Evanescent

Evanescent
Diculik



..."Tolong aku.. Gibran...."...


...-Naura Azkia P-...


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


Untuk kesekian kalinya Abang tersayang Naura itu membatalkan menjemput dirinya. Saat membaca satu kalimat pesan yang masuk di ponselnya seketika langsung membuat bibir Naura cemberut.


Abang Lucknutt ๐Ÿ”ช


Nauraaa.. Maapin abang yee ๐Ÿฅบ


Abang Lucknutt ๐Ÿ”ช


Abang ga jadi jemput kamu, soalnya ada urusan urgent


Abang Lucknutt ๐Ÿ”ช


Naik ojek online atau angkot ya? Nanti abang ganti deh ongkosnya


Tuh kan bener apa yang Naura tebak. Padahal nih ya pagi tadi Kenzie sendiri yang menawarkan diri menjemputnya, tapi sekarang? Haishh ngeselin banget ga sii?


^^^Naura Azkia^^^


^^^Iya bang gpp. Ya meskipun terlalu sering sih abang batalin secara sepihak haha^^^


Abang Lucknutt ๐Ÿ”ช


I am so sorry Ra...


^^^Naura Azkia^^^


^^^Y bang.^^^


Naura menghela nafas panjang setelah mengirim balasan itu. Lalu, ia segera berjalan menuju halte di depan sekolah agar ia tak tertinggal bus yang lewat.


Sebenarnya tidak masalah sih ia menaiki angkutan umum, tapi nih ya ia tidak suka jika terlalu menggabut saat menunggu angkutan umum lewat. Kalo pesan ojek online pun ia sayang dengan uang sakunya.


Kepala Naura sesekali menoleh mencari keberadaan bus dan angkot yang sejalan dengan rumahnya. Namun sudah lima menit ia duduk disini dan tak ada tanda-tanda keberadaan dua angkutan umum itu. Sampai-sampai halte yang tadinya berisi beberapa orang menjadi tinggal dirinya saja.


Tak lama setelah itu tiba-tiba ada mobil hitam yang menepi di dekat halte tempat ia menunggu. Naura seketika menyerngitkan dahinya. Sebenarnya siapa pemilik mobil itu?


Hingga akhirnya beberapa orang berbaju hitam keluar dari mobil tersebut. Hal itu yang membuat Naura semakin tak tenang. Dengan sigap ia segera bangkit dari duduknya dan beringsut pergi dari sana. Karena ia yakin akan ada sesuatu yang terjadi kepadanya jika ia tetap di sana.


Namun sepertinya gerak mereka lebih cepat daripada dirinya. Dengan sigap pula mereka menarik paksa Naura kedalam mobil.


"Lepasin gue!! Anjirr lepasinn!! Kalian mau apain gue??!!" Seru Naura dengan berusaha melepaskan diri dari cekalan mereka.


Tanpa menjawab mereka langsung membekap mulut Naura dengan sarung tangan yang sudah dilapisi obat bius. Dan dalam beberapa detik, Naura kehilangan kesadaran.


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


Raka yang melihat semua itu, tanpa basa-basi langsung mengikuti mobil hitam yang membawa Naura dengan jarak aman.


Raka tak tau siapa dan motif apa yang sebenarnya dimiliki oleh mereka, tapi jika menyangkut keselamatan Naura ia tidak bisa tinggal diam.


Tepat sebelum berangkat, ia mengirim pesan singkat di grup dan berharap teman-temannya datang untuk membantu dirinya.


Tapi setelah dipikir-pikir lagi, kenapa disaat seperti ini ia sama sekali tak melihat sosok Gibran? Kemana lelaki yang mengaku sebagai pacar Naura itu?


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mobil tersebut berhenti di depan gudang kosong yang terletak cukup jauh dari pemukiman warga. Dan Raka berhenti dibalik semak-semak agar tak ada yang menyadari kehadirannya.


Tak lama setelah itu, ia mendengar deru motor yang semakin dekat.


"Ka, Naura dimana?" Tanya Bryan saat ia baru tiba bersama ketiga lelaki lainnya.


"Dia dibawa masuk."


"Tunggu, Gibran dimana? Lo ga ada niat ngehubungi dia?"


"Tadi uda gue miscall Dik, tapi gaada jawaban. Dan gue rasa dia lagi ga masuk sekolah hari ini."


"Oke sekarang coba hubungi dia lagi. Sebagai pacar seharusnya dia yang bertanggung jawab penuh dong atas pacarnya."


Menuruti kata Dika, Raka pun mengambil ponsel di sakunya. Lalu ia mendial nomor Gibran. Setelah cukup lama panggilan berdering, akhirnya disebrang sana Gibran menerima panggilannya.


"Gibran, ini gue."


"Iya ka, kenapa?"


"Lo dimana sekarang?"


"Lagi di luar kota ka, kenapa?"


"****!! Lo tau, pacar lo sekarang lagi ga aman."


"Ga aman gimana maksud lo? Jangan ngada-ngada deh lo Ka!!"


"Dia diculik. Dan sekarang dibawa di dalam gudang kosong."


"Tunggu. Kenapa lo bisa tau?"


"Karena gue ga sengaja liat dia dibawa secara paksa sama orang-orang ke dalam mobil. And ya, gue mau nyelametin dia sekarang."


"Ciri-ciri orangnya kayak gimana?"


"Damn it!" Setelah mengumpat, Gibran menarik panjang nafasnya.


