
..."Kamu adalah luka yang selalu membuatku candu." -Reina Zaynara-...
...๐ผ๐ผ๐ผ...
Kenzie memukul setir mobil untuk menyalurkan emosinya. Ia naik pitam saat mengingat berkas yang telah ia baca beberapa saat lalu. Ternyata dugaannya kemarin terbukti.
Umpatan serta makian terus ia lontarkan hingga mobilnya berhenti di parkiran salah satu rumah sakit.
Ruang 705 adalah ruang dimana Kenzie harus menemui seseorang. Orang yang telah mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan adik semata wayangnya.
Suara pintu yang terbuka itu berhasil membuat lelaki itu mengalihkan pandangannya dari jendela.
"Heyyo Ka!" sapa Kenzie.
"Bang Kenzie? Kenapa dis--"
"Gue harap lo nyaman di ruangan ini ya." potong Kenzie cepat sebelum Raka menyelesaikan ucapannya.
"Terimakasih bang. Gue ga tau kalo abang yang mengatur perpindahan ruangan tadi pagi."
"Santai aja. Lagian ini juga sebagai ucapan terimakasih soal kemarin. Dan maaf gue baru bisa berkunjung sekarang."
Banyak pertanyaan yang bersarang di pikiran Raka saat ini. Keadaan Kenzie yang berada di depannya inilah yang semakin membuat dirinya berpikir keras. Sebenarnya apa yang saat ini sedang terjadi?
"Naura tau bang?"
"Soal?"
"Lo yang mengatur perpindahan ruangan gue, Bryan, dan Revan."
Kenzie menggeleng. "Jangan sampai dia tau. Gue percaya lo ga bakal membicarakan hal ini ke siapapun."
"Tentang lo yang dateng menjenguk gue juga menjadi rahasia?"
"Iya. Gue ga mau Naura penasaran akan hal-hal yang engga seharusnya dia tau."
"Oke kalo itu mau lo bang, gue hargai keputusan lo."
Disisi lain, Naura, Gibran dan teman-temannya yang lain berbondong-bondong mengunjungi Raka, Bryan, dan Revan yang masih terbaring di rumah sakit.
Sesaat sebelum mereka sampai, Naura mendapatkan pesan bahwa ada perubahan ruangan yang mereka bertiga tempati kemarin. Dan untungnya Naura tak berpikir terlalu dalam akan hal itu.
"Gibran, aku ke kamar Bryan dulu ya. Nanti aku susul kamu ke kamar Raka." ujar Naura saat keluar dari lift.
Gibran tersenyum. "Iya, hati-hati."
Di persimpangan koridor mereka berpisah. Gibran memilih jalan lurus untuk ke kamar Raka, dan Naura bersama yang lainnya berbelok kearah kanan menuju kamar Bryan dan juga Revan yang kebetulan berdekatan.
Di koridor menuju kamar Raka, ada seseorang yang sepertinya ia kenali lewat begitu saja di sampingnya. Saat berbalik, Gibran hanya bisa melihat bagian belakang lelaki itu. Masker serta tudung hoodie yang menutupi kepalanya membuat Gibran tak bisa mengenali dengan benar lelaki itu.
Ah sudahlah. Gibran berusaha tidak memikirkan orang asing yang tidak sengaja berpapasan dengannya.
"Hai Ka!" sapa Gibran saat memasuki kamar Raka. Lelaki itu berjalan mendekati brankar dimana Raka berada.
"Gue seneng liat kehadiran lo disini Gib."
"Thank you banget, gue gatau harus gimana kalo kemarin ga ada lo Ka."
"Dia temen gue Gib, udah seharusnya gue nolong dia."
Gibran tiba-tiba terdiam. Tatapannya lurus kearah jendela dengan kaca bening yang terbuka lebar di depannya. Ucapan Kenzie semalam sangat-sangat mengganggu dirinya.
"Kalo gue minta tolong lagi ke elo apa lo mau Ka?" ucap Gibran tiba-tiba dengan menatap serius lelaki pucat di depannya itu.
"Dengan senang hati Gib."
"Misal suatu hari gue nyakitin Naura, dan gue ninggalin dia, tolong hajar gue ya Ka. Dan setelah itu gue harap lo mau menjaga Naura."
"Gue gapaham apa yang lo maksud. Gue akan melupakan semua yang lo katakan hari ini Gib."
"Gue serius Raka!" bentak Gibran.
"Gue juga serius Gib! Gue merelakan perasaan gue buat Naura agar dia bahagia sama lo! Tapi sekarang lo malah ngomong soal ninggalin dan nyakitin Naura? Apa emang hanya sebatas ini perasaan lo buat dia Gib?" Raka menyahut dengan nada satu oktaf diatasnya.
