Evanescent

Evanescent
First Love



..."Kala itu aku mundur karena aku tau bahwa cinta sepihak tak selalu menjamin kebahagiaan."...


...-Naura Azkia-...


...🌼🌼🌼...


Malam itu, malam dimana perempuan itu tidak sengaja mendengar hal yang tak sepatutnya ia dengar, tetapi juga merupakan hal yang seketika membuat harapan dalam dirinya kembali tumbuh.


Kamis, pukul 22.15


Sudah dua jam ini Syahnaz beserta kedua temannya menikmati malam di salah satu club di daerah mereka. Menari di dance floor dan juga meminum alkohol kadar rendah pun sudah mereka lakukan. Tapi keduanya masih enggan meninggalkan tempat ini.


Hari ini bukanlah kali pertama mereka kesini. Tetapi entah mengapa bagi Syahnaz malam ini adalah malam terindah untuknya. Sepertinya karena pengaruh alkohol yang ia minum. Atau bisa dibilang karena alkohol lah kegalauan serta beberapa masalah yang ia pikirkan serta rasakan beberapa hari lalu perlahan berkurang.


"Lo ngapain sih Sya ngegalauin cowok kayak Gibran. Diluaran sana masih banyak cowok yang ngantri untuk dapetin lo!!" Tukas Perempuan yang baru saja meneguk alkohol di gelas kecil tersebut. Yuri namanya.


Brak!!


Syahnaz meletakkan gelas kosong itu dengan sedikit kasar. Lalu ia menatap Yuri. "Tapi hati gue maunya Gibran!! Ga mau sama cowok-cowok itu!!"


"Alah lo kayak gatau Syahnaz aja Yur, kalo dia udah terlanjur jatuh ya susah bangunnya. Apalagi kalo tingkat bucinnya udah di level high." Sahut Eca yang tingkat kesadarannya masih lebih baik dari kedua temannya yang sudah mulai berada dibawah pengaruh alkohol.


"Thats right Eca!! Susah guys susah!!!" Racau Syahnaz.


Meskipun Syahnaz hanya meminum alkohol berkadar rendah, tetapi ia tetap saja mudah terpengaruh oleh fek alkohol tersebut. Apa lagi jika kadar tinggi. Bisa-bisa ia langsung tumbang. Selemah itu memang Syahnaz terhadap alkohol.


Yuri menghela napasnya. "Yaudah terserah lo Sya. Gue sebagai temen lo cuma bisa dukung kemauan hati lo."


Syahnaz berdiri dari duduknya. "Guys gue mau ke toilet bentar." Izinnya.


Berjalan menuju toilet, Syahnaz tanpa sengaja melihat Gibran melintas di depannya. Lebih tepatnya di depan dengan jarak cukup jauh.


Entah ini hanya halusinasinya saja ataukah kenyataan, Syahnaz tak tau pasti. Akhirnya ia memilih untuk membuntuti lelaki tersebut.


Dan ternyata itu adalah kenyataan. Di dalam ruangan yang Gibran masuki ada ketiga teman temannya yang lain.


Percakapan mereka samar-samar dapat Syahnaz dengar. Saat jarak mereka yang tak begitu jauh percakapan mereka pun semakin jelas. Mengetahui itu, terbersit ide cemerlang di otaknya.


Dibalik pilar itu tanpa pikir panjang Syahnaz mengeluarkan ponsel dari tas kecil yang ia bawa. Lalu merekam kejadian di depannya. Tak mungkin kan jika ia menyia-nyiakan kesempatan ini.


Banyak fakta mengejutkan yang gadis itu ketahui saat diam-diam merekam. Tanpa sadar senyum licik mengembang dibibirnya.


'Gue masih punya harapan.' Kata Syahnaz dalam hatinya. Ya, meskipun sedikit tapi setidaknya harapan untuk memiliki masih ada. Dan jika memang ia tak bisa memiliki, ia tak akan pernah membiarkan satu orangpun memiliki apa yang ia inginkan.


Syahnaz tersenyum miring saat mengingat kejadian malam tadi. Kejadian yang ia kira hanya halusinasi itu ternyata sebuah kenyataan. Karena vidio itu terlalu nyata banginya meskipun saat kesadarannya sudah kembali.


Disaat seperti inilah ia harus mengeluarkan senjata tersebut. Agar lelaki itu tak bisa lagi macam-macam dengannya.


"Lo boleh menghancurkan perasaan gue sesuka lo Gib. Tapi gue ga akan membiarkan cewek yang lo suka bahagia." Syahnaz berbalik, melihat Gibran yang rupanya memilih memberhentikan langkah. "Gue penasaran gimana reaksi dia waktu gue tunjukin rekaman kemarin malam. Aah, apa lo perlu gue ingatkan kembali tentang percakapan seperti apa yang udah kalian bicarakan semalam di club?!"


