Evanescent

Evanescent
Tertampar Beribu Kali



..."Kau tau, hal yang paling menyakitkan di dunia ini adalah ketika kita ditampar oleh kenyataan yang akhirnya menghancurkan seluruh ekspektasi indah sebelumnya." ...


...-Gibran Rahardian K-...


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


Suasana cafe di malam hari sepertinya lebih ramai daripada siang hari. Gibran rasa keestetikan cafe inilah yang membuatnya banyak dikunjungi. Spot instagramable yang sangat disukai oleh kaum remaja.


"Kita bahas mulai dari mana?" suara seseorang yang duduk di depannya membuat Gibran mengalihkan perhatiannya dari pengamatan sekitar cafe.


"Gue ngerasa kalo semua ini cuma khayalan bang. Seakan-akan gue menolak semua kebenaran yang telah gue ketahui." Gibran menunduk kan kepalanya. Masalah ini terlalu berat untuk dirinya.


"Sorry Gib, gue ga berniat untuk membuat lo seperti ini. Tempo hari gue ga mau menjelaskan semuanya sendiri karena hal ini. Gue ga mau membuat lo memikul rasa bersalah atas apa yang bokap lo lakuin."


Gibran menggeleng pelan. "Enggak bang, yang seharusnya minta maaf itu gue. Sebagai anak dari Papa, gue ngerasa malu. Malu akan apa yang sudah dia lakukan di masa lalu ke keluarga abang."


Lalu Gibran mendongakkan kepalanya, menatap Kenzie dengan tatapan sendu. "Jadi, mulai sekarang gue akan mendukung semua yang akan lo lakukan ke depannya bang. Kalaupun endingnya nanti gue harus menerima fakta bahwa Papa harus di penjara. Karena itu gue mohon jelaskan semuanya apa yang selama ini lo tau dan tentang rencana balas dendam lo."


Kenzie menarik nafasnya dalam. Ia tentu tau seberat apa berada di posisi Gibran saat ini. Tapi agar semua selesai lebih cepat, mau tak mau ia harus melakukan ini.


Kenzie mengeluarkan beberapa map coklat yang berisi berkas kasus Vito yang telah ia kumpulkan.


"Ah ya, sebelumnya gue bakal mengirim data yang mungkin bisa bermanfaat dalam penyelesaian kasus ini bang." dengan cepat Gibran membuka ponselnya, dan langsung mengirim beberapa foto yang ia ambil disaat masih berada di ruangan rahasia milik Papanya.


Secepat kilat pesan itu masuk kedalam ponsel Kenzie. Setelah ia cek ternyata benar kata Gibran, bahwa bukti ini bisa melengkapi bukti-bukti yang telah ia kumpulkan.


Disaat Gibran membuka satu persatu map yang berisi berkas tersebut ia merasa ditampar beratus kali oleh kenyataan. Ternyata pembantaian keluarga Naura lewat kejadian kebakaran rumah waktu itu memang perbuatan Papanya


Drrtt...


"Gue kirim satu file record sesuai permintaan lo. Entah apa yang lo dengar di sana, gue harap lo tidak terpancing emosi." Tukas Kenzie seakan-akan menjawab perrtanyaan Gibran mengenai satu pesan masuk di ponselnya.


Gibran langsung memasang earphone nya. Bersiap mendengarkan rekaman berdurasi sekitar dua menit itu.


Jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya, darahnya pun berdesir hebat saat mendengar suara yang keluar dari rekaman itu. Gibran sangat mengenali suara ini. Suara yang selama ini sangat ia rindukan.


"Mama..." lirih lelaki itu.


Ya, suara tersebut adalah suara Mamanya. Gibran tak akan salah menilai suara dari seorang wanita yang amat ia rindukan. Mama yang meninggalkannya sepuluh tahun lalu.


Tes. Tes. Tes.


