Evanescent

Evanescent
Bukan Untuk Menetap



..."Ingatlah! Bahwa diam bukan berarti selalu masa bodoh dengan segala hal!" ...


...-Raka Alfareza-...


...🌼🌼🌼...


Bel pulang yang berbunyi beberapa menit lalu menjadi penyelamat murid 11 Ipa 2. Pasalnya pada jam terkahir ini adalah jadwal mata pelajaran geografi, yang merupakan mata pelajaran tambahan di jurusan Ipa.


Bukan karena apa, hanya saja saat mereka mengikuti pelajaran ini mereka seperti dihantarkan untuk nyenyak dalam tidur. Karena memang sang guru, jika menjelaskan sudah seperti bercerita tentang asal usul bumi. Teori asal usul bumi yang tadinya membuat pusing, sekarang menjadi lebih sulit. Bagaimana tidak? Orang saat dijelaskan materinya masuk telinga kanan keluar telinga kiri.


"Gimana gils? Jadi kan hang out nya??" Tanya Serinda antusias.


"Iya dong wajib!! Otak gue udah nge bug, minta di refresh!!" Sahut Naura.


"Ee sorry guys, gue ga bisa ikut kalian." Sahut Reina tiba-tiba. Tampak jelas raut penyesalan di wajah gadis itu.


"Yahh!! Padahal kita udah jarang loh Rei keluar kek gini, apalagi sekarang Naura udah balikan, bisa-bisa gaada sisa waktu untuk kita."


Naura menyenggol pelan bahu Alissa. "Ye.. ga gitu juga bund!!"


Reina menatap ketiga perempuan itu secara bergantian. "Gue bener-bener minta maaf. Soalnya ini ada urusan mendadak. Jadi, next time gue usahain ikut hang out kemanapun kalian pengenin. Oke?"


Ketiganya menghela nafas. Mereka tak boleh egois dengan memaksa Reina mengikuti kemauan mereka.


"Yaudah, ya mau gimana lagi kan? Tapi awas aja sampe lo next time juga ga bisa!!"


"Gue usahain banget kok." Lalu Reina mengambil tas ranselnya lalu ia pasangkan di punggung. "Gue pulang dulu ya!! Take care!"


"Iya Rei, lo juga." Balas Naura, dan di susuli anggukan oleh Serinda dan Alissa.


Setelahnya Reina langsung pergi dari sana. Dan berlari kecil menuju gerbang dimana seseorang telah menunggunya.


"Nunggu lama ga?? Sorry banget ya beb!!!" Kata Reina saat ia sudah sampai di samping motor lelaki itu.


"Enggak kok, baru aja aku sampe." Senyum manis tercetak jelas di wajah lelaki itu.


"Syikurlah!! Aku padahal udah takut banget kalo kamu udah dateng dsri tadi."


Tangan lelaki itu terulur mengacak rambut Reina. "Enggak kok sayang... Tenang aja."


"Yaudah yok berangkat!!" Dan Reina pun mengangguk sebelum akhirnya ia menaiki motor besar yang sudah biasa lelaki itu gunakan.


Dari jarak yang cukup jauh, lagi-lagi seseorang itu menangkap jelas interaksi keduanya. Namun, sayangnya ia tak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.


Dan saat targetnya kembali menjalankan motor, lelaki itu juga langsung menjalankan motor merah miliknya. Karena memang, ia tidak ingin jika sampai kehilangan jejak mereka.


Di dalam mall terfavorit di kotanya, ia masih setia mengikuti pasangan itu. Outfit yang Raka gunakan oun mendukung dalam menjalankan rencana ini. Jaket hitam, topi hitam, kacamata hitam, lengkap dengan masker hitam, berhasil menjadikan Raka seperti penguntit profesioanal.


Raka sangat mengenal Revan. Apalagi ia sendiri tau apa yang terjadi di masa lalu sahabatnya itu. Masa lalu kelam yang menghancurkan hidup kakak yang selama ini Revan banggakan.


