
..."Aku akan menjadi pelengkap untuk ketidaksempurnaan mu. Dan kamu akan menjadi pelengkap untuk ketidaksempurnaan ku. Agar suatu saat hidup kita menjadi sempurna, disaat aku dan kamu resmi menjadi kita."...
...-Gibran Rahardian K-...
...๐ผ๐ผ๐ผ...
Malam itu, Naura sudah kesekian kalinya bolak-balik mengintip jendela kamarnya. Pasalnya dibawah sana Gibran berdiri di depan pagar rumah Naura.
Mungkin sekitar 15 menit lalu saat Kenzie memberitahu Naura bahwa ia ditunggu temannya di bawah sana. Namun saat lelaki itu hendak membukakan pintu, Naura langsung mencegah mati-matian agar Kenzie tak membuka pintu atupun pagar rumah mereka.
Tepat saat itu ada panggilan yang masuk di telepon Naura. Suara yang menggema cukup keras itu sedikit mengejutkannya.
Naura menarik nafas dalam sebelum akhirnya ia mengangkat telepon dari lelaki itu.
"Akhirnya yang punya hp ngangkat juga." Kata Gibran di sebrang sana.
"Sorry aku tadi sibuk Gib, jadi baru pegang hp." Bohong. Tentu saja itu hanya kata-kata pemanis yang Naura ucapkan.
"Oh gitu. Sorry ya aku ganggu kamu."
"Iya."
"Oh iya, kamu mau luangin waktu bentar ga buat aku? Aku ada di depan rumah kamu nih. Ada yang mau aku omongin."
"Besok aja ya Gib. Mending sekarang kamu pulang, ini juga uda kemaleman."
"Kalo gitu, aku tunggu se free kamu aja Ra. Se selesai kamu ngerjain tugasnya."
Naura menatap kearah Gibran yang masih di sana. Sedikitpun lelaki itu tak ingin beranjak meninggalkan rumahnya. Kasian sih, tapi mau gimana lagi, ya kan?
"Enggak Gib. Toh aku tau apa yang mau kamu omongin. Jadi lebih baik kamu pulang dulu. Besok kita bicarain lagi. Kamu juga capek kan habis tanding siang tadi?"
Tak ada balasan dari Gibran. Namun dari atas, Naura bisa melihat dengan jelas gerak-gerik yang dilakukan oleh lelaki itu. Gibran bersandar pada pagarnya, dengan posisi kepala menatap kosong langit-langit yang membentang di atas sana.
"Aku tutup ya Gib. See you."
Setelah mengatakan itu, Naura langsung memutuskan teleponnya. Dan meninggalkan tempat dimana tadi ia mengintip kehadiran Gibran.
Dengan sekuat tenaga, Naura berusaha mengalihkan pikirannya. Dan sekuat tenaga pula ia mengabaikan kehadiran Gibran yang terlalu jelas di bawah sana.
Namun, semua terjadi tak selalu sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Belum genap 10 menit Naura fokus pada buku pelajarannya, Claudia yang masih berpakaian rapi tiba-tiba memasuki kamarnya tanpa izin.
Pintu yang terbuka membuat Naura menoleh kearah Claudia yang sudah berjalan mendekatinya.
"Kenapa bunda langsung kesini?"
"Seharusnya bunda yang tanya kenapa! Kenapa kamu biarin temen kamu diluar pager sih Naura? Kasian tau dianya."
Mata Naura terbelalak. Ia yakin yang Claudia maksud adalah Gibran. Bukankah Naura tadi sudah mengusirnya?
"Kok malah bengong sih Naura!? Yaudah habis ini kamu langsung temuin dia di ruang tamu. Bunda yakin ada hal penting yang mau dia sampaikan ke kamu. Kalo engga, kan ga mungkin dia mau nunggu kamu sampe jamuran gitu."
Naura menghela nafasnya. Yasudah lah mau bagaimana lagi. Lagian ga mungkin kan dia nolak perintah bundanya sendiri?
"Iya bunda, habis beberes buku, Naura akan ke bawah."
"Oke. Kalo gitu bunda ke bawah dulu ya. Mau bersih-bersih badan dulu."
"Iya bunda."
Claudia menahan langkahnya, lalu kembali membalikkan tubuhnya. "Ah ya, jangan lupa dia buatin minuman dulu ya sayang!!"
"Iya bundanya Naura yang paling cantik!!
...๐ผ๐ผ๐ผ...
Senyum Gibran mengembang saat melihat gadis yang sedari tadi ia tunggu akhirnya berjalan menghampirinya.
Naura meletakkan segelas coklat hangat di depan Gibran, lalu ia mengambil posisi di sebelah lelaki itu.
"Minum dulu. Sorry karena cuma itu yang ada di kulkas aku."
"Makasih ya Ra." Gibran meraih gelas tersebut, meniup uap sekilas, lalu langsung ia seruput coklat hangat buatan gadisnya itu.
"Enak. Kapan-kapan aku buatin lagi ya?" Kata Gibran disusul kekehannya.
"Dih, ngelunjak!" Balas Naura. Dan saat ia hendak tertawa, seketika ia langsung merubah raut wajahnya. Untuk saat ini ia harus stay cool di depan Gibran.
