
..."Tidak selamanya perhatian adalah tanda suka. Agar tak terjebak kedalam rasa yang salah, hendaknya tingkatkan kepekaan agar kita bisa membedakan beranekaragam rasa itu."...
...-Gibran Rahardian K-...
...πΌπΌπΌ...
Sekolah sudah ramai sejak beberapa menit lalu. Karena memang 10 menit lagi bel masuk akan berbunyi. Dan Gibran menjadi salah satu siswa yang baru saja tiba.
Lelaki itu berjalan menyusuri koridor untuk menuju kelasnya. Ah ralat, kelas cewek incarannya. Pasalnya, koridor yang ia lalui saat ini bukanlah koridor kelas IPS melainnkan kelas IPA. Ngapain juga dia kesana jika bukan untuk bertemu dengan gadis itu?
Disaat seperti inilah suasana kelas di seluruh sekolah sama. Ya, penuh dengan kehebohan. Entah itu karena tugas ataupun ghibah pagi.
Kepala Gibran menyembul di pintu kelas 11 Ipa 2, mencari keberadaan Naura. Dan setelah matanya berhasil menangkap sosok gadis itu, akhirnya ia langsung melangkahkan kaki menghampiri gadis yang duduk di bangku deret kedua itu.
"Selamat pagi cantikk!!" Seru Gibran dengan senyuman manis yang terbentuk di bibirnya. Namun, Naura mengabaikannya.
Gadis itu sedikitpun tak melirik laki-laki yang duduk di kursi depan bangkunya. Seakan-akan di depannya itu tidak ada penghuninya.
"Jangan jutek-jutek dong, nanti cantiknya hilang,"
"Bodo!!"
"Pamali loh kalo pagi-pagi bawaannya ngegas mulu."
"Mending nih ye, pagi-pagi itu sedekah senyum, biar harinya barokah!!" Gibran terus melemparkan ucapan-ucapan itu dan berharap Naura akan meresponnya.
Namun tetap saja, Naura masih tetap tak memberikan respon apapun ke Gibran. Malah ia semakin fokus pada ponsel di tangannya. Jiwa ke kepoan Gibran meningkat, ia entah kenapa penasaran dengan apa yang mencuri perhatian gadis itu melebihi dirinya.
Oleh karena itu Gibran memutuskan untuk melihat sendiri apa yang sedang gadis itu lihat di ponselnya. Namun, usaha Gibran yang mencoba mengintip ponsel milik Naura pun gagal. Pasalnya gadis itu dengan sengaja meninggikan ponselnya, dan menghilangkan celah untuk Gibran melihat.
"Lihat apa sih?? Sampe-sampe orang di depannya ga dianggep," Ucapnya.
"Serah gue anj*rr!!"
Gibran menghela napas pelan. Ia memikirkan lagi topik untuk mengusik gadis di depannya. Dan ia mulai berulah saat ide itu tiba-tiba muncul di kepalanya.
"Gimana? Lo semalem mimpiin gue kan??"
"Dih! Jangan ngarep!!"
"Kalo gue sih tadi malem mimpiin lo. Secara plester dari lo aja nempel terus di kepala gue, ya ga heran kalo otak gue isinya lo semua. Sampe kebawa mimpi lagi. Kuat banget ya perasaan gue?!"
Naura sebisa mungkin menahan emosi yang siap meledak kapan pun. Tingkah menyebalkan Gibran benar-benar membuatnya muak. Dan tadi ia bilang apa? Plester?? Wahh Naura sekarang benar-benar menyesal sudah mengobati lelaki itu. Lagian itu itu plester kenapa ga di ganti?? Masa iya orang sekaya Gibran ga punya plester di rumah?!
Untuk mengakhiri penderitaan dari gangguan Gibran, akhirnya Naura memutuskan untuk meletakkan ponselnya, lalu menatap lelaki di depannya itu.
"Gib, asal lo tau, gue ga peduli sama mimpi lo! Entah lo mimpi gue kek, mimpi mantan lo kek, mimpi mimi peri sekali pun gue ga peduli!! Yang gue peduliin sekarang adalah ketenangan gue! Kehadiran lo pagi-pagi kek gini semakin membuat mood gue down tau ga! Jadi mumpung gue masih sabar, mending lo--"
"Guys!! Guys!! Pak Burhan otw kesini!!" Heboh salah satu murid di kelas Naura. Lebih tepatnya sang ketua kelas yang setia memantau kehadiran guru disekitar kelas tersebut.
