
..."Semua itu memiliki jalannya masing-masing. Tinggal bagaimana cara kalian memilih jalan tersebut. Apakah memilih jalan pintas untuk bahagia? Ataukah jalan berliku sebelum akhinya kalian menikmati kebahagiaan itu? Keputusan ada di tangan kalian." ...
...-Kenzie Dirga P-...
...๐ผ๐ผ๐ผ...
Sore itu, disaat lelaki itu mendapat telepon dari seseorang, ia pun langsung mengendarai motornya membelah jalanan kota.
Sesampainya di cafe, ia dapat melihat pria yang menelponnya tadi. Dari pintu ia melambaikan tangan kearah pria tesebut.
"Sudah lama disini?" Tanyanya saat sudah duduk di depan pria itu.
"Belum tuan, saya juga baru tiba disini."
"Syukurlah. Jadi, info apa yang akan anda berikan kepada saya?"
Pria itu langsung mengeluarkan map coklat dari dalam tas tentengnya. Lalu ia sodorkan kearah lelaki di depannya itu. "Akhirnya saya mendapatkan informasi yang cukup penting."
Lelaki itu menyerngit. Lalu ia membuka map tersebut dan mengeluarkan apa saja isinya. Dan ternyata disana ada beberapa foto serta laporan yang cukup membuatnya terkejut.
Pria tadi menunjuk kearah lembaran putih itu. "Ini adalah laporan kematian dari tim kepolisian yang kebetulan mengurusi kasus tersebut. Disana tertera bahwa korban meninggal murni karena kecelakaan. Dan keluarga korban menolak untuk melakukan autopsi."
"Tunggu, kenapa ini terjadi lima hari setelah kematian ayah?" Ya, lelaki tersebut adalah Kenzie. Kenzie yang sudah beberapa tahun ini menyelidiki kasus kematian papanya yang kala itu ditutup paksa oleh jaksa.
"*Dan kenapa bunda sama sekali tak mendapat berita ini? Bunda hanya tau bahwa mereka akan pindah dari daerah kami waktu itu. Itu pun mereka berdua sendiri yang mengatakan kepada bunda saat melayat." Imbuh Kenzie.
"Saat itu empat hari setelah kematian papa, dan tiga hari setelah bunda sadar karena insiden tersebut. Jadi, saat itu adalah satu hari sebelum kejadian kecelakaan ini*." jelasnya.
"Itu salah satu hal yang mengganjal disini. Sejak 10 tahun lalu saya pun belum pernah mendapat bahwa istri dari beliau sudah tiada. Dan mungkin, ini adalah kunci yang bisa membuktikan bahwa apa yang terjadi kepada pak Samuel bukanlah ketidaksengajaan."
"Ah ya, saya mendapatkan barang bagus saat menelusuri kasus ini." Lanjutnya, lalu ia kembali merogoh tasnya. Dan ia pun mengeluarkan sebuah alat perekam suara yang sudah terlihat usang. "Tolong dengarkan ini." Pria itu menyerahkan alat perekam tersebut disertai dengan earphone yang sudah ia siapkan sebelumnya.
*Rekaman tersebut hanya berisi percakapan sekitar dua menit. Tapi itu cukup membuat darah di tubuh Kenzie mendidih. Ternyata, dugaannya selama ini tidaklah salah.
Saat ini pula ia seperti mendapatkan tamparan hebat di hidupnya. Bahwa, sahabat yang selama ini ayahnya banggakan, dan pria yang saat itu pernah terlihat hebat dimatanya adalah orang yang sangat kejam*.
"Saat itu, rekaman ini terjadi kerusakan karena kecelakaan parah yang menimpa beliau. Dan polisi sama sekali tak menganggap bahwa ini adalah bukti penting. Karena itu, setelah mendapatkannnya saya langsung membawa ke ahli elektronik kenalan saya. Dan akhirnya ini bisa menjadi bukti terkuat kita, untuk saat ini." Jelasnya.
Setelah mengetahui ini, Kenzie ingin sekali langsung membalaskan dendam kepada pria tersebut. Bagaimana mungkin selam ini ia menikmati hidup dengan bergelimang harta, sedangkan keluarganya?