"Kamu keras kepala juga ya Gib? Padahal udah 10 menit yang lalu aku nyuruh kamu pulang."
"Ya karena aku belum ketemu kamu, makanya aku stand by disana. Jaga-jaga kalo kamu khilaf bukain pager buat aku."
"Kalo sampe besok baru aku buka gimana? Masih mau nunggu disana?"
"Iya, karena aku yakin kamu gaakan tega liat aku begadang di depan rumah kamu kayak gitu."
"Ck. Yaudah, sebenernya kamu mau ngomong apa sih Gib? Soal tadi siang? Kan aku udah bilang kalo aku uda ga mau--"
"Enggak kok." Sela Gibran. Lalu ia menyodorkan box hitam dengan pita berwarna putih yang semakin menambah kesan cantik pada box tersebut.
"Karena sebenernya aku mau ngasih ini." Imbuhnya.
"Ini apa? Kamu pikir dengan kamu ngasih ini aku bisa maklumin perbuatan kamu tadi pagi?"
Gibran menggeleng. "Enggak. Karena aku yakin kamu bisa ngertiin aku lebih dari siapapun yang aku kenal."
Lalu, ia meraih tangan Naura dan ia letakkan box itu diatas tangan gadis itu. "Ini kado pertama aku buat kamu. Terima ya?"
"Jangan bilang kamu salah tanggal? Kan ulang tahun aku masih lusa Gibran!! Kenapa ngasihnya sekarang? Kamu lupa ulang tahun aku?"
"Mana bisa aku lupain ulang tahun kamu sih Ra? Kan ulang tahun kita sama."
"Terus ini?"
"Kan aku uda bilang, ini kado pertama. Nah untuk lusa aku juga udah siapin hadiah spesial buat kamu."
Kalo udah di perlakukan seperti ini siapa sih yang ga bakal melting? Kehangatan sifat Gibran yang seperti itulah seketika membuat kekesalan Naura kepada lelaki itu menguap tak bersisa.
"Kenapa kamu selalu melakukan hal yang membuat aku ga bisa benci ke kamu sih Gib?"
"Karena emang sebesar itu cinta kamu ke aku Ra, dan sebesar itu pula cinta aku ke kamu." Gibran tersenyum diakhir ucapannya.
Senyum itu. Senyum yang selalu membuat Naura baper setengah mamp*s. Senyum itu pula yang akan selalu menjadi candu baginya.
"Dan aku ga bakal bosen bilang, I love you and will always love you."
...๐ผ๐ผ๐ผ...
Sepulangnya Gibran, Naura langsung berlari ke kamarnya untuk membuka isi kotak tersebut.
Senyum pun masih merekah di bibir gadis itu.
Bisa-bisanya malam ini Gibran membuat jiwa kebucinannya meronta-ronta. Parah sih ini. Dia aja sampe ga berhenti senyum tuh liat.
"Wahh!!" Seketika mata Naura berbinar saat melihat isi kado yang Gibran berikan itu.
"Ice bear!! Aaaa kenapa kamu tau aku pengen punya boneka ini sih Gib?!!" Gumamnya sembari memeluk erat boneka salah satu karakter we bare bears favorit Naura.
Setelah puas memeluk boneka empuk itu, Naura kembali membuka kotak tersebut. Dan benar masih ada barang tersisa di dalam sana.
Satu coklat almond, satu white choco, dan satu coklat matcha dapat Naura temukan disana. Senyum Naura pun tak henti-hentinya merekah. Ternyata Gibran bisa se peka ini ya? Semua yang ia berikan sesuai dengan apa yang Naura sukai. Ah so sweet banget sih.
Di bawah coklat itu ada satu lipatan kertas. Dan tanpa basa-basi Naura pun langsung membukanya.
Hai cantik!
Udah senyumnya ntar ga bisa tidur loh kalo kebanyakan senyum
Hahaha canda sayang..
Gimana? Suka kan sama hadiahnya?
Aku sengaja beliin kamu ice bear karena aku tau kamu suka banget sama karakter itu
Apalagi karakternya imut kayak aku gitu :v
Selain itu ice bear disana tugasnya jagain kamu
Sebelum aku packing nih Ice bear uda aku isiin jiwa aku lohh
Jadi serasa jiwa aku selalu ada di samping kamu, nemenin kamu tidur, nemenin kamu belajar, nemenin kamu cerita, dan tentunya nyaman buat dipeluk
Meskipun raga aku disini tapi jiwa aku akan selalu disamping kamu Naura cantik ^.^
Naura terkekeh saat membaca baris itu. "Ada-ada aja sih ucapan buaya high class!! Kalo gini mana bisa aku ga sayang coba!!"
Hahaha canda lagi ya sayangg wkwk
Intinya semoga kamu suka ya sama kado pertama ini
Jangan ngambek lagi ya...
Btw, itu uda aku beliin tiga coklat sekaligus :v
Jadi kalo kamu mau marah sama aku biar jadi ga marah ahaha
Enggak-enggak canda doang kok wkwk
Dimakan ya coklatnya
Eh tapi jangan sekarang, kan udah malem. Besok aja ya? Kan katanya kamu mau diet :v
Ahahaha jan ngambek lagi ya?
