Evanescent

Evanescent
Apa yang Sebenarnya Terjadi?



..."Hidup memang penuh teka teki. Di setiap pertanyaan kehidupan pasti akan ada jawabannya. Namun, bagaimana jika jawabannya tak sesuai yang kita harapkan?" ...


...-Gibran Rahardian-...


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


Melawan tiga preman bertubuh kekar bukanlah hal yang mudah bagi Kenzie yang tak membawa satu pun senjata pelindung diri. Risa dari kejauhan hanya bisa melihat dan sesekali meringis ngeri saat melihat Kenzie terkena pukulan dari lawannya.


Disaat seperti ini lah Risa merasa dirinya hanya menjadi beban. Jelas di depan matanya Kenzie mati-matian melawan preman tersebut, tapi dirinya hanya diam tanpa bisa membantu temannya itu.


Setelah cukup lama Kenzie melawan tiga preman tersebut, akhirnya dia menang. Ia berhasil membuat tiga pria tersebut terluka lebih parah daripada yang ia dapatkan dari mereka. Namun, jika dibilang Kenzie berhasil lolos tanpa luka itu salah. Karena ya, Kenzie menerima beberapa pukulan di perut dan wajahnya.


Risa menghampiri Kenzie yang menyandarkan tubuhnya pada tembok disebelah kirinya. Tampak jelas bahwa sepertinya ia sudah tak kuat menopang tubuhnya.


"Ini alasan gue ga ngebolehin lo ngelawan mereka Ken. Lihat, kalo uda seperti ini siapa yang ngerasain sakit?!" Omel Risa dengan raut khawatir.


Bukannya membantah, Kenzie malah melengkungkan senyuman di bibirnya yang sedikit sobek diujung.


"Dih malah senyum. Ga kasian mulutnya apa, uda terluka gitu masih dipaksain buat senyum."


Kenzie menepuk pelan pundak kanan Risa. "Daripada lo marah gitu, mending sekarang cari taxi, dan anterin gue pulang."


Risa terdiam, dia menatap sinis kearah Kenzie. Lalu dia menghela nafas, dan kemudian melakukan tepat seperti yang Kenzie perintahkan.


Setelah 10 menit menunggu, akhirnya ada taxi yang memenuhi panggilan Risa. Dengan dibantu oleh Risa, Kenzie pun memasuki pintu belakang mobil taxi tersebut.


Beruntung, tak sampai sejam mereka bisa sampai di rumah Kenzie. Karena sedari tadi Risa khawatir dengan luka Kenzie yang tak segera diobati. Awalnya Risa heran bukannya ke rumah sakit, Kenzie malah minta pulang ke rumah.


Tapi Kenzie langsung menjawab saat Risa melontarkan pertanyaan bodoh itu.


"Gue gamau, karena kalo di rumah sakit yang ngerawat suster. Kalo di rumah kan lo sendiri yang ngerawat." Ah, tau gitu Risa tak usah menanyakan hal tersebut.


Keadaan rumah Kenzie benar-benar sepi disaat keduanya memasuki ruang tamu. Karena keadaan Kenzie yang seperti ini, ia hanya bisa memberi arahan kepada Risa tentang letak kotak obat dan keperluan lainnya yang ia butuhkan.


Dengan cekatan Risa langsung mengobati luka-luka di tubuh Kenzie terutama di wajah lelaki itu. Sesekali Risa meringis disaat kapas yang ia pegang menyentuh luka Kenzie. Bisa ia bayangkan sesakit apa luka yang Kenzie tahan.


Bukannya tak merasa kesakitan, Kenzie sebisa mungkin menahan perih yang ditimbulkan dari lukanya. Jika tidak begitu, perempuan di depannya tak akan setenang ini dalam mengobati lukanya.


"Beneran ngga sakit Ken?" Tanya Risa sembari membereskan kotak obat setelah ia selesai mengobati Kenzie.


Kenzie mengangguk, "sakit. Tapi dengan kehadiran lo, sakitnya ga kerasa."


"Dih gombal mulu kerjaan lo Ken."


Kenzie tertawa lepas melihat respon Risa. Meskipun ngomel, tapi Kenzie tau bahwa ada perasaan yang disembunyikan oleh perempuan itu.


