Evanescent

Evanescent
Pengakuan Terbodoh



..."Gue cinta sama lo, tanpa menuntut balasan. Memang sesederhana itu pilihan yang telah hati gue tentukan. Asal lo bahagia, gue rela menerima luka ini."...


...-Aziel Candra-...


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


Brak!!


Pria itu melempar sembarang kotak hitam yang beberapa saat lalu berada di atas mejanya.


"Siapa pengirimnya?!!" Tanyanya sedikit membentak kepada satu lelaki yang sepertinya adalah anak buah pria tersebut.


Lelaki berpakaian serba hitam itu menunduk. Memang ini bukanlah pertama kali, tapi aura bengis yang majikannya keluarkan sangat mengintimidasi.


"Maaf tuan, kurir yang mengirimkan tidak mengatakan siapa pemberi paket itu. Dan tanpa mengetahui isinya, pegawai lobby mengantarkan langsung kepada saya untuk disampaikan ke tuan." Jawab lelaki itu sekenanya. Bukan mengada-ngada, tapi memang itulah yang terjadi beberapa jam lalu, tepatnya saat sebelum jam makan siang dilaksanakan.


Tatapan tajam nan menusuk itu masih diperlihatkan oleh pria itu. Kotak hitam tersebut berhasil menaikkan emosinya.


"Cari tau asal dari paket ini, dan pastikan tidak ada paket serupa yang diterima oleh pegawai lantai bawah!!"


"Baik tuan." Balas lelaki itu lalu segera membereskan box hitam yang tergeletak di lantai, dan setelahnya pun ia segera meninggalkan kantor bosnya.


Beberapa menit kemudian, pria tadi berjalan kearah jas yang ia gantung di pojok kiri meja kebesarannya. Lalu ia kenakan jas tersebut untuk membaluti kemeja serta rompi di tubuhnya.


Ini bukan kali pertamanya menerima paket mencurigakan, atau bisa dibilang ancaman yang dikemas di dalam box paket. Tapi ia rasa insiden seperti tadi hanya gertakan bukan sepenuhnya ancaman. Tapi tak ada satupun dari mereka yang berhasil menjalankan rencananya. Hal serupa ia yakin juga akan terjadi pada peneror kotak hitam itu.


Mobil hitam yang beberapa saat lalu terparkir di basement memecah keramaian jalan raya. Pukul 3 sore adalah dimulainya waktu meeting yang telah ia rencanakan bersama rekan kerjanya. Maka dari itu ia sudah tak lagi memikirkan masalah box hitam di kantornya tadi. Toh melayani peneror itu tak ada manfaatnya juga buat dirinya.


Rupanya semesta memiliki rencana lain. Truk di jalan yang berlawanan arah terlihat sedang menyalip mobil di depannya. Namun, sayangnya jarak antara mobil hitam yang pria itu tumpangi tak jauh. Sehingga demi meminimalisir tabrakan, supir pribadinya memilih untuk membanting stir, menghindari truk yang seakan-akan siap menghantamnya.


BRAK!!!!


Namun naas, bukannya selamat tapi mobil hitam keluaran terbaru itu malah menghantam pohon bringin yang cukup besar di samping jalan Raya. Dua orang yang berada di mobil itu seketika tak sadarkan diri setelah kepala mereka menatap benda keras di depannya.


Kecelakaan siang itu adalah tragedi yang cukup parah. Tapi beruntung, karena kedua penumpang tersebut tak sampai kehilangan nyawanya. Dan beberapa menit kemudian, mobil polisi, serta ambulan tiba area kecelakaan itu.


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


Bersama Gibran, Naura mengelilingi salah satu pusat oleh-oleh yang kunjungi oleh rombongannya. Ini adalah tempat kedua yang mereka kunjungi setelah pusat perbelanjaan yang juga mereka kunjungi kemarin siang.


Semua murid maupun guru berpencar memenuhi pusat perbelanjaan yang cukup luas itu. Tak terkecuali dua orang tersebut. Sejak kemarin Gibran memang selalu menempel dengan Naura. Kemanapun Naura pergi pasti ada dirinya. Oleh karena itu teman-teman Naura maupun Gibran sadar diri. Mereka memilih berpencar, dan membiarkan keduanya bersama. Maklum lah ya lagi falling in love.


