
..."Terkadang perjuangan akan luntur jika objek penyemangatnya hilang. Oleh karena itu, tolong jangan menghilang, agar aku bisa selalu memperjuangkan mu." ...
...-Raka Alfareza-...
...πΌπΌπΌ...
Tok! Tok! Tok!
"Naura sayang!! Bangun nak!! Dicariin temen kamu nih!" Suara Claudia terdengar nyaring dibalik pintu kamar Naura.
Naura yang masih terjebak dalam alam mimpi pun akhirnya mulai kembali. Pasalnya mamanya tak hanya mengetuk pintu kamarnya sekali, tapi berkali kali. Belum lagi seruan yang beliau keluarkan. Ah rasanya telinga Naura ingin pecah saat itu juga.
"Siapa sih ma?!" Tanya Naura dengan suara serak. Meskipun telah menyuarakan balasan, tapi gadis itu tetap saja tak mau membuka matanya. Malahan ia berniat kembali ke alam mimpinya.
"Itu si Reina, Alissa sama Serinda!!" Balas Claudia dengan nada yang masih sama kerasnya dengan sebelumnya.
"Haduhh suruh masuk aja ma!! Naura mager banget kebawah, pen bobok terus!!" Sahut Naura sembari kembali merangkul guling kesayangannya.
Claudia menghela nafas saat mendengar balasan dari anak bungsunya itu. Lalu ia pun langsung kembali ke lantai bawah untuk memberitahu ketiga teman anaknya itu.
Setelah perkataan Naura sampai ketelinga tiga perempuan itu, mereka pun langsung menuju ke kamar Naura yang terletak di lantai dua. Tentu saja dengan izin kepada Claudia terlebih dahulu.
Tanpa basa-basi Alissa langsung menggoyang-goyangkan tubuh Naura. Disusul Reina dan Serinda yang melakukan hal yang sama.
"Ra bangun!! Uda siang ini!!" Seru Alissa.
Naura merubah posisi tubuhnya membelakangi ketiga perempuan itu. "Gue ngantuk!! Kalo mau out nunggu sejam lagi ya, gue mau nerusin tidur dulu." Kata Naura tanpa menoleh kearah tiga gadis itu.
"Ish Naura!! Ini urgent! Kalo sejam lagi keburu pertandingannya udah kelar!" Sahut Serinda.
Kata 'pertandingan yang Serinda ucapkan itu berhasil membuat Naura berbalik lagi. Ia saat ini sedang sensitif dengan kata-kata pertandingan, basket, atau apapun itu yang berhubungan dengan Gibran.
"Jangan bilang kalian di sogok Gibran buat bujuk gue?!"
"Lebih parah dari sekedar disogok Ra!!" Naura menyerngit saat mendengar penuturan Alissa.
"Kita semalem diteror habis-habisan sama si Gibran." Timpal Reina.
"Iya Ra bener kata Reina. Semaleman kita di boomchat di vc di telepon berulang kali sama si Gibran!" Imbuh Serinda. "Ah ralat, bukan cuma Gibran yang melakukan itu, tapi juga ketiga temen kita yang lain. Parah ga tuh?!!"
"Makanya Ra, plis kali ini aja ikut kita ke pertandingan Gibran!!" Bujuk Alissa dengan raut wajah memohonnya.
Naura mendesah kesal. Ia memilih untuk bangkit dari tidurnya. Lalu berjalan menuju kamar mandi. Hal itu sontak membuat ketiga perempuan yang lain tersenyum lebar.
Mereka tau bahwa seorang Naura tak akan tega melihat sahabatnya seperti itu. Meskipun ya awalnya gadis itu menolak mentah-mentah, tapi pada akhirnya pasti Naura berhasil menurunkan egonya. Hal itulah yang membuat mereka bertah berteman dengan Naura. Udah baik, sabar, cantik pula, tidak heran sih jika seorang most wanted seperti Gubran berhasil kepincut.
Butuh waktu 20 menit untuk Naura menyelesaikan persiapannya. Setelah siap ia pun langsung mengajak ketiga sahabatnya berangkat.
...πΌπΌπΌ...
Jarak rumah Naura dan Gor tempat pertandingan Gibran cukup jauh. Butuh waktu sekitar 35 menit untuk sampai disana. Dengan kcepatan motor mereka saat ini, mungkin saja mereka bisa tiba lebih cepat. Karena jika yang menyetir Alissa dan Serinda, maka siap-siap jantungan. Karena mereka sudah terbiasa menyetir diatas rata-rata. Tapi tenang, mereka masih mematuhi aturan berkendara kok.
