
..."Jika diibaratkan, kamu seperti magnet yang selalu menarik hatiku, tanpa berniat memberi kesempatan untuk berpaling." ...
...-Gibran Rahardian K-...
...๐ผ๐ผ๐ผ...
Semakin lama kita berada di bumi, semakin cepat pula waktu berlalu di sekitar kita. Seakan-akan hal yang terjadi beberapa saat lalu baru terjadi kemarin. Ironis memang. Tapi kita yang hanya sebatas manusia hanya bisa menikmati kehidupan sehari-hari dengan waktu yang sudah Tuhan atur.
Hal tersebut juga dirasakan oleh Naura. Seperti baru kemarin gurunya mengumumkan beberapa hal penting terkait study tour, eh ga kerasa hari ini tiba saatnya dimana study tour dilaksanakan.
Study tour angkatan Naura dilaksanakan selama empat hari dua malam di pulau Dewata Bali. Ini kali pertama Naura menginjakkan kakinya di salah satu destinasi wisata terbesar di Indonesia.
Dari jam setengah enam pagi tadi sekolah Naura sudah ramai oleh siswa siswi angkatannya. Karena ini adalah satu-satunya event besar di sekolah swasta tersebut, jadi tidak heran jika banyak dari mereka yang excited dalam kegiatan kali ini. Lagian siapa sih yang ga mau jalan-jalan ke Bali?
"Al, kita duduk di bangku nomer berapa?!" Tanya Keira kepada Alissa yang baru saja memasukkan koper kedalam bagasi bus.
"Nomer 19 sama 20 Ra, kemarin si Reina sengaja bookingin kita di nomer itu, biar bisa depan belakang sama dia." Jawab Alissa.
"Oh gitu.. yaudah yuk masuk, sambil nunggu mereka mending kita ngadem."
"Ee Ra, tapi gue mau ke km bentar. Lo masuk duluan gaapa kan?!"
Naura menghela nafasnya. "Yaudah deh. Tapi jan lama-lama loh!"
"Iya Ra iya!!" Sedetik kemudian Alissa langsung berlari menuju kamar mandi terdekat.
Dapat Naura lihat bus masih terisi sekitar seperempatnya. Padahal ia kira sudah hampir penuh. Ia berpikiran seperti itu karena lihat saja diluar sana sudah hampir seluruh murid angkatannya tiba. Ah apa mereka masih pada diluar ya? Ah sudahlah, ngapain juga ia memikirkan hal tidak terlalu penting itu.
Setelah memasukkan tote bag nya kedalam bagasi atas, Naura pun memilih untuk duduk di samping jendela. Lalu, ia merogoh sling bag, mencari earphone wireless pink miliknya. Dan segera ia pasang pada kedua telinganya. Sedetik kemudian lagu di playlist itu langsung memenuhi gendang telinganya.
Ia melempar tatapannya kesrah luar jendela. Banyak orang yang berlalu lalang disana. Memperhatikan setiap gerak-gerik dari mereka adalah salah satu kegiatan favorit Naura disaat tak ada hal yang ia lakukan, seperti sekarang. Naura juga tidak tahu, entah kenapa ia bisa tertarik dengan hal sesederhana ini.
Sakinh fokusnya, Naura sampai tidak menyadari kehadiran seseorang disampingnya. Ia baru menyadari disaat ia mendengar deheman seseorang.
Sontak mata Naura membulat. Ia sangat terkejut. Pasalnya orang yang duduk disampingnya bukanlah Alissa. Melainkan Gibran dengan senyuman tanpa dosa nya.
Ah Naura lupa jika dirinya berada di satu bus dengan Gibran. Andai ia bisa protes, maka ia akan mengatakan bahwa dirinya keberatan berada di bus yang sama dengan kelas Gibran.
"Gue minta tukeran sama Alissa karena gue ga kuat duduk di bangku belakang. Bawaannya pengen mual terus." Perkataan Gibran itu seakan-akan menjawab beberapa pertanyaan dikepala Naura.
Kok bisa pas gitu ya? Apa jangan-jangan Gibran cenayang? Omg! Ga mungkin banget kan??!
"Oh gitu."
Gibran memiringkan kepalanya kearah Naura berpaling, sehingga membuat wajahnya bisa menatap Naura dengan sepenuhnya. Sontak Naura langsung menutupi wajahnya dengan bantal kepala hello Kitty ditangannya.
"Njir! Apaan sih lo!!"
"Gue ga niat aneh-aneh kok!! Cuma mau mastiin respon lo saat gue milih duduk disini. Karena raut wajah paling ga bisa bohong kan?!"
"Ya tapi gausa gitu juga dong!!"