"Gue sayang banget sama dia Ka.. Dia segalanya buat gue.. Gue ga mau dia tersiksa karena gue.." Gibran mengacak rambutnya frustasi. "Sekarang gue bingung harus melakukan apa.."
Sungguh Raka tak tau beban apa yang sedang ditopang lelaki ini. Dan ia sama sekali tidak mengerti mengapa semuanya harus berkaitan dengan Naura setelah ia memilih merelakan itu semua.
Drrt.. Drrt.. Drrt.. Drrt..
Getaran disusul nada dering panggilan terdengar dari ponsel Gibran. Setelah melihat siapa pemanggil, Gibran memilih beranjak menjauhi Raka.
Sedangkan Raka hanya bisa mengamati interaksi Gibran dengan sang penelpon dari jarah yang cukup jauh. Sehingga ia tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.
Setelah selesai bercakap, raut wajah Gibran berubah. Raka hanya bisa menebak kalau ada hal mendesak yang mereka bicarakan tadi di telpon.
"Gue harus cabut sekarang Ka. Setelah ini Naura kesini sama yang lain. Tolong sampein ke Aziel ya, buat nganter Naura pulang. Sorry banget gue ga bisa lama disini."
Raka mengangguk. "Iya, Gue ngerti kok. Semoga urusan lo segera terselesaikan ya Gib."
"Aamiin. Gue cabut dulu." setelah mengucapkan itu, Gibran benar-benar meninggalkan kamar Raka.
Tak lupa ia mengirim pesan singkat kepada pacar kesayangannya itu.
^^^Gibran R^^^
^^^Sayang.. Maaf ya aku pulang dulu, ada urusan mendadak di rumah. Nanti kamu pulangnya dianterin Aziel. Hati-hati sayangnya Gibran โค๏ธ^^^
...๐ผ๐ผ๐ผ...
Setelah mengunjungi Bryan bersama teman-temannya. Reina berpindah ke ruangan dimana ia bisa menemui lelaki itu. Lelaki yang berhasil membuat hatinya berada di ambang kehancuran.
Karena keadaan yang paling parah dari yang lain, membuat lelaki itu harus dirawat di ruang yang dipenuhi oleh alat medis. Pengunjung pun dibatasi, alhasil Reina hanya bisa memasuki ruangan seorang diri.
"Pasien kehilangan banyak darah setelah mengalami tusukan diperutnya. Luka di kepalanya memperburuk keadaan pasien. Jika pengobatan berjalan lancar pasien akan sadar dalam jangka waktu yang cukup panjang."
Ucapan dokter yang telah mengoperasi Revan semalam kembali terekam jelas di otak Reina. Ya, Revan adalah lelaki yang terbaring lemah di brankar dengan dipenuhi banyak alat medis.
Air mata Reina tanpa permisi keluar begitu saja disaat dirinya baru memasuki ruangan Revan. Melihat keadaan Revan saat ini sangat menyayat hatinya.
"Revan..." lirih Reina dengan mengelus lembut tangan lemah lelaki itu.
"Aku ga bisa terus-terusan membohongi hatiku Van... Aku rindu semua tentang kamu... Aku rindu Van.. Aku rindu..." air mata Reina keluar dengan deras seiring ia mengutarakan semua isi hatinya.
"Bangun Van... Aku disini nunggu kamu..."
"Melihat kondisi kamu kayak gini adalah mimpi terburuk yang pernah aku alami.."
Masih banyak hal yang Reina katakan setelahnya. Dengan harapan Revan segera sadar dari komanya. Karena ia percaya keajaiban. Keajaiban bahwa Revan nya akan kembali baik-baik saja bersamanya.
Hanya tangisan yang memenuhi ruangan itu. Suara Reina tak lagi terdengar. Sebenarnya masih banyak hal yang ingin ia katakan. Namun entah mengapa tertahan oleh rasa sedih, kecewa, serta marah yang ia tumpahkan kedalam tangisannya.
Disini ia tak bisa menyalahkan siapa-siapa. Marah pun sepertinya tak berhak ia rasakan. Kejadian ini ia yakin tak diinginkan oleh siapapun, entah Naura, Revan, maupun teman-temannya yang lain. Tak ada yang bisa memprediksi akan terjadi hal se-mengenaskan ini.
Reina pun tak dapat menyalahkan Revan yang saat itu memilih terluka demi menyelamatkan Raka. Ya, tusukan yang cukup dalam itu ia dapatkan disaat lelaki itu hendak melindungi Raka dari serangan preman kemarin.
Saat ini yang terpenting hanyalah kesembuhan Revan. Hanya doa yang bisa Reina kirimkan agar tersampaikan kepada Tuhan di atas sana. Dan berharap semua doa-doanya terjawab dengan kembalinya Revan.
"I love you more than you know Van..."
...๐ผ๐ผ๐ผ...