
..."Entah sejak kapan perasaan ini tumbuh membesar. Tapi yang jelas, perasaan ini jauh berbeda dengan perasaan yang aku rasakan disaat kita memutuskan untuk memulai hubungan ini." ...
...-Revan Adyan Nugroho-...
...๐ผ๐ผ๐ผ...
Reina menatap keramaian kota di luar jendela tempat ia duduk. Mencari tempat dengan view seindah ini memang menjadi kebiasaannya. Oleh karena itu, Revan membiarkan gadis itu memilih meja mana yang akan mereka tempati.
Setelah bertemu di taman sekolah, mereka bersepakat untuk menghabiskan waktu di luar sekolah. Revan bilang agar mereka bisa berkencan sebebas mungkin. Toh nanti jika di sekolah Reina tak sengaja ada seseorang yang menangkap basah mereka berdua, urusannya bisa panjang.
Reina cukup paham apa yang dimaksud Revan. Hanya saja ia sempat berpikir, apakah mereka akan selamanya seperti ini? Menjalin hubungan tanpa seorangpun yang tau.
Jujur, sebenarnya Reina tak begitu nyaman menjalani hubungan seperti ini. Tidak seperti pasangan pada umumnya, yang bebas melakukan apapun bersama pacarnya. Sedangkan mereka? Harus dengan waktu dan tempat yang tempat untuk berpacaran.
Ah, menyebalkan. Tapi, mau bagaimana lagi Reina sudah terlanjur jatuh cinta terlalu dalam kepada Revan.
"Sorry ya aku lama di toiletnya," kata Revan yang baru kembali dari toilet cafe. Karena memang, saat mereka baru saja sampai disini, lelaki itu langsung izin untuk pergi ke toilet. Biasalah lagi kebelet.
Reina mengalihkan tatapannya kearah Revan, lalu ia tersenyum simpul.
"Santai aja kali beb, Lagian kamu juga ga lama kok di toiletnya."
"Permisi kak, ini pesanannya." Kata seorang pelayan cafe yang sedang membawakan pesanan mereka.
"Terimakasih kak," balas Reina dengan senyum ramahnya. Sesaat setelah menu makanan mereka tersaji di meja, pelayan tersebut langsung meninggalkan mereka berdua.
"Aku denger beef steak mereka paling enak loh beb,"
"Oh ya?" Karena merasa tertarik atas apa yang Revan katakan, Reina pun langsung mengiris sedikit daging tersebut. Lalu memasukkannya kedalam mulutnya.
"Mmmm...." Reina menikmati setiap rasa yang menyelimuti lidahnya.
"Perfect banget sih rasanya. Kamu bener-bener jago deh kalo disuruh milih makanan high class."
Revan tertawa. "Bisa aja sih kamu beb."
Lelaki itu menatap lurus kearah Reina. Gadis yang sedang lahap menyantap makanan itu berhasil membuat moodnya membaik.
Reina yang sadar sedang ditatap pun langsung menaikkan pandangannya. "Kenapa malah liatin aku sih? Kasian tu makanannya dianggurin."
"Liat kamu makan perutku jadi ikut kenyang sendiri,"
"Mana bisa gitu sih beb. Makan yuk.. Kalo kamu ga makan, aku juga ga makan nih!"
"Ih kamu mah gitu. Yaudah nih aku makan,"
"Nah gitu dong revan sayang..."
"Eh? Apa? Kamu bilang apa beb barusan?"
Reina menggeleng, menghidari menjawab pertanyaan Revan yang maksud dari pertanyaannya sudah ia ketahui.
"Enggak. Enggak bilang apa-apa kok. Kamu salah denger kali."
Revan lagi-lagi tertawa melihat tingkah salting seorang Reina. "Iya Reina sayangnya Revan.."
...๐ผ๐ผ๐ผ...
Setelah mengisi perut, Revan langsung mengajak Reina ke tempat yang memang sudah terpikirkan olehnya sejak tadi.
"Buat kencan kita kali ini, aku uda punya daftar kegiatan yang mau aku lakuin sama kamu loh beb." Ujar Revan dengan excited.
"Oh ya?"