Melihat itupun siswa yang lainnya pun ikut heboh, tak terkecuali Gibran. Matanya dengan cepat menyusuri bangku di kelas Naura, dan akhirnya menemukan satu bangku kosong yang terletak di pojok ruangan barisan belakang. Tanpa pikir panjang ia langsung menuju bangku tersebut. Dan berharap pak Burhan tidak mengenalinya.
Pria berusia empat puluhan itu telah berdiri di depan kelas. Seketika suasana menjadi hening. Semua menutup mulut, tak berani mengeluarkan sepatah katapun.
"Selamat pagi anak-anak!!" Seru pak Burhan dengan suara baritonnya.
"Selamat pagi pak!" Jawab seluruh siswa di kelas itu tanpa terkecuali.
"Pagi ini bapak tidak mau basa basi." Mata guru fisika itu menyusuri penjuru kelas. "Silahkan kumpulkan tugas kalian sekarang juga!!"
Mendengar interupsi itu, mereka pun langsung berbondong-bondong mengumpulkan tugasnya di meja guru, dimana pak Burhan berada.
"Perlu saya ingatkan lagi, bahwa saya tidak menerima alasan apapun untuk tidak mengumpulkan!!" Pak Burhan menjeda ucapannya saat melihat seorang siswa yang sedari tadi masih tak beranjak dari bangkunya.
"Itu kamu yang duduk di pojokan!!" Seruan guru fisika itu berhasil membuat siswa di kelas itu menoleh. Mereka penasaran akan siapa yang berani menentang pak Burhan.
Gibran merutuki dirinya sendiri. Baru di panggil aja udah membuatnya merinding, apalagi kalo beliau tau bahwa dirinya bukan anak kelas ini. Bisa-bisa tamat riwayatnya!
Dengan mengumpulkan keberanian, Gibran akhirnya memunculkan wajahnya. Cengiran itu pun tak lupa ia bentuk di wajahnya.
Beberapa siswa maupun siswi yang melihat keberadaan Gibran pun terkejut. Kenapa mereka sedari tadi tidak sadar jika ketua tim basket yang famous itu disini. Oh my god!
Naura berdecak. Ia tidak habis pikir dengan Gibran. Kenapa juga lelaki itu tak segera keluar dari kelasnya. Bukannya malah sembunyi kayak gitu. Jadi repot kan kalo udah urusan sama pak Burhan.
Mata pak Burhan memincing. Lalu beliau berjalan mendekat kearah dimana Gibran duduk. "Kamu bukan anak kelas ini kan??!"
Mampus!
Gibran kicep. Ia bingung harus membalas apa.
"Aahh, kamu si ketua basket itu kan?! Kenapa disini?!"
"Eee itu pak sebenarnya tadi saya salah masuk kelas. Saya kira tadi masuk ke kelas 11 Ips 2 eh ternyata 11 Ipa 2." Jawab Gibran dengan senyuman tanpa dosanya.
"Banyak alasan kamu! Sekarang keluar!!"" Bentak pak Burhan.
Gibran pun maua tak mau harus memilih untuk menuruti perintah guru yang terkenal killer di seantero sekolah. Bahkan anak ips pun mengenal guru fisika itu.
Sebelum keluar Gibran menyempatkan untuk mencium tangan pak Burhan.
"Assalamualaikum pak." Ucapnya sebelum akhirnya meninggalkan kelas Naura.
"Waalaikumsalam," jawab pak Burhan ketus.
Naura melirik kepergian Gibran dengan ujung matanya. Hal-hal yang Gibran lakukan kepadanya terkadang melebihi ekspektasi. Dan itu kerap kali membuatnya kesal.
...πΌπΌπΌ...
Mie ayam yang beberapa menit lalu memenuhi mangkuk, sekarang sudah tinggal setengah. Rupanya nafsu makan Naura berada pada puncaknya. Dengan dorongan rasa lapar yang sedari tadi mengganggunya, ia bisa menghabiskan satu mangkuk itu tak sampai 10 menit.
"Lapar apa doyan lu??" Celetuk Serinda yang duduk di depannya. Naura tak mempedulikan ucapan Serinda, ia masih fokus dengan makanan itu. Dan Serinda pun hanya bisa menghela napas sekaligus menggeleng pelan saat melihat sikap labil sahabatnya itu.
"Lo beneran ga suka sama Gibran Ra?!" Celetukan polos yang tiba-tiba Reina keluarkan itu seketika membuat Naura tersedak kuah mie ayam.
Uhuk! Uhuk!
Untung saja Serinda peka, perempuan itu langsung menyodorkan segelas air putih kepada Naura.
"Anjirr kalo ngomong itu difilter dulu napa Na!" Naura kembali meneguk air. Dan berharap rasa panas di tenggorokannya itu segera menghilang.
