Evanescent

Evanescent
Ketidaksetujuan



..."Dia pilihanku. Maka dari itu aku akan selalu memperjuangkan serta mempertahankannya." ...


...-Gibran Rahardian K-...


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


Mendengan kabar Naura pingsan seperti tadi membuat Gibran semakin ingin segera pulang ke rumah. Bertemu kekasihnya seperti yang ia lakukan biasanya. Ahh, tapi sayangnya ia masih 3 hari lagi disini.


Malam ini Gibran harus menghadiri makan malam bersama papanya serta beberapa rekan kerja beliau. Kali ini berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Biasanya mereka makan malam di lantai 3 hotel yang mereka tinggali, tapi sekarang mereka melakukannya di salah satu restaurant berkelas di Surabaya.


Meskipun acara malam ini semi formal, tetapi tak jarang dari mereka yang mengenakan setelan formal bagi pria, maupun dress simpel bagi para wanita. Padahal Gibran tak pernah memikirkan akan semewah ini acara makan malam yang papanya itu katakan.


"Gibran, papa mau menemui seseorang, kamu bisa berkeliling dulu. Dan nanti papa tunggu di meja 7, oke?"


Gibran mengangguk. "Siap pa."


Berulangkali Gibran menghela nafas. Sebenarnya ia tak begitu menyukai hal seperti ini. Menghadiri acara para crazy rich yang nantinya akan berakhir saling mengunggulkan perusahaannya masing-masing.


Karena tak menemukan tempat yang cocok, akhirnya Gibran memutuskan untuk pergi ke area outdoor yang terletak di balkon lantai dua.


Setelah mencari kursi kosong, Gibran akhirnya menemukan satu kursi yang terletak di pinggir batas balkon. Ah setidaknya dengan ini ia bisa sedikit menghindari keramaian di tengah-tengah para direktur besar.


"Halo sayang!!" Ya, Gibran memutuskan untuk menghubungi Naura lewat via video call. Melihat wajah kekasihnya itu bisa sedikit mengobati rindu yang Gibran rasakan.


"Halo by... Lagi dimana sekarang? Kok kelihatanya kamu rapi banget."


"Oh ini aku diajak papa ke acara makan malam. Btw gimana penampilan aku malam ini? Ganteng banget kan pacar kamu ini?" Tanya Gibran sembari menjauhkan kameranya agar dirinya bisa terlihat full oleh Naura.


Naura tertawa. "Kalo kamu mah ga perlu pake setelan gitu udah ganteng di mata aku by... Because you always look handsome in my eyes."


"Duh duhh udah pinter gombal ya pacar aku ini..."


"Iya dong, kan kamu yang ngajarin gombal."


"Hahaha bener juga sih..."


"Ah ya btw, kamu lagi apa disana?"


"Ini aku lagi baca-baca sekilas buku matematika, soalnya besok mau ada ulangan harian by..."


"Rajin banget sih pacar aku... Jadi seneng deh liatnya."


Lagi-lagi Naura tertawa malu-malu. Ucapan Gibran selalu berhasil membuat dirinya seperti ini.


Drrttt... Drrrtttt.....


Ada panggilan lain yang masuk di ponsel Gibran membuat notifikasi muncul di layar atas miliknya. Dan nama pemanggil membuat Gibran mau tak mau menyudahi callnya dengan Naura.


"By, udah dulu ya... Papa nyuruh aku masuk. Semangat belajarnya yaa... See you sayang!!"


"See you too by.."


Setelah mengakhiri panggilan dengan Naura, Gibran langsung menelpon balik papanya. Sembari ia beranjak menghampiri meja yang tadi pria itu katakan.


"Kamu dari mana aja Gibran?" Sambut Vito saat Gibran sudah duduk di kursi yang berhadapan dengannnya.


"Dari lantai atas Pa. Cari angin, sumpek di dalam terus."


"Oh gitu.. Ayo dimakan makanan depan kamu."


"Baik pa."


Selama beberapa menit mereka hanyut didalam makanan yang mereka santap. Hingga Vito kembali berucap kalimat yang membuat nafsu makan Gibran seketika turun.


"Sebenarnya papa udah lama mau ngomong ini ke kamu." Mendengar itu Gibran menatap sekilas Vito yang juga menatapnya.


"Ngomong apa pa?"


Vito menakupkan sendok garpunya, lalu meneguk minuman miliknya. Dan kemudian ia baru melanjutkan ucapannya.


"Jadi Gini, Gibran.... Kamu tau... Papa sebenarnya nggak suka jika kamu berhubungan dengan perempuan itu."


