Evanescent

Evanescent
Kepingan Teka-Teki



..."Terlalu banyak kepingan kenyataan yang sebenarnya lebih baik tidak kita ketahui. Agar semuanya berjalan sesuai alurnya." ...


...-Gibran Rahardian Kendrick-...


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


Setelah menerima kabar bahwa papanya pulang, mood yang berusaha Gibran jaga tetap baik seketika hancur. Sebagai anaknya ia tak habis pikir atas keputusan yang Papanya itu ambil.


Jika ditanya apakah Gibran marah, jelas lelaki itu marah. Emosinya sangat tak bisa ia kontrol saat tau ada tiga korban dalam insiden yang Papanya itu ciptakan. Tapi ia sialnya ia tak bisa berkutik. Di hadapan papanya ia hanya bisa menjadi debu yang tak memiliki kuasa apapun.


"Papa dimana?" tanya Gibran to the poin kepada salah satu asisten di rumahnya.


"Tuan di ruangannya mas."


Tanpa berlama-lama lagi, Gibran langsung menuju ke ruang kerja papanya. Karena memang ada banyak hal yang harus ia sampaikan kepada Papanya.


Namun, langkah Gibran sontak terhenti saat melihat ada seseorang di ruangan Papanya lewat celah pintu. Sepertinya ada hal penting yang sedang mereka bicarakan. Lalu Gibran memilih untuk mendekatkan diri dengan pintu, membiarkan dirinya mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.


"Kenapa gini aja ga becus!! Kenapa orang suruhan kamu kalah melawan anak sulung Samuel yang hanya sendiri ha!!" Suara bentakan Vito menggema di ruangan tersebut.


Orang yang Gibran ketahui sebagai sekretaris pribadi Vito hanya bisa tertunduk. Membiarkan amarah tuannya meluap.


"Dan kamu bilang apa? Ada tiga korban dalam penculikan cewek itu?!" Vito mengacak kasar rambutnya. "Kenapa bisa terjadi hak seperti itu ha??!!"


"Apa peringatan kemarin belun cukup? Saya hanya ingin tumbangnya keluarga Samuel, anak sulung dan bungsunya!! Tidak perlu melibatkan orang lain, tapi ini? Benar-benar di luar dugaan!!"


Cerngitan di dahi Gibran semakin dalam. Semakin ia mendengar percakapan mereka saat ini, semakin sulit pula otaknya dalam mencerna semuanya.


"Maaf tuan. Mereka sudah bekerja dengan semaksimal mungkin. Perlawanan yang dilakukan teman gadis itu cukup brutal, melebihi perlawanan anak SMA pada umumnya,"


Gibran yakin gadis SMA yang mereka bicarakan saat ini adalah Naura. Tapi, tentang anak sulung apakah yang mereka maksud Kenzie? Lantas inti masalahnya sebenarnya apa? Kenapa Vito harus membawa nama almarhum Papa Naura?


"Saya tidak mau tau, urus kasus ini dengan sebersih mungkin!! Jangan beri celah agar lelaki itu tak bisa memanfaatkan apa yang telah terjadi saat ini!!"


"Saya tidak mau anak lelaki Samuel berhasil menjalankan rencana balas dendam atas kematian papanya sepuluh tahun silam."


"Baik tuan." jawab pria itu. Setelahnya ia langsung menunduk dengan sopan sebelum akhirnya meninggalkan ruangan Vito.


Melihat pergerakan sekretaris Vito, membuat Gibran buru-buru menjauh dari pintu. Selain itu, ia butuh tempat untuk berpikir jernih atas apa yang telah ia dengar.


Perkataan yang terakhir Vito ucapkan pun tak dapat Gibran cerna. Kematian? Balas dendam? Sebenarnya apa yang sedang papanya tutupi. Dan ada hubungan apa antara kematian Papa Naura dengan Papanya?


Jika berbicara sepuluh tahun lalu, Gibran pernah mendengar hal serupa dari cerita Naura bahwa Papanya meninggal di tragedi tahun itu. Tapi kenapa kasus itu harus berkaitan dengan Papanya?


Seketika banyak kemungkinan yang muncul di kepala Gibran. Ia tak bisa membenarkan ataupun menolaknya sebelum ia mengetahui sendiri apa yang sebenarnya terjadi sepuluh tahun lalu.


