
..."Jangan salahkan aku jika rasa peduli ini terus-menerus aku sampaikan kepadamu. Karena memang, memaksa hati tuk berhenti peduli ternyata se-sulit itu, right?"...
...-Raka Alfareza-...
...๐ผ๐ผ๐ผ...
BRAKK!!!
Terlihat tujuh orang laki-laki muncul dari balik pintu gudang yang mereka dobrak. Hal itu sontak membuat beberapa penjaga yang awalnya menyantai langsung bersiaga mengeluarkan senjatanya.
"Kalian mending pergi sebelum habis ditangan kita!!" Seru salah satu pria yang dipanggil Yog.
"Kita ga bakal ngelawan asal lo kembaliin temen kita."
Yoga tertawa disusul tawa anak buahnya.
"Sepertinya mereka terlalu meremehkan kita bos!!" Celetuk salah satu anak buah Yoga.
"Oke gue ladenin kalian. Tapi kalau nyawa kalian berakhir disini kita ga bakal tanggung jawab!!"
Dari ujung ruangan, Naura meronta saat melihat Raka dan gerombolannya melawan preman berbaju bodyguard itu. Sungguh, ia sangat cemas dengan apa yang akan terjadi kepada Raka.
Suara pukulan serta hantaman barang memenuhi gudang tersebut. Perlahan, air mata Naura mengalir. Untuk saat ini ia tak bisa apa-apa melihat mereka. Hanya doa yang bisa ia panjatkan untuk keselamatan tujuh laki-laki yang rela terluka demi menyelamatkannya.
Rupanya menghabisi beberapa orang dewasa itu menghabiskan waktu lebih lama dari apa yang Raka perkirakan. Meskipun kemenangan berhasil diraih oleh pihaknya, namun tak dapat dipungkiri bahwa mereka juga harus mengalami beberapa luka berat.
Dengan menyeret kakinya, Raka langsung menghampiri Naura yang masih terikat di kursi. Aziel yang melihat itupun tak tinggal diam. Ia tak tega jika Raka yang penuh luka itu membuka tali yang mengikat tubuh Naura sendirian.
Setelah ikatan itu terlepas, Naura tanpa pikir panjang langsung menghamburkan pelukannya ke tubuh Raka.
"Ka.... Makasihh.... Untuk kesekian kalinya gue harus merepotkan lo, dan karena gue juga lo lagi-lagi harus terluka seperti ini." Lirih Naura, tangisnya pun seketika runtuh.
"Its okay Ra, keselamatan lo lebih penting dari segalanya."
Naura merenggangkan pelukannya. Ia mengamati wajah Raka yang penuh lebam serta goresan yang ia yakin sangat perih.
"Lihat tuh muka lo sampe kayak gitu Ka... Semua ini salah gue... Gue minta maaf banget ka.."
"Ssstt... Engga, lo engga salah Ra... Gue dan yang lain kesini itu murni karena keinginan kita. Lo ga perlu merasa bersalah, oke?"
Tepat saat itu terdengar suara sirine polisi mendekat kearah mereka. Yap, sebelum melakukan penyergapan ini, Raka terlebih dahulu telah menelpon pihak kepolisian. Biarkan mereka yang menangani preman brengsek itu.
Dari sana Naura melihat Aziel sedang berbincang dengan pihak polisi. Lalu setelah itu Aziel kembali mendekat kearah Raka dan Naura.
"Mereka akan segera memproses kejadian ini Ka. Untuk sekarang kita ke rumah sakit dulu. Ngobatin luka lo dan yang lain, terutama Revan.."
"Gausa rumah sakit Zi,"
"Engga Ka, lo harus dapet perawatan. Liat tubuh sama wajah lo yang penuh luka itu."
"Yaudah oke, sekarang kita ke rumah sakit."
Dengan bantuan Aziel, Naura memapah Raka memasuki mobil Mahesa serta mereka yang memiliki luka cukup parah seperti Revan. Sedangkan mereka yang mengalami luka ringan memilih untuk naik motor.
Tujuh lawan sepuluh memang bukan lawan yang mudah. Meskipun mereka telah berbekal ilmu bela diri namun melawan sepuluh orang dewasa tetaplah beban yang berat.
Raka, Revan, dan Bryan mengalami luka parah si tubuhnya. Karena lawan menggunakan benda tajam saat melawan, sehingga mereka pun tidak bisa menghindari beberapa sayatan serta tusukan di tubuh.
Bisa dibilang, pertarungan tadi cukup brutal bagi mereka yang masih tingkat SMA.
...๐ผ๐ผ๐ผ...
Revan yang tak sadarkan diri langsung dilarikan ke ICU. Bisa dibilang lelaki itu mengalami dampak terbesar dari pertarungan tadi. Kepala yang beberapa kali terkena benturan benda keras, serta tusukan di perut yang diberikan oleh salah satu preman tersebut.
