
..."Kamu adalah semestaku." ...
...-Gibran Rahardian-...
...๐ผ๐ผ๐ผ...
"I love you more than you know Van..." lirih Reina dari lubuk hati yang paling dalam.
Bisa dikatakan bahwa Reina akhirnya bisa mengatakan perasaan nya yang sebenarnya. Meskipun sudah berulang kali ia mengatakan mencintai Revan, tapi rasanya ini adalah perasaannya yang paling tulus melebihi apapun.
Reina semakin erat menggenggam tangan Revan. Air matanya pun telah membasahi tangan lelaki itu. Sepanjang itu ia selalu melantunkan doa yang terbaik.
Dengan mendekatkan tangan Revan ke pipinya, Reina berbisik. "Van... Jangan tinggalin Aku... Izinkan aku menjadi rumah kamu, tempat kamu berpulang dan menyembuhkan diri."
Beberapa menit Reina mempertahankan posisi itu. Sampai ia merasakan pergerakan dari tangan yang ia genggam. Sontak ia langsung mengangkat kepalanya, melihat kearah wajah Revan.
Dan benar, mata lelaki itu berkedut sebelum akhirnya membuka dengan sempurna. Tanpa menunda lagi, Reina langsung memencet bell agar ada dokter yang secepat mungkin bisa memeriksa keadaan Revan.
"Reina?" lirih Revan dengan suara yang sedikit serak.
"Iya Van, ini aku."
Revan mengamati sekelilingnya, lalu melirik kearah lengan dan kaki yang terdapat perban di beberapa bagian. Lalu ia meraba bagian kepala, ia rasa luka di kepalanya lebih parah dari yang ia duga.
"Van, jangan banyak gerak dulu..." larang Reina dengan nada halusnya.
"Na, udah berapa hari gue dirawat disini?" suara Revan terdengar parau saat menanyakan hal itu.
"Tiga."
Setelah diputar ulang memori di otaknya, Revan rasa apa yang terjadi sebelum dirinya tak sadarkan diri adalah kenyataan. Tapi mengapa ia merasa semua itu hanyalah mimpi. Sial, sepertinya gara-gara koma beberapa hari ia jadi mengalami demensia.
"Arrgghh!!" rintih Revan saat sakit tiba-tiba menyerang kepalanya. Sepertinya rasa sakit tersebut muncul disaat dirinya terlalu berpikir keras.
Tak lama setelah itu, terdengar pintu terbuka, menampilkan seorang dokter dan dua perawat memasuki ruangan Revan.
Dengan cekatan dokter tersebut langsung memeriksa keadaan Revan. Reina pun menjauh dari brankar, membiarkan mereka leluasa dalam memeriksa Revan.
Setelah selesai, dokter berusia 40 an itu mendekati Reina. Lalu mengajak gadis itu keluar ruangan untuk membicarakan keadaan Revan.
Saat keluar ruangan, Reina disusul Dika mengikuti langkah dokter tersebut. Sepertinya akan ada banyak hal yang hrus mereka bicarakan.
...๐ผ๐ผ๐ผ...
Setelah selesai kelas, Kenzie langsung meluncur menuju ke suatu tempat untuk menemui seseorang. Awalnya ia tidak menyangka bahwa orang itu mengajaknya ketemuan secara diam-diam seperti ini.
"So, ada perlu apa lo ngajak gue ketemuan Gib?" tanya Kenzie langsung kepada lelaki yang duduk di depannya. Ya, Gibran lah yang mengajaknya bertemu.
Semalam, pacar adiknya itu menghubungi dirinya, dan mengatakan ada beberapa hal yang harus ia tanyakan. Awalnya Kenzie menolak akan ajakan Gibran, karena ia yakin lelaki itu akan bertanya soal hal itu.
Tapi setelah ia pikir kembali, sepertinya tidak salah juga memberitahu Gibran apa yang sebenarnya terjadi. Toh, nantinya Gibran juga akan mengetahui kebenaran dari semua hal yang selama ini tidak ia ketahui.
Sebelum menjawab Gibran terlebih dahulu menyodorkan segelas blue ocean yang telah ia pesan kearah Kenzie. "Di minum dulu bang, gue harap lo suka sama minumannya."
