta bang Reynal. Dia menyebarkan kepalsuan bahwa dirinya telah.... Diperkosa oleh bang Reynal...." Kepala Revan menunduk. Kalimat ini terlalu sulit untuk ia ucapkan. Hanya dengan mengingatnya saja tiba-tiba luka itu perlahan kembali terbuka.


"Kamu tau, cewek itu... adalah salah satu siswi di SMA Xavier...."


"And ya... Karena emosi aku waktu itu belum stabil, jadi aku memutuskan untuk balas dendam ke anak Xavier.... Dan disaat itulah aku ketemu kamu."


"Setelah apa yang kita jalani selama ini, aku sadar, bahwa kamu terlalu baik untuk aku yang seperti ini Rei...." Kata Revan sembari menatap lekat mata Reina.


"Aku cinta kamu... Tapi perasaan ini ga akan pernah bisa menutup kesalahan yang aku perbuat ke kamu..."


"Rei... Aku ga mau nyakitin kamu melebihi ini.... Aku ga mau kamu terluka lebih dalam lagi.... Dan aku ingin kamu bahagia meskipun itu bukan sama aku...."


"Enggak Rei.... Aku takut, takut jika suatu hari tanpa sadar aku nyakitin kamu. Cukup sampai hari ini aku menorehkan luka yang bisa membuat kamu terluka..."


Revan menggenggam tangan Reina dengan penuh kasih sayang. "Setelah semua yang terjadi.... Aku harap ini keputusan yang terbaik untuk kita Rei.... Kita butuh waktu tenang untuk memperbaiki semua ini Rei...."


"Jujur... Ini juga sulit buat aku... Tapi aku ga bisa terus-terusan egois Rei... Cewek sebaik kamu, pantes dapat cowok yang lebih baik daripada aku...."


Revan menarik nafasnya sebelum mengatakan kalimat terakhir.


"Kita udahan dulu ya Rei.... Aku rasa ini pilihan terbaik buat kita..."


...🌼🌼🌼...


Setelah Raka mengatakan tempat yang kemungkinan besar mereka bisa menemukan Reina, mereka pun tanpa pikir panjang langsung melesat menuju lokasi tersebut. Meninggalkan Dika dan Aldo yang harus menyelesaikan urusan di sekolah.


Di depan pagar rumah yang cukup besar itu, Naura menarik nafas sedalam mungkin. Ia belum siap atas kemungkinan terburuk yang bisa terjadi kepada sahabatnya itu.


"Ga Ra, lo ga boleh berpikiran yang aneh-aneh. Percaya kalo Reina ga akan melakukan itu." Yakin Naura dalam hatinya.


Beda Naura beda pula dengan Aziel. Emosi laki-laki itu sudah tak tertahankan disaat ia memarkirkan motor di depan rumah Revan. Oleh krena itu, tanpa menunggu lagi, ia segera masuk ke rumah lelaki yang berani menyakiti Reina.


Melihat Aziel yang sudah diselimuti amarah, Gibran, Raka dan juga Bryan segera menyusul lelaki itu. Mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.


Beruntung, pagar serta pintu utama rumah tersebut tak terkunci, sehingga mereka bisa langsung masuk tanpa menunggu dibukakan oleh tuan rumah.


"REVAN!! KELUAR LO ANJ*NGG!!!!" Teriak Aziel saat baru memasuki rumah lelaki itu.


"JANGAN JADI PENGECUT LO!! KELUAR BANGS***!!!"


Bohong jika Revan mengatakan tak mendengar teriakan itu. Lelaki yang baru keluar dari dapur untuk mengambil segelas jus itu langsung bergegas mendekati sumber suara. Ya, meskipun ia sangat tau siapa yang siang-siang begini berani melabrak rumahnya. Sudah pasti karena Reina bukan?


Saat mata Aziel menangkap sosok Revan di ruang keluarga milik lelaki itu, tanpa pikir panjang ia langsung melayangkan pukulan kearah wajah lelaki itu.


Revan yang tak siap langsung kehilangan keseimbangan dan berakhir tersungkur, dengan gelas yang terlempar tak jauh darinya.


"Zi jangan pake emosi!!" Tegur Gibran dengan menahan lengan lelaki itu.


"Gue ga bisa ga emosi kalau tentang ini Gib!!"


"Aziel, gue tau maksud lo, gue bisa jelasin semuanya!!" Ujar Revan sembari berusaha bangkit.


"LO MAU JELASIN APA LAGI HAH?! MAU JELASIN KALO SEMALEM LO UDAH NIDURIN REINA GITU?!"


"BANGS*T!!" Aziel kembali melayangkan pukulan ke tubuh Revan. Meskipun sakit, tapi Revan memilih tak melawan. Ia sadar, karena ia pantas mendapatkan ini.