Raut wajah Reina seketika berubah, ia menjadi khawatir kepada gadis itu. Yakali ia tertawa melihat sahabatnya tersakiti karenanya.
"Sakit ya Ra? Duh maap gue ga niat gitu.."
"Ya sakitlah bege!! Untung aja mie gue uda habis, coba kalo belum. Kasian mie nya nanti ga--"
"Panjang umur banget sih cowok itu, baru aja di ghibahin eh tau-tau sekarang nongol disini." Gumaman Alissa yang berhasil membuat Naura menjeda ucapannya. Mata gadis itu pun melirik kearah yang membuat ketiga temannya menoleh.
"Keknya mau kesini deh mereka. Buset dahh bawa banyak cogan lagi!!" Tukas Reina.
"Cogan sih cogan, tapi kalo sama minusnya kek Gibran ya sama aja!" Celetuk Serinda yang memang tidak menyukai tipe-tipe cowok seperti Gibran. Tipe-tipe buaya!
Sedangkan Naura memutar bola matanya malas saat keempat lelaki itu semakin mendekati meja mereka. Ah si*l! Kenapa juga mereka memilih bangku dengan meja panjang? Kalo tau jadinya gini sih Naura akan memaksa ketiga sahabatnya untuk pindah tempat.
Kalo gaada bangku untuk empat orang, lebih baik Naura makan di kelas. Tapi apalah daya nasi sudah menjadi bubur. Gibran dan ketiga orang lainnya sudah memenuhi kursi disebelahnya, dengan meja yang masih jadi satu dengan meja yang Naura serta teman-temannya tempati.
"Lagian udah gaada meja kosong buat kita tempatin," imbuhnya.
"Iya gpp santai aja." Bukan Naura yang berkata seperti itu, melainkan Reina. Bisa dibilang gadis itu tanpa sadar mengucapkan kalimat tersebut. Buktinya saja setelah berucap, ia langsung menggigit bibir bawahnya. Setelah ini bisa-bisa habis dia diomeli oleh Naura.
Alissa maupun Serinda menyadari kecerobohan itu pun langsung saling pandang. Masalahnya sejak Reina berkata seperti itu hawa di sekitar Naura menjadi mencekam.
Sedetik kemudian, Serinda malah tertawa hambar. Niatnya sih ia ingin membuat suasana tersebut mencair. Ia tersenyum ramah kearah Gibran. Ah ralat senyum yang ia paksakan seramah mungkin.
"Santai aja Gib, lagian ni kantin juga bukan milik kita, jadi lo gausa izin segala. Bentar lagi kita juga mau balik kok." Kata Serinda.
Gibran menyeruput es taro nya, sebelum kembali berkata. "Kenapa buru-buru? Kita malah seneng kalo kalian ada disini. Ya ga bro?!" Ketiga teman Gibran pun mengangguk.
Sedangkan Naura tak menanggapi. Ia banyak memperhatikan segala sesuatu yang terjadi disekitarnya dengan ujung matanya.
"Ah iya gue mau ngundang kalian ke pertandingan kita besok. Dateng ya?" Gibran beralih menatap gadis yang masih saja tak mau menatapnya itu. "Terutama lo Ra,"
Naura menolehkan kepal kearah lelaki yang duduk tepat di samping kirinya. "Tapi sayangnya gue ga mau."
Baru kali ini Gibran merasakan penolakan dari perempuan. Ah salah, ini merupakan penolakan kesekian yang Naura berikan kepadanya.
Aziel, Mahesa dan juga Darel menahan tawa saat mendengar penolakan Naura. Makan tuh penolakan!
"Ee guys gue balik ke kelas dulu ya, gue lupa kalo belum ngerjain tugasnya bu Yanti."
Bohong. Ketiga gadis itu jelas-jelas mengetahui bahwa perkataan Naura hanyalah alibi agar ia bisa pergi dari sana. Pasalnya tugas yang di berikan bu Yanti sudah Naura kerjakan di jauh-jauh hari. Bahkan satu hari setelah pemberian tugas pun Naura sudah berhasil menyelesaikannya.
Dengan terpaksa merekapun memilih untuk menganggukkan kepala. Sedetik kemudian, Naura langsung beranjak dari kursinya. Tanpa mengucapkan apapun kepada Gibran, Naura langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Gibran tersenyum miring. Ia tau betul gadis itu hanya berusaha menghindarinya. Tapi tenang saja ia tak akan membiarkan gadis itu mengabaikannya lama-lama.
