
..."Kalo aku berniat merubah kebiasaan buruk ku karena kamu, maka dapat diketahui sebesar apa rasa yang aku punya ke kamu. Karena kamu lebih utama daripada egoku." ...
...-Gibran Rahardian K-...
...๐ผ๐ผ๐ผ...
"Totalnya 37.000 mbak." Kata Reina kepada salah satu pengunjung yang hendak membayar pesanannya.
Dan perempuan itu memberikan satu lembar 50 ribu kepada Reina. Tak lama setelah itu Reina memberikan langsung kembalian kepadanya.
"Terimakasih atas kunjungannya."
"Rei, kita ini udah break kan?" Tanya Alissa yang baru saja keluar dari area dapur.
"Iya Al. Ahh akirnyaa istirahat jugaa."
"Gimana kalo kita jalan-jalan? Masa iya kita ga sama sekali ga liat pensi??"
Reina terdiam sejenak saat teringat sesuatu. Ya, dia sudah memiliki janji dengan Revan. Tapi, bagaimana caranya mengatakan hal itu kepada Alissa?
"Ee sorry Al, gue punya janji sama sodara. Soalnya sepupu gue main kesini jadi dia minta gue jadi tour guide nya, gitu."
"Ahh begitu.. Yaudah deh, gue jalan-jalan sama Serinda aja. Eh btw kenalin kita ke sepupu lo dong!?"
"Ehe iya kapan-kapan Al. Oh iya, kalo sampe break selesai gue belum balik, tolong gantiin gue jaga kasirnya ya."
Alissa menghela nafas pelan. "Hhh okelah. Have fun yaa!!"
"Oke.. Gue duluan ya All!!"Setelah mengucapkan itu, Reina langsung berlari kecil meninggalkan ruang kelasnya. Menuju tempat yang sudah mereka janjikan sebelumnya.
Reina menarik bibirnya membentuk lekukan saat melihat kehadiran Revan di depan sana. Lalu ia mempercepat langkahnya dan berteriak pelan memanggil nama lelaki itu.
"Revan!!"
Revan yang dalam posisi membelakangi Reina pun akhirnya membalikkan punggungnya. Dan benar, disana sudah terlihat Reina dengan senyum manisnya berlari kecil menghampiri dirinya yang berada di depan air mancur. Dan mau tak mau ia juga harus membalas senyuman itu dengan senyuman terbaiknya.
"Jangan lari-lari sayang... Nanti jatuh gimana?"
Reina menyengir. "Iya-iya aku ga lari lagi. Abisnya aku excited banget waktu liat kamu."
Tangan Revan terulur mengelus pelan puncak kepala Reina. "Kenapa cantik banget sih pacar akuu."
"Ish. Kamu mah gitu. Nanti kalo aku ga cantik kamunya pergi lagi, ahaha." Canda Reina dengan tawanya.
"Enggak kok. Mau kamu cantik ataupun biasa aja asal kamu tetap Reina Zaynara, aku tetep bakal suka kamu apa adanya kok."
Sungguh, ucapan Revan ini langsung membuat jantung Reina berdetak tak karuan. Salah tingkah pun tak bisa ia hindari.
"Revan ih!! Jangan gombal muluu, kasian jantung aku ga sehat lagi nantii..."
Revan tertawa. Lalu ia menggandeng tangan Reina. "Yaudah yuk jalan-jalan."
...๐ผ๐ผ๐ผ...
Setelah melihat pentas seni selama beberapa menit, akhirnya Naura kembali mengajak Gibran untuk berkeliling.
Dan saat mereka melewati salah satu stand yang menyediakan jasa photo booth tanpa pikir panjang gadis itu membawa Gibran masuk.
"Aku pengen kita foto by, biar kita bisa ngenang momen ini lagi." Kata gadis itu.
Satu siswa yang bertugas menjadi fotografer dadakan itu sudah stand by di tempatnya.
Naura akui anak kelas ini sangat totalitas. Lihat saja, kelas yang tadinya polos bak kain putih itu berhasil mereka sulap menjadi spot foto yang sangat-sangat aesthetic.
Kalo begini mereka tidak akan sia-sia jika harus dikenai tarif dengan harga sedikit mahal. Apalagi harga yang mereka bayar itu sudah sepaket dengan cetak sekeluruhan foto menjadi versi biasa dan polaroid.
"Satu... Dua... Tiigaa..."
CEKREK!
Saat ini Naura dan Gibran mengeluarkan senyum terbaik yang mereka punya. Dan setelah satu pose berhasil di potret oleh sang fotografer, mereka langsung berganti pose setelahnya. Begitu pula seterusnya.
