
..."Untuk apa mengejar orang yang nyatanya tak berniat menetap di hati kita?" ...
...-Naura Azkia-...
...๐ผ๐ผ๐ผ...
Hari ini rasanya Naura ingin hilang dari bumi. Bukan karena apa, ia hanya ingin pergi dari pengawasan Gibran. Tatapan serta tingkah yang lelaki itu berikan sejak pagi tadi benar-benar mengganggunya.
Coba saja , dari mulai masuk gedung sekolah Naura sudah disambut oleh senyum Gibran. Tak hanya itu, lelaki itu melakukan hal yang lebih gila. Ia mengikuti kemanapun Naura pergi. Meskipun masih ada jarak diantara mereka, itu sudah cukup membuat Naura kesal. Sampai-sampai ia berniat untuk tidak meninggalkan kelas, agar dirinya tak perlu bertemu dengan wajah menyebalkan Gibran.
Namun sayangnya semua berjalan berbanding terbalik dengan keinginannya. Ia terpaksa harus keluar kelas menuju kamar mandi untuk membuang air kecil. Hal ini diakibatkan oleh udara dingin yang ac keluarkan membuat produksi urine nya lebih lancar daripada biasanya.
Dan seperti dugaannya, Gibran sudah menunggu di kursi panjang depan kelasnya. Tanpa mempedulikan Gibran, Naura tetap menjalankan langkahnya menuju toilet umum.
Tapi hal tersebut percuma. Gibran masih saja mengikuti Naura dengan santainya. Meskipun sudah menjaga jarak, tapi hal itu membuat Naura semakin tak nyaman. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk menyudahi apa yang Gibran lakukan sejak pagi tadi.
"Mau lo apa sih?" Tanya Naura to the point.
Masih dengan senyumannya, Gibran berjalan mendekati Naura. "Gue mau mastiin lo aman dari gangguan buaya-buaya diluar sana."
Naura seketika terkekeh. "Ga salah nih lo ngomong gitu?? Atau emang lo ga punya kaca?? Lo percuma ngikuti gue hanya ingin memastikan gue aman dari buaya-buaya itu. Karena lo sendiri adalah satu-satunya buaya yang ngusik kehidupan gue. Bukankah begitu Gib?"
Ucapan Naura cukup menohok bagi Gibran. Sehingga membuat senyum di bibir lelaki itu luntur.
"Tapi Gib, gue bukan anak kecil yang bisa lo bohongin begitu saja. Karena gue tau bukan itu hal yang sebenernya pengen lo--"
"Trus kemarin di gor apa?!!" Sahut Gibran cepat sebelum Naura menyelesaikan ucapannya. Akhirnya pertanyaan yang dari kemarin mengganggunya pun ia ucapkan.
Naura tersenyum miring. Seperti yang sudah ia duga sebelumnya, hal itulah yang membuat Gibran seperti ini.
"Raka maksud lo??" Gibran mengangguk. "Emang apa masalahnya sama Raka? Toh dia juga cowok baik-baik, ga suka mainin cewek. Sori nih ye, Raka itu bukan cowok seperti yang lo kira. Karena gue mengenal Raka jauh sebelum gue mengenal lo.
"Dalam penilaian gue selama ini sih dia lebih baik daripada lo. Ganteng, pinter, baik, dan satu yang paling penting, dia ga suka mempermainkan perempuan seperti apa yang lo bilang. Karena Raka bukan cowok yang sama kaya lo!!"
Mendengar Naura memuji lelaki lain di depannya entah mengapa membuat emosi Gibran terpancing. Tanpa sadar tangannya mengepal. Apa memang seperti itu penilaian dirinya dimata Naura?
Keduanya seakan-akan mengabaikan beberapa orang yang berlalu di koridor tersebut, mulai melemparkan tatapan kearah mereka. Suara bisik-bisik itu samar-samar dapat Naura dengar. Tapi tetap saja, ia masih bodo amat terhadap apa yang mereka pikirkan.
Naura menghela nafas. Ia menatap lekat iris Gibran. "Sebenernya gue ga mau mbanding-mbandingin lo sama Raka Gib, tapi gue ga bisa terima gitu aja saat lo dengan seenaknya menilai seseorang dari covernya. Ya emang gue tau kalo Raka adalah rival lo dalam dunia basket.