Raka dan Bryan memilih tak ikut campur. Mereka tak ingin membela Revan bukan karena mereka sudah tak menganggap lelaki itu sebagai sahabatnya. Melainkan mereka juga ingin Revan dihukum atas perbuatan yang nekad ia lakukan.


"PERCUMA LO SEKOLAH PAKE OTAK TAPI KALO SOAL GINI OTAK LO GA LO GUNAIN!!"


Disamping itu, Reina yang sedang berganti pakaian serta beberes barangnya di kamar Revan pun mendengar kericuhan yang terjadi di lantai bawah. Setelah kejadian yang membuat mereka mengakhiri hubungan, Revan memutuskan untuk mengantar Reina pulang. Sehingga ia bisa menjelaskan apa yang terjadi kepada mama gadis itu.


Setelah selesai, gadis itu segera keluar untuk memastikan apa yang terjadi. Ia sangat terkejut saat melihat banyak luka yang diterima Revan. Tanpa pikir panjang ia segera berlari untuk menengahi perkelahian tersebut.


"BERHENTI!!!" Teriakan gadis itu berhasil menyita perhatian beberapa orang yang berada disana. Tak terkecuali Aziel.


Melihat itu Aziel langsung menarik pukulannya yang hampir mengenai wajah lebam Revan.


"Kenapa kalian main hakim sendiri sih?! Apa kalian dapet manfaatnya setelah mukulin Revan ha?!"


"Reina... Lo ga papa?" Tanya Serinda yang berjalan mendekati gadis itu.


"Tenang aja, kedaan gue lebih baik dari yang kalian pikir."


"Gue tau kalian khawatir, tapi setidaknya kalian jangan asal pukul sebelum mendengar penjelasan dari Revan dan gue." Tukas Reina sembari melemparkan tatapan kearah orang yang berada disana.


Reina membantu Revan untuk bangkit, namun ditolak oleh lelaki itu.


"Kamu sebaiknya pulang sama mereka Rei...." Lirihnya. "Aku baik-baik aja kok, jadi gausa khawatir."


"Nggak. Aku harus ngerawat luka kamu dulu Van."


"Reina, ada gue sama Bryan yang bakal rawat Revan. Lo tenang aja." Sahut Raka.


"Iya Rei, bener kata Raka. Kamu pulang ya?" Bujuk Revan sekali lagi.


Melihat senyum yang terlihat tulus di wajah Revan membuat Reina luluh. Akhirnya ia menyetujui untuk ikut pulang bersama teman-temannya.


Karena Reina memilih untuk pulang, Aziel tak lagi menghabisi lelaki itu. Emosinya pun semakin mereka saat sudah melihat sosok Reina baik-baik saja.


Setelah keenam orang itu pergi, Raka dan Bryan segera membopong tubuh Revan keatas sofa.


"Bentar, gue ambilin obat dulu." Bryan beranjak untuk mengambil kotak obat milik Revan yang kebetulan ia tau letaknya.


"Lo tau... Akhirnya semalem gue bisa mengontrol niat buruk gue." Lirih Revan sembari menyandarkan punggungnya pada sofa.


"Jadi semalem lo......"


Revan mengangguk pelan. "Bener kata lo Ka, Reina terlalu baik untuk gue jadiin objek balas dendam. Dan.... Tanpa gue sadari perasaan gue semakin tumbuh seiring berjalannya hubungan kita."


"Gue semalem sadar, mungkin jika bang Reynal tau keputusan gue seperti itu, gue yakin disana dia ga bakal tenang. Melihat sifat arogan adiknya ini gue yakin ga bakal bikin dia suka, dan malah bisa bikin dia kecewa berat sama gue."


Raka terdiam. Ia memilih mencermati setiap kata yang Revan ucapkan. Karena ia yakin, saat ini Revan hanya butuh teman untuk mendengar kata hatinya.


"Gue kasihan sama Reina. Sebagai pacar, gue ga bisa memperlakukan dia dengan semestinya. Jujur, gue nyesel. Andai waktu bisa diulang, gue bakal menjalani hubungan yang sehat dengan Reina."


"Karena gue ga tega liat dia terluka jika gue terus berada di sisinya, akhirnya gue memutuskan keputusan terberat di hidup gue." Revan menarik nafasnya sebelum melanjutkan ucapannya. "Gue mutusin Reina disaat perasaan gue sedang berada di titik gue ga mau kehilangan dia, Ka."


...🌼🌼🌼...


...Hallo kawan!!...


...Semoga dapet feelnya yaa😉...


...Yuk tulis di kolom komentar tentang perasaan. kalian baca part ini!😍...


...Nantikan part-part selanjutnya yang tentunya lebih seruu☺️...


...Jangan lupa selalu dukung authorr dengan beri like sebanyak mungkinn❤️❤️...


...See you next part...


...To Be Continued...


...Follow ig @kata.author...