Evanescent

Evanescent
Pertemuan Pertama With Him



..."Setelah selama ini aku berjuang mempertahankan hubungan kita, tapi ternyata Tuhan telah memilihkan jalan yang berbanding terbalik untuk kita." ...


...-Reina Zaynara-...


...🌼🌼🌼...


*Satu tahun sebelumnya


Hati serta kepala Reina memanas saat lagi-lagi harus mendengar pertikaian papa dan mamanya. Pulang sekolah yang biasanya gunakan untuk beristirahat, namun hal itu rupanya tidak berlaku bagi Reina.


Akhirnya, ia menarik tangannya yang hendak membuk pintu rumah, dan ia memilih untuk menenangkan hati serta pikirannya. Seperti yang telah ia lakukan selama ini.


"Kalo mau nangis nangis aja, gausa ditahan. Toh disini ga akan ada yang negur lo kalo nangis." Suara itu masuk kedalam telinga Reina. Sudah berbulan-bulan setiap ia disini, baru kali ini ada orang yang tiba-tiba melakukan itu padanya.


Hanya lirikan sekilas yang perempuan itu berikan. Lalu ia berkata dengan nada yang cukup dingin. "Siapa juga yang mau nangis?"


"Wajah lo seolah-olah berbicara kalo lo sedang menyimpan masalah."


"Tau apa lo tentang hidup gue?"


Lelaki itu menyandarkan punggung pada sandaran kursi panjang yang ia duduki. "Ya emang gue ga tau apa-apa tentang hidup lo. Tapi setidaknya gue tau bagaimana rasanya berpura-pura bahagia padahal hati lo sedang menyimpan luka yang ga bisa lo jabarkan."


Reina terdiam. Ia memikirkan apa yang lelaki asing itu katakan kepadanya. Tapi lelaki itu tetaplah orang asing, yang mau tak mau harus ia waspadai.


"Lo sebaiknya gausa ikut campur urusan gue!"


"Gue ga ikut campur, gue hanya ingin membantu lo meringankan beban di pikiran dan hati yang selama ini lo simpen."


"Gue bisa kasih saran tentang masalah lo jika memang lo mau curhat ke gue." Lanjutnya.


Lelaki itu melihat wajah Reina yang penuh curiga saat menatapnya. Lalu ia tertawa. Ia tau betul apa yang perempuan itu pikirkan tentang dirinya.


"Tenang aja, gue bukan orang jahat kok. Gue cuma siswa yang mungkin seumuran lo dan kebetulan lewat disekitar sini. Dan asal lo tau, gue orangnya bisa dipercaya kok."


Saat itu pula sepertinya langit sedang tak bersahabat dengan mereka. Awan mendung yang menutupi langit sore perlahan menurunkan rintik air dan semakin memadat.


Sontak Reina panik. Dengan masih berseragam dan membawa tas tanpa pelindung bisa-bisa saat sampai di rumah nanti mamanya akan berganti menceramahinya.


Melihat itu, lelaki tersebut sontak melepas jaket yang gunakan. Lalu menarik Reina untuk mendekat kearahnya, dan membawa gadis itu berlari mencari tempat untuk meneduh.


Reina yang menerima perilaku tersebut sontak membulatkan matanya. Bagaimana tidak? Orang lelaki itu saja baru ia temui beberapa menit lalu.


Di bawah atap stand kosong mereka meneduh. Reina mengibas-ngibaskan roknya yang sedikit terkena air hujan. Lalu ia melirik sekilas kearah lelaki yang berdiri tepat di samping kirinya.


Lelaki itu tertawa, lantas berkata. "So, sekarang lo percaya kan kalo gue orang baik-baik? Ga mungkin kan kalo gue orang jahat mau nolongin lo kayak tadi?!"


"Oh gitu... Jadi lo ga ikhlas nolongin gue tadi?"


"Nggak-nggak bukan gitu maksud gue. Gue hanya ga ingin lo terus natap curiga ke arah gue."


"Ah ya," lelaki itu memutar tubuhnya menatap Reina. "Kenalin, gue Revan Adyan. Siswa SMA Trizan kelas 10." Ucapnya sembari mengulurkan tangan.