"Tapi Raka juga temen gue. Temen yang udah gue kenal sejak kita duduk di bangku sekolah dasar. Jujur lo emang ga seburuk itu. Lo baik, baik banget malah akhir-akhir ini. Kalo soal fisik mah gaperlu diragukan lagi, karena semua orang juga udah menilai lo diatas rata-rata."
Naura kembali menarik nafasnya. "Tapi Gib, lo ga perlu melakukan hal diluar batas untuk membuat gue mencintai lo. Hal sederhana pun udah cukup. Hal berlebihan itu terkadang membuat gue ga enak. Contohnya seperti lo memaksa gue untuk dateng ke pertandingan lo dengan cara meneror sahabat gue.
"Karena gue merasa ga terima, makanya kemarin saat lo nyamperin gue, gue langsung pergi. Tapi sayangnya lo ga peka. Lo masih melakukan hal hal yang tidak gue sukai seperti apa yang lo lakukan sekarang. Hanya demi mengetahui kebenaran tentang hubungan gue dan Raka."
"Kalo emang lo ingin tau hubungan apa yang kita miliki maka gue akan menjawab kita hanya sebatas teman tidak lebih. Sama seperti hubungan lo dan gue Gib. Kita hanya sebatas teman. Dan lo ga seharusnya cemburu ke Raka, karena memang kita bukan siapa-siapa. Jadi gue minta, berhenti ikut campur dalam kehidupan gue. Karena ini hidup gue, gue berhak benci ataupun suka kesiapapun itu selain lo.
"Hal yang sama juga berlaku buat diri lo Gib. Setelah ini gue harap demua kembali seperti semula. Lo dengan kehidupan lo, gue dengan kehidupan gue. Lo ga perlu mengejar gue, kalau emang kita berjodoh, pasti Tuhan akan kembali mempertemukan kita dengan cara tak terduga."
"Gue harap lo ngerti apa yang gue maksud Gib." Kata Naura sebelum akhirnya ia kembali berjalan membelakangi Gibran.
Emosi yang Gibran rasakan saat ini sangat bercampur aduk. Seumur hidupnya mungkin baru sekarang ia merasakan ditolak oleh perempuan. Karena selama ini merekalah yang mengantri untuk mendekatinya. Ah, ternyata masih ada spesies langka seperti Naura.
"Gue ngelakuin ini karena gue suka sama lo Ra!!" Seruan Gibran dengan suara cukup lantang itu tak berhasil menbuat Naura menghentikan langkah.
Sepertinya gadis itu benar-benar mengabaikan Gibran. Suara lantang itu seperti tak masuk ke gendang telinganya.
Ah shit!! Kenapa semua menjadi serumit ini sih?
Andai dulu ia tak memutuskan melakukan itu, apakah yang akan terjadi dengan mereka? Apakah Naura bisa mencintainya seperti wanita lain?? Ataukah hal yang sama akan terjadi tetapi melakui cara yang berbeda??
Ah sudahlah, toh semuanya sudah berlalu. Yang perlu Gibran lakukan saat ini ialah berjuang mendapatkan tujuannya. Karena pada dasarnya ia bukanlah tipe lelaki yang akan mudah menyerah pada sesuatu yang sudah ia tandai sebagai target. Karena itu ia masih sangat percaya bahwa suatu saat Naura akan jatuh cinta kepadanya. Semoga saja.
...๐ผ๐ผ๐ผ...
Setelah keluar dari bilik kamar mandi, Naura terlebih dahulu membasuh wajah di wastafel sebelum akhirnya ia kembali ke kelas.
Namun niatnya kembali ke kelas harus tertunda karena ucapan perempuan yang berdiri di sampingnya.
"Gimana rasanya jadi pusat perhatian??" Celetuk perempuan itu.
Naura mengerngit. "Maksud lo?!"
Perempuan itu merubah posisi menjadi menghadap Naura. Dan saat itu juga Naura berhasil mengenali siapa perempuan di depannya ini. Ya, Syahnaz, mantan Gibran. Ia bisa mengetahui bagaimana rupa Syahnaz karena berkat ketiga sahabatnya. Setelah Gibran terang-terangan mendekatinya, mereka langsung menstalking semua mantan Gibran, tak terkecuali Syahnaz.