Dan terbukti, mereka akhirnya bisa sampai 10 menit lebih cepat dari waktu normal. Keriuhan di dalam Gor pun mulai terdengar sampai di tempat mereka berdiri.
Tanpa menunggu lagi, Serinda menarik lengan Naura agar gadis itu bisa membawa Naura berlari bersamanya. Alissa dan Reina pun langsung menyusul kedua perempuan itu.
Di dalam lobby yang cukup ramai, lelaki berseragam basket itu menoleh saat ada objek yang mencuri perhatiannya. Akhrinya ia berhenti lalu berbalik untuk memastikan kebenaran atas apa yang ia lihat.
"Ga mungkin lah ya dia disini." Batinnya.
"Raka!! Ah elah napa malah bengong?! Pertadingan kita bentar lagi." Seruan lelaki bertubuh jangkung itu kembali membalikkan fokus lelaki yang ternyata adalah Raka. Ya Raka, teman masa kecil Naura.
Di sisi lain, tepatnya di tribun lapangan utama Naura masih berusaha mengatur nafasnya. Tarikan Serinda yang mendadak membuat dirinya tak sempat mempersiapkan nafas untuk berlari.
"Tuh belom mulai Ser, tau gitu tadi kita ga perlu lari." Gerutu Naura.
"Tadi kayak udah mulai gitu Ra, makanya gue ngajak lo lari."
"Iya udah mulai, tapi tim di lapangan sebelah tuh!" Sahut Reina.
"Ya maap guys, anggep aja tadi olahraga pagi, gue yakin kalian belom pada olahraga tadi pagi."
Sontak ucapan Serinda itu mendapat jitakan pelan dari Alissa. "Dasar si any*ng!!"
Tak lama setelah itu, kedua tim yang akan bertanding di lapangan utama berkumpul di tengah dengan satu wasit yang siap memulai pertandingan.
Naura menyipitkan matanya saat melihat lelaki yang sangat ia kenal berdiri di barisan lawan. Dan ternyata itu bukan hanya halusinasinya saja.
"Seharusnya gue ga dateng ke sini." Batin Naura. Entah kenapa ia merasa tak enak saat mengetahui Raka sebenernya adalah rival Gibran.
"Anj*r itu siapa yang lagi nge dribble bola basket?? Subhanallah indah sekali ciptaan mu Tuhan!!" Heboh Alissa saat matanya menangkap sosok asing yang berhasil menarik perhatiannya itu.
"Eh kenapa tim lawan gantengnya ga ketulungan sih?!!" Sahut Reina yang tak kalah hebohnya.
Naura hanya mendengus melihat reaksi berlebihan yang temannya perlihatkan.
"Kalo gini mah gue ga nyesel dateng ke sini Ra, bukan niat dukung tim Gibran, tapi menikmati keindahan yang Tuhan Ciptakan." Alissa semakin menjadi-jadi.
Seorang Alissa jika sudah bertemu cogan dan ber style korea, pasti gadis itu langsung heboh. Saking hebohnya sampai terkadang membuat ketiga perempuan yang lainnya malu. Ah ralat, mungkin hanya Naura yang merasakan malu hingga ingin menghilang saat itu juga. Pasalnya Serinda ataupun Reina terkadang bertingkah 11 12 dengan Alissa. Untung temen, ya ga?
"Raka namanya," celetukan Naura itu sontak membuat ketuga perempuan yang lainnya menoleh.
"Yang mana Ra?!!" Sahut Reina cepat.
"Yang lagi ngehadang Gibran."
"Dia temen kecil gue, lebih tepatnya temen sekelas waktu gue sd."
"Oh my god!! Lo ga lagi bercanda kan Ra?!"
"Alissa cantikk, ngapain juga gue boong!!"
"Kenapa lo baru cerita sekarang sih Ra kalo punya temen se ganteng dia?!" Tanya Serinda.
Naura mengedikkan bahunya. " Ya gue kira kalian ga perlu tau dengan siapa temen gue di masa lalu. Toh mereka sekarang juga uda mulai mengabaikan gue."
"Iya sih.."
"Yauda kalo gitu sekarang gue minta dong nomer si Raka itu!!" Pinta Alissa sembari menyodorkan ponselnya.
Naura menggeleng. Ia mendorong kembali ponsel Alissa. "Gue ga punya Al, sorry."
"Lah kok bisa??"
"Gue uda lost contact sama dia sejak 4 tahun lalu. Jadi lulus Sd dia dan keluarganya pindah ke luar kota. Mulai dari situ gue sama sekali gatau kabar apa-pun dari dia. Dan gue beru ketemu lagi tadi malem. Itupun karena unsur ketidaksengajaan. Gue yang lagi beli mie instan ga sengaja ketemu dia di mini market. Dan tadi malem kita belum sempat bertukar nomor, karena emang gue ga kepikiran buat minta nomernya dia." Jelas Naura.