Bundanya yang harus bekerja keras untuk menghidupi keluarganya selama 10 tahun belakangan ini. Tapi, ia harus mengurus ini dengan kepala dingin. Karena ia tak bisa melakukan hal ceroboh disaat kesempatan langka ini sudah datang.
"Kita akan terus mengumpulkan bukti-bukti kuat, untuk bisa membuka kembali kasus ini. Dan pastikan hakim ataupun jaksa yang akan menangani kasus ini bukan jaksa dan hakim waktu itu, karena kita membutuhkan kejujuran untuk menuntaskan semua ini."
"Baik Tuan. Tapi sebelumnya, saya juga akan menyampaikan berita, bahwa beliau saat ini sedang koma di rumah sakit."
"Apa yang terjadi?!!" Kejut Kenzie saat menerima berita yang sangat mendadak itu.
"Kemarin siang, terjadi kecelakaan yang diluar dugaan. Dan untungnya tak merenggut nyawa kedua korban."
****!!
Berita tersebut sangat membuat Kenzie kesal. Bagaimana tidak? Karena ia terpaksa harus menunda setidaknya sampai orang itu sembuh dari cederanya. Dan itu Kenzie yakin akan membutuhkan waktu yang cukup lama.
...๐ผ๐ผ๐ผ...
"Kayaknya ada yang habis menang lotre nih?!" Sindir Kenzie saat melihat Naura hendak berjalan kearah kamarnya.
Naura melirik Kenzie yang bersandar di pintu kamar sampingnya. "Lotre apaan sih bang?"
"Lagian tuh muka kenapa senengnya kek habis ketiban uang se truk sih?"
Mendengar itu Naura pun langsung merubah raut wajahnya ke mode serius. Bisa-bisa ia diledeki terus oleh abangnya itu. "Ish! Enggak! Udah ah mau masuk kamar, capek!!"
"Cowok tadi itu siapa?" Tiba-tiba nada bicara Kenzie berubah menjadi serius.
"Ah itu, temen."
"Yakin? Cuma sebatas itu? Trus yang waktu itu ngajak jalan kamu juga kamu anggap sebatas temen?"
"Iya abang!! Ih, abang sekarang kok jadi suka ngurusin percintaan Naura sih?! Seharusnya, urusin dulu tuh status abang yang udah menjomblo sejak orok!!"
"Sialan nih adek!"
"Lah iya makanya gausah nanya yang aneh-aneh!!"
Naura memundurkan langkahnya kembali. "Ah ya lupa, kalo aku lagi ngambek sama Abang Kenzie!!" Tukasnya.
Kenzie tertawa. "Iya-iya, biar ga ngambek mau abang beliin apa sih?"
Naura memincingkan kepalanya. "Ga minta ganti ongkir kan?" Tanyanya curiga.
"Enggak lah!! Yaudah cepetan ngomong mau apa, sebelum abang berubah pikiran nih!"
"Oke oke. Naura kebetulan laper banget bang, jadi tolong beliin roti bakar, martabak manis, nasi goreng, mie ayam, trus es boba, es krim taro yang biasa, ee apa lagi ya bang?" Naura tampak berpikir sejenak. "Ah ya, sama beliin batagor langganan aku bang ya jan lupa. Tau kan yang mana?"
Kenzie menaikkan alisnya. "Udah itu doang? Yakin ga nambah?"
Naura mengangguk. "Udah. Emang abang mau bantu ngehabisin?"
"Enggak makasih. Yaudah sana masuk, bau badan lo sampe sini nih!"
"Anjir si abang sialann!!"
Malamnya, dikamar Naura penuh berisikan makanan yang ia pesan kepada Kenzie tadi. Dan sekarang, ia bingung cara untuk menyantap habis makanan ini. Karena jika ia habiskan sendiri, sudah dapat dipastikan bahwa perutnya akan meletus saat itu juga.
Akhirnya setelah menghabiskan semangkuk mie ayam Naura pun memutuskan untuk memberikan sebungkus nasi goreng kepada bundanya yang kebetulan baru pulang dari butik.
Lalu ia pun memutuskan untuk memberikan martabak manis itu kepada Kenzie. Karena ia tau bahwa martabak manis adalah makanan kesukaan Kenzie. Dan dengan ini pula Naura tak perlu bingung mau ditaruh mana makanan tersebut. Tau gini, dia tadi tidak akan mengatakan makanan sebanyak itu kepada Kenzie. Haish!!
