Evanescent

Evanescent
Doi Jatuh Sakit



..."Kamu tau, di dunia ini ga ada obat yang manjur selain melihat senyum manis di bibir kamu. Xixi." ...


...-Naura Azkia P-...


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


Rabu ini berbeda dengan biasanya. Biasanya Naura dapat melihat kehadiran sosok Gibran di tengah-tengah siswi IPS 2. Tapi sekarang tidak. Ya, hari ini adalah jadwal olahraga bagi kelas Naura dan Gibran yang memang kebetulan sama.


"Lo sakit Ra?" Tanya Reina tiba-tiba disaat mereka masih duduk di tepi lapangan menunggu kehadiran guru mata pelajaran olahraga.


"Enggak. Gue sehat kok."


"Tapi muka lo pucet Ra.."


"Masa sih? Tapi sekarang gue ngerasa fine-fine aja."


"Yauda nanti kalo lo ngerasa pusing atau ga kuat lagi, bilang aja ya, nanti gue anter ke uks."


"Iya Reina siapp..."


Ngomong-ngomong soal tidak enak badan, mungkin Naura tidak bisa menyangkal semuanya. Karena memang pagi tadi dirinya tak sempat menyantap sarapan. Hanya satu gelas susu yang ia teguk sebelum berangkat. Itupun ia hanya meminum setengah gelas.


Semua itu terjadi karena semalam Naura begadang. Mengerjakan tugas-tugas sekolah yang deadline pengumpulannya adalah siang nanti. Jadi mau tak mau dirinya harus menuntaskan semua itu semalam. Dan berakibat dirinya kesiangan dalam bangun tidur.


Memang bukan kali pertama Naura kesiangan seperti ini. Tapi perutnya selalu tak bisa bersahabat jika ia terus-menerus tak menyantap sarapan sebelum berangkat sekolah. Yap. Dirinya memiliki riwayat maag yang tak bisa dianggap remeh.


Lima menit kemudian, Pak Agus selaku guru olahraga telah bergabung dengan mereka. Dan pelajaran dimulai dengan melakukan pemanasan yang dipimpin oleh sang ketua kelas.


"Oke, setelah ini seperti biasa kalian harus lari 3 putaran mengelilingi lapangan ini, mengerti?!!"


"Siap pak, mengerti!!" Sahut siswa-siswi 11 Ipa 2.


Mulut Naura memang ikut menyahut seperti teman-teman yang lain. Tapi keringat dingin yang perlahan membasahi keningnya membuat dirinya ragu. Ah, tapi masa iya dirinya lari 3 putaran aja tidak kuat?


"C'mon Ra... Lo pasti bisa..." Ujar Naura dalam hatimya.


"Naura lo gpp kan?" Pertanyaan itu Aziel lontarkan saat dirinya berlari menyusul Naura. Karena kelas mereka bebarengan olahraganya, alhasil mengelilingi lapangan pun hampir bersamaan.


"Gpp Zi... Ini kenapa pada nanyain keadaan gue sih?"


"Ahaha gue cuma mastiin aja Ra.. lo tau kan Gibran se over apa kalo soal keselamatan dan kesehatan lo."


"Yaa I Know.."


"Nah, take care yaa... Tenang aja kita selalu memantau lo dari jauh kok."


"Thank you Zi..."


Berbincang dengan Aziel membuat Naura tak merasakan bahwa dirinya telah melakukan lari tiga putaran seperti yang pak Agus perintahkan.


Pelajaran olahraga kali ini, pak Agus menugaskan kepada seluru siswi kelas tersebut untuk membentuk team futsal. Dan untuk para siswa beliau menugaskan untuk sparing basket dengan kelas sebelah.


"Pliss gue ga bisa main futsal guys!!" Kata Naura kepada teman satu timnya.


Karena ini futsal cewek, alhasil pak Agus hanya membagi 2 grup dari 16 siswi. Dan Naura tergabung kedalm grup A bersama Serinda. Sedangkan Alissa dan Reina tergabung kedalam grup B.


