Evanescent

Evanescent
Perjuangan Gibran



..."Perjuangan ku tak akan bernilai, sebelum aku berhasil mendapatkan mu." ...


...-Gibran Rahardian K-...


...🌼🌼🌼...


"Udah ngomongnya??" Tanya Gibran santai. "Sekarang ganti gue yang mau ngomong." Untuk kesekian kalinya Gibran menjeda ucapannya sebelum akhirnya ia mengatakan hal dipikirannya.


"Gaada alasan yang lain yang bisa menjelaskan semua tindakan gue ke elo selain perasaan gue. Apa gue salah untuk memperjuangkan perempuan yang gue cinta?? Semua orang berhak memutuskan dimana ia akan menjatuhkan hatinya. Dan hati gue udah terlanjur jatuh di lo Ra." Gibran mengatakan kalimat itu dalam satu tarikan nafas.


"Lo boleh percaya ataupun nggak percaya. Tapi sejak pertama kita bertemu ada sesuatu yang berhasil menarik gue. Gue juga heran bisa-bisanya gue jatuh cinta sama cewek kaya lo. Tapi gue bisa apa saat hati gue lah yang memutuskan semuanya??"


"Kalo emang apa yang gue lakukan membuat lo risih, oke gue minta maaf!! Tapi jangan meminta gue untuk menjauhi lo ataupun berhenti memperjuangkan lo, karena gue ga bisa."


Naura hanya bisa terdiam mendengarkan penjelasan panjang yang keluar dari bibir Gibran. Naura dapat melihat bahwa senyum jail serta tatapan lembut sudah tergantikan dengan raut dingin serta tatapan yang tak selembut sebelumnya.


"Gue pamit Ra." Setelah mengucapkan itu Gibran langsung berjalan meninggalkan Naura.


Punggung lelaki itu pun semakin menjauh dari jangkauan mata Naura. Entah kenapa melihat kepergian Gibran membuat Naura menyesal. Ada sebagian dari dirinya yang berpikir menyesal karena sudah mengatakan kata-kata yang menurutnya keterlaluan itu.


Hanya helaan napas yang Naura keluarkan. Ia harus menyikapi Gibran seperti biasa. Tanpa rasa kasihan apalagi baper. Oke, ingat itu Naura!!


Sembari menenangkan pikiran serta hatinya, Naura berjalan menuju ke tujuan utamanya yakni kamar mandi. Setelah selesai, Naura segera kembali ke kelasnya.


Kericuhan kelas itu menyambut kedatangan Naura. Bukan menyambut dalam arti yang sebenarnya, hanya saja saat Naura memasuki kelas suara-suara keramaian kelas itu langsung memenuhi pendengarannya. Biasalah jam istirahat selalu serame ini. Pasalnya hanya di jam istirahat lah mereka bisa menikmati kebebasan dari jeratan pelajaran.


Naura menyerngit saat melihat sesuatu di atas mejanya. Susu kotak coklat, serta roti sandwich coklat itu membuat Naura terheran. Perasaan ia tidak menitip ke siapapun untuk membelikan susu ataupun sandwich.


Saat mengetahui ada kertas dibawah sandwich tersebut, Naura tanpa pikir panjang langsung membukanya. Ia perlu tau siapa yang melakukan hal ini.


Hai cantik!


Jangan lupa dimakan ya! Kasian tuh lambung kamu dari pagi belum dapet asupan.


Dan ada dua manfaat kalo kamu makan sandwich sama minum susu ini.


1. Kamu keyang.


2. Bisa ngusir badmood kamu.


Aku harap kamu mau makan, tapi kalo kamu emang ga mau ya gapapa, buang aja biar dimakan sama kucing.


See u


GR


Tanpa sadar Naura tertawa pelan saat membaca surat itu. Bukan karena gaya tulisannya yang aneh, tapi ada beberapa kata yang berhasil menarik perhatiannya.


Karena itulah, Naura bisa langsung tau siapa orang yang rela melakukan kegiatan unfaedah ini. Siapa lagi jika bukan cowok itu?? Ternyata dia belum menyerah ya?!


"Thanks Gib." Kata Naura sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menerima pemberian dari lelaki itu. Tidak ada salahnya kan menerima pemberian dari orang?? Toh itu juga demi kebaikan perutnya.


Diluar sepengetahuan Naura, ada seseorang yang tersenyum diluar sana. Melihat roti pemberiannya dimakan oleh sang penerima, seketika membuat tingkat kebahagiaannya meningkat. Padahal, sebelumnya ia sudah berekspektasi bahwa perempuan itu akan langsung membuang makananan itu.


"Tinggal beberapa hari sebelum akhirnya lo jatuh dipelukan gue, Ra!"


...🌼🌼🌼...


Sembilan jam disekolah benar-benar tak terasa. Pasalnya, Naura rasa beberapa saat lalu ia baru saja menjalani hukuman itu, dan sekrang ia sudah dipersilahkan untuk pulang.