Mendengar pernyataan mengejutkan dari Syahnaz, seketika membuat Gibran membalikkan tubuh. Emosinya kali ini sudah benar-benar mencapai batasnya. Bangs*t!


Syahnaz melangkan mendekati Gibran. Lalu mendekatkan mukanya kearah Gibran. Tepat di telinga lelaki itu ia berbisik. "Makanya jangan berani macem-macem sama gue, Gibran!!"


Dengan emosi Gibran mendorong kasar tubuh Syahnaz ke dinding disamping kiri mereka. Tatapan nyalang nan menusuk itu tak ia sembunyikan lagi.


"Lo berani melakukan itu, gue jamin hidup lo di sma ini juga akan berakhir!! Ini peringatan terkahir gue. Jangan ganggu gue ataupun sentuh dia!! Karena nyawa lo di SMA ini ada di tangan gue!!"


Bukannya takut seperti beberapa saat lalu, Syahnaz malah tersenyum licik. "Kita lihat aja nanti. Seperti apa akhir dari awal yang udah lo mulai!!"


"Lo!" Gibran menahan jari telunjuknya tepat di depan mata Syahnaz. " Gue peringatin sekali lagi, gausah urusin urusan gue! Gausa gannggu cewek itu! Sedikit pun lo sentuh keduanya gue beneran ga akan lagi segan-segan sama lo!! Ini peringatan terakhir gue!"


Syahnaz tertawa licik. "Siapa takut!" Ia memajukan tubuhnya yang mengakibatkan Gibran reflek memundurkan langkah. "Gue ngelakuin semua ini juga karena lo Gib! Gue hanya mau keadilan!! Kalo emang gue ga bisa dapetin lo, gaakan ada satupun cewek yang boleh dapetin lo!!" Ujarnya tak kalah tajam dari perkataan Gibran.


Setelah mengucapkan itu, ia langsung pergi meninggalkan Gibran yang masih terbakar emosi di tempatnya. Kepalan tangan lelaki itu semakin menguat.


"Gue ga akan membiarkan sekua berjalan sesuai kemauan lo, *****!"


...🌼🌼🌼...


Tangan gadis itu malam ini sibuk menuliskan jawaban dari tugas yang telah gurunya berikan. Tapi beda halnya dengan otaknya. Jika kalian mengira otak Naura fokus pada tugas tersebut kalian salah.


Karena saat ini pikirannya sedang terbagi dua. Setengahnya fokus pada yang ia tulis dan setengahnya lagi melayang entah kemana. Lebih tepatnya ada hal yang menganggu pikiannya.


"Ah sial!!! Kenapa omongan Gibran masih terngiang-ngiang dipikiran gue sih?!" Kesal Naura sembari menggebrak pelan meja belajarnya.


"Ngapain juga sih Gib lo ngomong soal perjuangan?! Lagian siapa juga yang nyuruh lo berjuang?? Kalo mau berjuang kenapa lo ga hidup di era Indonesia sebelum merdeka aja?! Disana pasti perjuangan lo lebih dihrgai!! Kalo gini kan gue merasa kalo gue cewek paling buruk yang ga bisa menghargai." Gumamnya.


"Tapi kok bisa sih omongan singkat Gibran berefek sebesar ini buat gue? Bikin gue overthinking pula. Ah Gibran sial*n!!"


Kruukk... Kruukk...


Bunyi yang tak asing itu berhasil memberhentikan ocehan kekesalan Naura.


"Ah iya, gue belum makan malem. Bang Kenzie gimana ya? Kalo dia laper kan nanti gue bisa titip makanan juga ke dia." Naura menyengir licik saat mengetahui ada kesempatan untuk menyuruh abang tercintanya itu.


Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari menuju kamar Gibran yang terletak di sebelahnya. Dan ia langsung memasuki kamar Kenzie tanpa mengetuk terlebih dahulu. Salah siapa lelaki itu suka masuk tanpa izin ke kamarnya. Ga salah dong ia melakukan hal yang sama?!


"Yah, kok bang Kenzie gaada di kamar sih?!" Gerutu Naura yang tak kunjung menemukan lelaki itu walaupun sudah menelusuri kamar bernuansa abu-abu itu.


"Bang!! Abangg!! Bang Kenzie!! Abang Naura yang paling ganteng sedunia!!" Teriak Naura dan berharap lelaki itu memunculkan batang hidungnya.