Kenzie tertawa. "Bisa-bisanya bu beberapa hari jadi pacar adik gue lo udah bisa tau minuman favorit gue."
"Wah syukurlah kalo lo juga suka sama minuman favorit gue ini bang."
Gibran juga meneguk minuman yang sama dengan Kenzie. Sepertinya ia juga butuh asupan sebelum membicarakan hal berat dengan Kenzie.
"Bang... Sebenernya apa yang disembunyikan sama Papa gue?" Tanya Gibran tiba-tiba dengan menatap kosong gelas yang ia pegang.
Kenzie langsung terdiam saat mendengar pertanyaan langsung seperti itu. Sepertinya dugaanya benar.
"Kenapa lo menanyakan hal itu ke gue?"
Gibran menaikkan kepalanya, lalu menatap lurus kearah Kenzie. "Gue yakin lo tau sesuatu bang. Tentang kejadian yang menimpa lo dan Naura serta alasan Papa gue melakukan itu semua."
"Lo bertanya kayak gitu hanya ingin memastikan kalo Papa lo bener-bener melakukan hal sejahat itu ya Gib?"
"Gue sendiri awalnya ga nyangka bang, Papa yang selama ini gue banggakan melakukan hal sebejat itu. Dan gue sendiri ga bisa ngerti kenapa Papa ga merestui Naura, padahal dia cewek yang jauh dari kata buruk."
"Kalo dari awal lo tau Papa lo ga merestui hubungan kalian, kenapa masih lo lanjut?"
"Gue cinta banget sama Naura bang, dia segalanya buat gue, dia semesta gue bang. Gue ga rela dia tersakiti. Gue ingin menjadi rumah dan pelindungnya."
"Tapi kalo misal lo adalah penyebab dia tersakiti gimana?" seketika Gibran langsung terdiam.
"Apa takdir kita sekejam itu bang? Apa masa lalu kita seburuk itu sampai bersama pun kita ga pantas bang?"
Kenzie menarik napasnya dalam. "Gue ga berhak menjawab semua pertanyaan lo Gib. Meskipun seperti yang lo duga gue memang mengerti semua hal yang menjadi pertanyaan di kepala lo. Tapi, gue rasa Papa lo adalah orang yang tepat untuk menjelaskan apa yang sebenarnya sedang ataupun sudah terjadi sebelumnya."
"Apa ini semua berkaitan dengan om Samuel bang?"
Kenzie menyerngit. Darimana Gibran tau mengenai Papanya?
"Gue sempet denger Papa ngomong soal om Samuel sama anak buahnya." imbuhan Gibran seperti menjawab pertanyaan di kepala Kenzie saat itu.
"Jadi gue hanya ingin memastikan apa Papa gue sama Papa kalian punya suatu hubungan di masa lalu?" imbuh Gibran.
Setelah terdiam cukup lama, Kenzie akhirnya menjawab dengan rangkaian kata yang telah ia persiapkan. "Iya. Mereka dulu adalah sahabat karib. Sahabat dan rekan kerja yang sangat perfect bagi gue."
"Trus kenapa sekarang Papa membenci kalian?"
"Gib, untuk pertanyaan lo itu sorry, gue ga bisa jawab. Gue rasa lo harus mengetahui semuanya sendiri."
Gibran mengacak rambutnya kasar. Masalah ini sepertinya tidak se sederhana yang dia pikirkan.
"Gue pernah denger, Papa lo menyembunyikan semua kenangan bersama Papa gue di ruangan kerjanya. Jadi coba lo mencari tau mulai dari sana. Setelah lo mengetahui sendiri, lo boleh kembali menghubungi gue. Dan kita bisa membicarakan langkah selanjutnya yang harus kita ambil."
Setelah Kenzie mengatakan itu, ia pun beranjak. "Gue rasa penjelasan-penjelasan gue cukup menjawab pertanyaan lo. Jadi, gue boleh cabut kan?"
Gibran mengangguk pelan. Sepertinya memaksa Kenzie untuk menjawab semua hal yang ingin ia ketahui bukanlah hal yang tepat.
Saat berjalan beberapa langkah, Kenzie kembali membalikkan tubuh. "Lebih baik lo ke rumah sakit, karena katanya Raka dan Bryan boleh pulang sore ini."
