Evanescent

Evanescent
Maafkan Aku Reina



..."Kalau mendapat kesempatan memutar balikkan waktu, kalian ingin apa?...


...Me: Ingin memperbaiki kesalahan dan berusaha menerima sepahit apapun masa lalu. Agar aku bisa hidup di masa ini dengan bahagia bersamamu." ...


...-Revan Adyan Nugroho-...


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


"Kenapa Ra?" Tanya Alissa yang kebetulan tau wajah cemas Naura.


Naura menoleh kearah Alissa dengan raut wajah yang semakin cemas. "Al, Reina semalem ga pulang kerumah."


"What? Jangan ngaco deh Ra!!"


"Engga Al, gue serius. Baru aja nyokapnya Reina telpon gue. Katanya semalem Reina nginep rumah gue, otomatis gue bingung dong, orang nyatanya Reina sama sekali ga main kerumah gue. Tapi karena gue ga tega ngomong yang sebenernya, jadi gue terpaksa bohong sama nyokapnya Reina."


Mendengar itu Alissa menjadi ikut panik. "Trus gimana Ra? Reina juga sama sekali ga nelpon gue, orang chat grup kita juga ga di read sama dia."


"Nah iya itu, makanya gue bingung."


"Lo tadi bilang apa? Reina ilang?" Sahutan Serinda yang cukup keras itu langsung mendapat tatapan sinis dari Naura dan Alissa. Pasalnya mereka tidak mau informasi ini sampai bocor ke sembarang orang.


"Njir jangan keras-keras kalo ngomong!!" Tegur Alissa.


"Ah ya sorry. Tapi Ra, yang lo katakan apa bener?"


"Iya Ser... Gue gaakan bohong kalo soal ginian."


"Damn it!!"


"Lo tau dimana Reina Ser?" Tanya Naura balik.


"Kemarin kalian lihat Reina terakhir dimana?"


"Waktu break sholat dhuhur, dia izin mau jalan sama sepupunya yang kebetulan berkunjung ke festival." Jawab Alissa.


Tiba-tiba raut wajah Serinda berubah tak mengenakkan. Entah sejak kapan emosi gadis itu mulai meluap. Atau mungkin, dia teringat dengan apa yang ia lihat kemarin? Bagaimana jika memang hal itu berhubungan dengan hilangnya Reina?


"Gue sepertinya tau Reina dimana."


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


Revan menyandarkan tubuh di kaki kasur besar miliknya. Pikirannya kacau. Sekacau hatinya.


Semalam, di detik terakhir terhanyut oleh nafsu setan, dia berhasil mengendalikan dirinya. Karena tanpa ia minta, sosok Reynal kembali muncul di alam bawah sadarnya. Abangnya itu kembali mengingatkan dirinya untuk tak jatuh ke jalan yang salah.


Sejak saat itu kenangan tentang Reynal satu persatu muncul di benaknya. Rasa dendam itu juga semakin memberontak. Pasalnya objek yang bisa ia jadikan sebagai pelampiasan dendam sudah berada tepat di depannya. Tapi tetap saja, tubuh Revan tak bisa melanjutkannya.


Semua yang ia lakukan salah. Ya, ia sadar betul akan hal itu. Dan ia juga sangat setuju dengan apa yang Raka katakan, bahwa Reina adalah gadis yang terlalu baik untuk ia sakiti.


Melihat gadis itu terbaring lemah dibawah kendali obat yang sengaja ia berikan, tanpa sadar berhasil meremas hati Revan. Belum lagi jika saat itu ia berhasil merenggut keperawanan gadis itu, entah sehancur apa mentalnya nanti.


Egois. Bodoh. Pengecut. Tiga kata itu mungkin saat ini pantas diberikan untuk Revan.


Ya, karena ia terlalu egois dengan selalu mementingkan dendam masa lalu dibandingkan perasaannya yang sebenarnya. Ia juga bodoh, karena sangat terlambat dalam menyadari perasaannya untuk Reina. Dan ia sangat pengecut. Pengecut karena tak pernah berani mengatakan yang sejujurnya kepada Reina.


Jika waktu bisa diulang, Revan tak akan pernah memilih menjadi pribadi yang seperti sekarang ini. Ia ingin berusaha berdamai dengan luka itu, agar nantinya ia bisa tumbuh menjadi seseorang yang jauh lebih baik daripada yang sekarang. Dan tentunya menjadi pacar yang baik untuk Reina. Seperti yang Reina harapkan.