Dan setelah beberapa menit, masih tak ada balasan ataupun tanda-tanda kemunculan lelaki itu, akhirnya Naura memilih untuk keluar dari kamar itu. Menuju ke ruangann yang mungkin saja Kenzie singgahi.


"Abang!! Naura teriak-teriak dari tadi kenapa ga bales?!!" Kesal Naura saat sudah menemukan Kenzie yang terlihat fokus pada pc di depannya. Lebih tepatnya game yang sedang lelaki itu mainkan.


Seperti dugaan Naura sebelumnya. Kenzie ternyata berada diruang kedua di rumah mereka. Ya ruangan ini lebih kepada tempat beberapa komputer yang kerap dimainkan oleh Kenzie. Dan juga ada medium sofa di tengah ruangan dengan tv yang terletak di dinding depannya. Tak begitu besar, tapi cukup nyaman untuk ditempati.


"Yeayy gue win!!" Heboh Kenzie saat setelah menyelesaikan satu ronde game di pc tersebut.


Sedetik kemudian, ia memutar kursi agar bisa menatap adik tercintanya itu. Tak lupa ia melepas headphone yang sedari tadi ia gunakan.


"Ada apa sih Naura?! Suara kamu nih sampe nembus headphone abang."


Nayra berdecak. "Kan abang ga bales panggilan Naura, yauda deh Naura kencengin kalo manggil."


"Iya-iya maap, kan abang lagi war jadi ya maklum ga denger." Kenzie menyengir tanpa dosa. "Oh ya emang ada perlu apa kamu nyari abang?"


"Abang laper ga? Atau mungkin abang pengen gitu beliin Naura makanan?"


"Ee gimana ya? Laper sih laper ya, tapi Abang lagi mager nih keluar rumah. Gimana dong?!"


"Yah abang!! Naura laper nihh, masa abang tega ngebiarin adeknya mati kelaperan?!"


Kenzie tertawa pelan, tangannya terulur mengelus puncak kepala Naura. "Ututu kalo ngomong jan lupa difilter dong Naura.."


"Abisnya abang sih!!"


Kenzie beranjak dari kursinya. Lalu ia berjalan kearah laci yang terletak tak jauh dari tempatnya tadi. Ia mengeluarkan satu lembar uang berwarna merah itu dari dompet hitamnya.


"Nih uangnya Ra. Ee malam ini makan mie instan dulu ya?! Abang lagi pengen banget makan mie instan yang pedes-pedes. Traktir makan diluarnya kapan-kapan aja ya Ra? Abang janji deh. Kalo kali ini abang bener-bener ga bisa. Sorry."


Dengan masih cemberut Naura meraih uang yang Kenzie sodorkan. "Syaratnya Naura boleh beli apa aja yang Naura pengen pake uang Abang. Gimana?"


"Ya gapapa, terserah kamu. Sebagai gantinya nanti yang masak mie nya abang deh, nanti kita makan sambil nobar dibawah. Beuhh udah kayak nonton di bioskop kan?!"


"Bioskop pala abang!! Dah lah Naura beli dulu keburu semakin malem." Setelahnya Naura langsung beranjak kembali ke kamarnya untuk mengambil jaket.


"Dasar ya, kalo uda ada kata iya gapapa beli terserah kamu aja magernya langsung ilang. Untung lo adek gue Ra, Ra!!" Gumam Kenzie saat memperhatikan Naura yang sudah keluar dari kamarnya.


...🌼🌼🌼...


Saat sampai di minimarket, Naura harus melakukan rutinitasnya. Ya, gaakan afdol jika ia tidak mengelilingi minimarket sebelum ambil barang yang ia cari. Dari ujung kanan sampai kiri, selalu Naura kelilingi.


Sampai-sampai ia hafal betul letak apapun itu yang disediakan oleh minimarket dekat rumahnya ini. Tak hanya letak, mungkin jika ia tetap melakukan rutinitas tersebut, maka ia akan bisa menghafal harga disetiap makanan ataupun barang disana.


Tapi kali ini ia harus mempercepat tempo berkelilingnya, karena cuaca diluar sangat tidak mendukung. Langit yang semakin menggelap, serta beberapa suara guntur pun samar-samar mulai terdengar sejak ia keluar dari rumah.


Deket sih jarak rumah Naura dan minimarket ini, tapi percuma saja, karena Naura saat ini sedang tidak membawa payung. Yakali Naura hujan-hujanan, kalau dirinya sakit mah semakin menjadi beban bundanya. Ckckck dasar beban orangtua. Canda beban :v


Setelah mengambil beberapa bungkus mie instan serta ramen instan sekarang Naura beralih ke lorong snack/makanan ringan. Kalo abangnya udah mempersilahkannya seperti tadi, maka tidak salah kan ia memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Itung-itung mengisi ulang stok jajan di kamarnya.