"Mau kemana lagi?" Tanya Naura kepada Gibran yang berjalan di sebelahnya.


"Lo mau kemana?" Bukannya menjawab, Gibran malah balik bertanya.


Naura berdecak. Balasan dari Gibran sedikit menyebalkan baginya.


"Gue tu nanya ke lo Gib, eh malah elo nanya balik, gimana sih?"


"Kan gue ngikut elo Ra, jadi ya terserah lo mau kemana."


"Dahlah serah lu aja Gib. Nyesel gue nanya gitu."


"Eh jangan gitu lah Ra. Emang lo uda bener-bener selesai belanja?"


Naura mengangguk. "Udah. Karena gue kemarin udah terlalu banyak belanja, jadi sekarang cuma mau beli pie sama aksesoris aja Gib."


"Oh gitu." Mata Gibran menelusuri beberapa area di sekitarnya. Dan ia akhirnya menemukan tempat yang ingin ia kunjungi. "Yaudah yuk ikut gue." Ia menarik pelan lengan Naura.


Ternyata tempat yang Gibran maksud adalah tempat dimana terdapat banyak pilihan dream catcher. Benda dengan digantungi banyak bulu itu menggantung di beberapa sisi lorong tersebut.


"Lo mau beli dream catcher?" Dan Gibran langsung mengangguk menjawab pertanyaan Naura.


"Emang, lo suka mimpi buruk ya Gib? Kenapa pake beli penangkal mimpi segala." imbuh Naura.


Gibran terkekeh. "Enggak kok. Mimpi gue indah terus malah. Karena setiap gue tidur, lo selalu ada di setiap mimpi gue."


Naura mendengus. "Serah lu deh Gib."


"Canda Ra canda. Sebenernya gue pengen beliin buat lo."


Naura pun langsung menoleh kearah Gibran yang masih sibuk memperhatikan beberapa dream catcher yang menggantung di sekitarnya. "Kenapa buat gue?"


Gibran mengambil 3 buah dream catcher yang menurutnya bagus. Lalu berbalik arah kearah Naura.


"Anggep aja dream catcher ini adalah gue yang selalu menjaga di setiap tidur lo Ra. Jadi, lo ga perlu merasa takut mimpi buruk atau apalah itu."


"Tenang aja Gib, gue kalo mau tidur baca doa dulu kok. Jadi ga perlu lo jaga pun gue udah dijaga sama yang diatas."


"Haish! Itu cuma kiasan Naura!! Intinya gini, gue cuma pengen ngasih lo sesuatu, oke?"


"Yaudah deh serah lu aja."


"Nah gitu dong." Gibran menunjukkan ketiga dream catcher yang tadi ia pilih ke hadapan Naura. "Jadi, dari ketiga ini lo pilih yang mana?"


Naura tampak berpikir. Ketiga pilihan yang Gibran berikan bagus semua. Tak heran jika ia sedikit lama sebelum memutuskan dream catcher mana yang ia pilih.


Dan pilihan Naura jatuh kepada dream catcher berwarna putih dengan bulu tosca abu yang menggantung dibawah. Cukup simpel dari ketiga pilihan yang lain. Tapi Naura suka.



Setelah Naura memilih, mereka langsung mengantri di kasir. Saat dikasir pun lagi-lagi ada percecokan diantara mereka. Gibran yang ngotot membayari belanjaan Naura, dan Naura dengan tegas pula menolak tawaran lelaki itu. Dan akhirnya Gibran pun mengalah. Ia membiarkan Naura membayar belanjaan miliknya.


Sepuluh menit mereka habiskan di antrian kasir. Setelah itu keduanya memilih beristirahat di rest area sebelah parkir bus.


Kali ini Naura menerima tawaran Gibran, saat lelaki itu ingin membelikan dirinya es krim. Kalau soal es krim mah Naura susah nolaknya. Apalagi pas siang menjelang sore gini. Ga kuat atuh imanya.


Mungkin beristirahat disini adalah pilihan yang tepat sembari menunggu teman-temannya keluar dari tempat menyesakkan itu. Kurang lebih seperti itulah pikir Naura.