Tapi seperti biasa, ia memulih berada di kelas dulu sebelum menghubungi Kenzie, memastikan bahwa lelaki itu akan menjemputnya.


"Naura, gue pulang dulu ya?!" Kata Alissa yang melambaikan tangan kearah Naura. Naura mengangguk mengiyakan pertanyaan Alissa, lalu perempuan itu pun langsung meninggalkan sahabatnya.


^^^Naura Azkia^^^


^^^Abang!! Naura udah pulang nihh, jemput sekarang yaa?!^^^


Naura mengetikkan pesan kepada kakak tercintanya itu. Lalu beberapa detik kemudian, ia langsung menerima pesan balasan yang lelaki itu kirimkan.


Kenziee


Duh maap dek, Abang ada kelas pengganti. Kamu naik angkot dulu gpp ya??


Kenziee


Ah atau naik gojek deh nanti abang ganti uangnya. Okee??


^^^Naura Azkia^^^


^^^πŸ˜’πŸ˜’^^^


^^^Naura Azkia^^^


^^^Abang ih kalo bilang sukanya dadakan!!^^^


Kenziee


Ya mau gimana lagi, kan dosennya juga suka dadakan kalo ngajak ganti jadwal


Kenziee


Apa kamu mau minta dispen ke dosen abang sendiri?? Kali aja gitu kalo kamu yang minta, orangnya bisa luluh. 🀣


^^^Naura Azkia^^^


^^^Ih abang!!^^^


^^^Naura Azkia^^^


^^^Yaudah deh Naura naik angkot yang hemat biayaa^^^


Kenziee


Nah gitu dong!! :v


Kenziee


Hati-hati ya adek abang yang ping cantik!!


^^^Naura Azkia^^^


^^^Hmm^^^


Setelah mengetikkan pesan balasan yang sangat singkat itu, Naura pun beranjak dari kursinya. Lalu ia segera menuju ke halte, agar ia tak tertinggal angkutan umum yang menuju ke rumahnya.


Sudah 15 menit Naura menunggu di halte yang terletakntak jauh dari sekolahnya itu. Sampai-sampai sekolah yang tadinya masih ramai sekarang hanyi tinggal beberapa orang.


"Sendiriran aja neng?!!" Siulam disususl seruan itu sontak membuat Naura menoleh ke samping kirinya. Terlihat tiga orang pria bertubuh gempal dengan tatapan menggoda itu mendekat kearahnya.


Sontak Naura memundurkan langkahnya. Tubuhnya bergemetar tak karuan. Ia sungguh tak ingin berakhir ditangan mereka.


"Jangan takut neng!! Kita orang baik-baik kok. Malah mau nawarin kamu tumpangan." Sahut pria berbadan sedikit kurus dari pria tadi.


"Dan sedikit bersenang-senang!!" Imbuh pria datunya lagi. Lalu tawa pecah diantara mereka.


Naura pun semakin erat dalam mencengkram tali tasnya. Ia takut dan tak tau harus apa. Saat ia hendak menghubungi Kenzie, ternyata respon pria itu lebih cepat darinya. Pria itu mencengkram erat pergelangan tangan Naura dan membuat ponselnya jatuh.


"Aww sakit!!" Rintih Naura karena perbuatan orang tersebut.


"Sakit ya?? Makanya gausa macem-macem sama kita, maniss!!" Tangan yang lainnya milik pria itu ia gunakan untuk mencolek dagu Naura yang berusaha memalingkan wajahnya itu.


"Cukup jadi penurut, dan kita tidak akan bermain kasar kok. Tapi jika kamu melakukan hal sebaliknya, maka hal serupa juga akan kita lakukan padamu!!"


Saat itu juga Naura sangat berharap bahwa ada orang baik yang menolongnya. Siapapun boleh, asal orang itu berhasil menyelamatkannya dari pria ini.


...🌼🌼🌼...


Karena harus mengumpulkan tugas susulan dari guru, Gibran mau tak mau harus pulang lebih telat dari yang lain. Padahal seharusnya sekarang. Ia sudah nongkrong bersama teman-temannya. Ah si*l.


Parkiran pun sudah sepi, hanya tinggal beberapa motor serta dua mobil yang tersisa. Dan saat melirik jam tangan di pergelangan tangannya, ternyata sekarang sudah menunjukkan pukul setengah 5. Pantas saja.


Deru motor itu mulai terdengsr saat Gibran menyalakan mesinnya. Lalu ia segera membawa motornya itu melesaat meninggalkan halaman sekolah.


Tak sampai 100 meter dari sekolah, ada hal yang menyita perhatiaannya. Laju motornya pun ia kurangi, lalu ia memutuskan untuk mendekati halte itu.


D*mn it!! Ternyata penglihatannya tak salah. Naura, perempuan itu sedang dalam bahaya karena himpitan yang diberikan oleh tiga pria yang sangat asing menurutnya.


"Woi bajing*n!!" Seruan Gibran itu berhasil membuat ketiganya menoleh.


