
..."Terimakasih untuk semuanya, malaikat kecil ku. Karena kamu, aku bisa bertahan hingga titik ini." ...
...-Naura Azkia P-...
...🌼🌼🌼...
Saat itu tepat setelah 100 hari kematian ayah Naura, Claudia memutuskan untuk membawa kedua anaknya pindah kota. Dan inilah awal dari kehidupan baru yang akan Naura jalani.
Tak seperti sekolah lamanya, disini Naura merasa seperti orang asing. Disaat mereka bergerombol dengan teman-temannya, Naura hanya duduk diam ditempat. Tak ada yang bisa ia ajak bicara ataupun bercanda.
Mungkin wajar bagi murid kelas 2 SD berperilaku seperti itu. Berperilaku acuh pada orang asing yang tiba-tiba menjadi teman sekelas mereka.
"Dek, temen-temen kamu disekolah gimana?" Tanya Kenzie kepada adik kecilnya itu.
"Baik-baik kok bang! Abang gausah khawatirin Naura ya?"
Kenzie mengelus pelan rambut Naura kecil. "Kalo ada yang ganggu kamu, bilang sama abang ya? Nanti biar abang hajar orang itu!"
Naura kecil tertawa. "Iya bang siap!!"
Nyatanya jawaban yang Naura buat saat itu hanyalah kebohongan kecil yang ia buat. Meskipun memang tak ada yang menjahatinya, tapi mereka tetap tak bisa dibilang teman yang baik. Benar bukan?
"Oh iya bunda, kata bu guru besok ada pengambilan rapot. Bunda datang ya? Kan ayah udah ga bisa ambil rapotnya Naura."
Ucapan polos Naura saat itu berhasil menohok hati Claudia. Sehingga dengan terpaksa ia harus menampakkan senyum, senyum palsu yang akhir-akhir ini sering ia perlihatkan.
"Iya sayang... Bunda pasti ambil rapot Naura kok, oke?"
Naura mengangguk. "Makasih ya bunda!!"
Namun, semua terjadi tak seperti yang mereka inginkan. Besoknya, Naura harus menunggu kedatangan Claudia sendiri di tengah-tengah ruang kelas yang sudah penuh oleh murid yang telah di dampingi oleh wali muridnya.
"Naura Azkia Pradipta!!" Seru wali kelas yang duduk di depan sana.
Mendengar namanya dipanggil, Naura mengangkat tangan lalu berdiri dari kursinya. "Maaf bu, bunda saya belum datang,"
Wali kelas pun mengangguk. "Baik, saya loncati dulu ya." Kata wanita itu. Dan Naura pun kembali duduk di kursinya.
Beberapa murid yang namanya belum di panggil itu menoleh kearah Naura dengan tatapan sinis. Mungkin aneh saja bagi mereka melihat saat melihat Naura. Bagaimana bisa tak ada orang tua yang mendampingi gadis itu.
Hal yang sama pun dilakukan oleh beberapa wali murid. Hingga ada salah satu dari mereka yang berbisik ke yang lain, dengan mengatakan bahwa Naura adalah anak yatim karena baru ditinggal oleh ayahnya beberapa bulan lalu. Pantas saja jika gadis kecil itu harus menunggu lama ibunya yang single parent itu.
Ah, apa memang selalu seperti itu mulut para ibu-ibu?? Dimana pun mereka berada pasti tidak afdol jika tanpa merumpi. Bukankah begitu?
Tak lama setelah itu, dari arah pintu, terlihat seorang wanita yang tergesa-gesa memasuki ruang kelas. Itu adalah Claudia. Wanita yang sedari tadi Naura tunggu.
"Sayang, maafin bunda ya? Bunda tadi harus menyelesaikan beberapa urusan di kantor." Kata Claudia dengan wajah menyesal karena ia tak bisa menepati janjinya kepada Naura.
Meskipun kecewa, tapi Naura tetap tersenyum. "Ga pa-pa bunda, bunda dateng itu udah bikin Naura seneng banget."
"Sekali lagi maafin bunda ya sayang?"