"Santai Ra... Ada atlet kita Qila, jadi lo gausa khawatirin kemenangan kita." Ujar Vivi dengan nada bercanda sembari menunjuk kearah Qila yang berdiri di sebelahnya.


"Oh I see... Lo pasti bisa Qil!!"


"Kalian mah sukanya melebih-lebihkan..."


"Jangan merendah dong Qil.. Hahaha.." sahut Serinda.


"Oke oke kalo gitu gue bagi ya tugas kalian?" Tanya Qila. Setelah ada beberapa dari mereka yang mengangguk, ia kembali melanjutkan perkataannya.


"Naura lo jadi penjaga gawang,"


"Siap bu ketua!!"


"Yang lain ikut nyerang. Tapi gue, Serinda, Vivi, menjadi penyerang utama. Yang lain bisa stand by buat ngehadang lawan sekaligus nyerang mereka waktu di daerah kita. Tapi inget, kita ga boleh bergerombol, tetap jaga jarak, dan menyebar di seluruh area lapangan, oke?"


"Oke Qila siapp!! Sahut mereka.


"Widihh ketua tim ga pernah mengecewakan dalam membuat taktik ya guys!!" Celetuk Serinda.


Qila tertawa mendengar candaan Serinda. "Sa ae sih lu Ser.."


Ketua tim masing-masing tim berdiri tepat di tengah lapangan. Saat peluit ditiupkan oleh pak Agus yang berperan sebagai wasit, permainan pun dimulai.


Naura memang tak berniat menganggap remeh keadaan tubuhnya saat ini. Namun sebisa mungkin ia menahan setidaknya sampai pelajaran olahraga ini berakhir.


Tapi ternyata keadaannya semakin menurun. Sinar matahari yang menyengat langsung tubuhnya, membuat kepalanya semakin pening. Entah Naura tak tau ini karena matahari atau karena dirinya tidak sarapan oagi tadi, yang pasti saat ini ia sudah tidak kuat.


Karena kericuhan permainan, semua mata terfokus pada bola yang diiring oleh pemain lawan. Sampai-sampai tak ada yang sadar dengan keadaan Naura yang sudah bersandar pada tiang gawang. Hingga akhirnya,


Bruk!!


Tubuh Naura tumbang, kesadarannya pun hilang saat itu juga. Melihat itu seketika menghentikan aksi seluruh orang yang berada disana. Tak terkecuali Aziel, Darel, dan Mahesa yang berada di lapangan sebelah.


"Naura!!" Teriak teman-teman Naura dan juga Aziel beserta Darel dan Mahesa.


Sudah sekitar 15 menit Naura belum sadar dari pingsannya. Saat mengetahui gadis itu tergeletak, sontak Aziel menggendong pacar sahabatnya ini ke Uks. Sedangkan Mahesa dan Darel sibuk menghubungi Gibran untuk melaporkan hal ini.


"Naura belum bangun juga Zi?" Tanya Reina yang baru saja tiba. Ya, dirinya izin kepada pak Agus untuk menemani sahabatnya ini.


Aziel menggeleng pelan. "Belum.."


"Ah ya, ini nasi yang lo minta tadi." Reina menyerahkan kresek dengan nasi kotak di dalamnya kepada Aziel.


Ini sedikit aneh bagi Aziel. Pasalnya, tadi yang ia suruh membelikan nasi ialah Serinda, bukannya Reina. Tapi kenapa malah gadis itu yang kesini?


"Thank you Rei.."


"Eghh..." Rintihan itu terdengar, sontak membuat Aziel dan Reina kembali menatap kearah Naura.


Perlahan Naura membuka matanya. Yang ia rasakan pertama kali ialah tubuhnya sangat lemas. Tapi, tunggu! Mengapa dirinya bisa berada disini? Wah, apa mungkin dirinya tadi sempat pingsan?