Ternyata, kehadiran Gibran disana membawa keuntungan bagi stand mereka. Karena dengan begitu, banyak siswa maupun siswi yang mengantri hanya untuk melihat kegantengan sosok Gibran Rahardian.
Menurut mereka, hal ini termasuk hal yang langka. Karena dimata mereka, saat ini Gibran bak pamgeran yang sedang melakukan foto shoot seperti halnya artis-artis papan atas.
Keren, ganteng, dan tentunya damage dari setiap pose yang ia keluarkan seketika membuat hati banyak perempuan disana meleleh. Ya, mereka memang se alay itu jika menyangkut dengan Gibran Rahardian yang notabene adalah cowok dari Naura Azkia.
Setelah selesai, keduanya langsung diarahkan oleh petugas untuk menunggu di kursi tunggu sembari menunggu foto mereka selesai dicetak.
Sebenarnya Naura risih dengan tatapan banyak perempuan yang ditujukan kepada mereka berdua. Ah ralat, bukan mereka berdua tapi lebih tepatnya kepada Gibran. Menyebalkan sekali bukan?
Dan lebih parahnya, ada dua perempuan yang tiba-tiba menghampiri mereka yang sedang asik berbincang. Naura dapat memastikan bahwa mereka adalah siswi kelas 10.
"Kak Gibran.." Nah kan, apa yang Naura bilang?
Gibran pun sontak memberhentikan percakapannya dengan Naura. Lalu menngalihkan perhatian kepada siswi yang memanggilnya.
"Iya? Ada perlu apa ya?"
"Ee itu kak, kita mau ngajak kakak take foto bareng, kakak mau ga? Nanti untuk biayanya biar aku yang bayar." Melihat raut wajah Gibran saat ini seketika membuat nyalinya menciut. Untuk menelan saliva pun ia harus berusah payah.
Gibran tersenyum. "Sorry ya, sayangnya gue ga buka jasa foto bareng. Jadi mending kalian cari orang lain aja. Sekali lagi gue minta maaf karena ga bisa memenuhi harapan kalian." Balasan ini adalah yang terbaik bagi mereka.
Gibran sengaja mengutarakan ini, karena sebagai pacar ia memiliki kewajiban untuk menjaga perasaan Naura.
Jika ia menerima dengan sukarela ajakan mereka seperti dia yang dulu, kalian bisa membayangkan bagaimana perasaan Naura bukan? Tentu saja gadis itu akan merasa dihianati. Meskipun di depannya ia mengatakan tidak apa-apa, tapi hatinya? Tidak ada yang tau pasti.
Sedangkan gadis yang mengutarakan niat tersebut pun langsung malu bukan main. Mungkin jika sebelumnya ia mengetahui hal ini, sudah dapat dipastikan ia tak akan seberani tadi.
Dan akhirnya, dengan menahan malu, kedua gadis itu langsung berpamitan kepada Naura dan Gibran. Sedetik kemudian kehadiran keduanya sudah hilang dari ruang kelas tersebut.
Ada-ada saja sih tingkah adek kelas.
"Gimana? Aku berhasil berubah kan?"
Gibran mengelus pelan puncak kepala Naura. "Enggak-enggak sayang.. Percaya deh sama aku. Cuma kamu yang selamanya ada di hati aku."
Naura berdecak. "Ck. Gombal mulu sih bisanyaa!!"
"Kalo gombalin pacar sendiri ga salah kan?"
"Tau ah! Kamu nyebelin!!"
Gibran tertawa. Tingkah Naura saat ini sangat menggemaskan bagi nya. "Loh gimana sih sayang?"
"Atas nama Gibran!!" Seru seorang lelaki di bagian kasir.
Sontak Naura serta Gibran langsung berdiri dari duduknya. Lalu berjalan mendekati kasir untuk menyelesaikan pembayaran.
"Terimakasih telah berkunjung di stand kami kak!" Ujar si penjaga kasir.
Setelah menerima uang kembali, keduanya pun langsung berbalik meninggalkan area kelas tersebut. Dan kembali ke stand kelas Naura.
"Selamat siang everybody!!" Seru Naura kepada teman-temannya yang sedang menjaga stand.
Jika dibandingkan pagi tadi, keadaan siang ini masih terpantau sepi. Karena dapat Naura lihat, hanya beberapa orang yang menikmati hidangan di tempat. Tak apalah, lagian keadaan seperti ini wajar bukan bagi para penjual?