Revan mengangguk. "Selanjutnya.. Kita harus memainkan semua permainan di taman bermain ini."
"Hah? Semua?"
"Haha enggak-enggak. Untuk permainannya kamu boleh milih deh."
"Emmm... Gimana kalo dance?" Tanya Reina dengan satu alis yang ia naikkan. Sudah menjadi ciri gadis itu karena bisa menaikkan satu alis dengan sempurna yang tak dapat dilakukan oleh kebanyakan orang.
"Boleh. Yuk gas!"
Setelah melakukan registrasi kartu, mereka lamgsung menuju ke tempat dimana dance floor itu berada.
Mengikuti alunan musik serta panah arah di layar keduanya bergerak sangat lincah diatas lantai yang berisikan arah-arah itu.
And then, setelah mereka melakukan dua kali putaran dan itu semua berhasil dimenangkan oleh Reina. Ah Revan memang tidak jago dalam hal ini.
Setelah itu, mereka berpindah ke permainan lainnya. Ada banyak sekali permainan disini yang tak dapat Reina hitung dengan jarinya. Akhirnya ia hanya memilih permainan yang seru dan mudah untuknya.
Masa bodoh dengan Revan yang mungkin akan kesulitan dengan hal itu. Haha. Lagian Revan kan multitalent, dia jelas bisa memainkan permainan apapun bukan?
Mulai dari air hocky, game balapan, dan masih banyak lainnya. Namun, Reina tetaplah Reina. Ia masih tetap meminta saran dari seorang Revan. Jika permainan yang ia pikih seru menurutnya tapi tidam untuk Revan, sama saja mereka tidak have fun bersama dong. Ya, memang Reina sangat tidak bisa untuk menjadi karakteristik antagonis yang hanya mementingkan dirinya.
Revan pun mengajak Reina bermain street basketball. Its okay sih menurut Reina. Tapi ia yakin akan kalah jika melawan pemain basket sungguhan seperti Revan.
"Siap?" Tanya Revan dari ring yang bersebelahan dengan Reina.
"Siap dong. Aku bakal tunjukin kalo pacar seorang Revan juga jago main basketnya."
Revan tersenyum. "Oke. One, two, three go!" Tepat setelah itu permainan pun dimulai.
Karena terlalu fokus dengan bolanya, Reina sampai tak sadar dengan apa yang Revan lakukan saat ini. Disana, Revan dengan sengaja melempar bolanya asal, alhasil banyak dari bolanya yang tak tepat sasaran. Pada nyatanya, ia sendiri tak sadar kenapa melakukan semua ini. Otaknya menuntun tangannya untuk bergerak mendahului hatinya.
Alhasil, dengan itu Reina berhasil memenangkan pertandingan ini. Senyum lebar pun terpampang jelas di wajah keduanya.
"Apa aku bilang, pacar kamu ini hebat juga loh main basketnya."
Sembari mengacak ranbut Reina, Revan berucap. "Iya-iya sayang, aku percaya kok,"
"Ah ya, setelah ini ayo ke photo box. Ga afdol kan kalo kita ga mengabadikan momen seperti ini?"
"Its that right beb. Yuk lah gas!!" Dengan semangat Reina langsung mendahului langkah Revan menuju photo box yang tersedia di timezone tersebut.
Pengambilan gambar dengan menggunakan sensor itu mempermudah keduanya untuk bergaya. Sudah banyak pose yang mereka keluarkan. Namun, Reina masih melanjutkannya hingga kertas cetak foto itu keluar sebanyak 5 kali. Parah sih ini.
"Udah capek?" Reina langsung menjawab pertanyaan Revan dengan gelengan.
"Enggak kok beb."
"Bagus deh kalo gitu."
"Oh ya, aku kebetulan punya dua tiket bioskop hari ini Rei. Gimana? Mau pergi?"
"Good idea! Yaudah yuk ke sana aja beb!"
Film telah diputar, dan keadaan di ruangan itu seketika menjadi senyap, tak ada suara yang terdengar kecuali suara dari film yang sedang diputar.