Ternyata dugaan Reina benar bahwa lelaki itu berasal dari SMA Trizan. Sebelumnya memang ia tak pernah bertemu langsung dengan siswa-siswi SMA itu, namun ia tau persis seperti apa seragam sekolah tersebut. Ya, seperti yang sedang digunakan Revan saat ini.


Akhirnya dengan ragu-ragu Reina membalas uluran tangan Revan. "Reina Zaynara, Siswi SMA Xavier kelas 10."


Revan tersenyum saat mendengar itu. "Seperti dugaan gue, kalo kita seumuran."


Dengan senyuman yang masih melekat itu, ia menatap manik mata Reina. "Reina, gimana kalo kita berteman?"


"Sejak saat itu, tanpa sengaja takdir berulangkali mempertemukan kita. Hubungan kita semakin dekat, dan sampai pada akhirnya kami memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan."


"Tapi sejak awal pacaran pun Revan mengatakan bahwa hubungan kami harus tetap berjalan dibelakang kalian. Tanpa publish di sosial media, ataupun publish di depan teman-teman dekat, seperti kalian."


"Gue gatau motif dia memutuskan itu. Hanya saja gue selama ini harus tetap berpikiran positif atas apa keputusan yang lelaki itu buat. Meskipun begitu, gue juga udah berulang kali mendesak dia untuk keluar dari backstreet. Tapi sayangnya berulang kali itu pula dia menolak tegas, dan percakapan kita akan berakhir tak menyenangkan."


Tepat setelah mengatakan kalimat panjang itu Reina menundukkan kepala. Mengingat semua kenangan itu, membuat hati Reina kembali terluka. Matanya kembali memanas. Air matanya pun tak bisa lagi ia tahan.


"Meskipun Revan terlalu arogan serta overprotektif ke gue, tapi selama ini dia selalu tetap care sama gue..."


"Dia selalu jadi tempat gue curhat disaat keadaaan di rumah sedang ga baik-baik aja..."


"Dia juga selalu nyemangatin gue...."


"Sampai-sampai... Gue yang selama ini ngira udah memahami dia sepenuhnya... Ternyata salah......"


"Gue gatau apa-apa tentang dia...."


"Tentang lukanya..."


"Tentang keluarganya...."


"Tentang beban yang selama ini ga pernah ia perlihatkan di depan gue..."


"Tentang masalah yang selama ini selalu ia tutupi dengan senyuman...."


"Karena Revan selalu menjadi sosok perfect disaat bersama gue...."


"Karena itu gue sama sekai ga mengira bahwa semuanya akan berakhir seperti ini....."


Tangis serta senggukan mengiringi Reina dalam berbicara. Melihat itu pula, ketiganya langsung mengeratkan pelukan ke tubuh Reina.


"Its okay Rei.... Lo udah melakukan yang terbaik sebagai pacarnya...." Kata Naura.


"Mungkin mengakhiri seperti apa yang Revan lakukan adalah jalan terbaik bagi kalian..... Toh nanti jika memang kalian jodoh, pasti Tuhan akan kembali mempertemukan kalian berdua..." Lanjutnya.


"Bener Rei kata Naura...." Sahut Alissa. "Tuhan tau mana jalan yang baik bagi lo dan Revan... Dan gue yakin ini juga sulit bagi Revan..."


"Kalian sama-sama kehilangan.... Selepas dari apa yang telah ia lakukan ke elo, tapi gue yakin sebagian besar dari hatinya gamau kehilangan lo Rei...."


"Lo boleh galau, lo boleh hancur, dan bahkan lo boleh nangis sekencang-kencangnya. Tapi inget, lo harus tetep bangkit. Sesakit apapun masalah, pasti cepat atau lambat akan terselesaikan Rei..." Serinda menjeda ucapannya.


"Ada kita di samping lo Rei... Lo ga sendiri.... Kita siap menjadi pengganti Revan agar lo bisa punya tempat berlindung disaat sekitar lo ga baik-baik aja.... Kita ga akan ninggalin lo, tapi sebaliknya, kita akan selalu disamping lo Rei...."


