
..."Ada kalanya kata yang di ucapkan oleh bibir tak sesuai dengan kata hati. Bukan berniat berbohong, hanya saja ada beberapa hal yang belum saatnya dijelaskan. Because all will have its time, right?"...
...-Kenzie Dirga-...
...🌼🌼🌼...
Ruangan yang beberapa menit lalu sunyi senyap seketika kembali ricuh saat pria berusia setengah abad itu baru saja menyudahi penjelasannya.
"Ken, plis jangan ngilang-ngilang lagi!! Ini besok kita udah presentasi, sedangkan materi dari lo belum lengkap, padahal gue tinggal finishing ppt nya. Atau lo berniat bolos kelas waktu matkul besok??" Cerocos gadis dengan rambut tergerai itu.
Setelah menutup laptopnya Kenzie tersenyum menatap gadis itu. "Pikiran lo kadang terlalu negatif ya?! Apa gue terlihat sebagai mahasiswa yang suka bolos??"
"Ga sih, tapi siapa tau aja kan... Ah elah Ken gue sampe capek nge spam chat lu, andai lo ga sekelompok sama gue, gue juga ogah melakukan itu setiap hari."
Kenzie terkekeh. Rupanya sekelompok dengan Risa tidak seburuk yang ia kira. "Yaudah mau lo sekarang apa?!"
"Wah sarap nih bocah!! Gue dari tadi ngomong ga lo dengerin?? Ah atau lebih parah lagi dari kemarin lo ga memahami chat yang gue kirim??"
Sekali lgi Kenzie terkekeh. "Serah lu aja Ris." Katanya lalu beranjak dari kursi yang ia duduki.
Risa sontak menahan lengan Kenzie. Enak saja lelaki itu mau kabur. "Gak! Lo ga boleh kabur!! Pokoknya hari ini juga lo harus--"
"Harus ngemenin lo finishing ppt, that's right?!" Sahut Kenzie dengan senyum miringnya. "Yaudah yuk ikut gue ke cafe!"
Senyum seketika merekah di bibir Risa. "Bentar, gue mau ambil tas dulu!!" Ujarnya lalu melesat menuju kursinya dan langsung kembali menyusul Kenzie.
"Lo bawa motor apa gimana?!" Tanya Gibran saat mereka sudah berjalan di koridor menuju pintu keluar.
"Bawa motor kok tenang aja."
"Oh yaudah, soalnya nanti setelah dari cafe gue mau langsung jemput adek gue."
Mendengar kata adik, membuat Risa menolehkan kepala kearah Kenzie. "Lo punya adek?!" Kenzie pun mengangguk.
"Wah daebak!! Kasian dong adek lo harus ngadepin kulkas jalan kek lo,"
Kenzie terkekeh. "Enggak kok, apa lo mau daftar jadi adek gue?!"
"Ih ogah!! Sekelompok sama lo aja udah bikin gue naik darah!!"
Kenzie masih saja terkekeh. Namun tangannya saat ini terulur mengacak pelan rambut Risa. "Sa ae lu!!" Setelah mengucapkan, itu ia berjalan mendahului Risa.
Mendapat perlakuan seperti itu dari Kenzie membuat Risa langsung mencubit tangannya, untuk memastikan yang terjadi saat ini bukanlah mimpi.
"Aww!" Ternyata kejadian yang ia alami saat ini bukanlah mimpi. "Bukan gue yang mimpi, jadi kayaknya si Kenzie yang ada masalah. Apa iya yang tadi disebelah gue adalah jin jelmaannya Kenzie?!"
Karena perlakuan tak biasa itu kenapa malah membuat otak Risa travelling kemana-mana?! Ah sial.
Risa pun yang tak ingin melanjutkan pikiran negatif nya itu pun langsung menggelengkan kepalanya berulang kali. Berusaha membuang segala pikiran-pikiran itu. Sedetik kemudian ia langsung berlari mengejar Kenzie yang sudah hilang di belokan depannya.
Risa memelankan langkahnya saat melihat Kenzie seperti sedang menelpon seseorang. Ah iya apa mungkin adeknya? Tapi sepertinya tidak. Karena raut wajah Kenzie telah berubah seperti menahan amarah. Tidak mungkin kan jika bertelponan dengan sang adek membuat Kenzie marah?