Mungkin sampe disini dulu kali ya
Kalo aku terusin bisa sampe berlembar-lembar, kasian kamunya nanti wkwk
Sampai ketemu besok ya sayang
^^^Luv u^^^
^^^Gibran.^^^
Hari ini Naura sudah cukup banyak menerima kejutan. Mulai kejadian di gor, tentang perasaan balasan yang diberikan Raka, hingga kejutan malam yang Gibran berikan.
"Love u too Gib."
...๐ผ๐ผ๐ผ...
Sejak pagi tadi, Naura menjadi sorotan banyak mata di sekolahnya. Entah kenapa mereka menjadi sangat tertarik dengan kehadiran siswi semi nolep seperti Naura.
Lihat saja dulu dimanapun Naura pergi tak ada yang mempedulikannya. Hanya beberapa orang yang mengenal dirinya. Jika tau, mungkin hanya sekedar tau namanya saja.
Tapi sekarang? Sejak Naura bersama Gibran semua berubah. Mungkin dimata mereka aneh jika seorang playboy kelas kakap seperti Gibran bisa jatuh hati padanya. Padahal sih Naura termasuk gadis dengan kecantikan sebatas rata-rata di mata mereka. Biasalah orang memang suka begitu, menilai sesuatu hanya dsri covernya.
"Nih undangan birthday party gue sama Naura," Gibran membagikan undangan yang ia bawa kepada tiga gadis yang menjadi bestie Naura itu.
"Kalo gue ga dateng gimana Gib?" Tanya Serinda asal.
"Gak! Ga boleh!! Itu hukumnya fardhu ain buat kalian!! Gaada toleransi!!" Balas Gibran yang mengambil posisi duduk di bangku sebelah Naura. Lebih tepatnya bangku dimana Alissa duduk.
"Duh Serinda kenapa lo ga ikut sih? Gaada yang jemput? Gue jemput aja gimana? Mobil gue kosong nih!" Kata Mahesa yang langsung dihadiahi cibiran dari Serinda.
"Mon maap gue ga menerima tawaran dari cowok kayak lo!!"
"Jangan gitu Ser!! Nanti lo nyesel lagi nolak Mahesa. Mahesa nemu cewek baru nanti lo nangess!!" Sahut Darel disusul tawa recehnya.
Sudah bukan rahasia publik lagi, karena sudah sejak beberapa hari lalu Mahesa dengan terang-terangan memperlihatkan perasaannya kepada Serinda. Entah dapat wangsit darimana si Mahesa sampai-sampai berulah seperti itu.
"Guys gue pengen pipis nih, gue ke toilet dulu ya?"
"Iya Ra." Balas beberapa orang disana.
"Aku anter ya?"
"Gausah Gib, kan toilet deket sama kelas aku." Naura berdiri dari duduknya. Lalu langsung melangkahkan kakinya meninggalkan kelasnya.
Dari sekian banyak orang yang mencibirnya di belakang, entah kenapa Naura harus bertemu dengan orang itu. Orang yang sangat merepotkan bagi Naura.
"Gimana? Seneng ga jadi pusat perhatian seantero sekolah?!"
Mulut itu tuh yang sangat Naura benci. Pasalnya, dimanapun mereka berada pasti ada aja kata-kata cibiran dari mulut gadis itu. Siapa lagi jika bukan Syahnaz? Salah satu mantan Gibran yang masih terobsesi kepada lelaki itu.
Naura membalikkan tubuhnya, dan langsung berhadapan dengan Syahnaz yang sedang tersenyum miring.
"Sorry ya gue bukan elo yang emang dari sananya suka cari perhatian."
"Cih! Udah gini lo masih mau sok polos, dasar ya gatau malu!!"
Naura menghela nafasnya. Menurutnya tak ada faedahnya juga meladeni ucapan gadis itu.
"Sebenernya lo mau ngomong apa sih?! Ga ada yang penting kan? Yaudah gue pergi dulu."
"Ehem! Gue diundang ke party nya Gibran besok."
Ah begitu. Ternyata ini tujuan asli Syahnaz.
"Yaudah bagus kalo gitu. Tandanya Gibran masih menganggap mantan kayak lo sebagai manusia. Itu harus lo syukurin aja. Jarang-jarang loh ada mantan yang masih memanusiakan mantannya. Udah kan ngomongnya? Gue pergi dulu." Ujar Naura dan langsung meninggalkan Naura.
Bukan apa-apa, hanya saja Naura sudah tak bisa menahan cairan itu lebih lama lagi. Kan ga lucu kalo dia pipis di celana.
"Sialan!! Kenapa makin hari makin ngelunjak sih tu junior?!!"
...๐ผ๐ผ๐ผ...
...Hi temen-temen!!...
...Akhinya update juga yaa wkwk...
...Semoga kalian suka part ini๐...
...Jan lupa sempetin buat dukung author yaa โค๏ธ...
...Sampai jumpa di part selanjutnyaa...
...Love u all,๐ฅฐ...
...To Be Continued...