"Gue cabut dulu ya?!" Tanpa menunggu persetujuan beberapa orang tersebut, Gibran langsung beranjak menyusul Naura. Meninggalkan burger yang masih utuh di tempatnya.
Tanpa pikir panjang, Aziel langsung mencomot makanan sahabatnya itu. Daripada mubadzir yakan?
"Kayaknya bakalan ada drama nih." Celetuk Alissa.
"Drama apa?!" Dengan polosnya Reina bertanya seperti itu. Alissa pun langsung berdecak menanggapi pertanyaan bestienya yang tak masuk akal itu.
"Drama korea!!" Jawab Alissa dengan sedikit ngegas.
"Ya drama diantara Gibran sama Naura lah Reina cantik!!" Jujur, wajah serta tingkah Reina sangat menggemaskan. Hingga kadang-kadang membuat mereka naik darah. Kepolosannya itu lohh, selalu berhasil membuat mereka mengeluskan dada. Sabarr.
"Hari ini udah minum aqua belom?!" Sahut Mahesa dengan tatapan jail yang sengaja ia perlihatkan kepada Reina.
"Ish! Apaan sih!!" Reina kesal, sekaligus malu. Apa lagi ia menjadi semakin salah tingkah saat Mahesa menatapnya.
Mengetahui itu Mahesa tertawa pelan. Ia tak tau ternyata begini rasanya menggoda cewek imut seperti Reina. Boleh juga.
...πΌπΌπΌ...
Saat berhasil mengejar Naura, Gibran pun tanpa basa-basi langsung menahan pergelangan tangan gadis itu. Hal itulah yang membuat Naura mau tak mau harus memberhentikan langkahnya, serta ia dengan berat hati harus menoleh kearah lelaki di belakangnya itu.
"Kenapa hari ini lo gangguin gue terus sih Gib?! Gue kan udah bilang jangan ganggu gue! Apa lo tuli?!"
"Alhamdulillah telinga gue baik-baik aja. Gue ngelakuin ini karena gue bingung sama perubahan sikap lo yang jadi balik dingin lagi Ra,"
"Sikap gue emang selalu seperti ini Gib! Terutama ke elo!!" Naura menyunggingkan senyum miring. "Aahh, apa gara-gara sikap gue kemarin sedikit melunak ke elo, lo jadi percaya diri kalo gue udah mulai nerima lo, iya?! Bangun Gib bangun!! Jangan mimpi terus!! Karana gue di mimpi lo ga akan sama dengan gue yang ada di hadapan lo sekarang!!"
Gibran perlahan melepaskan cekalan tangannyam "Apa gue seburuk itu dimata lo Ra?! Apa predikat playboy yang membuat lo bersikap seperti ini ke gue?! Asal lo tau, setelah mengenal lo gue udah keluar dari circle itu. Gue berusaha menjadi cowok yang setia buat lo! Ga ada satupun cewek yang gue deketin selain lo! Tapi apa? Lo sama sekali ga menghargai perjuangan gue!! Dimata lo gue adalah cowok brengsek yang akan selalu brengsek. Gue tau itu Ra! Tapi gue tetep ingin memperbaiki diri agar lo bisa memandang gue dengan pantas."
Naura terdiam. Penuturan Gibran berhasil membuatnya berpikir. Ia pun tak berani menatap balik lelaki yang sedang menatapnya intens itu.
"Oh ini cewek yang udah bikin lo putusin gue Gib?!" Suara itu sontak membuat keduanya menoleh. Siswi dengan seragam ketat itu mendekati keduanya.
Gibran berdecak. Kenapa Syahnaz harus datang disaat yang tidak tepat?! Ah sial. Mulai hari itu Gibran sudah benar-benar malas berurusan dengan gadis yang dulu sempat berstatus menjadi pacarnya. Ah meskipun hanya Syahnaz yang berperan dalam perasaan dalam hubungan itu. Karena memang, Gibran sama sekali tak memiliki perasaan ke gadis itu. Setidaknya itulah terakhir kali Gibran mempermainkan perasaan perempuan.
"Kita udah selesai satu minggu lalu! Jadi lo ga perlu lagi urusin hidup gue!"
"Gue ga bisa terima keputusan sepihak lo Gib!!"
Naura menyerngit. Jujur ia lagi tidak ingin mencampuri urusan orang. Akhirnya, ditengah perdebatan itu, Naura memilih untuk pergi. Membiarkan kedua ornag itu menyelesaikan urusannya. Ah setidaknya saat ini ia bisa menghindari Gibran.
Gibran pun dapat melihat kepergian Naura lewat sudut matanya. Kali ini ia tak bisa mngejar Naura, karena perempuan di depannya ini lebih penting untuk ia urus.