Tak lama setelah itu, Revan mendengar erangan Reina. Rupanya gadis itu sudah terbangun dari tidurnya. Namun, Revan tak beranjak, dia tetap pada posisinya. Dengan keadaan yang cukup berantakan.


"Van..." Panggil Reina.


Saat kesadarannya terkumpul, ia langsung melemparkan tatapan ke sekitar.


Tunggu. Kenapa dia bisa tidur diatas ranjang Revan? Apa semalam ada sesuatu yang terjadi dengannya? Jika iya, kenapa pakaian yang ia kenakan semalam masih utuh?


"Arrghh..." Kepala Reina mendadak pening, saat ia memaksakan mengingat apa yang ia alami semalam.


"Revan... Please tell me, apa yang sebenarnya terjadi semalem..." Ujar Reina dengan masih menahan pening di kepalanya


"Maafin aku Rei... Maafin aku...."


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


Bel istirahat telah berbunyi beberapa menit lalu, pertanda bahwa kegiatan kerja bakti akbar di SMA Xavier telah selesai.


Seperti biasa, Gibran langsung menuju ke kelas Naura. Ia rindu melihat wajah cantik gadisnya itu. Meskipun baru beberapa jam mereka berpisah, tapi entah mengapa Gibran selalu ingin cepat-cepat melihat wajah pacar kesayangannya.


"Eee Nauranya masih di dalam ga?" Tanya Gibran kepada salah seorang siswi yang baru saja keluar dari kelas Naura.


"Naura udah pergi sekitar 15 menit lalu."


"Pergi? Kemana?"


"Gue ga tau kemana, tapi tadi kayaknya buru-buru gitu sama temen-temennya."


"Oh gitu.... Yaudah makasi yaa.."


Setelah mengangguk, perempuan itu langsung meninggalkan Gibran yang masih berdiri di depan kelasnya.


Tanpa pikir panjang, Gibran langsung mendial nomor Naura. Setidaknya ia harus memastikan lokasi gadis itu.


"Halo Ra!!" Beruntung, Naura langsung mengangkat tlepon dari Gibran. Sehingga kekhawatiran yang lelaki itu rasakan bisan sedikit berkurang.


"Halo by, kenapa?"


"Ini aku ke kelas kamu, tapi katanya kamu lagi keluar ya? Kemana?"


"Ah yaa..." Di sebrang sana Naura bingung harus menjawab apa. Lalu ia meminta persetujuan Serinda dan juga Alissa. Setelah keduanya mengangguk, Naura baru melanjutkan perkataannya.


"Ini aku lagi diluar sama Alissa sama Serinda by. Tadi kita udah izin ke guru kok."


"Luar? Mau ngapain??" Gibran sudah mulai merasakan kecemasan. Suara klakson dan kebisingan jalanan samar-samar dapat ia dengar dari panggilan Naura.


"Kita lagi cari Reina by. Dan katanya Serinda kemungkinan tau dimana dia berada, jadi kita mutusin buat nyamperin Reina."


"Bentar-bentar..." Sungguh, Gibran tak bisa mencerna perkataan Naura. Cari Reina? Memang gadis itu kemana?


"Jadi maksud kamu Reina ngilang gitu?"


"Nggak! Nggak! Share loc sekarang juga. Aku bakal susulin kamu!!" Seru Gibran dengan berlari kecil kembali ke kelasnya. Ya mengambil kunci motor sekaligus mengajak salah satu temannya.


"Enggak usah by... Kamu lanjutin kelas aja ya?"


"Naura!! Aku ga mau kamu kenapa-kenapa. Jadi pliss share loc sekarang juga."


Naura menghela nafas dalam. Jika Gibran sudah mulai keras kepala, maka mau tak mau ia harus mengalah.


"Oke. Nanti kalo udah sampe aku langsung share loc."


"Nah gitu dong... Btw, jaga diri kamu yaa sampe aku dateng."


"Iya Gibran sayang... Udah ya aku tutup."


"Iya sayang..."


Sesampainya di kelas, Gibran langsung menuju bangkunya. Mengambil jaket sekaligus kunci motor di tasnya.


"Gue mau nyamperin Naura sama temen-temennya. Mereka lagi nyari Reina."


Mendengar kata Reina, Aziel langsung berdiri dari bangkunya. Lalu ia menatap Gibran dengan tatapan penuh tanya.


"Reina? Maksud lo?"