Beberapa saat setelahnya, Alissa melepaskan pelukannya lalu ia berdehem. "Ehem... Mending kita udahin aja galau-galaunya. Trus kita curhat semua rahasia yang kalian sembunyiin selama ini." Lalu ia melemparkan tatapan kearah tiga sahabatnya sembari tersenyum.


"So guys, rahasia apa yang mau kalian ceritain kali ini??"


...🌼🌼🌼...


Tok! Tok! Tok!


Dan pintu pun terbuka sesaat setelah pria di dalam ruangan itu mempersilahkannya masuk.


"Selamat malam pak, saya membawa dokumen yang kemarin bapak minta." Ujar seorang pria yang berusia sekitar 30 tahun itu sembari menyerahkan map coklat di depan bosnya.


"Kamu sudah pastikan semua data ini valid?"


"Sudah pak,"


Vito-nama pria itu- membuka map coklat dan mengeluarkan isinya. Ia sangat suka kerja asisten pribadinya ini. Pasalnya ia berhasil mendapat informasi yang lengkap dalam jangka waktu singkat.


Map coklat itu berisi beberapa foto serta beberapa dokumen yang ia inginkan. Ada satu foto yang tampak sangat persis dengan foto yang tak sengaja ia temukan di kamar Gibran, anaknya.


Rupanya apa yang selama ini ia curigai sudah terbukti benar. Kecurigaannya bermula saat ia bertemu dengan gadis itu di pesta ulang tahun Gibran. Awalnya ia hanya merasa tak asing dengan nama yang gadis itu sebutkan, lalu ada bagian dari wajah gadis itu yang berhasil mengingatkannya kepada seseorang.


Kecurigaannya semakin bertambah saat dirinya tak sengaja menemukan foto ukuran 10×6 di kamar anaknya. Dan sejak saat itulah ia memerintahkan asisten pribadinya untuk menelusuri semua ini. Dan kemungkinan terburuknya hal ini berhubungan dengan teror yang akhir-akhir ini telah ia terima.


"Naura Azkia Pradipta... Ah pantas saja dia memiliki mata yang mirip denganmu, Samuel. Haha ternyata kamu sudah sebesar ini nak...." Kata Vito sembari menatap dokumen dan foto yang ia pegang secara bergantian.


Lalu ia beralih menatap foto lelaki berusia 20 tahunan itu. "Seharusnya kamu tetap diam agar semuanya berjalan semestinya Kenzie...."


"Samuel... Anakmu telah tumbuh seperti yang kau harapkan.... Tapi maaf aku akan kembali mengecewakanmu jika memang mereka melewati batas yang seharusnya tak mereka lewati..." Ujar Vito sembari mengukir senyuman licik.


Tak lama setelah itu, terdengar kembali ketukan dari pintu. Dengan segera Vito langsung kembali memasukkan foto serta dokumen kedalam map coklat dan langsung ia amankan, karena memang ia tau betul siapa yang mengetuk pintu ruangan kerjanya. Tak lupa pula ia menyuruh asistennya untuk segera meninggalkan ruangannya.


Dan benar, saat pintu terbuka, Gibran langsung muncul dari baliknya. Gibran melihat ada yang aneh sebelum dirinya kemari. Buktinya saja ia melihat Setyo asisten pribadi papanya berada di ruangan kerja papanya semalam ini. Coba pikir, untuk apa pria itu datang kemari?


Vito beranjak dari kursi kebesarannya. "Ah ya kamu sudah prepare buat besok?" Tanya nya sembari berjalan mendekati Gibran yang sedang duduk di sofa.


"Sudah pa, Gibran baru aja selesai prepare."


"Baguslah kalau begitu. Karena papa mau bilang kalo penerbangan kita dimajukan jam 6 pagi."


"Apa pa? Tapi papa kemarin bilangnya kita take off jam 3 kenapa jadi jam 6 pagi?"


"Iya memang. Tapi tadi Setyo baru saja mengonfirmasi kembali kepada papa bahwa jadwal penerbangan kita jam 6 pagi. Jadi papa harap kamu bisa bangun lebih pagi dari biasanya. Karena jam 5 kita berangkat dari rumah."


Gibran terdiam sejenak lalu menghembuskan nafasnya. "Baik pa." Jawab lelaki itu dengan penuh kepasrahan.