Tapi bagaimana caranya? Bertanya langsung kepada Vito adalah keputusan terbodoh yang terpikirkan olehnya. Coba pikir bagaimana mungkin Vito langsung menjelaskannya atas apa yang terjadi sepuluh tahun lalu?


Tidak, tidak. Ia harus mencari bukti sendiri untuk memperkuat argumennya.


Gibran sontak menjentikkan jarinya saat terpikirkan satu ide cemerlang. Mungkin bertanya kepada Kenzie bisa membantunya menuju titik terang dari pertanyaan abu-abu yang memenuhi kepalanya.


"Oke, setelah ini gue harus mengajak bang Kenzie berbicara empat mata. Jika memang semua benar, maka gue bisa memutuskan apa langkah yang akan gue ambil setelahnya." Gibran menguatkan tekadnya.


"Untuk sekarang gue harus pura-pura gak tau atas semua kasus ini. Tapi setidaknya sekarang gue bisa menyalahkan Papa atas kejadian Naura."


Setelah mengucapkan itu, Gibran langsung melangkahkan kakinya kembali menuju ke ruangan Vito.


Tok! Tok! Tok!


Meskipun saat ini Gibran benar-benar marah kepada Papanya, tapi setidaknya ia tidak melupakan etika kepada orang tua.


"Masuk." mendapat sahutan seperti itu, membuat Gibran langsung melangkahkan kakinya memasuki ruangan.


Tatapan dingin Gibran lemparkan kearah Vito. "Apa Papa belum puas?"


"Gibran, disini Papa tidak ingin berdebat dengan kamu ya!!"


"Gibran hanya ingin meluruskan semuanya Pa!! Perbuatan Papa sudah membahayakan nyawa perempuan yang Gibran cintai!!" Gibran semakin mendekat kearah Vito yang sedang berdiri di dekat jendela.


"Asal Papa tau, temen-temen Gibran menjadi korban di dalam kasus yang Papa buat!!"


"Jika dari awal kamu mendengarkan ucapan Papa, maka semua ini nggak akan terjadi Gibran!! Tapi kamu tetap memilih gadis itu, dan lihat sekarang apa yang terjadi!!"


"Sadar Pa!! Itu semua hanya alasan yang Papa buat untuk menutupi keegoisan Papa!! Kalo emang dari awal Papa merestui hubungan kita, pasti ini semua juga nggak akan terjadi!!"


"Dia bukan cewek yang baik buat kamu Gibran!! Tugas Papa hanya menjauhkan hal yang nggak baik untuk masa depan kamu!!"


"Tau apa Papa tentang masa depan aku?! Gibran yakin Naura baik untuk masa depan Gibran! Sebenarnya Papa juga mempercayai itu, tapi entah faktor apa yang membuat Papa melakukan semua hal ini.


"Jujur, Gibran sangat kecewa sama Papa. Papa yang Gibran bangga-banggakan sebagai orang terpandang, terhormat, dan sebagai panutan Gibran ternyata berani melakukan hal sebusuk ini."


"Mama pasti juga akan kecewa dengan keputusan yang Papa ambil saat ini." cerca Gibran tanpa jeda.


BRAK!


Vito menggebrak meja kerjanya. "Jangan bawa-bawa almarhumah Mama kamu Gibran!!"


"Makanya ayolah Pa, turuti satu permintaan Gibran.. Restui hubungan Naura dan Gibran.." suara Gibran memelan tak se keras sebelumnya.


"Come on Pa, Gibran yakin nggak bakal sulit melakukan itu." desakan itu terus Gibran lontarkan hingga wajah Vito berubah semakin masam.


"Nggak! Keputusan Papa sudah bulat." Vito menatap tajam anak laki-laki di depannya. "Sekarang, kamu sebaiknya pergi dari hadapan Papa!!"


"Pa! Gibran ga mau Papa melanjutkan semua ini!! Ini sudah melewati batas!! Papa nggak bisa selamanya membenarkan perbuatan salah ini!!"


"PAPA BILANG KELUAR GIBRAN!!" Bentakan itu menggema di ruangan Vito.


Emosi yang sempat Gibran redam kembali tersulut. Ia mengepalkan tangannya kuat. Ia rasa Papanya saat ini sudah tidak bisa diajak berbicara dengan kepala dingin.