Revan menatap lekat gadis yang sedang fokus menyimak alur cerita di film tersebut. Melihat wajah polos Reina, membuat Revan melupakan tujuannya. Karena, seiring berjalanannya hubungannya dengan Reina membuatnya kembali mempertanyakan kebenaran keputusan yang telah ia ambil di jauh-jauh hari.
Sedangkan Reina, ia sedari tadi merasa sedang diperhatikan oleh seseorang. Dan benar saja, saat ia menoleh kearah kanan, terlihat Revan yang sedang menatapnya dengan tatapan yang tak bisa ia jabarkan.
"Kenapa beb?"
Revan tak menjawab pertanyaan yang Reina lontarkan. Saat ini pikirannya terlalu sibuk.
Namun, dengan sangat tiba-tiba, tubuhnya bergerak tanpa ia minta. Naluri lah yang telah menggerakkan tubuhnya.
Semakin dekat jarak antara keduanya, membuat jantung Reina berdetak dua kali lebih cepat. Jika ia mereviuw drama-drama korea yang telah ia lihat selama ini, maka dapat dipastikan apa yang akan terjadi setelahnya. Meskipun Reina tau, tapi entah kenapa tubuhnya tetap ditempat. Ia tak bisa menghindar.
Cup.
Dan benar, kejadian k*ssing secara tiba-tiba ini tak bisa Reina hindari.
Ini pertama kali baginya. Reina pun tak menyangka Revan adalah lelaki yang akan merebut first kiss nya. Ah, ternyata seperti ini rasanya kissing. Ya, memang sepolos itu otak Reina.
Sepuluh detik bibir mereka saling menempel. Dengan mengumpulkan seluruh kekuatannya Reina langsung memalingkan dan menjauhkan wajahnya dari Revan. Sebelum semuanya semakin jauh lagi.
"Jangan bilang kalo yang barusan juga uda ada di dalam daftar kegiatan yang kamu tulis?!" Perkataan pelan Reina berhasil mencairkan suasana awakward diantara mereka.
Tak hanya Reina yang salting, ternyata Revan yang memulai pun sedikit salting. Ah sial, kenapa ia tadi melakukan itu? Sungguh, itu diluar kendalinya.
"Eee, iya. Tapi, aku ga ngerep kalo terpenuhi." Revan langsung meraih tangan Reina dan kembali menatap lekat gadis itu.
"Tapi Rei, tadi aku ga sadar, seriuss... Tanpa sadar tubuh aku bergerak sendiri. Jadi... Aku minta maaf banget kalo uda bikin kamu ga nyaman."
Tak ada balasan yang Reina keluarkan. Hanya helaan nafas yang keluar dari mulutnya.
"Kita bahas nanti aja, sekarang masih di dalem, bisa-bisa ditegur petugasnya kalo kita ketauan rame."
Mendengar itu, Revan menghela nafas dalam, lalu ia menyandarkan punggung pada sandaran kursi bioskop itu.
'Bego banget si anying!!' umpat Revan dalam hatinya.
...๐ผ๐ผ๐ผ...
Drrtt.. Drrtt..
Ponsel Revan sedari tadi begetar. Tanpa melihat layar ponselnya pun Revan dapat menebak seseorang yang sedari tadi mencoba menghubunginya. Akhirnya, sesampainya di cafe ia memutuskan untuk mengangkat panggilan ini. Jika ia terus-menerus menghiraukannya, nanti urusannya akan semakin panjang.
"Sayang, aku ke toilet bentar ya?" Tentu saja ke toilet hanya kedok Revan agar ia bisa mengangkat telepon. Karena Reina tak seharusnya tau akan hal ini.
Setelah Reina mengangguk, Revan pun akhirnya langsung pergi menuju ke toilet yang telah disediakan oleh cafe.
Sesampainya di ruangan itu, Revan langsung menarik tombol hijau agar panggilan mereka terhubung. Dan benar saja, sedetik kemudian suara yang sangat ia kenali mulai memasuki indra pendengarannya.
"Revan!! Kamu mau mulai membangkang kepada papa iya?!!" Ya, sang penelpon adalah papanya sendiri. Papa yang merupakan satu-satunya orang tua yang masih bersamanya hingga saat ini.
Revan terdiam. Karena percuma saja ia mengungkapkan pembelaan. Yang ada malah akan semakin memperkeruh suasana.