"Dia semalem ga pulang ke rumah. Nanti detailnya bakal gue ceritain lagi, yang penting siapa yang mau ikut gue sekarang?!"


"Gue Gib!! Gue bakal ngehajar siapapun itu yang berani nyulik Reina!!" Seru Aziel.


"Oke lo ikut gue. Mahesa, Darel, kalian nyusul nunggu kabar dari gue. Soalnya guru piket bakal curiga kalo kita izinnya barengan."


"Iya Gib. Udah sana buruan susul si Naura!!"


"Oke. Kita berangkat!" Tepat saat itu ada pesan masuk di ponsel Gibran. Dan benar, itu adalah Naura yang mengirimkan titik lokasinya saat ini.


Sesaat Gibran menyerngit. Ia heran, kenapa Naura mengirimkan lokasi yang sangat tak asing baginya ini?


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


Beberapa saat yang lalu, tepat setelah Naura mendapat telepon dari Gibran, kini giliran Serinda yang menghubungi seseorang.


"Halo? Ada apa ser?" Suara ini sangat familiar di telinga Naura. Tapi kenapa Serinda malah menghubunginya?


"Raka! Gue mau ketemu lo sama temen-temen lo sekarang!! Kita ketemuan di warkop depan sekolah lo!!! 10 menit lagi gue sampe."


"Ha? Ngapain?"


"Gausah banyak tanya!! Yang penting 10 menit lagi kalian harus sudah ada disana!!"


"Ser--" Serinda memutuskan panggilannya tepat saat Raka belum selesai berbicara.


"Tunggu Ser, kenapa lo malah nelpon Raka? Ada hubungan apa sama hilangnya Reina?" Tanya Alissa yang masih fokus menyetir.


"Untuk saat ini gue ga berhak jelasin semuanya ke kalian, biar nanti Raka yang jelasin sendiri."


Kalimat ini sangat ganjal bagi Naura. Ya, pasti ada beberapa hal yang selama ini tak pernah ia ketahui.


Tepat sepuluh menit, akhirnya mereka sampai di wakrop Nifity yang terletak di depan SMA Trizan. Dan benar Raka beserta teman-temannya sudah berada di lokasi tersebut.


Dengan langkah lebar, Serinda menghampiri ketiga lelaki tersebut. Tatapan gadis itu berubah, menjadi tatapan maut yang siap menerkam musuhnya.


"Dimana sahabat lo yang satunya ha?!!"


"Slow Ser slow!! Jangan nge gas dulu, mending kita omongin baik-baik aja." Ujar Dika yang berusaha menenangkan emosi gadis itu. Tapi rupanya usahanya gagal.


"Gue tanya, dimana si Revan hah?!!"


Bentakan kedua Serinda terdengar lebih kencang daripada sebelumnya. Membuat Naura dan Alissa diam tak berkutik.


"Si Revan hari ini sakit jadi dia ga masuk. Emang kenapa lo nyari Revan?!" Balas Bryan.


"Sakit kata lo?!" Serinda tersenyum miring. "Sorry gue ga percaya!!"


"Terserah lo mau percaya atau engga, yang jelas dia hari ini izin ga masuk karena sakit."


"Bullshit tau ga!! Gue tau kalian sekongkol sama Revan buat nyelakain Reina kan?!"


Mendengar kata Reina, ketiga lelaki disana menyerngitkan dahi. Sungguh mereka tak paham apa yang dimaksud Serinda.


"Reina? Maksud lo?" Tanya Aldo memastikan.


"Reina hilang Anj*ngg!!! Semalem dia ga pulang kerumah!"


Deg.


Mendengar itu, Raka seperti disambar petir. Hal buruk yang selama ini mengganggunya akhirnya terjadi. Apa mungkin ini jalan yang terbaik Revan pilih?


"Trus kok lo nyalain Revan?"


"Gue tau yang dimaksud Serinda. Dan gue bisa jelasin ke kalian." Bukan Serinda yang berkata. Melainkan Raka. Karena ia pikir sekarang adalah saat yang tepat untuk ia mengatakan segalanya yang ia tau.


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


...Gimana nihh part ini??...


...Seru kahh??...


...Pasti seru dong! xixi...


...Jangan lupa selalu dukung authorr โค๏ธโค๏ธ...


...Nantikan juga part-part selanjutnya yang lebih seruu ๐Ÿฅฐ...


...See You next part๐Ÿ˜‰...


...To Be Continued...


...Follow ig @kata.author...