Beberapa menit kemudian, Kenzie yang sudah menutup teleponnya itu langsung menghampiri Risa yang sudah menunggu di jarak yang tak cukup jauh darinya. Dan lagi-lagi raut wajah Kenzie berubah. Raut inilah yang Risa lihat beberapa saat lalu saat lelaki itu masih berjalan bersamanya di koridor.
"Kenapa?!" Tanya Risa dengan nada tak sekeras sebelumnya.
"Sorry ya." Kenzie menakupkan kedua tangannya. "Gue tiba-tiba ada urusan mendesak. Jadi gue ga bisa nemenin lo finishing ppt."
Sudah Risa duga. Tapi entah kenapa kali ini ia tak bisa membantah Kenzie seperti sebelumnya. Apa ini gara-gara hal yang lelaki itu bicarakan di telepon??
"Tapi Ris, lo ga perlu khawatir, materi bagian gue akan tetap gue cari. Paling lambat nanti jam 8 bakal langsung gue kirim ke lo. Jadi ga papa kan kalo lo lanjutin finishing setelah itu??"
Risa menghela nafas panjang. Ia tak boleh egois. Meskipun ini tugas bersama, tapi jika memang Kenzie memiliki urusan mendesak, ia bisa apa? Toh kalau dia berada di posisi Kenzie ia mungkin juga akan melakukan hal yang sama.
"Yaudah ga pa-pa Ken. Yang penting lo harus kirim materi sebelum jam itu. Tapi jangan sampai lo ingkari omongan lo sendiri, ngerti?!"
"Iya Ris, kalo gitu gue balik dulu ya?!" Pamit Kenzie. Setelah melihat Risa mengangguk, ia pun langsung melesat menuju tempat dimana motornya ia parkir.
Entah mengapa saat melihat raut Kenzie yang kembali berubah saat membelakanginya, membuat Risa ingin menanyakan apakah lelaki itu baik-baik saja. Bukannya ia sok peduli atau gimana, tapi ia bisa merasakan jika sesuatu telah terjadi kepada Kenzie. Ah sudahlah. Toh ia bukan siapa-siapa nya Kenzie, bukankah begitu?
...🌼🌼🌼...
Saat kembali ke kelas, Naura menyerngit saat melihat beberapa makanan yang berada di mejanya. Karena memang ia merasa tak menitip makanan ke siapapun.
"Dari siapa Al?!" Tanya Naura kepada Alissa yang fokus dengan ponselnya.
Ia mengedikkan bahu. "Gue ga tau Ra, tadi waktu balik dari kantin makanan itu udah di meja lo, gue kira lo yang beli."
"Oh gitu ya." Karena rasa penasaran Naura belum terjawab, akhirnya ia menggeledah mejanya. Kali aja ada petunjuk.
Dan benar, saat Naura mengangkat buku-bukunya disana ia melihat kertas kecil di sisipkan ke dalam tumpukan buku di atas mejanya itu.
Hi!
Kalo lo baca surat ini berarti lo berhasil nemuin surat alay dari gue :)
Naura, gue nulis ini karena gue tau kalo gue bicara lewat chat ataupun dm gaakan lo bales.
Jadi gini, waktu lima menit saat kita bucara tadi sudah cukup membuat gue berpikir ulang. Dan gue akuin gue salah.
Sorry karena gue ga peka kalo semua hal yang gue lakukan itu mengganggu lo. Meskipun niat awal gue ga seperti itu.
Emang bener gue suka sama lo dan ingin membuat lo melirik kearah gue seperti mereka mencintai gue. Tapi gue sadar itu hanya keegoisan yang ga bisa gue tahan.
Tapi lo tenang aja, mulai saat ini gue ga akan melakukan hal-hal yang mengganggu lo. Karena gue ga mau lagi memaksa lo untuk mencintai gue. Mencintai gue ataupun ga itu hak lo.
Meskipun begitu, perasaan gue ga akan berubah. Walaupun perasaan ini ga akan mendapat balasan, tapi setidaknya biarkan hingga waktu bisa menghapus nama Naura dari hati gue.
Oh ya, gue harap lo habiskan makanan yang gue kasih. Bisa lo jamin ini makanan terakhir yang bakal lo terima dari gue. Gue ngasih murni karena ingin mengembalikkan mood lo yang sudah gue rusak sejak beberapa hari lalu.