Dengan tangan yang masih memegang sendok, Gibran menatap papanya. "Maksud papa apa sih?"


"Papa enggak suka kamu pacaran sama Naura Gibran... Dan itu sebenarnya sejak pertama kali kamu ngenalin dia ke papa, tapi baru sekarang papa bilang ke kamu."


"Tapi kenapa sih pa? Naura baik, dia juga nggak banyak tingkah. Lalu apa yang membuat papa enggak suka sama dia?"


"Banyak hal. Salah satunya dia ga selevel sama kita."


"What?" Gibran melempar kasar sendok yang tadi ia pegang. "Memang kenapa kalo Naura ga selevel sama kita pa?! Toh dia juga dari keluarga baik-baik. Apa itu enggak cukup dimata papa?!"


"No Gibran!! Status keluarga juga penting untuk masa depan kamu!! Papa ingin yang terbaik untuk kamu dan masa depan kamu!!"


"Jadi... Papa harap kamu segera putusin dia."


Ucapan papanya itu seketika berhasil membuat Gibran membeku. Ia pun tanpa sadar mengeratkan kepalan tangannya. Mengapa papanya selalu seegois ini?


"Papa kenapa selalu se egois ini? Gibran ga menuntut banyak loh dari papa. Gibran hanya minta untuk restuin hubungan aku sama Naura. Apa itu sulit?"


"Keputusan papa sudah bulat Gibran... Sampai kapan pun papa ga akan memberikan restu untuk kalian berdua."


Emosi Gibran seketika meluap. Namun, sebisa mungkin dirinya redam. Karena tidak mungkin di tempat sepenting ini dirinya terlihat tengkar hebat dengan papanya. Namun, ucapan Vito selanjutnya membuat Gibran tak mempedulikan sekitar.


"Karena itu papa harap kamu segera menjauhi dia.. Jika tidak... Papa yang akan menjauhkan paksa dia dari kamu!!"


Ucapan yang lebih ancaman itu membuat Gibran sontak berdiri, dan menimbulkan suara nyaring atas geseran kursinya.


"Gibran gatau papa habis kena setan darimana sampai ngomong kayak gini. Yang pasti Gibran akan tetap memacari Naura!!" Setelah mengucapkan kalimat tajam itu, Gibran langsung meninggalkan papanya. Kembali ke hotel tanpa mendengarkan lagi ucapan gila papanya itu.


"Gibran!!" Teriakan Vito tak lagi Gibran pedulikan. Masa bodoh dengan orang-orang yang melihat mereka. Toh ini semua papa nya yang mulai. Membahas topik yang seharusnya tak mereka bahas di acara seperti ini.


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


"Iya cantik ada apa??" Tanya Kenzie dengan senyum yang menghiasi bibirnya.


"Plis jangan lari-lari lagi dong Ken!!"


Kenzie tertawa melihat ekspresi Risa. Rupanya Risa semakin menggemaskan disaat marah ya?


"Plis jangan malah ketawa Ken!! Gue tuh dari kemarin kena omelannya pak Surya gara-gara lo ga pernah dateng pas bimbingan tau ga!!"


"Ah ituu... I'm sorry Ris. Sejak beberapa hari lalu gue emang rada sibuk bantuin nyokap..."


"Kenapa nyokap lo? Ada apa sama butik nyokap lo?"


"Eee karena.... bisnis WO nya nyokap lagi rame-rame nya, jadi gue sebagai anak yang baik harus ngebantu deh."


"Oh gitu..." Risa memangut-mangutkan kepalanya. Sedetik kemudian ia dengan tiba-tiba menarik lengan Kenzie, yang sontak membuat lelaki itu terkejut.


"Eh eh mau ngapain?!"


"Sekarang lo harus ikut gue bimbingan, gamau tau!!"


"Ga bisa Ris!!"


"Kenapa? Lo mau bantu WO nya bunda lo lagi?"


"Enggak sih.. Tapi gue--"


"Tapi apa? Udah ih Kenn, gue ga mau di marahin pak Surya lagi!!" Potong Risa.


"Gimana kalo lo ikut gue?"


"Apa?? Wah!! Sarap ya lo!! Bolos ngajak-ngajak!!" Risa tidak menyangka bahwa saran gila itu keluar dari bibir Kenzie.


"Biar lo ga kena marah pak Surya Ris... Gue traktir deh.. gimana?"


"Ga ah!! Gue pengen cepet kelar skripsi tau!!"


"Sehari doang kali Ris... Kalo lo mah nanti pasti ga bakal dimarhin pak Surya."