"Ya maksud gue, lo pasti seneng kan berhasil menjadi trending topic seantero sekolah. Rupanya pernyataan cinta yang Gibran yang terang-terangan itu berhasil membuat 99% siswi di sekolah ini patah hati. Jangan bilang lo gatau tentang itu?"
Naura tersenyum licik. "Trus secara ga langsung lo memberitahu gue bahwa lo menjadi salah satu siswi yang patah hati?! Kasihan banget sih lo. Cowok yang selama ini lo cintai ternyata sama sekali ga mempunyai perasaan yang sama ke elo. Tapi dia malah jatuh cinta ke cewek lain. Miris banget gasi?!'
Rupanya ucapan Naura berhasil memancing emosi Syahnaz. "Lo!!" Ia menahan jari telunjuknya tepat di depan mata Naura. "Jaga ya omongan lo!!"
"Kenapa?? Semua itu fakta kan?? Lagian, gue hanya melakukan hal yang sama seperti yang lo lakukan kok. Lagian bukan gue yang memulai semuanya. Tapi lo!!"
"Oh lo mulai belagu solnya Gibran sukanya sama lo, iya?! Jangan harap deh!! Gue yakin nanti lo akan berakhir sama seperti gue atupun mantan dia yang lain!!" Syahnaz mendekat kearah Naura, lalu membisikkan kalimat tepat ditelinga gadis itu. "Karena dia ga tulus cinta sama lo! Dia cuma ingin mempermainkan lo!!"
Naura tersenyum miring saat mendengar itu. "Oh ya?? Gimana kalo dia emang cinta sama gue?? Ah, pasti lo kecewa banget kan?! Ya jelas lah, gimana ga kecewa karena cowok yang mati-matian lo perjuangin ternyata suka sama cewek lain. Ya ga??"
Syahnaz sangat kesal dengan perempuan di depannya ini. Saat ini rasanya ia ingin menumpahkan emosinya. Tapi ia masih waras, tidak mungkin hanya untuk membalas juniornya itu ia rela untuk masuk ke ruang kesiswaan. Bisa panjang nanti urusannya.
"Gini ya kak Syahnaz terhormat.. Kalo emang lo ga mau sakit hati, yaudah gausa mengejar hal yang mustahil bagi lo!! Masih banyak stok cowok diluar sana yang memiliki peluang untuk mencintai lo!! Bahkan mereka lebih baik dari Gibran.
"Langkah awal yang lo ambil udah salah. Lo mendekati Gibran setiap hari disaat dia ga membutuhkan lo, apalagi Gibran adalah tipe cowok yang mudah risih dengan hal seperti itu. And ya, semua berakhir tidak seperti ekspektasi lo. Dia ninggalin lo karena sedari awal dia tidak berniat untuk menetap."
Syahnaz seketika tertawa licik. "Makin pinter aja sih kalo ngomong!! Tapi sayangnya gue ga butuh ceramah dari lo!!"
Naura menghela nafas untuk kesekian kalinya. "Yaudah deh terserah lo kak!! Yang penting gue sekarang lagi ga pengen ribut sama lo. Apalagi ribut cuma gara-gara cowok kayak Gibran. Jadi gue mohon gausah deh lakuin hal-hal yang ga berguna seperti lo manas-manasin gue. Udah ya, gue pamit dulu." Setelahnya ia pun langsung berbalik dsri hadapan Syahnaz.
"Gue ga ngomong kosong ya bege!! Tunggu aja kebenaran dari omongan gue!! Awas aja kalo lo nyesel menghiraukan peringatan yang gue berikan tadi!!" Seru Syahnaz tak terima. Ia tentu saja sangat kesal setelah apa yang terjadi kepadanya. Niatnya membuat juniornya itu jera, seketika berbalik menjadi serangan untuk dirinya.
Suara Syahnaz yang menggema di ruangan toilet tersebut terdengar jelas ditelinga Naura. Namun ia tetap saja tak mempedulikan ucapan seniornya itu.
Biarlah apa yang terjadi kepadanya menjadi rahasia Tuhan. Karena ia yakin Tuhan memiliki rencana baik untuknya.
...๐ผ๐ผ๐ผ...
...Hi readers!!...
...Terimakasihh sudah membaca cerita author sampai saat ini!!๐...
...Mari tetap support author, agar athor semakin semangat update!!...
...see you...
...To Be Continued...