Gue denger sih coklat bisa mengembalikkan mood. Bener kan ya?
Intinya gue mau minta maaf yang sebesar-besarnya ke lo. Dan gue tetap mendoakan lo di sepertiga malam agar Tuhan menjadikan kita sebagai jodoh. Aamiin.
^^^~Gib^^^
"Hayoo! Dari siapa tuhh?!" Goda Alissa. Dan Naura pun dengan kecepatan kilat langsung menyembunyikan surat itu.
"Ga dari siapa-siapa kok!!"
"Ah masa?? Dari Gibran ya?!"
"Enggak Al, udah ih sana lanjutin scroll tik tok nya!!"
"Acie dari Gibrann!!" Goda Reina. "Tapi Ra, kenapa harus pake surat segala sih? Biasanya aja langsung nyamperin lo."
"Gue tau nih, pasti kalian lagi berantem ye kan?'" tebak Serind yang tepat sasaran.
Melihat Naura yang seketika langsung mendesah membuat Serinda menjentikkan jarinya. "Fiks kalian lagi berantem!!"
"Cenayang ya lu Ser?!" Celetuk Alissa.
"Ya nggak lah. Tapi keliatan jelas kok."
Naura kembali mendesah. Entah kenapa jika menyangkut hal seperti ini ia tak bisa menutupinya dari sahabat-sahabatnya. Dan akhirnya ia pun memilih untuk jujur.
"Jadi, kalian lihat apa yang terjadi kemarin??"
"Yup! Semua!!" Seru Serinda. "Disaat dimana Gibran mergokin lo berduaan sama Raka."
Sontak Naura langsung menolehkan kepala kearah Alissa. Ia takut jika Alissa akan sakit hati saat melihat dirinya dan Raka seperti kemarin.
"Apa sih Ra?? Santai aja kali. Jangan bilang lo anggap serius omongan gue waktu di tribun??" Naura pun mengangguk.
"Omg Ra, gue tu cuma asal jeplak aja ya waktu bilang suka sama Raka. Masa lo ga hafal sih kalo gue sering jatuh hati sama cowok yang korean vibes gitu. Dan itu semua itungannya cuma sementara,Ra." Alissa akhirnya menjelaskan yang sebenarnya. Agar Naura tak lagi salah paham dengan dirinya. Keadaan dimana ia jatuh cinta dengan Raka tidak nyata adanya.
"Jadi, apa nih yang mau lo ceritain ke kita?!" Tanya Reina dengan alis yang diangkat.
Naura menarik nafas cukup dalam sebelum akhirnya ia bercerita kepada ketiga orang sahabatnya itu. Tak lama setelah ia bercerita, pintu ruang kelas itu terbuka dan menimbulkan bunyi yang cukup nyaring.
Seketika suasana yang ricuh berubah menjadi senyap. Beberapa siswa yang tadinya berkeliaran pun kembali ke tempat duduknya.
Mereka cukup heran dengan kehadiran guru pria berkacamata itu. Pasalnya guru yang mengajar pada jam ini sudah memberikan info bahwa beliau tak dapat mengajar. Lantas, untuk apa beliau berada disini?
"Assalamualaikum semua! Selamat siang!! Sebelumnya maaf, bapak mau menyita sedikit waktu kalian. Disini selaku wali kelas kalian, bapak akan memberikan informasi mengenai study tour yang akan kita lakukan minggu depan!!"
Mendengar kata study tour membuat seluruh murid dikelas itu kembali bersorak. Ah tak terasa minggu depan sudah study tour ya?!
"Ra!" Panggil Alissa pelan ditengah kehebohan kelas itu.
"Hm?!"
"Gue cuma mau bilang, gue akan selalu mendukung pilihan yang menurut lo terbaik." Senyum tulus itu mengakhiri perkataan Alissa.
Naura pun membalas senyuman gadis yang sudah menjadi teman sebangkunya sejak kelas 10 itu. "Thanks Al."
...🌼🌼🌼...
Bel penyelamat bagi para siswa pun akhirnya berbunyi. Semua guru yang mengajar di setiap kelas langsung menyudahi aksinya.
Beberapa menit setelah kepergian guru, mereka langsung berhamburan keluar kelas. Segera pergi tuk merilekskan pikiran dari pelajaran sekolah yang cukup menguras tenaga dan pikiran.