"Udah malem Ken, gue pulang dulu ya?" tanya Risa yang sudah berdiri.


Tanpa menjawab Kenzie menarik tangan Risa dan membuat perempuan itu kembali terduduk di kursi.


"Ada gofood pesenan gue di depan Sa, tolong ambilin dan sekaligus temenin gue makan ya?"


Sa? Sejak kapan Kenzie melunak kepadanya? Risa terkadang tak habis pikir dengan lelaki itu. Suatu ketika ia diperlakukan layaknya orang asing, dan di lain hari ia diperlakukan selembut ini.


"Iya. Bentar gue ngembaliin kotak obat lo dulu."


Dan benar, saat Risa membuka pintu rumah Kenzie ternyata sudah ada kurir makanan yang tadi lelaki itu bicarakan. Setelah menerima semua pesanan kurir tersebut lamgsung meninggalkan pekarangan rumah Kenzie, begitu pula Risa yang langsung kembali masuk kerumah.


"Porsi lo emang sebanyak ini ya Ken?" tanya Risa saat meletakkan semua kresek yang berisi makanan yang telah Kenzie pesan.


Kenzie tertawa. "Gila sih kalo gue makan sebanyak itu."


"Trus?"


"Buat adik gue. Jam segini belum pulang gue yakin dia masih sibuk gatau ngapain di luar sana sampe lupa jam makan."


"Lo baik banget ya jadi abang." pujian itu tanpa sadar keluar dari bibir Risa.


"Mau daftar jadi calon adek gue Sa?"


"Ogah!"


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


Dengan langkah tertatih, Kenzie mengantar kepulangan Risa sampai depan pagar rumahnya. Meskipun Risa sudah berulang kali melarang, tapi apadaya Kenzie tetap memaksa. Toh, itung-itung ini sebagai ganti karena dia tidak bisa mengantarkan Risa pulang.


Saat taxi online yang Risa pesan sudah sampai, ia kembali berpamitan kepada Kenzie sebelum akhirnya ia masuk kedalam mobil tersebut.


"Makasih ya Ken," ujar Risa sembari mengangkat kresek yang Kenzie berikan tadi.


Yap. Kenzie membelikan perempuan itu makanan bersamaan dengan pesananannya tadi. Meskipun Risa sudah makan bersamanya, tapi rasanya ada yang kurang jika ia tidak membelikan sesuatu untuk Risa bawa pulang.


"Iya, sama-sama." senyum tulus terbentuk di bibir Kenzie.


"Hati-hati Sa." imbuhnya sebelum mobil tersebut melesat meninggalkan area rumahnya.


"Itu siapa bang?" suara itu berhasil membuat Kenzie menoleh.


Rupanya ia tak sadar akan kehadiran Naura dan Gibran sejak beberapa saat lalu di sana.


"Risa. Temen sekelas abang." Kenzie menjawab seadanya.


"Ohh...." Naura tiba-tiba menyerngit. Menurutnya ada yang aneh di wajah Kenzie.


Naura mengamati Kenzie dari atas hingga bawah, rupanya banyak lebam dan beberapa tempat yang telah dibalut oleh kasa serta plester.


"Lo habis tawuran bang?"


"Apaan sih alay, orang cuma luka gini doang kok."


"Sarap ya lu bang? Luka sebanyak gini lo bilang gini doang?"


"Udah-udah, mending kita masuk aja kasian si Gibran."


Tanpa mempedulikan Naura yang mengomel tak karuan, Kenzie langsung melangkahkan kakinya pergi. Dengan terpaksa Naura mengikuti langkah kakaknya itu, lalu diikuti Gibran.


Melihat keadaan Kenzie seperti ini seketika membuat Gibran berpikir, bahwa apa yang terjadi kepada Kenzie ada kaitannya dengan penculikan Naura. Namun, ia tak boleh berspekulasi terlalu jauh sebelum ia bisa membuktikan dengan mata kepalanya sendiri.


Emosi serta fisik Naura saat ini sedang tidak baik-baik saja. Melihat keadaan kakak semata wayangnya yang mengenaskan semakin membuat dirinya berpikir yang tidak-tidak.