Gibran menyaksikan dengan seksama perempuan yang duduk di depannya ini. Saat ******* es krim seperti ini, Naura bisa sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Dimata Gibran, tingkah Naura itu paket komplit banget. Kadang jutek, kadang cerewet banget, kadang diem, dan terkadang gadis itu sangat ramah ke siapapun. Kalo gini, makin sayang dong Gibrannya.


Tanpa diperintah tangan Gibran terulur kearah Naura. Menghapus pelan sisa es krim yang tertinggal di sudut bibirnya.


"Eh enak aja! Siapa suruh lo ngusapin? Kan gue juga bisa ngebersihin sendiri." Sewot Naura membalas ucapan Gibran.


"Lah ternyata mereka udah disini guys." Suara Alissa terdengar oleh Gibran dan juga Naura.


Alissa dan lima orang lainnya berjalan mendekati kedua orang itu. Lalu duduk sembarangan di sekitar Naura dan Gibran.


"Kita kira kalian masih di dalem tau ga!" Ujar Mahesa sembari asal mencomot es krim di tangan Gibran.


"Eh dugong! Ga punya akhlak banget ye lu! Dateng-dateng main nyomot es krim gue!" Gibran menjitak pelan kepala Mahesa yang terlewat seperti tak ada dosa itu.


"Abisnya gue haus banget Gib. Lagian sedekah ke temen juga besar lo pahalanya."


"Bilang aja lo males beli!" Sahut Darrel.


"Suka bener ya lu nying."


"Ah ya, habis ini kita ga kemana-mana lagi kan?" Tanya Serinda menatap beberapa orang yang ada disana.


"Iya Ser. Di buku panduan sih jam 16.00 udah istirahat di hotel gitu." Jawab Reina yang duduk di sebelahnya.


"Kalo gitu, gimana kalo kita ke pantai depan hotel? Itung-itung nikmatin senja terakhir di Bali." Aziel tampak excited saat menyarankan itu.


"Good idea boscu!!" Timpal Darrel yang rupanya sepemikiran dengan Aziel.


"Gimana-gimana? Kalian pada setuju kan?" Tanya Aziel sekali lagi untuk memastikan. Dan mereka yang disana pun serentak menganggukkan kepala. "Nah sip!! Pokoknya jam 5 nanti kalian harus udah ke pantai!!" Tegasnya.


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


Seperti yang mereka jadwalkan tadi. Tepat jam 5 sore, delapan orang itu tiba di titik kumpul.


Sunset adalah pemandangan yang banyak ditunggu oleh kebanyakan orang di dunia. Karena memang pemandangan senja seindah itu.


"Sendirian aja nih neng?!" Celetuk Aziel saat berada di sebelah Reina.


Melihat Reina duduk sendirian seperti tadi membuat sisi perhatian di dirinya seketika muncul. Aziel sendiri heran, kenapa tiba-tiba ia menjadi memiliki rasa kepada Reina.


Awal yang hanya candaan itu siapa sangka menjadi keseriusan. Tapi sayangnya sang perempuan masih tetap berada ditempat. Entah memang dirinya tak peka, ataukah memang ia tak berniat membalas Aziel walaupun tau yang sebenarnya.


Jangan kalian pikir Aziel adalah cowok setipe dengan Gibran. Berteman lama dengan Gibran tak serta-merta menjadikan dirinya cowok se playboy lelaki itu.


Seumur hidupnya, ia hanya pernah berpacaran dua kali. Dan dua duanya ia dicampakkan. Entah karena si cewek telah menemukan yang lebih baik dari dirinya, ataukah karena cemburu karena Aziel adalah tipe orang yang friendly ke semua orang, tak terkecuali kaum hawa, dengan garis bawah hanya menganggap mereka sebatas teman. Tidak lebih. Tapi sayangnya hal itu disalah artikan oleh mantan keduanya. Dan membuat hubungan mereka berakhir.


Reina melirik kehadiran Aziel dengan ujung matanya. "Kelihatannya?"


"Ya sendirian." Kemudian Aziel tertawa pelan. "Jadi, gue boleh duduk disini kan?"