Helaan nafas kasar yang pria itu keluarkan terdengar hingga ke telinga Revan.
"Papa udah bilang berkali-kali sama kamu untuk tetap menjadi anak penurut, apa itu susah Van?!"
"Papa hanya ingin kamu jadi anak yang bisa papa banggakan, menggantikan kakak kamu."
"Tapi sekarang apa?!!"
"Prestasi kamu turun!! Dan kamu masih tetap melakukan apa yang papa larang!!"
"Tinggalkan dunia basket!! Cukup urus pendidikan kamu!! Basket ga menjamin masa depan kamu Revan!! Hanya pendidikan yang bisa buat kamu sukses!!"
"Papa ngelakuin ini juga demi kebaikan kamu!! Agar apa yang terjadi ke kakak kamu tidak terulang!!"
Kebaikan? Bullshit!!
Revan sangat muak dengan omong kosong yang selalu saja papanya itu lontarkan. Karena ia sadar bahwa akhirnya ia hanyalah sosok pengganti dari kakaknya. Ia tidak lebih hanya sebuah boneka yang harus patuh kepada pemiliknya. Dan ia tak suka akan hal itu.
"Ingat!! Tragedi yang terjadi kepada kakak kamu juga karena basket Revan!! Karena dia bergabung dengan klub yang tidak bermanfaat itu, ia harus menanggung akibatnya!! Kamu mau seperti itu?!"
Tangan Revan mengepal kuat. Sungguh, ia tak tahan dengan ucapan yang pria itu lontarkan.
"Stop pa!! Tolong berhenti membicarakan hal itu!! Revan muak pa!!"
"REVAN!! Jangan mentang-mentang papa sekarang tidak dirumah kamu menjadi berani seperti ini ya!!"
"Revan hanya ingin mengatakan apa yang Revan rasakan pa!! Revan hanya ingin papa berhenti mengungkit kasus bang Reynal!! Karena sejak dulu papa tidak pernah percaya akan kebenaran yang bang Reynal katakan! Tapi papa malah percaya begitu saja dengan bukti yang dibawa oleh seseorang yang bukan darah daging papa!!"
"Sadar pa!! Apa yang terjadi kepada bang Reynal bukan salahnya!! Jadi Revan mohon papa berhenti menyalahkan bang Reynal dan juga menyalahkan dunia basket yang sama sekali tak ada kaitannya!!"
"Bang Reynal suka basket karena itu dia bertahan di dunia itu pa!! Dan hal yang sama juga Revan rasakan!!"
Tak ada balasan lagi yang dilontarkan pria itu. Tapi tentu saja saat ini, emosi pria itu sangat memuncak.
"Teleponnya Revan matikan dulu pa. Papa bisa melanjutkan pekerjaan papa disana."
Tanpa menunggu persetujuan dari papanya, Revan langsung memutus panggilan tersebut. Lalu ia mem power off kan ponselnya. Biarlah hari ini ia tenang tanpa harus mendengar tuntutan-tuntutan yang papanya itu berikan.
Setelah selesai, Revan langsung kembali ke tempat dimana Reina sudah menunggu.
"Sorry ya aku lama di toiletnya," kata Revan yang baru kembali dari toilet cafe.
Reina mengalihkan tatapannya kearah Revan, lalu ia tersenyum simpul.
Ya untuk saat ini, hanya senyum Reina lah yang bisa menjadi obat luka tak berdarah yang selama ini ia rasakan.
Namun, Revan sendiri tak yakin apakah itu dapat berlaku untuk selamanya atau tidak. Karena ia takut ego yang ia miliki terlalu besar dan akan berakibat menyakiti gadis yang tanpa sadar sudah sangat ia sayangi itu.
...๐ผ๐ผ๐ผ...
...Halo guys!!...
...Akhirnya setelah berminggu-minggu hiatus aku comeback ๐ญ๐ญ...
...Semoga kalian masih stay nunggu kelanjutan cerita ini yaa๐ฅบ...
...Thanks juga buat kalian yang udah mau dukung aku sampai ke titik ini...
...See you next part ๐...
...TO BE CONTINUED...