Tok tok tok
"Bang, abang mau martabak manisnya ga? Perut Naura bener-bener kenyang nih!! Sayang kalo dianggurin bang, ntar mubadzir!!" Seru Naura dari luar pintu kamar Kenzie.
Karena tak ada sahutan Naura pun kembali mengetuk pintu hitam tersebut. Namun nihil, lagi-lagi tak ada balasan.
Akhirnya ia mencoba menekan knop pintu kamar lelaki tersebut. Dan berhasil. Rupanya sedari tadi kamar itu tak terkunci.
Naura pun langsung berjalan santai memasuki kamar yang tampak taada penghuninya itu.
"Pantes dari tadi gaada yang nyaut, orang bang Kenzie ga dikamar." Gumamnya.
Ia meletakkan kotak itu di meja kerja milik Kenzie. "Awas aja sampe ga dimakan!"
Saat hendak berbalik, mata Naura tak sengaja menangkap sesuatu yang berserakan diatas kasur milik Kenzie.
Dari jarak ini Naura tidak dapat melihat dengan jelas siapa dan apa yang berada di dalam foto tersebut. Karena jiwa ke kepoannya, Naura pun berjalan mendekati kasur tersebut.
"Lo ngapain disini Ra?" Tanya Kenzie yang berhasil membuat Naura terkejut setengah mati.
"Astagfirullah abang ngagetin aja sih!"
"Lagian, lo ngapain di kamar gue?" Tanya Kenzie untuk kedua kalinya sembari melangkahkan kaki mendekati Naura.
"Ah itu, ini aku mau ngasih abang martabak manis yang tadi. Naura kenyang banget bang, dan bakal mubadzir kalo dibuang."
Kenzie mendengus geli, "Salah siapa pesen banyak banget. Dikira tu perut kayak perut karetnya luffy?"
"Yee kan tadi ceritanya aku lagi ngambek sama abang!! Lagian abang dari mana sih? Dari tadi aku ketukin kamarnya ga nyaut, yaudah deh akhirnya aku masuk naruh itu sendiri."
"Abang dari dapur."
"Dapur?" Tunggu, tadi sepertinya Naura tak melihat tanda-tanda kehadiran Kenzie disana. "Tadi Naura habis dari kamar bunda kenapa ga ngeliat abang disana ya?"
"Ah, pasti itu kamunya aja yang ga liat, orang abang aja juga ga tau kalo kamu dari kamar bunda." Bohong. Tentu saja hal itu hanyalah alibi yang Kenzie buat. Bagaimana mungkin jika ia mengatakan kepada Naura kalau dia habis dari ruangan itu?
"Ee gitu ya bang,"
"Iya, udah balik sana ke kamar kamu!"
"Ish abang kok ngusir gitu sih?" Naura hendak berbalik melihat foto tadi, namun dengan cekatan Kenzie menahannya. "Itu foto apa sih bang? Naura kepo.. pengen liat!!"
"Ish! Anak kecil ga boleh liat foto gitu-gituan."
"Gitu-gituan apa maksud abang?" Naura sontak membekap mulutnya saat mengetahui maksud Kenzie. Lalu ia terbelalak tak percaya.
"Wah! Abang ternyata suka koleksi foto vulg*r ya?! Ih!! Abang mesumm!!" Teriaknya dan berlari keluar kamar Kenzie.
Kenzie tertawa melihat teaksi adiknya itu. Untuk saat ini biarlah Naura berpikiran sesukanya. Tapi setidaknya dirinya tak melihat apa sebenarnya foto tersebut.
"Belum saatnya kamu tau semua ini Ra."
...๐ผ๐ผ๐ผ...
Disaat jam istirahat, seperti biasa Raka dan empat temannya yang lain berkumpul di meja kantin yang sudah seperti milik mereka. Pasalnya saat istirahat tak ada yang berani menempati meja tersebut karena mereka tau bahwa pemilik dari meja itu adalah kelima laki-laki itu.
Ekor mata Raka mengamati Revan yang sedang berbicara dengan Bryan. Sedangkan Dika dan Aldo masih asik menghabiskan makanan yang sudah mereka pesan.