Gibran menghela nafas berat. "Yauda kalo emang lo gamau gue disini. Biarin aja nanti gue mabuk perjalanan sampai di Bali nanti!" Ia langsung beranjak dari bangkunya.
Melihat kepergian Gibran ada sebagian dari diri Naura untuk menahan lelaki itu. Lagian apa iya ia akan selamanya tak berbaikan dengan Gibran? Toh ia juga sudah memaafkan lelaki itu.
"Gue ga keberatan lo duduk sini. Tapi dengan syarat lo ga boleh mengganggu ketenangan gue! Dan jangan harap lo bisa modusin gue saat duduk disini!"
Langkah Gibran terhenti. Sebelum berbalik, ia menyempatkan untuk tersenyum tipis. Lalu kembali duduk disamping gadis itu.
"Asal gue bisa duduk disini, gua akan melakukan syarat dari lo!"
Setelah urusan dengan Gibran selesai, Naura pun kembali ke dunianya. Beberapa saat kemudian, kursi penumpang di bus itu sudah terisi penuh, yang berarti bus akan diberangkatkan beberapa menit lagi. Dan perjalanam menuju pulau Bali pun dimulai.
...๐ผ๐ผ๐ผ...
Siang itu Kenzie mengendarai mobilnya menuju tempat yang sudah lama tidak ia kunjungi. Mungkin sekitar dua bulan lalu ia terakhir mengunjungi tempat ini, bersama sang adik.
Terkadang ia harus mengumpulkan niat terlebih dahulu sebelum datang ke tempat ini. Rupanya waktu 10 tahun tak cukup untuk menghapus luka itu.
Kenzie tersenyum sendu saat memandang makam sosok yang sangat ia rindukan itu. Lalu ia duduk disamping kanan makam tersebut. Tangannya terulur mengelus nisan bertuliskan nama Samuel Wijaya Pradipta.
Selama itu pula ia tak lagi bisa mengelus tangan hangat beliau. Hanya nisan dingin yang dapat ia sentuh.
"Maafin Kenzie ya pa?!" Lirih Kenzie. "Maaf karena Kenzie belum bisa jadi kakak yang baik buat Naura, belum bisa membanggakan mama. Dan juga maaf karena Kenzie masih sering menyalahkan diri sendiri karena kematian papa.." Bulir air mata yang hendak keluar dari tempatnya itu berhasil Kenzie seka. Ia tak boleh menumpahkan air matanya diatas liang lahat ayahnya.
"Setelah ini Kenzie akan pastikan menangkap bajingan itu dan papa bisa tenang disana. Maaf karena Kenzie butuh waktu 10 tahun untuk mengungkap kebenaran pa.."
Meskipun Kenzie tau pasti bahwa perkataannya tak akan mendapat balasan, tetapi ia tak akan berhenti berbicara. Karena dengan ini ia bisa lebih merasa lega.
Beberapa detik kemudian Kenzie menyudahi aksi melankolisnya. Lalu sebelum ia meninggalkan tempat itu, terlebih dahulu ia membacakan beberapa lantunan doa untuk sang ayah. Tak lupa dengan disertai penyebaran bunga diatas tanah kubur tersebut.
"Kenzie pamit ya pa?!" Katanya semmbari beranjak dari duduknya.
Saat berjalan keluar pemakan, Kenzie kembali memasang kaca mata hitam miliknya. Bukan ingin terlihat keran, hanya saja ia tidak in
gin terlihat lemah dimata mereka.
Tak lama setelah itu, mobil Kenzie melesat meninggalkan area pemakaman itu.
...๐ผ๐ผ๐ผ...
"Kayak gitu gimana?!"
"Ya, suka anime genre action fantasi gitu."
"Kalo itu sih udah wajar kali Ra, yang ga wajar nih elo yang mau gue ajak nonton jujutsu no kaisen ini." Gibran menjeda ucapannya. "Kan biasanya cewek-cewek kayak lo sukanya drama korea."
Karena perjalanan darat menuju Bali menurut Naura sangat membosankan. Bayangkan saja, kurang lebih 18 jam ia harus duduk di dalam bus, udah capek, bosen pula. Dan pada akhirnya ia memutuskan untuk menerima ajakan nobar dari Gibran.
Naura menoleh Kearah Gibran yang rupanya sudah sedari tadi memperhatikan dirinya. "Gue suka kok liat drama Korea. Suka banget malah."
"La trus, kenapa lo mau nobar ini?"
"Ya karena kebetulan gue juga suka anime. Meskipun awalnya karena diracuni abang gue sih, tapi gatau kenapa gue jadi beneran suka anime." Balas Naura. "Dan kebetulannya lagi, gue lagi gabut banget jadi ya ga keberatan buat nobar sama lo."