"Iya bunda.. Oh iya, tadi nama Naura udah di panggil, jadi kata bu guru diloncati dulu."
"Iya sayang, nanti bunda ambil setelah bu guru baca urutan terakhir. Kamu ga pa-pa nunggu lama?" Dan Naura lagi-lagi mengangguk mengiyakan.
"Iya bunda."
...🌼🌼🌼...
Minggu ini Naura kecil sudah naik di kelas 3. Setelah 2 minggu lalu diadakannya pengambilan rapot oleh wali murid.
Beruntung tahun ini kelasnya di acak ulang. Meskipun pada nyatanya ada beberapa murid yang sekelas dengan Naura saat semester lalu.
Namun, bisa dibilang semester ini adalah semester terberat bagi Naura kecil. Karena apa?
Karena beberapa murid yang saat itu menatap sinis Naura disaat pembagian rapot kelas 2, yang dilaksanakan 2 minggu lalu, kembali sekelas dengan gadis kecil itu.
Dan wali murid mereka lah yang menyebarkan berita atas meninggalnya ayah Naura serta penyebab gadis itu pindah sekolah. Hal itulah yang menjadi pemicu pembullyan yang dilakukan oleh teman sekelas Naura saat itu.
"Naura Naura!! Aku denger kamu ga punya papa ya?" Celetuk seorang siswa yang sengaja duduk di depan Naura.
Naura terdiam. Jujur, ia tak suka jika ada orang yang menanyakan ataupun membahas soal ayahnya. Biarlah rasa sakit ini ia pendam, tanpa harus ia umbar ke banyak orang di luar sana.
"Papa kamu kenapa pergi Naura? Apa papa kamu udah ga sayang lagi sama kamu?" Sahut siswa lainnya.
Karena celetukan mereka itu, beberapa murid lainnya mendekati bangku Naura. Karena mereka juga cukup penasaran atas jawaban yang akan Naura berikan nantinya.
"Ga punya papa enak ga Naura? Gaada yang marahin kamu lagi dong?!" Imbuh siswa ketiga.
"Ayo jawab Naura!!"
"Ayo jawab!!"
"Naura jawab!!"
"Kita mau denger jawaban kamu!!"
"Ah, atau kamu mau aduin kita ke papa kamu dulu?" Lalu lelaki itu tertawa. "Gimana caranya kamu ngadu ke papa kamu yang udah disana Ra?!!"
"Heh Dion, jangan gitu! Nanti Nauranya ga mau jawab!!"
"Iya-iya maaf!! Makanya ayo jawab Naura!!!"
Desakan-desakan itu terus mereka lontarkan. Sedangkan Naura semakin tak ingin menjawab pertanyaan itu. Sehingga ia menutup kedua telinganya dan menenggelamkan kepalanya agar suara mereka bisa teredam.
'Cukup!!'
'Ayah pergi bukan karena ayah ga sayang sama Naura!!'
'Karena kata bunda ayah pergi karena Tuhan lebih sayang sama ayah!!'
'Naura juga sedih ditinggal sama ayah!!'
'Naura sayang ayah..'
'Naura rindu ayah!!'
'Naura pengen meluk ayah lagi..'
'Naura pengen kayak yang lain yang masih punya ayah!!'
'Kalo bisa Naura akan minta ke Tuhan agar waktu itu ayah ga di panggil dulu!!'
'Jadi Naura mohon kalian berhenti!! Karena kalian ga tau tentang perasaan Naura!!'
Tes.. Tes.. Tes..
Perlahan air mata yang selama ini berusaha Naura tahan akhirnya kembali menampakkan diri. Perkataan yang hanya mampu Naura ucapkan dalam hati itu menambah luka yang Naura tahan.
Ia tak mampu mengungkapkan isi hatinya. Hanya air mata yang mampu mewakili perasaan Naura saat itu.
Gebrakan meja yang sangat keras itu mengalihkan perhatian mereka. Mereka yang tadinya masih mendesak Naura pun terdiam. Menatap anak laki-laki yang duduk di bangku pojok jendela.
Lelaki itu berjalan mendekati kerumunan. Tangisan gadis itu membuatnya paham atas apa yang mereka semua lakukan sudah di luar batas.