Saat hendak menuju kasir, Naura baru ingat satu hal. Ya, ia lupa membeli es krim. Karena kesempatan tak datang dua kali, akhirnya Naura langsung berbelok kearah freezer es krim.


Saat hendak membuka kaca freezer, Naura baru merasa kesusahan. Pasalnya makanan yang hendak ia beli tadi sangat-sangat menenuhi rangkulannya. Sehingga tak heran jika tangannya tak bisa melakukan hal sebebas sebelumnnya.


Nah kan apa Naura bilang. Belum sampai mengambil es krim, 3 mie instan itu udah jatuh terlebih dahulu.


Naura menghela nafas sembari meraih dua eskrim cone yang tak jauh darinya. Dan saat ia hendak mengambil mie tersebut, tiba-tiba sudah ada tangan yang terulur memberikannya.


"Makasih." Ucap Naura tanpa melihat siapa yang membantunya. Karena setelah itu ia langsung pergi menuju kasir untuk menyelesaikan pembayarannya.


Setelah pembayaran sudah Naura selesaikan, ia pun langsung keluar dari minimarket tersebut. Tapi sayangnya semesta tak berpihak padanya. Hal yang ia takutkan sedari tadi akhirnya terjadi juga. Ya, guyuran air hujan itu dengan derasnya membasahi bumi tempat Naura berpijak. Sabar Naura.


Sembari menunggu hujan reda, Naura langsung menuju bangku santai yang disediakan oleh minimarket. Lumayan sih ada tempat untuk dirinya menunggu. Daripada berdiri terus, yakan?


Naura mengaduk-aduk belanjaannya, mencari minuman manis nan dingin yang sudah ia beli beberapa saat lalu. Setelah menemukan eskrim cone rasa red velvet itu, Naura langsung membuka bungkusnya dan langsung ******* es krim tersebut.


"Gue boleh duduk disini ga?"


Naura sontak menoleh kearah suara yang seperti mengajaknya berbicara. Wajah lelaki itu seperti tak asing bagi Naura. Tapi ia lupa pernah melihat lelaki ini dimana.


Lelaki itu menarik kursi di depan Naura, lalu mendudukinya. "Gue Raka Ra, jangan bilang lo lupa sama gue?!" Kata lelaki itu yang seperti dapat membaca raut bingung diwajah Naura.


Cerngitan di dahi Naura memudar. "Ahh Raka. Gue ga lupa sih, cuma gue pangling aja sama lo." Balas Naura.


"Ya ga heran sih, kita ga ketemu udah hampir 5 tahunan."


"Iya bener banget. Itupun sebelum lo pindah ke luar kota. Oh ya btw lo disini cuma liburan pa menetap?"


"Sejak awal masuk sma bokap ngajak balik lagi kesini. Yaudah deh akhirnya gue bisa Sma disini."


"Oh jadi gitu.." Naura hanya bisa ber-oh ria saat mendengar penjelasan Raka.


Jujur Naura tak tau harus merespon seperti apa lelaki di depannya ini. Pasalnya ia masih sedikit salting jika dihadapkan dengan Raka secara langsung. Apalagi hanya berdua seperti ini. Dan akhirnya ia memilih untuk kembali menyantap eskrim yang tinggal setengah itu.


"Lo masih ga berubah ya dari dulu." Tangan Raka terulur kearah Naura, dan seketika membuat gadis itu menyerngit. "Masih suka blepotan kalo makan eskrim." Jari Raka menyapu halus beberapa bekas eskrim di bibir Naura.


Deg.. Deg.. Deg..


Entah kenapa perlakuan Raka se sederhana ini masih berdamage seperti dulu. Singkat cerita, Raka adalah cinta pertama Naura saat SD. Ya, saat mereka duduk di bangku sekolah dasar. Memang benar itu hanyalah cinta monyet yang sering anak kecil rasakan, tapi bagi Naura rasa yang ia rasakan saat itu semuanya nyata.


Setelah kepergian Raka ke luar kota membuat Naura sadar bahwa ia percuma mencintai Raka, karena memang lelaki itu sedikitpun tak pernah merespon perasaannya. Anak seusia Naura dulu pun juga bisa merasakan sakitnya cinta sepihak bukan?


Dan sejak saat itulah Naura memutuskan untuk tak akan lagi terlibat dalam kasus percintaan, dengan cara ia membentengi hatinya sekokoh mungkin. Dengan itu ia tak akan lagi menjatuhkan hatinya ke sembarang tempat, sehingga ia tak perlu lagi merasakan sakitnya cinta yang tak terbalas.