Tanpa mengucapkan apapun, Gibran langsung melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Vito. Dengan ini ia semakin yakin, bahwa ketidaksetujuan Vito terhadap hubungannya jelas berhubungan dengan apa yang Pria itu bicarakan dengan sekretaris pribadinya.


"Kalo Papa nggak mau berhenti, Gibran sendiri yang akan menghentikan Papa secara paksa."


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


Aziel mengacak rambutnya frustasi. Sore tadi ia mendapat kabar dari polisi bahwa kasus yang mereka laporkan ditutup tanpa penjelasan.


"Udah Zi, gausa dipikirin terlalu keras. Lagian Raka, Bryan juga uda mendingan." kata Mahesa berusaha menenangkan sahabatnya itu.


"Keadaan Revan masih belum ada kejelasan Hes, dan nanti kalo bokapnya nanya kita harus jawab apa?" balas Aziel.


"Lagian gue ga habis pikir sama polisi jaman sekarang. Tau ada kasus kayak gini malah milih tutup mata, emang backingan nya siapa sampe mereka siap buat makan gaji haram kayak gini." imbuhnya yang semakin kesal.


"Disini yang kesel bukan cuma lo Zi, kita juga. Terutama gue. Setelah gue tau kalo sahabat gue diperlakukan kayak gitu gue ga terima. Tapi kalo setelah kita urus kasusnya dan dari atasan gak ada jawaban kita bisa apa?" Alissa yang sedari tadi duduk di sebelah Aziel akhirnya angkat bicara.


"Yang terpenting disini kita uda usaha. Lo uda usaha semaksimal mungkin untuk kebaikan Naura dan kita semua." imbuhnya.


"Good news gais!" suara Dika yang baru tiba dari ruang dokter menyita seluruh perhatian mereka yang berada di koridor kamar Raka.


"Besok Raka sama Bryan udah bisa pulang." ujar Dika dengan memamerkan surat rawat jalan milik Raka dan Bryan.


"See? Setidaknya teman kita selamat Zi. Demi kebaikan bersama sebaiknya kita nggak usah semakin mengorek kasus ini semakin dalam." Darel menimpali.


Aziel menarik napas dalam. Sepertinya apa yang teman-temannya katakan ada benarnya. Jika memang kasus ini lebih besar dari yang ia duga, bisa-bisa ia dan teman-temannya yang lain bisa menjadi sasaran empuk jika mereka berusaha mengungkapkan yang sebenarnya. Namun, dari sini Aziel tau dengan jelas bahwa dalang dibalik penculikan Naura bukanlah orang biasa-biasa.


"Naura sama Reina kemana?" tanya Aziel setelah menenangkan diri.


"Naura masih di ruangan Raka, Reina juga masih di ruangan Revan." Jawab Serinda.


Sedetik kemudian mereka melihat dokter dan dua perawat berjalan tergesa-gesa mendekati mereka. Cerngitan sempat singgah di kening mereka, pasalnya pasti ada pasien kritis di lantai ini, tapi siapa?


"Dok, ini ada apa ya?" tanya Aldo yang tiba-tiba menghentikan sejenak dokter tersebut.


"Pasien yang bernama Revan Adyan Nugroho sudah sadarkan diri." jawaban dokter tersebut seketika mengejutkan mereka. Kini mereka kembali menemukan secercah harapan yang sempat padam beberapa saat lalu.


"Terima kasih dok atas informasinya." balasan Aldo tersebut langsung membuat dokter dan dua perawatnya berlalu.


Ke tujuh remaja di sana masih tak percaya akan kabar bahagia yang baru saja mereka dengar. Revan sadarkan diri? Sungguh kabar baik, bukan?


Tanpa pikir panjang, mereka berlari mendekati ruang rawat Revan. Dari kaca pintu, mereka dapat melihat Reina berdiri di ujung brankar, membiarkan sang dokter memeriksa lanjutan keadaan Revan.


Serinda dan Alissa bertatapan, senyum pun otomatis terbentuk di bibir kedua gadis itu. Ya, mereka ikut senang akan sadarnya Revan. Karena dengan ini setidaknya bisa membuat Reina sedikit bernafas lega.


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...