"Kenapa gue bisa disini?" Tanya Naura dengan suara yang sangat lemah.


"Lo tadi pingsan Ra, jadi Aziel sama teman-teman langsung bawa lo kesini."


"Trus pelajaran kalian gimana? Gue yakin ini belum istirahat kan?"


"Santai aja Ra.. kita udah izin kok.." Balas Aziel. "Ah ya, sepertinya lo belum sarapan, jadi tadi gue nyuruh Reina buat beliin lo sarapan." Aziel membuka kotak nasi dan menyerahkannya kepada Naura yang sudah pada posisi duduk.


"Santai Ra... Kita ikhlas kok ngelakuin ini."


Naura membalas ucapan Aziel dengan senyuman. Sahabat pacarnya ini selalu bersikap baik kepadanya, seperti saat ini.


Saat Naura fokus menghabiskan sarapannya, Reina sengaja menatap lelaki yang berada di depannya. Rasanya ia berada di situasi yang sangat awkward. Dulu ia sedekat itu dengan Aziel, tapi sekarang? Mereka hanya berbicara jika perlu saja, tidak lebih.


Dan saat tanpa sengaja Aziel membalas tatapan Reina, saat itulah Reina langsung memutuskan kontak matanya.


"Haish... Naura gue kembali ke kelas dulu gpp?? Gue lupa belom ngerjain tugas Bu Risma." Kata Reina tiba-tiba.


Naura menjeda suapannya lalu mengangguk. "Iya gpp Rei.. Yaudah gih sana masuk kelas!!"


"Sorry banget ya Ra.. Kalo gitu gue cabut dulu ya?!" Setelah mengucapkan itu, Reina langsung beranjak dari kursinya. Namun saat tepat berpapasan dengan Aziel ia membisikkan sesuatu kepada lelaki itu.


"Gue titip Naura ya.." bisiknya. Dan tanpa menunggu jawaban dari Aziel, Reina pun langsung keluar dari ruang uks tersebut.


Tak lama setelah itu, Darel masuk lalu berkata. "Naura ini Gibran mau ngomong sama lo!!"


Naura berdecak pelan. "Seharusnya kalian ga perlu menghubungi Gibran guys... Gue gamau dia disana khawatir."


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


Ruangan meeting pagi ini cukup luas dibanding kemarin. Meskipun Gibran tak berperan aktif di meeting kali ini, tapi ia sangat memperhatikan pembahasan yang telah dibahas dari awal hingga saat ini. Sudah sepantasnya sebagai penerus perusahaan Gibran memiliki sifat seperti itu bukan?


Melihat meeting berjalan lancar, Gibran ikut lega. Karena memang menghadapi kolega yang lebih senior, membuat papanya harus bekerja ekstra. Dan karena itulah ia sedikit memahami bagaimana cara papanya menghadapi mereka dengan pemikiran cerdiknya.


Namun saat di penghujung meeting, ponsel Gibran berulang kali bergetar. Ia tak berani membuka hp disaat meeting belum benar-benar berakhir.


Hingga akhirnya meeting pun dibubarkan beberapa menit kemudian. Setelah bertegur sapa dengan rekan papanya, Gibran langsung meninggalkan ruangan. Dan mencari tempat yang cukup sepi untuk ia bertelepon.


Nama Darel muncul di layarnya sebagai nama panggilan keluar. Ah Gibran kira Naura yang menghubunginya.


Beberapa detik kemudian ada pesan masuk dari pengirim yang sama.


Darel


Bro!! Sekarang ini Naura pingsan, gue rasa lo perlu tau itu.


Saat melihat pesan itu, tanpa pikir panjang Gibran langsung menelepon balik Darel. Bukan panggilan telepon biasa, melainkan video call.


"Nah gini dong diangkat.." Ujar Darel.


"Lo habis darimana sih Gib? Susah banget dihubunginya?" Tanya Mahesa yang juga ikut menampakkan diri di layar ponsel.