"Ah ya, satu lagi, sepertinya temen-temen lo belum tau yang sebenarnya terjadi. Karena itu mereka melaporkan tuntutan ke polisi."
"What?!" kenapa mereka sampai melibatkan polisi? Pikir Gibran saat itu.
"Gue rasa itu adalah hal yang wajar di lakukan untuk membela keadilan temannya sendiri. Di samping itu gue pikir bahwa temen-temen lo tidak seharusnya terlalu jauh ikut campur urusan ini."
Setelah mengucapkan itu, Kenzie benar-benar meninggalkan Gibran tanpa penjelasan atas kalimat terakhirnya. Membiarkan Gibran bergelut dengan pikirannya.
...๐ผ๐ผ๐ผ...
Naura telah membereskan kamar inap Raka sejak beberapa menit lalu. Karena setelah pulang sekolah ia langsung kesini bersama Aziel dan teman-temannya yang lain. Sedangkan Gibran sudah pergi tanpa sempat bertemu Naura. Katanya sih ada urusan, tapi Naura sendiri tak tau apa urusan yang pacarnya maksud.
"Seharusnya kalian gausa repot-repot kayak gini." kata Raka yang sudah selesai berganti pakaian itu.
"Kita mana tega ngebiarin lo pulang sendiri Ka." jawab Naura.
Sedetik kemudian perempuan itu kembali menekuk wajahnya. "Temen lo emangnya ada urusan apa sih Zi?"
"Gibran maksud lo?" Aziel yang duduk di sofa balik bertanya.
"Iya lah. Masa iya dia ga balik kesini."
"Coba telpon Ra."
"Udah Ka, tapi memanggil, ga berdering."
"Haishh nyebelin banget!" seru Naura dengan melempar tubuhnya di sofa samping aziel.
Tak lama setelah itu, pintu kamar Raka terbuka. Menampilkan Gibran dari balik pintu.
"Tuh Gibran yang lo cari Ra," tukas Raka yang berjalan mendekati mereka.
Tanpa basa-basi lagi, Gibran langsung duduk di sebelah Naura, alhasil membuat Aziel merelakan twmpatnya.
Lelaki itu menampakkan raut wajah penuh penyesalan, agar Naura memaafkan kesalahannya beberapa saat lalu.
"Maafin aku Naura.. Aku bener-bener ga niat ninggalin kamu kok. Tadi ada urusan mendadak dari kantor Papa aku, jadi aku cuma sempet nitipin kamu ke Aziel." tutur Gibran dengan sangat halus.
Naura masih stay dengan wajah ngambeknya. Wajar bukan jika dia sedikit kecewa?
Tapi, melihat Gibran seperti ini membuat dirinya tak tega. Emang ya, si Gibran paling pinter ngeluluhin hati Naura.
"Kan kamu sendiri yang bilang kalo ga bakal ninggalin Aku By..."
"Iyaa sayang.. Ini terakhir kalinya deh.."
"Janji?"
"Iya Naura sayangnya Gibran.."
Ekhemm..
Deheman itu sepertinya cukup membuat kedua insan itu kembali ke dunianya. Bagaimana tidak, jika mereka sudah seperti itu pastilah siapa pun yang di sekitarnya tak akan dianggap.
"Jadi, mau nganter gue pulang kapan ya?" tanya Raka polos disertai dengan cengiran.
"Ah ya, yauda yuk gue anter sekalian nganter Naura pulang Ka." Gibran beranjak dari duduknya diikuti Naura yang tangannya masih terkait dengan tangan Gibran.
"Trus gue?" celetuk Aziel. Wah bisa-bisanya mereka melupakan dirinya jika sudah seperti ini.
"Ya, lo pulang bareng anak-anak aja Zi, lagian tadi waktu gue ke kamar Bryan mereka udah selesai siap-siap."
"Untung yaa gue anaknya sabar banget." ujar Aziel sebelum akhirnya ia melangkah menuju ke kamar Bryan.
Naura, Gibran, dan Raka hanya bisa tertawa melibat tingkah temannya yang satu itu.
...๐ผ๐ผ๐ผ...