Alissa menghela nafas pasrah. "Yaudah lah ya mau gimana lagi. Yang penting besok-besok kalo lo uda dapet jangan lupa berbagi ke kita."
"Iya Al jangan khawatir."
Mereka bertiga kembali fokus kearah lapangan.
Beberapa menit kemudian, pertandingan kedua tim tersebut akhirnya selesai. Dan seperti dugaan mereka, bahwa tim Gibran lah yang berhasil menjuarai pertandingan ini.
Saat itu juga Naura beranjak dari duduknya. "Gue tunggu di lobby ya?!" Kata Naura. Dan ketiganya mengangguk memberi izin.
Keadaan lobby tak seramai tadi. Pasalnya para penonton masih beberapa yang meninggalkan lapangan. Karena mereka memilih untuk menghampiri idolanya untuk memberi hadiah ataupun berfoto bersama.
Seperti itulah kebiasaan yang kerap kali Naura lihat jika ia melihat pertandingan di kotanya. Karena itulah ia malas jika diajak oleh siapapun kesini.
Tapi yang Naura suka dari Gedung ini ialah di lobby disediakan beberapa sofa untuk para pengunjung. Tak hanya itu, disana juga disediakan 2 vending machine untuk snack dan minuman.
Setelah membeli minuman isotonik dingin dari vending machine, Naura pun langsung duduk di salah satu sofa kosong di dekatnya.
"Ternyata gue tadi ga salah liat." Suara itu berhasil membuat Naura menoleh. Kehadiran lelaki yang saat ini terseyum padanya pun membuat gadis itu menerjabkan mata.
Raka berjalan mendekati Naura lalu duduk si sofa kosong samping gadis itu. "Seharusnya lo hari ini gausa kesini Ra." Perkataan Raka itu berhasil membuat Naura menyerngit.
"Kenapa?"
"Ya, karena tim gue hari ini kalah Ra," Jawabnya dengan cengiran.
"Santai aja kali Ka, menang kalah di suatu pertandingan itu udah biasa kan?!" Kata Nara sesantai mungkin.
"Oh ya, mau Ka?" Naura menawarkan minuman isotonik yang baru saja ia beli kepada Raka.
Raka yang kebetulan haus pun langsung menerima pemberian Naura. "Thanks Ra."
"Urwell."
"Btw Ra, gue pinjem hp lo dong." Ujar Raka sembari meletakkan botol kosong itu ke meja di depannya.
Tanpa pikir panjang Naura langsung menyodorkan ponsel case pink itu ke Raka. "Nih!"
Beberapa menit setelah Raka mengotak-atik ponsel Naura, ia langsung memberikan kembali pada gadis itu. "Thanks ya. Btw itu nomer gue uda gue simpen, awas aja kalo sampe lo hapus."
Naura tertawa pelan. "Ya enggak lah Ka, emang nyimpen nomer kamu memberikan masalah besar ke aku? Nggak kan? Yaudah." Dengan gini ia tidak perlu susah-susah untuk meminta nomer Raka, tentu saja untuk Alissa tersayangnya itu.
"Naura?!!" Suara itu berhasil membuat keduanya menoleh.
Tawa di bibir Naura seketika luntur. Ia menghela nafas beratnya. Melihat raut wajah Gibran seperti itu membuat hatinya tak tenang. Tangannya meremas ujung rok yang ia kenakan. Karena ia merasa setelah ini pasti hidupnya tak akan setenang sebelumnya.
Sedangkan Raka, ia memperhatikan kedua orang yang sedang beradu tatap itu secara bergantian. Ah, dengan ini ia akhinya paham kenapa Naura bisa berada di gedung ini.
Tapi ada satu yang tidak ia mengerti, hubungan seperti apa yang sedang mereka jalani? Apa memang ia harus kalah sebelum berjuang??
Semoga saja kenyataannya tak seperti apa yang ia pikirkan.
...πΌπΌπΌ...
...Hi readers!!...
...Gimana nih pendapat kalian tentang part ini??...
...Yuk Yuk tulis komen kalian di kolom komentar π€...
...Terimakasih author ucapkan untuk semua pembaca yang setia menunggu update dari cerita ini β€οΈ...
...Masih banyak part sebelum ending ya guys!! Jadi pantau terus update an author π...
...Jangan lupa dukung author sebanyak-banyaknya!!...
...Dengan cara Like, Komen, Vote, Rate bintang 5, tambahkan ke Favorit kalian agar tidak ketinggalan update part baru, dan Share sebanyak-banyaknya π...
^^^See you^^^
...To Be Continued...