"Jauhi cewek itu atau kalian habis ditangan gue?!!" Ancamannya itu dianggap remeh oleh ketiga pria itu.


"Lo nantangin kita nih ceritanya?!" Balas pria yang tadi mencengkeram lengan Naura. Ia berjalan mendekat kearah Gibran, disusul kedua orang lainnya.


"Iya!! Dan kalo kalian takut, sekarang gue persilahkan untuk mundur!!"


Ketiganya tertawa. "Dia bilang kita takut bro!!" Sahut pria disebelah pria tadi.


"Jangan remehkan kekuatan kita anak kecil!!"


"Halah banyak bac*t lo sat!!" Karena sudah tidak sabar, Gibran pun langsung melancarkan serangan pertamanya kearah pria yang sudah menyakiti wanitanya.


Pria itu belum siap saat menerima serangan pertama yang Gibran berikan. Alhasil pukulan Gibran berhasil mendarat sempurna di wajahnya.


Ia tertawa saat melihat darah mulai keluar dari hidungnya. Tanpa basa-basi, ia langsung melancarkan serangan balasan kepada lelaki itu.


Naura gelisah sekaligus takut saat melihat Gibran yang mulai kualahan melawan ketiga pria itu. Hidung yang mulai mengeluarkan darah, hingga goresan di tangan dan beberapa bagian tubuh lainnya terlihat jelas oleh Naura.


"Gib cukup Gib!!" Teriak Naura dengan sisa tenaga yang ia punya. Ia tak ingin lelaki itu terluka lebih jauh lagi.


"Nggak bisa Ra, merkea harus diberi pelajaran karena udah berani menyakiti lo!!" Balas Gibran.


Untuk benar-benar mengakhiri ini semua, Gibran memutuskan untuk mengeluarkan semua sisa-sia kekuatan yang ia punya. Karena ia harus membuat tiga pria itu tumbang.


Tak sampai 5 menit akhirnya Gibran berhasil memenangkan pertarungan itu. Walaupun harus dengan menerima beberapa luka itu.


Naura pun lega saat mengetahui kemenangan lelaki itu. Akhirnya ia memilih menghampiri Lelaki yang bersandar pada tembok itu.


"Bod*h!! Kenapa lo rela lakuin itu sih?!" Naura memukul pelan lengan Gibran. Bukannya marah, lelaki itu malah tertawa.


"Ini bukan apa-apa Ra, asal lo tau gue ga selemah itu."


"Kalo sampe nyawa lo yang terancam gimana??"


"Ya gue rela sih, asal lo selamat." Jawab Gibran sembari menekan beberapa angka di ponselnya. Lalu ia menempelkan ponsel tersebut ke telinganya.


"Bentar ya Ra," bisiknya kepada Naura, sebelum akhirnya sambungan telepon itu terhubung.


"Halo Mike, sekarang bisa ke deket sekolah saya??"


......


"Tolong bawa tiga ornag preman ini ke kantor polisi, katakan jika mereka telah menyerang dan hampir melecehkan siswi SMA. Ambil rekaman cctv di halte tersebut untuk menjadi bukti!"


......


Setelah Gibran mendapat jawaban dari seseorang di sebrang sana, ia pun langsung memutuskan sambungan tersebut.


Dan 10 menit kemudian, mobil hitam menepi ke tempat mereka. Dan beberapa orang ber baju hitam itupun keluar dari sana. Naura tak tau siapa mereka, tapi yang pasti mereka adalah orang yang Gibran kenal.


"Bagaimana dengan tuan?? Sebaiknya tuan juga ikut dengan kami untuk pemeriksaan lanjut." Kata salah satu pria yang berumur sekitar 29 tahun itu.


Gibran menggeleng. "Tidak perlu. Tugas kalian hanya membereskan mereka dan pastikan mereka mendapat hukuman setimpal. Jangan khawatirkan saya, karena saya bisa menjaga diri sendiri."


"Baik tuan." Jawab Pria itu dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.


Setelah mereka berhasil membopong tiga pria bertubuh gempal tadi kedalam mobil, mereka pun langsung menjalankan mobil itu meninggalkan tempat tersebut.


"Ayo Ra, gue akan antar lo pulang!!" Kata Gibran dengan sedikit menarik tangan Naura.


...🌼🌼🌼...


...Gimana nih part ini?? Seru gaa?...


...Kira-kira Naura nerima ga ya ajakan Gibran??...


...Apakah dengan ini Naura menjadi luluh kepada Gibran??...


...Nantikan part selanjutnya untuk mengetahui hal-hal tersebut!!...


...Jangan lupa dukung author sebanyak-banyaknya!!...


...Dengan Like+Vote+Komen+Rate bintang 5 dan juga share yaa!!...


...Agar Author lebih semangat update!!😍...


...Kalian pasti akan mendapat feedback jika mengomen di setiap part cerita ini!!😍...


...Thank u...


...TO BE CONTINUED...