Revan memang tak selemah itu, tapi jika dihadapkan tiga lawan bersenjata pastinya ia akan kalah bukan? Apalagi bantuan yang teman-temannya berikan tak tepat waktu.
Di luar ruangan itu, Naura dilanda rasa khawatir. Revan, Raka, dan Bryan masih dalam penanganan dokter. Sedangkan Aziel, Mahesa, Dika, dan Aldo berada di ruang tunggu bersama Naura.
"Zi... Mereka bakal baik-baik aja kan??"
"Iya Ra... Mereka kuat, jadi gue yakin mereka bakal baik-baik aja.,"
"Sorry guys... gara-gara gue kalian jadi harus ngalamin kejadian kek gini." Lirih Naura dengan menundukkan kepalanya.
Mahesa mendekat dan mengelus pelan bahu Naura. "Engga Ra... Lo engga salah kok.. Lo disini juga sebagai korban. Dan kita sebagai temen lo dah sewajibnya melakukan semua ini."
"Bener Ra, kata Mahesa. Jadi stop nyalahin diri sendiri oke?" Sahut Dika.
Naura mengangguk pelan. Ia menghela nafas beberapa kali. Berusaha menenangkan pikiran yang sedari tadi tak bisa diam.
Tak lama setelah itu Reina, Alissa, dan Serinda tiba. Tanpa basa-basi mereka langsung menghamburkan pelukan ke tubuh Naura.
Meskipun mereka hanya mendengar cerita singkat dari kejadian ini, namun mereka sangat tau bahwa sahabatnya ini sedang tak baik-baik saja.
Tangis Naura seketika tumpah di pelukan mereka. Dalam beberapa menit, tak ada yang bisa gadis itu ucapkan.
Dengan air mata yang masih mengalir diujung mata, Naura menatap Reina. Lalu ia berucap, "Sorry Rei... Sorry karena gara-gara gue Revan harus mengalami hal seperti ini.." lirihnya sembari menggenggam kedua tangan Reina.
"Ra... Revan bakal baik-baik saja, gue yakin itu. Dan lo bukan penyebab dari apa yang saat ini menimpa Revan. Karena menyelamatkan lo adalah misi mereka. Dan kejadian apapun selain itu, sudah diluar kehendak lo, oke?" Ucap Reina dengan senyum diakhir kalimatnya.
Suara pintu terbuka seketika mengalihkan perhatian mereka. Tak terkecuali Naura.
"Bagaimana keadaan teman kami dok?" Tanya Aziel.
"Pasien bernama Revan masih belum sadarkan diri, namun dia sudah mendapatkan perawatan atas lukanya. Sedangkan pasien bernama Bryan dan Raka harus beristirahat penuh selama beberapa hari, kami sarankan malam ini mereka dirawat penuh di sini, setelah itu barulah mereka boleh rawat jalan." Jelas dokter yang bertanggung jawab penuh atas pengobatan Revan, Raka, dan Bryan.
Mendengar hal itu, membuat mereka sedikit bernafas lega. Setidaknya bukan kabar buruk yang mereka dengar malam ini.
Setelah dokter berlalu meninggalkan mereka, Naura langsung beranjak menghampiri Raka yang asih terbaring di dalam ICU.
Naura menghapus air matanya sebelum berjalan mendekat kearah Raka.
"Gue baik-baik aja Ra..." Ucap Raka sembari mengukir senyum di bibir nya.
Raka mengelus tangan Naura. Menyalurkan ketenangan kepada gadis yang sedari tadi sudah menahan air mata yang lagi-lagi hendak keluar dari matanya.
"Engga Ra... Gue hanya butuh istirahat sehari, dan besoknya gue uda bisa beraktivitas seperti biasa, oke?"
Naura menghela nafas, ia akhirnya memilih duduk di kursi samping brankar Raka. "Gue gatau harus bales apa kebaikan lo ini Ka."
"Kok ngomong gitu lagi sih Ra... Udahlah kayak sama siapa aja. Gue ikhlas bantu lo, gue seneng bisa jadi temen yang selalu ada buat lo. So, jangan mikir gitu lagi yaa?"
Naura mengangguk pelan, lalu tangan Raka beralih mengelus pelan puncak kepala Naura. Tak ada yang lelaki itu ucapkan, hanya senyuman yang lagi-lagi terurai di bibir lelaki itu.
...๐ผ๐ผ๐ผ...
Setelah satu jam perjalanan udara, Gibran langsung terburu-buru menuju ke rumah sakit yang telah Aziel kirimkan. Beruntung, malam itu jalanan ibukota tak seramai biasanya. Sehingga Gibran tak perlu menunggu ditengah kemacetan seperti biasanya.
Setelah sampai, Gibran dengan langkah cepat segera menuju ke area ruang ICU seperti yang juga Aziel katakan.