...🌼🌼🌼...


Selepas dari ruangan Vito, Gibran langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur. Ia bingung, karena jika jadwal penerbangan nya dimajukan maka otomatis ia tak bisa menjemput Naura di rumah Reina. Dan lebih parahnya lagi, ia tak bisa menemani pacarnya itu ke toko buku, seperti yang telah ia janjikan kemarin.


Dan akhirnya Gibran memutuskan untuk mengabari gadis itu. Meskipun ia takut jika Naura kecewa, tapi mau tak mau ia harus tetap membicarakan hal ini.


^^^Gibran R^^^


^^^Malem cantiknya aku....^^^


Seperti yang Gibran duga, beberapa detik setelahnya ia langsung mendapatkan pesan balasan.


My Nau ❤️


Iya gantengg... Kenapa? Kangen ya sama aku? Xixi


^^^Gibran R^^^


^^^Haha tau aja sih kamu^^^


My Nau ❤️


Jelas tau lah, kan aku bisa liat perasaan kamu dari sini


^^^Gibran R^^^


^^^Bisa aja sih pacar aku ini...^^^


^^^Gibran R^^^


^^^Ah ya by, kamu tau ternyata jadwal penerbangan aku besok maju :"(^^^


^^^Gibran R^^^


^^^Papa tadi baru ngasih tau kalo kita ga jadi berangkat jam 3 tapi jam 6 pagi^^^


Setelah pesan terakhir itu, Naura cukup lama dalam menjeda balasannya. Karena tanda baca langsung terlihat, maka Gibran yakin bahwa Naura masih di tempatnya.


^^^Gibran R^^^


^^^Maafin aku yaa karena ga bisa nepatin janji buat jemput dan sekalian anter kamu ke toko buku 🥺^^^


My Nau ❤️


Kalo emang di majuin ya gpp by. Nanti aku pulangnya gampang, bisa minta jemput bang Kenzie dan juga bisa naik ojek online


My Nau ❤️


Kalo buat nemenin ke toko buku, kita bisa re schedule lagi setelah kamu dari Surabaya by


^^^Gibran R^^^


^^^Tapi aku ga enak sama kamu by :"(^^^


My Nau ❤️


Kayak sama siapa sih kamu 😂


My Nau ❤️


Nurutin orang tua juga penting sayang... Jadi kamu ga boleh merasa terbebani karena janji kamu kemaren oke?


^^^Gibran R^^^


^^^Hhh yauda by sekali lagi maafin aku yaa^^^


My Nau ❤️


Iya Gibran sayang.... Udah mending kamu sekarang prepare buat besok


^^^Gibran R^^^


^^^Kalo itu mah aku udah selesai dari tadi cantik...^^^


My Nau ❤️


Pinternya pacar aku 🤭


^^^Gibran R^^^


^^^😎^^^


^^^Gibran R^^^


^^^Vc yuk by, aku udah kangen tau sama kamu :"(^^^


My Nau ❤️


Ih ga boleh Gibran.. sekarang aku lagi sama anak-anak. Ga enak nanti kalo aku tiba-tiba izin mau vc sama kamu 😌


^^^Gibran R^^^


^^^Hhh yauda deh besok aja gpp :))^^^


My Nau ❤️


Btw berhubung sekarang udah malem, mending kamu tidur, besok harus harus bangun pagi kan?


^^^Gibran R^^^


^^^Iya Naura sayang...^^^


^^^Gibran R^^^


^^^Yaudah aku bobok dulu yaa^^^


^^^Gibran R^^^


^^^Sampai ketemu nanti di mimpi😘^^^


My Nau ❤️


As always by ❤️❤️


Di sebrang sana Naura tersenyum simpul. Meskipun percakapan mereka selalu sederhana tapi entah kenapa selalu berhasil membuat dirinya baper. Dan Naura pun melakukan hal yang sama seperti apa yang ia perintahkan kepada Gibran. Ia mematikan ponselnya, lalu menyusul teman-temannya yang sudah terlelap beberapa saat lalu.


...🌼🌼🌼...


...See you next part...


...To Be Continued...


...Follow ig: @kata.author...