Sedetik kemudian, Revan beranjak dari kursinya. Tanpa menunggu lagi, Raka pun menyusul lelaki itu. Mungkin ini kesempatannya untuk memperingati Revan.
Di dalam ruangan yang terdapat beberapa bilik kamar mandi, Raka menatap intens Revan yang sedang membasuh muka di sebelahnya.
"Apa lo udah puas bohongin kita selama ini?" Kata Raka dengan suara datar.
Revan mematikan kran lalu mengelap wajahhya sebelum akhirnya ia menatap balik Raka. Ia menyengir, "Haha, lo ngomong apa sih Ka? Gue ga ngerti."
"Gue akan memberi lo kesempatan untuk jujur Van, sebelum semuanya terlambat."
"Jujur? Emang gue bohong apa sih ke lo? Apa ada hal yang ga sengaja gue lakuin ke lo?"
Raka menghela nafas. Lalu ia merogoh saku celananya, mengambil ponsel disana. Setelahnya ia membuka foto yang memang sudah ia ambil beberapa hari lalu.
"Apa lo masih bisa ngelak waktu liat ini?" Raka menghadapkan layar ponselnya kearah Revan.
Revan yang melihat foto itu tentu saja terkejut bukan main. Bagaimana bisa?
****!!
Apa ia selama ini diikuti oleh Raka? Kenapa ia tak sadar?
"See? Lo juga masih belum jujur, apa harus gue-"
"Ka!!" Bentak Revan. Terlihat jelas bahwa lelaki itu sedang menahan amarahnya.
"Lo pikir, lo berhak ikut campur dalam urusan percintaan gue hah?!"
"Gue kenal lo Van!! Gue tau semua sikap yang ada di diri lo! Dan, Revan yang gue kenal ga akan memilih menjalin sebuah hubungan jika tanpa alasan!!"
Revan tertawa. "Lo salah! Soal percintaan, lo ga tau apa-apa Ka!"
"Enggak, gue tau!! Semua terlalu jelas dimata gue Van! Apalagi cewek yang lo pacari itu anak Xavier!"
"Bangs*t!!! Cewek incaran lo juga anak Xavier!! Kenapa lo jadi ngelarang gue gini hah?! Munafik!!"
Raka menahan emosinya dengan menyalukannya ke kepalan tangan yang ia sembunyikan di samping tubuhnya.
"REVAN!! Gue ngelakuin ini demi kebaikan lo!!"
"Gue ga mau hubungan kalian itu isinya toxic!!"
"Gue ga mau lo jadi kriminal karena balas dendam!!" Bentakan itu keluar dari bibir Raka. Mungkin dengan ini ia bisa menyalurkan setengah dari emosi yang sempat ia tahan.
"Gue bukan ngelarang lo pacaran sama anak Xavier!" Nada bicara Raka memelan. Ia tak bisa terus terusan membalas ucapan Revan dengan luapan emosi. Bisa-bisa terjadi war diantara keduanya.
"Gue akan dukung siapapun cewek yang lo cintai dengan tulus. Tapi ini beda konsepnya Van!! Gue tau apa maksud yang selama ini lo sembunyiin."
"Dia ga salah Van!! Dia ga layak untuk lo jadikan sasaran balas dendam!!"
"Tapi dia layak untuk mendapatkan hati tulus lo itu."
"Lo tau itu Van! Dia terlalu baik untuk lo sakiti!" Itu adalah kalimat yang terakhir Raka ucapkan, sebelum dirinya berlalu dari sana. Meninggalkan Revan dengan emosi yang sedang meluap-luap.
Ini tidak bisa dibiarkan! Ia tidak bisa membiarkan Raka ataupun siapapun itu merusak rencananya!!
"Gue pastiin gue akan berhasil membalas dendam lo itu kak!!" Tekad Revan dengan tangan yang mengepal kuat.
...๐ผ๐ผ๐ผ...
...Hi Hi Hi!!...
...Gimana kabarnya? sehat semua kan?? Alhamdulillah xixi...
...Gimana nih part ini?? Greget kah? atau biasa aja?? haha...
...Btw thanks banget yang udah setia baca cerita ini ๐๐...
...Semoga kalian benar-benar nge feel waktu bacanya yaa...
...Luv uโค๏ธ...
...See you...
...To Be Continued...