"Oke gue minta tolong banget sama lo buat selametin dia. Gue bakalan pulang sekarang. Tapi karena gue ga yakin bakal tepat waktu jadi gue akan nyuruh temen-temen gue buat susulin lo. Share loc sekarang ka!!"


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Mendapat kabar itu, hanya satu orang yang Gibran pikir berpeluang besar menjadi dalang dibalik semua ini. Entah benar atau tidak, tapi hanya dia satu-satunya orang yang sangat bisa melakukan semua itu. Melakukan semua yang dia inginkan tanpa mempertimbangkan hal lain.


Setelah rapat terakhir, Gibran tidak langsung kembali ke kamanrnya, melainkan mengikuti papanya masuk ke dalam kamar.


"Gibran mau ngomong sama papa." Kata Gibran dengan suara sangat datar disertai wajah yang sudah tak bisa dibilang ramah lagi.


"Ngomong apa Gib?" Tanya Vito sembari menggantung jas yang telah ia gunakan pagi tadi.


"Papa tau kan Gibran sayang papa?"


"Yeah I know."


"Dan papa juga tau kan kalo saat ini hati Gibran terisi penuh dengan nama Naura?"


Vito terdiam. Sepertinya ia tau arah dari pembicaraan ini.


"Tapi papa kenapa harus melakukan hal senekat itu?!!" Nada bicara Gibran naik satu oktaf dari sebelumnya.


"Kamu ngomong apa sih Gib? Papa ga paham apa yang kamu maksud."


Gibran terkekeh. "Bullshit!!"


"Berani ngomong kasar di depan papa ya kamu!!"


"Gibran seperti ini juga gara-gara papa!!"


"STOP GIBRAN!!"


"PAPA YANG SEHARUSNYA STOP MENGHANCURKAN HUBUNGAN GIBRAN!!"


"Kenapa pa?!!"


"Kenapa harus Naura yang papa sakiti!!"


"Kenapa harus Naura yang papa benci?!!"


"Naura baik pa, kenapa papa tega sakiti dia?!!"


"Untuk terakhir kalinya kenapa papa nggak bisa menyetujui hubungan yang Gibran inginkan?!!"


"Apa ego papa sebesar itu sampai-sampai mengalahkan kepercayaan papa ke Gibran?!"


"Gibran ga minta yang aneh-aneh, Gibran cuma minta restui hubungan Gibran dan Naura pa!! Apa sesulit itu?"


Vito yang duduk diatas sofa itu menatap lurus kearah Gibran. "Kamu ga ngerti apa-apa Gibran!! Anggap saja apa yang terjadi kepada cewek itu adalah akibat dari kamu tidak menurut kepada papa."


Seketika hati Gibran mencelos. Tak hanya karena dugaannya yang ternyata memang benar, tapi karena ia sangat kecewa dengan pria yang selama ini ia banggakan. Pria yang selama ini ia percaya. Dan pria yang selama ini telah menjadi panutannya.


"Kalo memang seperti itu kebenarannya, Gibran... Sangat kecewa sama papa."


Setelah mengucapkan kalimat itu, Gibran langsung pergi dari tempat itu. Menuju kamarnya dan berkemas untuk segera kembali ke kotanya.


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


Di dalam sana, Naura mulai membuka matanya. Ia sedikit terkejut saat melihat sekelilingnya. Bagaimana bisa ia berakhir di tempat ini?


"Sudah bangun ternyata si tuan putri." Suara itu berasal dari salh satu pria yang berjaga tak jauh dari Naura.


Naura tak bisa membalas ucapan pria itu. Mulutnya yang tersolasi rapat membuat dirinya tak bisa berkutik. Sangat menyebalkan, padahal ia ingin mengutarakan banyak umpatan ke pria hidung belang di depannya itu.


Melihat Naura menggoyangkan kursi seperti berusaha melepaskan diri membuat pria tersebut mendekat.


"Tuan putri ga boleh ngelawan ya? Harus nurut sama om." Pria itu mencolek dagu Naura.


Bukannya diam, Naura malah berontak tak karuan. Tatapannya pun menusuk kearah pria di depannya. Seakan-akan lewat tatapannya itu ia memperlihatkan kebenciannya.


"GUE BILANG DIEM YA DIEMM!!!"


"Yog, jangan bentak mainan kita. Lo harus main kalem biar dapet puncaknya." Sahut lelaki yangsedang duduk di sofa bersama beberapa orang lainnya.


"Ah iya gue lupa. Sorry ya tuan putri.. Nanti om bisa pastiin bakal main pelan, oke?"


Sumpa demi apapun, Naura ingin segera keluar dari tempat ini. Ia tak ingin kesuciannya berakhir di tangan pria hidung belang seperti mereka. Tuhan... Tolong selamatkan Naura dari semua ini.


Tanpa sadar air mata pun perlahan menetes membasahi pipi Naura. Sepertinya mentalnya tak kuat jika terus-terusan diuji seperti ini.


"Duh.. tuan putri ga boleh nangis... Nanti habis main om beliin coklat deh. Gimana? Sekarang diem ya?!" Tangan besar itu tanpa permisi menghapus bulir air mata milik Naura. Meskipun sudah berulang kali memalingkan muka, tapi tangan itu tetap bisa menjangkau area wajahnya.


BRAKK!!!


Mata Naura membulat saat melihat dobrakan keras di pintu gudang itu. Seketika rasa aman kembali menyelimuti hatinya.


Tuhan... Terimakasih kau telah mengirimkan malaikat pelindung untuk hambamu yang lemah ini.


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...