Air mata Gibran keluar tanpa permisi. Mendengar ini semakin membuat hatinya hancur berkeping.


Jika mengetahui semua fakta lewat berkas-berkas yang ia temukan membuat hati Gibran hancur, maka mendengarkan suara ini membuat hatinya hancur berpuluh kali lipat dari sebelumnya.


Hancur sudah harapan yang Gibran bangun selama ini. Harapan nya hidup bahagia bersama Naura, dan juga menjadi penerus sosok Papa hebat yang selama ini ia kagumi.


Keramaian di cafe itu meredam suara tangis Gibran. Lelaki yang terlihat sangat kuat diluar itu akhirnya menampakkan sosok lemahnya.


Kenzie lagi-lagi hanya bisa membiarkan Gibran larut dalam emosinya. Ia sangat paham betul apa yang lelaki itu rasakan. Apa lagi jika ini semua menyangkut hal se sensitif ibu. Hal yang tak pernah Gibran singgung di depan teman-temannya atau bahkan di depan Naura.


"Gibran, gue bakal tetap melanjutkan melaporkan kasus ini kepada pihak berwajib." Ujar Kenzie disaat emosi Gibran sudah mulai mereda.


Gibran mengangguk pelan. Toh, tidak ada gunanya ia menutupi semua kesalahan yang telah di lakukan Papanya sejak awal.


"Iya bang gapapa. Gue menyerahkan semuanya ke elo."


Dengan ini ia merasa di bohongi habis-habisan oleh Papanya sendiri. Papa yang telah menjadi hero kebanggaannya dari kecil hingga sekarang.


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


Selama di perjalanan pulang, rekaman yang telah ia dengar beberapa saat lalu kembali terulang di benaknya. Entah kenapa suara Mamanya itu tak bisa pergi dari pikirannya. Serindu itukah Gibran?


Seperti mengerti perasaannya, langit gelap malam itu menumpahkan airnya. Masa bodoh dengan hujan yang tiba-tiba turun, Gibran tetap melanjutkan perjalanannya membiarkan dirinya diguyur derasnya air hujan tersebut.


Jalan yang ia lewati saat ini bukanlah jalan menuju rumahnya. Melainkan jalan menuju rumah kekasihnya, Naura. Karena hanya gadis itu yang terlintas di pikirannya saat ini.


Beberapa kemudian motor Gibran akhirnya sampai di tujuan. Ia memarkirkan motornya di depan gerbang yang tertutup pohon agar Naura tidak melihat dirinya berada disini.


Ya, tentu saja Gibran tidak mengatakan hal ini kepada Naura. Bisa-bisa perempuan itu memarahinya habis-habisan.


Jendela kamar Naura dapat Gibran lihat dari sini. Disana lampu masih menyala pertanda bahwa gadis itu masih terjaga.


Gibran tersenyum getir. Ia membiarkan air matanya yang keluar tanpa permisi menyatu dengan tetesan air hujan.


"Maafin Aku Naura..."


"Kamu dimana Gibran.." Lirih Naura dengan sesekali menggigit kuku jari telunjuknya.


Satu tangannya mencoba kembali mendial nomor Gibran. Dan tulisan memanggil yang sedari tadi ia lihat berubah menjadi berdering. Ada sedikit rasa lega yang gadis itu rasakan.


Tak lama setelah itu panggilan mereka terhubung. Akhirnya Gibran mengangkat telepon dari Naura.


"Gibran sayang kamu dimana? Aku khawatir, kamu ga aktif dari satu jam lalu." Naura langsung menyerang Gibran dengan rasa cemasnya.


Di sebrang sana Gibran tertawa. Naura masih tetap sama, si paling khawatir kemanapun Gibran pergi.


"Aku lagi di luar by.. Ini masih otw pulang.. Maaf ya baru sempet menghubungi kamu." Suara lembut Gibran terdengar di tengah-tengah suara hujan yang mendominasi.