"KALIAN BERHENTI GANGGUIN DIA ATAU AKU LAPORIN KE BU GURU?!!" Seru lelaki itu.
"Jangan sok jadi pahlawan deh!!"
"Iya nih!! Tiba-tiba ngikut emang kamu siapanya Naura hah?!"
"Aku? Temannya Naura!! Kenapa? Mau kalian bully juga?!"
Naura mengangkat kepalanya, ia menatap kearah laki-laki yang belum ia ketahui namanya itu. Ternyata masih ada orang baik ya di kelas ini?!
Tepat saat itu, tanpa disengaja diluar sana ada guru wali kelas mereka sedang berbicara dengan guru lain. Karena ini masih jam istirahat lelaki itu yakin bahwa guru tersebut tak akan masuk ke kelas. Kecuali jika ia benar-benar melaporkan hal itu kepada beliau.
"Itu ada bu Eca!!" Seru lelaki itu tiba-tiba. "Sekarang kalian tinggal pilih. Mau bubar atau aku yang keluar, trus ngadu ke bu Eca biar kalian di hukum, hah??!"
Beberapa murid yang berkerumun pun akhirnya membubarkan diri saat mendengar ancaman dari lelaki itu. Urusannya akan semakin panjang jika mereka ketahuan mengganggu salah satu murid sekelas mereka.
Saat beberapa orang itu pergi, lelaki tersebut mengambil posisi duduk di kursi kosong di sebelah Naura.
Lelaki itu mengulurkan tangannya. "Kenalin, aku Raka. Mulai detik ini aku akan jadi temen kamu. Jadi kamu gausa khawatir bakal diganggu sama orang-orang jahat kayak mereka. Oke?"
Awalnya Naura ragu untuk membalas uluran tangan Raka. Namun, saat melihat senyum tulus yang lelaki itu perlihatkan, ia menjadi yakin bahwa Raka adalah anak baik-baik.
"Kamu beneran mau jadi teman aku?"
"Iya Naura. Aku ga akan nyakitin kamu, seperti apa yang mereka lakukan tadi."
Mendengar jawaban Raka, Naura pun langsung menjabat tangan lelaki itu. Hari itu adalah hari dimana Naura berhasil mendapatkan teman pertamanya sejak ia pindah sekolah.
Seperti yang Raka katakan, tak ada yang berani mengganggu Naura. Karena memang, dimanapun Naura berada di area sekolah, disanalah kalian dapat menemukan Raka.
Bagi Naura, Raka adalah malaikat pelindungnya di sekolah. Selain karena Raka tak ada yang berani mengganggunya, tapi kebaikan hati Raka lah yang membuat Naura beranggapan seperti itu.
Hubungan baik mereka terus berlanjut hingga keduanya duduk di bangku kelas 6 SD. Sampai-sampai semua orang sudah tak heran lagi jika melihat mereka bersama. Setidaknya itulah yang terjadi, sebelum Naura melakukan hal gila yang membuat hubungan mereka berantakan.
Tepatnya saat mereka ditengah-tengah acara wisuda, Naura mengatakan hal yang mungkin seharusnya ia pendam sampai entah kapan.
"Raka!!" Panggil Naura saat tanpa sengaja ia melihat Raka berjalan di depannya.
"Wih cantik banget sih temen aku!!" Puji Raka saat melihat Naura dengan balutan kebaya dilapisi setelan toga disertai make up yang semakin mempercantik wajahnya.
"Bisa aja sih kamu."
"Oh iya, gimana? Udah foto sama bunda kamu belum?"
Naura mengangguk. "Udah kok. Bunda sekarang lagi di depan panggung sama bang Kenzie."
"Oh gitu. Salamin ya buat bunda sama abang kamu."
"Iya Ka, nanti aku sampein."
"Yaudah kalo gitu, ayo balik ke kursi peserta habis ini mau dilaksanain foto bersama Ra."
"Ee Ka, ada sesuatu yang mau aku omongin."
"Soal apa Ra?"