"Udah puas nge datenya?" Sindir Serinda yang kebetulan berada disana. Ya, serinda sedari tadi menghilang karena dia bagian mempromosikan stand ke beberapa pengunjung diluar sana.
Naura tersenyum malu-malu. "Udah lah, kalo belum ngapain gue balik. Haha candaa."
Alissa menggeleng-gelengkan kepalanya. Sungguh ia tak habis pikir saat melihat temannya yang satu ini sedang jatuh cinta. Bukan karena apa-apa, hanya saja bucinnya tuh udah melewati batas. Parah sih ini.
"Temen lo tuh Lis."
"Yee temen lo juga ogeb!!"
"Ah ya, kenapa yang jaga kasir jadi lo sih Al? Reina mana?"
"Iya. Reina minta gantiin sementara, karena katanya dia ada sepupunya yang dateng ke festival ini. Ya jadi di sekarang lagi nemuin sepupunya." Jelas Alissa.
Berbeda dengan Naura yang hanya ber-o ria, Serinda malah terdiam. Apa yang ia lihat tadi memenuhi isi otaknya. Banyak kemungkinan buruk yang mengusiknya.
Apa benar dia sebenarnya adalah sepupu Reina?
Ataukah yang ia lihat tadi hanya halusinasi saja?
Tolonglah beri Serinda pencerahan. Ia tak mampu memikirkan kemungkinan-kemungkinan ini sendirian.
Lalu, apakah sebaiknya ia bercerita kepada kedua temannya yang lain?
Tidak. Belum waktunya. Bisa gawat jika apa yang ia lihat tadi salah. Karena, bisa saja mereka hanyalah orang yang sama bukan?
Ahh... Jika begini terus, Serinda bisa gila.
Satu-satunya pilihan, adalah ia harus memastikan semua ini dari mulut gadis itu sendiri.
Dan semoga saja jawaban jujur yang akan ia dengar nantinya.
...๐ผ๐ผ๐ผ...
Beberapa saat yang lalu, bersama dengan satu rekannya, Serinda bertugas untuk menyebar pamflet kepada para pengunjung sejak pukul 9 tadi. Capek sih, tapi mau gimana lagi ye kan?
Namun, saat itu ia tanpa sengaja melihat seseorang yang ia kenal berlari kecil menuju taman sekolah.
Tanpa berpikir panjang ia langsung mengejar gadis itu. Kali aja gadis itu bisa menggantikan posisinya sebentar. Agar ia bisa dengan leluasa membeli makan untuk makan siang sekaligus sarapan yang belum sempat ia lakukan.
"Yas, gue kesana bentar ya." Katanya kepada seorang perempuan yang kali ini menjadi partnernya, tepat sebelum dirinya mengejar gadis itu.
"Iya Ser, jangan lama-lama."
Setelah mengangguk, Serinda langsung benar-benar mengejar langkah Reina yang sudah semakin jauh darinya.
"Btw, ngapain ya si Reina kesini? Bukannya dia dapet tugas di kelas??" Serinda bermonolog.
Saat sampai di taman sekolah, Serinda melihat hal yang sangat menjanggal baginya. Tubuhnya seketika membeku. Sedangkan di dalam otaknya sedang berkecamuk pikiran-pikiran negatif yang tak seharusnya ia pikirkan.
Ia terkejut bukan main.
Jka ini hanya halusinasinya saja tolong saat ini juga sadarkan Serinda. Karena sekarang ia tak bisa mempercayai apa yang sedang ia lihat.
"Itu... Gue ga salah liat kan??? Trus, ngapain Reina..." Saking banyaknya kemungkinan-kemungkinan yang terpikir di otaknya, Serinda jari cukup sulit untuk menerima semua ini.
"Rei... Apa yang sebenernya lo sembunyikan?" Kedua iris Serinda selalu mengikuti pergerakan kedua inan yang berhasil mengejutkannya itu. Hingga keduanya kembali menghilang di area yang sudah tidak dapat Serinda jangkau dengan pengelihatannya.
Gue harap ekspektasi gue ke elo ga salah Rei.
...๐ผ๐ผ๐ผ...
...Hollaaa๐...
...Sehat-sehat kan??...
...Jangan bosen-bosen nunggu updatean author yaa xixi...
...Karena setelah ini akan memasuki konflik yang pastinya ga boleh kalian lewatii๐...
...Yuk terus dukung author dengan cara like, komen, vote and sharee karya ini ๐...
...Jangan lupa baca juga cerita author yang lainn โค๏ธ...
...Thank you all๐...
...See you...
...To Be Continued...