"Kamu lagi neduh kan by? Disini hujannya deres banget soalnya.."


Gibran mengangguk. "Iya sayang, kamu jangan khawatir ya.. Ini udah malem kamu sebaiknya tidur gih."


Bukan berniat membohongi Naura, hanya saja Gibran tidak mau perempuannya itu terlalu khawatir akan keadaannya. Boro-boro neduh, ngangkat telepon ini aja Gibran harus penuh perjuangan agar ponselnya aman di tengah-tengah derasnya hujan.


"Kamu juga, kalo sampe rumah langsung tidur by, jangan begadang."


"Iya sayang.. Udah ya aku matiin, habis itu kamu harus langsung tidur."


"Love u Gibran."


"Love u too Naura."


Setelah itu, Gibran benar-benar memutuskan panggilan tersebut. Ia pun kembali menon aktifkan data selulernya, dan kembali menyimpan ponselnya.


"Naura.. Aku ngga bisa mengontrol perasaanku ke kamu.. Apa yang harus aku lakukan ke depannya Ra?"


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


Besoknya seperti biasa, mereka menghabiskan waktu istirahat di kantin sekolah. Satu deret meja dipenuhi oleh delapan remaja tersebut. Setiap harinya juga begini, membuat semua murid-murid di SMA Xavier tidak berani mengusik mereka.


"Mau makan apa?" Tawar Gibran kepada Naura dan teman-temannya yang lain.


Mereka satu persatu menjawab makanan apa yang ingin mereka pesan.


"Aku samain kek kamu aja by." Kata Naura.


"Aku nggak makan Ra, masa kamu juga ikut ngga makan?" Ucapan dingin itu keluar dari bibir Gibran. Meskipun lembut tapi tetap saja mereka merasa ada perbedaan dengan ucapan lelaki itu.


Naura tak memikirkan dengan serius ucapan dari Gibran. Lalu ia menjawab, "Yaudah, aku bakso sama es jeruk."


"Oke, gue pesenin dulu ya." Mereka hanya mengangguk disaat Gibran sudah mulai melangkah meninggalkan meja tersebut.


"Anjir ga kerasa aja ya tiba-tiba uda mau UAS." Celetuk Mahendra di tengah-tengah ia menyantap mie ayam favoritnya itu.


"Iya njir, senin depan UAS omg gue belum persiapan apa-apa." Timpal Darel dengan hebohnya.


"Kalo bicara mempersiapkan UAS sih kita juga belum persiapan bege. Ya kan girls??"


Mereka bertiga mengangguk menanggapi pertanyaan Alissa.


Serinda menjentikkan jari, "Gimana kalo kita belajar bareng buat mempersiapkan UAS?"


"Ide bagus!" Mahendra sangat menyetujui usulan yang Serinda ucapkan.


"Nanti bisa lah Aziel sama Gibran jadi tentornya." Imbuh Darel.


"Si Naura tuh juga bisa jadi tentor matematika kita. Lumayan lah yaa gratis diajarin temen sendiri." Ujar Reina dengan melirik kearah Naura yang masih fokus dengan baksonya.


"Oke fix ya kita belajar bareng. Mungkin mulai besok sampe minggu cukup kali yaa."


"Tiga hari ya? Hmm cukup sih. Tapi dimana?" Aziel kini angkat bicara. Rupanya ide yang Serinda cetuskan tidak buruk juga.


"Rumah gue juga boleh kok. Lagian cuma ada abang gue sama bunda, itupun bunda biasanya pulang malem." Kata Naura setelah meneguk es jeruk dihadapannya.


"Terbaik emang lu Ra.." Puji Serinda dengan merangkul teman yang duduk di samping kanannya.


"Guys, kayaknya gue besok ga bisa hadir deh." Celetuk Gibran dengan memandang teman-temannya secara bergantian. Tak terkecuali Naura yang juga menatapnya kecewa.


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...