"Gue ga minta persetujuan lo! Gue hanya ingin mengakhiri apa yang uda gue mulai dulu. Atau bisa dibilang, gue mengakhiri kesalahan yang udah gue pilih dulu. Kesalahan karena udah milih lo jadi pacae gue!" Tegas Gibran. Sorot matanya pun sudah semakin menajam.
"Kalo itu kesalahan, kenapa lo seakan-akan mempunyai perasaan yang sama seperti gue?! Semua terekam jelas di memori gue Gib!! Perhatian yang lo berikan, ataupun kelembutan lo gue yakin itu bukan hal yang bisa lo manipulasi!"
Gibran tertawa meremehkan gadis di depannya. "Itu karena lo terlalu bodoh, b*tch!! Lo seharusnya sejak awal bisa membedakan rasa palsu sama nyata itu kayak gimana! Agar lo sejak awal bisa menyerah, dan perasaan lo ga semakin dalam ke gue!!"
Tanpa sadar Syahnaz mengepalkan tangannya kuat. Matanya oun mulai memanas. "Tapi kenapa lo dulu nembak gue?! Perasaan gue ga akan kayak gini kalo emang lo sedari awal ga ngasih lampu ijo!!"
"Itu bukan lampu ijo, itu hanya lampu kuning yang gue berikan ke elo. Karena diposisi itu gue berhak memberhentikan ataupun meneruskan. Dan gue mengeluarkan lampu kuning juga karena lo sendiri. Lo yang dari awal udah mepetin gue, dengan terang-terangan bilang kalo cinta sama gue, dan bahkan mengumbar berita palsu kalo lo pacar gue. Karena itulah gue memutuskan untuk memberikan lampu kuning ke lo! Dengan tujuan untuk memperingatkan lo, dengan cara menghempaskan lo disaat lo udah gue lambungkan se tinggi-tingginya. Agar setelahnya lo bisa benar-benar pergi dari kehidupan gue!! Dan saat ini gue udah memberikan lampu merah ke lo! Kita selesai!!"
Pernyataan penuh emosi itu berhasil Gibran luapkan. Masa bodoh dengan banyak orang lewat yang sudah memperhatikan mereka. Yang penting cewek di depannya ini bisa sadar akan posisinya.
Dan tanpa pikir panjang lagi, Gibran langsung pergi meninggalkan gadis yang perasaannya berhasil ia hancurkan se hancur-hancurnya itu.
"Lo boleh menghancurkan perasaan gue sesuka lo Gib. Tapi gue ga akan membiarkan cewek yang lo suka bahagia." Syahnaz berbalik, melihat Gibran yang rupanya memilih memberhentikan langkah. "Gue penasaran gimana reaksi dia waktu gue tunjukin rekaman kemarin malam. Aah, apa lo perlu gue ingatkan kembali tentang percakapan seperti apa yang udah kalian bicarakan semalam di club?!"
Mendengar pernyataan mengejutkan dari Syahnaz, seketika membuat Gibran membalikkan tubuh. Emosinya kali ini sudah benar-benar mencapai batasnya. Bangs*t!
Syahnaz melangkan mendekati Gibran. Lalu mendekatkan mukanya kearah Gibran. Tepat di telinga lelaki itu ia berbisik. "Makanya jangan berani macem-macem sama gue, Gibran!!"
Dengan emosi Gibran mendorong kasar tubuh Syahnaz ke dinding disamping kiri mereka. Tatapan nyalang nan menusuk itu tak ia sembunyikan lagi.
"Lo berani melakukan itu, gue jamin hidup lo di SMA ini juga akan berakhir!! Ini peringatan terkahir gue. Jangan ganggu gue ataupun sentuh dia!! Karena nyawa lo di SMA ini ada di tangan gue!!"
Bukannya takut seperti beberapa saat lalu, Syahnaz malah tersenyum licik. "Kita lihat aja nanti. Seperti apa akhir dari awal yang udah lo mulai!!"
...πΌπΌπΌ...
...Hi readers!!...
...Gimana nih? Feel nya dapet apa ga?π€...
...Makin penasaran ga nih akhir dari kisah mereka seperti apa??...
...Nantikan terus kelanjutannya di platform ini π...
...Untuk membentuk cerita yang lebih baik, author butuh komen serta dukungan kaliann π...
...Dengan cara like, vote, rate bintang 5, tambah favorit dan juga share sebanyak-banyaknya π...
...Thanks juga bagi yang udah mensupport cerita ini β€οΈ...
...Komen di setiap partnya agar kalian mendapat feedback dari author π...
...See you...
...TO BE CONTINUED...