"Eee atau gini deh nanti kalo misal pak Surya nanyain, bilang aja kalo lo ngajarin gue materi yang ketinggalan waktu bimbingan kemarin."


"Ayolah Riss... Jarang-jarang tau gue ngajak cewek kayak gini."


Bener juga sih kata Kenzie. Ngomong sedekat ini ke cewek aja jarang apa lagi ngajak nongki. Ya kurang lebih seperti itu pengamatan Risa selama mengenal Kenzie, si cowok yang menjadi salah satu incaran banyak gadis di Kampus.


"Iya udah iyaa... Tapi syaratnya next bimbingan lo harus ikut!!"


"Oke setuju. Yaudah yuk!!"


Mengajak Risa keluar seperti ini sejujurnya tidak terdapat di dalam rencana harian Kenzie. Entah dapat pemikiran dari mana ia mengajak gadis itu seperti tadi.


Karena ya, seperti yang kebanyakan orang tau bahwa dirinya tidak pernah menjalin hubungan sedekat ini dengan perempuan. Bukan ia tak suka perempuan, hanya saja selama ini ia belum menemukan seseorang yang ia rasa cocok bersamanya.


Namun, sepertinya apa yang ia lakukan hari ini tak sesuai ekspektasi. Mengajak Risa makan sepertinya tak selancar yang ia pikir.


Kenzie merasa dirinya sedang diikuti oleh beberapa orang. Pasalnya sejak keluar dari gerbang kampus, ia sudah menyadari kehadiran tiga motor hitam yang menguntitnya.


Dan saat mereka berbelok ke jalan kecil tiba-tiba tiga motor tersebut menyalip dan menghadang di depan Kenzie. Otomatis mau tak mau Kenzie ikut memberhentikan motornya.


"Ken, mau ngapain?" Tanya Risa khawatir saat melihat segerombolan pria berjaket kulit hitam di depan sana.


"Lo tunggu sini ya Ris, gue akan nyelesain ini bentar."


"Ga Ken, gausa!! Mending kita puter balik, jadi lo ga perlu berantem."


Kenzie menatap lekat mata Risa, berusaha menenangkan gadis itu lewat kontak matanya. "Ris, percaya gue. Gue bakal baik-baik aja. Gue ga mau jadi cowok pengecut dengan lari begitu aja, oke?"


Dengan perlahan, Risa mengangguk. "Oke, hati-hati Ken."


Tepat setelah itu, Kenzie langsung berjalan mendekati segerombolan pria yang berada tak jauh darinya.


"Gue baru tau ternyata bos kalian suka cara kasar seperti ini!!" Seru Kenzie dengan suara cukup lantang.


"Gausah banyak bacot lu anjing!!!" Balas pria bertubuh gempal dengan langsung melemparkan pukulan kerasnya kearah Kenzie.


"KENZIEEE!!!" Teriak Risa histeris saat melihat tubuh Kenzie dihujami banyak pukulan.


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


Sejak kejadian Revan waktu itu, Raka tak pernah sekalipun bertemu dengan Naura. Lebih tepatnya ia sudah mulai mencoba merelakan gadis itu. Terus memaksakan perasaanya juga bukan menjadi pilihan yang tepat, bukankah begitu?


Namun, setelah beberapa minggu itu entah mengapa Raka kembali memberanikan diri melewati jalan sekolah ini. Jalan yang selalu mengingatkannya pada sosok Naura Azkia.


Ternyata move on memang tak semudah yang ia pikirkan. Menghapus semua kenangan yang ia miliki bersama Naura sangatlah sulit. Karena Naura sepertinya sudah terlalu melekat dibenaknya.


Lagi-lagi takdir seperti mempermainkannya. Disaat dirinya ingin menghindari sosok itu, namun entah mengapa Tuhan tanpa sengaja mempertemukan mereka.


Yap, dari jarak ini ia dapat melihat jelas kehadiran Naura di halte depan sana. Dengan terpaksa pula Raka memberhentikan motornya. Ia tak ingin berpapasan secara langsung dengan gadis itu. Melihat Naura baik-baik saja itu sudah cukup bagi Raka.


Namun, ketenangan itu hanya berlangsung beberapa menit. Pasalnya dengan sangat tiba-tiba ada sebuah mobil yang mendekat kearah Naura. Dan beberapa orang berbaju hitam menarik paksa Naura kedalam mobil.


"Bangsat!!" Umpat Raka sembari mengegas langsung motornya.


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


...Happy Reading bestiee๐Ÿค—...


...Jan lupa like komen n rate yaa๐Ÿ˜...


...To Be Continued...


...follow ig @kata.author...