Dari kejauhan, Gibran dapat melihat teman-temannya berkumpul di lorong ruang ICU. Langkahnya memelan, ia melempar matanya ke sudut ruangan, mencari keberadaan kekasih yang sangat ia rindukan.
"Gibran!!" Seruan Aziel itu berhasil membuat perhatian semua orang disana kembali teralihkan.
Aziel berjalan mendekati Gibran, lalu ia merangkul lelaki itu sejenak.
"Perjalanan lo aman kan?"
"Iya Zi, aman. Lo gausa khawatir."
"Syukurlah..."
"Btw, dimana Naura?" Tanya Gibran to the point.
"Dia di----"
Sebelum Aziel menyelesaikan ucapannya, terdengar suara pintu ICU terbuka. Dan menampilkan sosok Naura keluar dari sana.
"Nah itu dia." Lanjut Aziel.
Di Sana Naura terpaku. Melihat sosok Gibran membuat pertahanan nya kembali runtuh. Perlahan, ia melangkah mendekati lelaki itu.
Gibran yang melihat itu tak tinggal diam, ia juga melangkahkan kaki mendekat kearah Naura. Dan ia langsung menarik gadis itu kedalam dekapannya.
Naura menyembunyikan kepalanya di dada bidang Gibran. Disana, ia menangis sejadi-jadinya. Tak ada satu katapun yang keluar dari bibir gadis itu, hanya suara tangisan yang terdengar di lorong tersebut.
Tangan Gibran terulur mengelus pelan kepala Naura. Lewat elusan itu, ia menyalurkan ketenangan kepada Naura.
"Sssttt... Aku uda disini by... Aku janji ga bakal ninggalin kamu lagi...." Lirih Gibran.
Melihat Naura yang rapuh seperti itu, membuat Alissa, Serinda, dan Reina tersentuh. Terutama Reina. Tangis yang sedari tadi ia tahan karena menjaga perasaan Naura, akhirnya runtuh tak lagi bisa ia bendung.
Serinda dengan cekatan langsung membawa Reina kedalam pelukannya. Ya, ia tau betul apa yang dirasakan oleh sahabatnya ini. Revan adalah seseorang yang telah menorehkan luka di hati Reina, tapi entah mengapa gadis itu masih menyimpan rasa kepada lelaki tersebut.
"Gib, mending lo sekarang anter Naura pulang deh." Celetuk Mahesa yang langsung menerima anggukan dari Aziel dan beberapa orang lainnya.
"Bener Gib. Lo juga butuh istirahat habis flight." Timpal Aziel.
Setelah mereda, Naura merenggangkan pelukannya. Lalu ia menatap manik mata Gibran yang juga melihat kearah dirinya.
"Gimana? Pulang sekarang?"
Naura mengangguk pelan, lalu menjawab dengan lirih. "Iya.."
Mendapat persetujuan dari Naura, membuat Gibran langsung menggandeng tangan gadis itu untuk berpamitan kepada teman-temannya. Naura pun memeluk ketiga sahabatnya secara bergantian.
Dan saat memeluk Reina, ia berkata. "Rei... Gue akan selalu doain keselamatan Revan kok."
Reina mengusap air matanya lalu tersenyum.
"Iya Ra... Lo istirahat yang cukup ya, biar besok bisa balik sekolah sama kita lagi."
"So pasti."
Tepat setelah itu, Gibran kembali menggandeng tangan Naura dan membawa gadis itu pergi dari sana.
Di dalam taxi, Naura terus menyandarkan kepalanya di bahu Gibran. Dan selama itulah Gibran mengelus lembut puncak kepala gadisnya itu.
"Aku takut..." Lirih Naura tiba-tiba.
"Ada aku disini Ra... Aku bakal jagain kamu..."
"Jangan pergi Gib..."
"Iya Ra... Aku ga bakal pergi lagi..."
"Dan maaf... Karena aku, kamu harus merasakan hal ini..." Lanjut Gibran setelah menjeda ucapan pertamanya.
Naura terdiam. Memang tidak ada yang menginginkan hal ini terjadi. Namun, Naura sendiri tak bisa menyalahkan Gibran secara sepihak. Toh, Naura percaya Gibran sendiri tak ikut campur atas apa yang terjadi kepada dirinya hari ini.
Beberapa saat kemudian. Saat mereka mendekati area rumah Naura, ia melihat Kenzie berdiri disamping taxi dengan seorang perempuan yang hendak memasuki taxi tersebut.
Siapa dia?
Naura terus bertanya-tanya sampai pada akhirnya ia melontarkan pertanyaan itu dihadapan kakak sematawayangnya.
"Itu siapa bang?"
"Risa. Temen sekelas abang."
"Ohh...." Naura tiba-tiba menyerngit. Menurutnya ada yang aneh diwajah Kenzie.
"Tunggu! Wajah abang... Kenapa bisa lebam kek gini??"
...๐ผ๐ผ๐ผ...