Namun, entah kenapa getaran itu muncul kembali bersamaan dengan kembalinya Raka. Naura tak tau tepatnya yang ia rasakan saat ini. Karena ia sudah mengubur dalam-dalam perasaannya untuk Raka.


"Ra? Are you ok?!" Ujar Raka sembari menggoyangkan tangannya di depan wajah Naura.


"Ah iya Ka, gue baik-baik aja kok."


"Syukurlahh gue kira kenapa-kenapa."


"Eee lo kok bisa tau gue disini sih Ka?"


"Gue sebenernya tadi ga sengaja liat lo di dalem. Trus gue juga yang bantu ambil mie lo yang jatuh. Ah, jangan bilang lo gatau kalo itu gue?!"


Naura menghela nafas pelan. "Ya jelas gue gatau Ka, orang gue baru juga baru bisa ngenalin lo beberapa menit lalu."


Drrt.. Drrt..


Getaran yang Naura rasakan di saku jaket itu, membuat Naura reflek mengeluarkan ponsel dari dalamnya. Ternyata itu hanya notif spam chat yang teman-temannya kirimkan di grup.


Tapi tunggu. Naura menyerngit saat melihat nomor asing di tengah-tengah chat grup itu. Ditambah ada sekitar 7 lebih pesan yang ia terima dari nomor tersebut.


085xxxxxx


Hi cantik!! Save ya nomenya Gibran calom pacar Naura cantik!πŸ˜—


085xxxxxx


Jangan dikacangin dong chatnya πŸ₯Ί


085xxxxxx


Gue spam ah, kali aja yang punya hp langsung nge cek.


085xxxxxx


Holla Naura!!


085xxxxxx


Annyeong Naura calon pacarnya Gibran !!


085xxxxxx


Lo sibuk y? Apa jgn2 sibuk mikirin gue?🀭


085xxxxx


Oh ya jan lupa besok dateng di pertandingan gue!!


085xxxxx


Uda gue siapin tiket vvip buat lo sama temen2 lo. Jadi pastiin lo dateng ya Ra!! Gue tunggu πŸ˜‰


"Anjirr!!" Umpat Naura tanpa sadar saat membuka room chat tersebut.


"Kenapa Ra?" Tanya Raka.


Dengan segera Naura kelur dari room chat tersebut. Sedetik kemudian ia kembali menerima pesan dari Gibran.


085xxxxx


Akhrinya yang punya akun online jugaa, jan lupa bales pesan gue!!


Tanpa pikir panjang Naura segera mematikan ponselnya. Bodoamat dengan Gibran yang terus mengiriminya pesan. Ngomong-ngomong, kenapa cowok rese itu bisa dapet nomernya? Awas aja kalo ternyata temen-temennya yang suka rela ngasih ke Gibran.


"Ra?? Lo kenapa?" Suara Raka itu akhirnya membuat Naura kembali sadar ke dunia nyata.


"Ah iya Ka, sorry ehe. Santai aja gue ga kenapa-kenapa kok. Gue cuma kaget aja karena guru tiba-tiba majuin deadline tugas." Untung saja Naura bisa selancar itu saat mengucapkan alibinya.


"Oh gitu."


"Hehehe iya."


Tak lama setelah itu, Naura rasa hujan sudah mereda. Ia pun langsung bernajak dari kursi yang ia duduki. "Gue pulang dulu ya Ka!"


Raka juga ikut berdiri. "Gue anter aja Ra,""


"Gausa Ka, lagian rumah gue deket."


"Gapapa Ra, lagian cewek ga baik jalan sendiri malem-malem kayak gini. Pliss boleh ya gue anterin?!"


Setelah beberapa detik berpikir, Naura pun akhirnya mengangguk pelan. "Yaudah deh. Tapi beneran ga ngerepotin lo kan Ka?!"


"Iya engga Ra. Yaudah yuk!"


...🌼🌼🌼...


...Hi readers!!...


...Terimakasih sudah membaca sampai part ini 😊...


...Semoga kalian selalu dapet feelnya yaa ehe...


...Gimana nih karakter Raka menurut kalian??...


...Semakin penasaran ga nih dengan kisah mereka??...


...Yuk simak terus update terbaru dari EVANESCENT!!...


...Jangan lupa dukung author sebanyak-banyaknya yaa, dengan cara like, vote, rate bintang 5, share ke temen-temen kalian, dan juga tambahkan ke favorit agar kalian tidak tertinggal update an terbaru!! πŸ˜‰...


...See you πŸ€—...


...TO BE CONTINUED...