Namun untuk saat ini ia rasa tak perlu menjelaskan ataupun bertanya terlalu jauh kepada Kenzie. Untuk sementara biarlah mereka menyimpan semuanya sendiri.


"Naura bilang kamu ada acara di Surabaya?" tanya Kenzie disaat dirinya dan Gibran berada di ruang keluarga.


"Iya bang, baru tadi gue balik ke Jakarta."


Kenzie mangut-mangut mendengar jawaban Gibran. Lalu ia menyodorkan segelas minuman dingin kearah Gibran. "Minum dulu, gue yakin lo haus."


Gibran menurut. Ia langsung meneguk es yang Kenzie berikan untuknya.


"Gibran..."


Gibran menoleh tanpa mengeluarkan satu kata pun, menunggu Kenzie melanjutkan ucapannya.


"Gue gatau ini timing yang pas atau engga, yang pasti gue ingin menyampaikan satu permintaan ke lo." lagi-lagi Kenzie menjeda ucapannya.


"Lo beneran sayang sama adik gue?"


Tanpa ragu Gibran mengangguk. "Iya. Naura segalanya buat gue bang."


Kenzie menarik nafasnya. Ia tak menyangka mengucapkan hal ini akan sesulit ini.


"Kalo gue minta lo jauhi Naura, apa bisa?"


Deg!


Seketika mata Gibran langsung membulat. Sungguh, ia tak mengerti apa maksud dari Kenzie mengucapkan itu.


"Karena ini demi kebaikan Naura Gib."


"Lo bilang Naura segalanya buat lo, jadi meninggalkan Naura untuk kebaikannya bukan hal yang sulit kan?"


Gila. Permintaan Kenzie sungguh diluar nalar Gibran.


"Bang, gue bilang Naura segalanya buat gue. Dengan kata lain gue ga bisa tanpa dia bang, dia adalah semesta gue." Sanggah Gibran dengan nada sedikit meninggi.


"Jadi maaf bang gue ga bisa nurutin permintaan lo kali ini."


"Lo bakal terus-terusan membahayakan dia tolol!! Bahkan gue ga bisa menjamin apa yang terjadi selanjutnya akan lebih parah dari sore tadi!!" tegas Kenzie dengan penuh penekanan. Dapat Kenzie lihat bahwa ada perubahan di mimik wajah lelaki di depannya.


Tunggu! Sore tadi? Bagaimana Kenzie tau?


"Bentar bang. Gue bener-bener ga paham sama situasi saat ini." Gibran menyerngit, mencoba mencerna apa yang terjadi sebelum dirinya berada disini.


"Kejadian yang menimpa lo, dan kejadian Naura sore tadi, jangan bilang saling berhubungan?"


Kenzie terdiam. Ia memalingkan wajah dari arah Gibran.


"Lo tau sesuatu kan bang? Ga mungkin lo ga tau apa-apa tapi lo tau dengan jelas kalo sore tadi ada kejadian yang menimpa Naura?"


"Tell me bang jangan malah diem!"


"Maaf Gib..." Dari sekian banyak kalimat, untuk saat ini hanya itu yang bisa keluar dari bibir Kenzie.


Ketegangan di ruang keluarga itu memudar bersamaan dengan datangnya Claudia yang baru pulang dari butiknya.


"Wahh ada nak Gibran.."


Gibran dengan sopannya langsung menyalami Claudia. "Iya tante, maaf baru bisa berkunjung."


"Alah kamu ini kayak sama siapa aja. Kenzie, udah kamu ajak makan belum tamu kita?"


"Iya Ma, nunggu Naura masih mandi, habis itu makan bareng sama Gibran."


Claudia berjalan mendekati Kenzie. Menelusuri wajah anak sulungnya itu. "Kenapa kamu luka-luka kayak gini Ken?"


Kenzie menepis pelan tangan mamanya, menjauhkan diri agar wanita itu tak semakin khawatir atas lukanya.


"Habis kecelakaan kecil Ma, Mama gausa khawatir ya. Lagian juga udah dapet pertolongan pertama."


Meskipun Kenzie mengatakan kalimat itu, tapi Claudia tetap tau bahwa anaknya ini sedang berbohong.


"Yasudah sambil nunggu Naura, Mama bersih-bersih diri dulu, habis itu kita makan malam bareng ya."


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...