Naura terdiam sesaat. Setelah semalaman berpikir, akhinya ia membulatkan tekad untuk memberitahu perasaannya kepada Raka.
Naura menarik nafas sebelum akhirnya ia mengucapkan itu.
"Raka, sorry kalo ini terlalu tiba-tiba buat kamu. Atau mungkin ini terlalu ga masuk akal buat kamu. Tapi seenggaknya aku udah berusaha mengatakan perasaan yang entah sejak kapan muncul ini. Yang pasti, sekarang perasaan nyaman yang aku rasakan dulu udah berubah."
"Aku cinta sama kamu Ka. Aku jatuh cinta kepada sahabat yang selama ini melindungi aku."
"Dan aku berharap kamu merasakan hal yang sama Ka."
Raka tertegun atas pengakuan Naura yang sangat tiba-tiba ini. Bagaimana bisa Naura mengatakan hal yang masih Raka anggap tabu itu?
Lima menit terlewat. Selama itu pula Raka berfikir keras. Jawaban apa yang harus ia pilih untuk menjawab perasaan gadis itu?
Namun, setelah mempertimbangkan beberapa hal, akhirnya Raka menemukan titik terang. Titik yang ia yakin menjadi pilihan terbaik bagi keduanya.
"Sorry Ra. Aku belum bisa memenuhi harapan kamu. Karena untuk saat ini perasaan ku ke kamu masih sama seperti dulu. Karena kamu masih aku anggap--"
"Cukup Ka!! Udah, gausah terusin!! Aku tau kok apa yang mau kamu katakan. Mungkin ini aku aja yang terlalu terburu-buru. Sekali lagi aku minta maaf atas apa yang baru aja aku katakan Ka." Sedetik kemudian Naura tersenyum.
"Makasih atas semuanya Ka. Makasih karena udah mau jadi teman pertama aku. Makasih karena udah ngejagain aku. Makasih juga karena udah memberikan aku kesempatan untuk merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta di usia segini."
Beberapa menit kemudian Naura kembali berkata, dengan tujuan agar suasana awkward diantara mereka bisa mencair.
"Ah ya, kayaknya foto barengnya mau dimulai Ka. Mendingan kita kesana sekarang." Kata gadis itu akhirnya.
Raka mengangguk. Lalu ia berjalan mendahului Naura.
Sedangkan Naura? Gadis itu masih berdiri di tempat. Berusaha menahan air mata yang entah sejak kapan sudah mengantri di kelopak matanya.
Saat berhasil mengontrolnya Naura langsung mendekat kearah barisan di atas panggung untuk melaksanakan foto bersama.
Ini kali pertama Naura merasakan apa yang dinamakan cinta. Dan kali pertama pula bagi Naura saat merasakan bagaimana sakitnya penolakan cinta. Diusia ini pula ia harus merasakan cinta sepihak, yang ia pikir tak akan mendapat balasan sampai kapan pun itu.
Karena pada dasarnya perasaan Raka untuknya akan selalu sama. Akan selalu sebatas sayang sebagai sahabat. Tidak lebih. Naura sangat tau itu.
Kejadian itulah yang mengakibatkan hubungan Naura dan Raka benar-benar merenggang. Tak ada kabar yang mereka berikan satu sama lain. Hingga Naura tak tau jika Raka telah meninggalkan kotanya sejak tujuh hari lalu. Tepatnya tiga hari setelah wisuda yang mereka lakukan.
Parahnya lagi, selama itu Raka tak memberikan kabar kepada Naura. Dan yang semakin membuat Naura kecewa adalah ia harus mengetahui tentang kepergian Raka dari temannya.
Sejak saat itu mereka lost contact. Tak saling memberi kabar. Ataupun bertegur sapa. Mereka berdua seakan-akan berubah menjadi dua orang asing yang tak pernah mengenal.
...🌼🌼🌼...
...Hai hai!!...
...Semoga kalian suka part ini yaa ❤️❤️...
...Thank you karena uda baca sampai part inii 🥰...
...Jangan bosen-bosen buat nunggu update part selanjutnya yaa xixi...
...Salam sayang dari author ❤️...
...See you...
...To Be Continued...