"Gue habis ada meeting sama bokap. Btw tadi lo bilang Naura habis pingsan? Trus gimana keadaan dia sekarang?"


"Oke bentar gue kasihin teleponnya ke Naura dulu."


"Naura ini Gibran mau ngomong sama lo!!"


"Seharusnya kalian ga perlu menghubungi Gibran guys... Gue gamau dia disana khawatir." Gumam Naura sembari menerima ponsel pemberian Darel.


Di layar itu langsung menampakkan wajah Gibran dengan senyuman yang semakin membuat kegantengan lelaki itu berlipat ganda.


"Hai sayang.. Are you ok?" Tanya Gibran dari sebrang sana.


"Yeah... I'm oke by.. Gimana disana? Lancar kan urusan kamu?"


"Alhamdulillah semua aman... Ah ya kata Darel kamu habis pingsan ya? Kenapa kok sampe bisa gitu by?"


"Iya aku habis pingsan. Mungkin karena tadi pagi aku ga sarapan kali by. Tapi kamu tenang aja. Aku udah baik-baik aja kok sekarang. Lagian nih ya disini temen-temen kamu ekstra banget jagain aku, jadi kamu gausa khawatirin aku disini ya?"


"Besok-besok jangan diulangi lagi ya... Ga peduli se siang apa bangun kamu, tapi usahain banget buat sarapan dulu... Aku ga mau kalo kamu sakit kayak gini..."


Naura tersenyum simpul. Perhatian Gibran yang seperti inilah yang selalu menbuatnya betah. "Iya sayang siap... Maaf ya udah buat kamu khawatir."


"Hhh... Liat wajah kamu semakin bikin aku cepet-cepet pengen pulang by!!"


"Ish!! Ga boleh gitu.. Ini kan baru hari rabu sayang..."


"Nanti waktu aku pulang ga mau tau pokoknya kita harus menghabiskan satu hari full, oke?"


"Oke aku tunggu by.."


"Gibran!!" Terdengar suara lain yang masuk dari sebrang sana. Dan Gibran pun menoleh ke arah sumber suara tersebut.


"Lima menit lagi kita kembali ke hotel, karena nanti sore kamu harus menemani papa ketemu rekan bisnis papa."


"Iya pa siap.."


"Papa tunggu di mobil."


Setelah kepergian Vito, Gibran kembali menatap layar ponsel.


"Sayang... Aku tutup dulu ya teleponnya... Papa ngajak pulang sekarang."


"Iya sayang... Semangat yaa disana."


"Iya pasti... Cepet sembuh ya pacar aku!!"


"Habis ini aku sembuh kok. Soalnya udah ketemu sama obat manjurnya."


Paham apa yang Naura maksud, membuat Gibran tertawa. "Ish ga boleh gitu... Yaudah kalo aku pamit dulu ya... Bye sayang.." Disebrang sana Gibran memberikan kiss bye, dan hal serupa juga dilakukan Naura hingga panggilan mereka benar-benar terputus.


Tepat setelah itu ia langsung menyusul papanya. Selama disini Gibran selalu menuruti setiap perintah dan selalu mendengarkan apa yang pria itu katakan. Karena selama disini pula ia kembali merasakan kasing sayang seorang ayah yang beberapa tahun ini jarang ia rasakan.


Namun, perkataan yang Vito ucapkan disaat mereka sedang makan malam, membuat Gibran meragukan semua anggapan tetang papanya saat ini.


"Jadi Gini, Gibran.... Kamu tau, papa sebenarnya nggak suka jika kamu berhubungan dengan perempuan itu."


"Jadi.. Papa harap kamu segera putusin dia."


Ucapan papanya itu seketika berhasil membuat Gibran membeku. Ia pun tanpa sadar mengeratkan kepalan tangannya. Mengapa papanya selalu seegois ini?


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


...Happy Reading semuaa!!!...


...See you next part ๐Ÿค—...


...To Be Continued...