"Pantai ini juga bukan milik gue Zi, jadi kalo lo mau duduk ya duduk aja, gausa izin."


"Iya sih."


Berada disamping Reina seperti ini, ternyata berhasil membuat laki-laki seperti Aziel kikuk. Padahal ia bukanlah tipe orang yang seperti ini. Dimana dan bersama siapapun ia terbiasa membawa diri.


"Lo kenapa milih duduk disini Rei? Ga ikut sama Serinda sama Aliss disana?"


"Karena view sunset disini lebih indah." Jawab Reina singkat.


Bisa gitu ya? heran Aziel terhadap jawaban Reina.


"Oh gitu." Aziel merubah posisi duduknya menjadi lebih santai dari sebelumnya. Ia menggunakan kedua tangannya sebagai tumpuan tubuhnya. "Kalo gitu gue juga mau coba nikmatin senja yang lo maksud Rei."


Ada Aziel disampinya membuat Reina tak tenang. Sejak kejadian itu ia sudah memutuskan untuk menjaga jarak dengan siapapun yang mencoba mendekatinya. Terutama Aziel.


"Ee Rei, gue mau ngomong sesuatu boleh?" Lirih Aziel. Ia sendiri masih belum yakin apakah ini pilihan yang tepat untuk ia ambil ataukah sebaliknya. Tapi, setidaknya dirinya sudah mencoba yang terbaik untuk perasaannya.


"Ngomong apa?"


Aziel lagi-lagi merubah posisi duduknya. Kali ini ia sedikit memiringkan tubuhnya kearah Reina. Matanya pun menatap dalam perempuan itu.


"Gue mau ngomong, kalo sebenernya candaan yang gue ucapin kemarin ga sepenuhnya bercanda Rei." Aziel meraih tangan Reina. "Gatau sejak kapan gue jatuh cinta sama lo Rei. Dan sejak saat itu gue mulai berharap kalo cinta gue lo bales. Jadi, lo mau ga jadi pacar gue?" Iris matanya semakin dalam menatap iris milik Reina.


Deg!


Mata Reina membulat, dan ia bersusah payah untuk menelan ludah di kerongkongannya. Karena memang pengakuan dadakan yang Aziel lakukan ini berdampak besar bagi hati serta tubuhnya. Kenapa Aziel harus melakukan ini disaat yang tidak tepat?


Drrt... Drrt...


Getaran ponsel yang Reina rasakan itu seperti penyelamat hidupnya. Ah ataukah sebaliknya? Tapi setidaknya karena ini ia bisa bebas dari atmosfer menegangkan disekitarnya.


Reina sontak menepis pelan tangan Aziel. "Ee Zi, kayaknya gue harus pergi dulu deh. Karena gue rasa, harus angkat telepon ini. Dan, sorry, gue ga bisa bales perasaan lo." Akhinya penolakan halus itu keluar dari bibir Reina. Karena memang harus jawaban itu yang ia berikan ke Aziel. Jika tidak, ia sendiri tak tau akan menjadi apa kedepannya nanti.


Lelaki itu menatap nanar kepergian Reina. "Bego! Tolol! Bodoh! Seharusnya lo ga buat pengakuan hari ini Aziel!!" Maki Aziel kepada dirinya sendiri. Jika tau akan berakhir seperti ini, pasti tadi ia tidak akan memutuskan hal itu.


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


...Hi readers!...


...Jangan bosen-bosen baca cerita ini yaa!!...


...Karena masih banyak kejutan-kejutan yang bisa mengaduk perasaan kalian๐Ÿ˜Š...


...Terimakasih author ucapkan untuk kalian yang udah bersedia membaca cerita ini, memberi vote, dan selalu setia mendukung jalannya cerita ini โค๏ธ...


...Untuk kalian yang belum like, komen, vote, dan rate, diharapkan untuk melakan itu ya ๐Ÿ˜Š karena dukungan yang kalian berikan, akan membuat author semakin semangat ๐Ÿ˜...


...Jangan lupa nantikan part selanjutnya guys!! Dijamin makin baper deh di part 19 ๐Ÿฅฐ...


...Thank you all!!โค๏ธโค๏ธ...


...See you...


...To Be Continued...