Tak terkecuali Naura. Gadis itu memutuskan untuk langsung kembali kerumahnya. Karena memang ia tak sabar ingin segera merebahkan rubuhnya pada kasur tercinta.
Namun, pesan yang ia terima beberapa detik lalu berhasil membuat mood nya memburuk. Ya, abang tercintanya itu lagi-lagi tak bisa menjemputnya.
Terkadang memang mengesalkan sih, tapi apalah daya Naura tak bisa membantah. Apalagi jika sudah berurursan dengan kuliah. Ga mungkin kan ia egois diatas kewajiban kakaknya?!
Untung saja pulang dengan menggunakan kendaraan umum sudah biasa baginya. Namun, sejak kejadian itu Naura belum pernah kembali menginjakkan kaki di halte dekat sekolahnya.
Ah saat duduk disini rasanya Naura langsung bernostalgia disaat dimana Gibran datang disaat ia membutuhkannya.
Untung saja keadaan halte saat ini tak se sepi kemarin. Masih ada beberapa siswa serta siswi yang berada di sekitarnya. Setidaknya Naura bisa lega untuk saat ini.
"Naura?!" Panggilan itu sontak membuat Naura mendongak. Tepat di depannya ia dapat melihat kehadiran Raka yang sedang berada diatas motornya. Dan tak lupa senyum manis itu menghiasi wajahnya.
"Raka?!" Naura pun memutuskan untuk mendekati lelaki itu. Untuk sekedar memastikan apakah yang ia lihat saat ini adalah Raka yang asli.
"Ya Ra ini gue, Raka."
"What? Trus kenapa lo ada disini?!"
"Ya tadi sebenarnya gue ga sengaja lewat daerah sini. Eh kebetulan juga liat lo di halte, yaudah lah langsung gue samperin."
"Oh gitu,"
"Jadi, lo sekarang mau pulang naik??"
"Mau naik angkot sih, soalnya bang Kenzie masih ada kelas kuliah."
"Oh jadi gitu, yauda kalo gitu pulang bareng gue aja, mau ga?!"
Mendapat tawaran seperti itu berhasil membuat Naura bimbang. Karena gengsi yang ia miliki sudah berhasil menutupi kemauannya.
"Gpp Ra, lagian rumah kita kan sejalur. Mau ya?!"
"Eee yauda deh Ka gue ikut. Tapi ini gratis kan?!"
Raka sontak tertawa pelan. "Lo kira gue abang ojol yanv harus lo bayar kemana pun?!"
Naura dengan polosnya menggeleng. "Enggah sih."
"Nah, berarti ga ada alasan lagi dong untuk menolak tawaran gue?!"
"Iya Ka iya." Balas Naura sebelum ia menaiki jok dibelakang Raka.
"Pegangan!!" Seru Raka sebelum ia kembali menginjak gas motornya.
Hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai dirumah Naura. Setelah sampai, Naura pun langsung turun dari motor Raka.
"Thanks ya Ka," kata Naura disertai senyum manis yang menghiasi bibirnya.
"You're welcome Ra. Yaudah kalo gitu gue balik dulu ya?!"
Naura mengangguk. "Iya. Hati-hati Ka!!"
Setelah Raka membalas ucapan Naura dengan membunyikan klakson motornya, ia pun kembali menancap gas motor miliknya. Meninggalkan area rumah Naura.
...🌼🌼🌼...
...Hi readers!!...
...Gimana-gimana seru gaa??...
...Jan lupa nantikan part selanjutnya yaa...
...Author jamin part selanjutnya bakal lebih seruu 🤩...
...Author ucapkan terimakasih buat para readers yang setia membaca serta mendukung cerita ini 😊...
...Dan buat kalian yang belum mendukung, yuk luangkan waktu kalian untuk memberi dukungan ke cerita EVANESCENT ini😊...
...Dengan cara like, komen, Vote, Rate bintang 5, dan share ke temen-temen kalian😍...
...Biar author jadi lebih semangat dalam nulis😍...
...Dan author mau ngingetin lagi, setiap komen yang kalian berikan di setiap part pasti akan langsung mendapat feedback ke cerita kalian dari Authorr😍...
...Mari saling dukung guys!!❤️❤️...
^^^See You^^^
...To Be Continued...