"Oh gitu... Ee jadi, lo udah liat anime apa aja nih?!"
"Apa ya? Banyak banget deh, sampe-sampe gue kadang lupa sama judulnya." Naura berfikir sejenak. "Ada satu sih anime yang paling mengesankan dalam sejarah per-animean gue. Judulnya one piece."
"Jadi lo juga suka one piece?!" Tanya Gibran dengan excited. Dan Naura langsung mengangguk menjawab pertanyaan Gibran.
"Luar biasa!! Baru kali ini nih gue nemu cewek yang juga suka one piece. Btw, lo paling suka waktu arc apa?"
"Dressrosa, Marineford, sabaody, sama--"
"Ehem!!" Ucapan Naura terpotong karena deheman dari Aziel.
Sedangkan Gibran ia langsung berdecak. Bisa-bisa lelaki itu mengganggu waktunya.
"Eh mending jomblo diem aja ya! Makanya cari doi biar ga suka ganggu orang!" Seru Gibran dengan sedikit menyolot.
"Idih siapa yang iri? Sori ya, gue juga otw punya doi. Nih doi nya, ya ga Rei?!" Mata Aziel menatap jail kearah Reina yang kebetulan duduk di pinggir.
"Emang Reina mau sama lo?!" Celetuk Naura.
"Ya engga tau..." Dengan pasrahnya Aziel mengucapkan itu. Lalu keempat orang yang menyaksikan itu pun tertawa. Disusul dengan tawa Mahesa, serta Darel yang duduk di bangku belakang.
"Makanya gausa sok modusin orang!!" Sahut Mahesa.
Mendengar itu Reina tertawa pelan. Ia tak akan menganggap serius ucapan Aziel. Karena pada dasarnya ia tau pasti bahwa perkataan mereka hanyalah candaan.
"Gue disini juga buat kalian nying!!" Balas Aziel atas perkataan Mahesa.
"Lah kenapa belom balik?!" Gibran kembali angkat bicara saat tau Aziel masih berdir di sampingnya.
"Yakali gue balik dengan tangan kosong." Ia menatap Naura yang menatapnya heran. "Ra, gue yakin lo pasti bawa jajan. Daripada jajan lo nganggur nih ya, mending lo sedekahin ke gue." ucap Aziel to the point.
Naura terkekeh. Ada-ada saja tingkah lelaki itu. "Iya ambil sendiri di atas, tote bag warna navy."
"Nah gitu dong!! Makasi banyak Naura cantik!!" Tanpa menunggu lagi, Aziel langsung mencari tote bag yang Naura sebutkan. Setelahnya ia langsung kembali ke habitatnya semula.
"Jangan baik-baik Ra jadi orang. Nanti gampang dimanfaatin loh!!" Kata Gibran.
"Masalah dimanfaatin atau nggak itu urusan belakang, yang penting niat kita tulus untuk membantu. Toh kalo emang orang mau manfaatin aku ya mau gimana lagi. Lagian Gib, Tuhan nggak tidur kok, jadi gausa khawatir, orang itu pasti juga akan dapet balesannya sendiri tanpa kita membalasnya." Balas Naura dengan sangat tulus.
Gibran cukup tersentuh dengan jawaban yang keluar dari bibir Naura. Tanpa sadar ia tersenyum tipis.
Setelah dipikir lagi, dirinya sebenarnya tak pantas untuk menyakiti gadis sebaik Naura. Apa benar dengan ini hatinya sudah terlebih dahulu luluh?
Apa kabar dengan taruhan itu? Apakah masih berlaku disaat Gibran sudah memastikan sendiri bahwa dirinya lah yang kalah. Dengan waktu satu bulan lebih satu minggu ini dirinya lah yang berhasil jatuh terhadap kebaikan Naura.
...๐ผ๐ผ๐ผ...
...Hi Readers tercintaa!!!๐...
...Setelah sekian lama akhirnya author kembali update ๐...
...Gimana nih menurut kalian tentang part ini??...
...Ternyata Gibran uda ngakuin kalo dia suka Naura lohh!!...
...Apa Naura ngerasa sama??...
...Penasaran ga??...
...Nantikan Update part selanjutnya dari author yaa ๐คฉ...
...Agar author semakin semangat buat nulis, Mari luangkan waktu kalian untuk mendukung karya ini!!๐...
...Dengan cara like, komen, vote, rate bintang 5, dan juga share ke temen-temen kalian untuk ikutan baca cerita ini!!๐...
...*Author akan feedback kok bagi siapapun yang sudah mau komen di setiap part cerita ini ataupun cerita sebelah *CONVERGE :v*...
...Thank you guysโค๏ธโค๏ธ...
...See You...
...TO BE CONTINUED...