Oleh karena itu, Raka tak akan membiarkan Revan jatuh di jalan yang salah. Sebagai sahabat, itu adalah kewajiban yang harus dilakukan Raka, benar bukan?


Saat ini, yang dilakukan oleh pasangan itu masih normal dimata Raka. Jalan-jalan di mall menikmati berbagai fasilitas di dalamnya. Seperti kebanyakan pasangan pada umumnya.


Tak ada yang aneh memang, dari sekian banyak kejadian yang telah Raka amati beberapa hari ini belum ada tanda-tanda bahwa Revan akan melakukan hal gila.


Saat Raka hendak kembali iris matanya tak sengaja menangkap kehadiran seseorang. Yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Sialnya lagi mereka berjalan menuju kearah dimana kedua orang yang ia ikuti berada.


Mamp*s!


Ini belum waktunya Naura dan kedua orang lainnya tau akan apa yang sedang dilakukan oleh sahabat mereka, Reina.


Satu ide muncul di kepala Raka. Mungkin ide ini terdengar tak masuk akal. Tapi setidaknya dengan itu, Raka bisa membuat mereka tak bertemu.


...🌼🌼🌼...


Sejak siang tadi, Revan mulai waspada akan gerak-gerik dari Raka. Sudah kesekian kali pula ia menoleh ke belakang hanya untuk sekedar mengecek kehadiran lelaki itu.


Bohong jika ia tidak sadar bahwa sejak keluar gerbang sekolahnya, Raka sudah mengikutinya. Ah, Revan akui skill menguntit Raka tak bisa diremehkan lagi.


"Beb, kamu kenapa sih?" Tanya Reina karena heran akan Revan yang sudah beberapa kali tadi menolehkan kepalanya kebelakang. Sebenarnya apa sih yang menarik perhatian lelakinya?


"Ah, enggak apa-apa kok beb. Cuma itu tadi aku kayak ga sengaja liat orang yang aku kenal gitu. Tapi kayaknya aku salah orang deh."


"Oh gitu.."


"Btw, gimana? Kamu jadi nyari kado buat temen kamu itu kan?"


Reina mengangguk, disusul helaan nafas yang keluar dari mulutnya. "Tapi aku bingung mau beli apa.. Kamu ada saran ga?"


"Gimana kalo kita ke toko kado di lantai atas beb? Setau aku sih disana banyak banget pilihan kado ulang tahun, dan mungkin aja ada yang sesuai selera kamu."


"Eemm boleh, yuk kesana!" Balas Reina antusias dan langsung menggandeng lengan Revan.


Revan tersenyum kecil saat melihat tingkah Reina. Menggemaskan.


Seperti inilah perkataan Raka siang tadi kembali terputar di memori Revan. Disaat lelaki itu mengatakan bahwa Reina terlalu baik untuk ia sakiti.


Jika Revan amati lebih dalam. Tanpa sadar ia menemukan sisi Reina yang jarang dimiliki oleh perempuan jaman sekarang. Yakni ketulusan.


Tapi entah kenapa Revan masih tak bisa meninggalkan rencana awalnya. Ia sudah tak bisa lagi terlalu dalam memahami Reina. Karena ia tak mau jika akhirnya dirinya lah yang jatuh. Jatuh cinta yang sebenarnya kepada Reina.


...🌼🌼🌼...


Di dalam cafe bernuansa Japanese itu keempat orang tersebut telah menempati salah satu bangku yang tersedia disana.


Saat Raka mengatakan bahwa dirinya mempunyai ide untuk menghindari situasi tersebut, sebenarnya inilah idenya. Mengajak ketiga perempuan itu untuk makan bersama.


Naura, Alissa, dan Serinda yang mendapat tawaran seperti itu tentu saja merasa aneh. Disaat lelaki itu menghampiri ketiga perempuan itu pun sudah cukup aneh dimata mereka. Apalagi mengajak makan bukan?


Raka menatap ketiganya secara bergantian. Dan ia pun menyengir tak berdosa.


"Berhubung perut kita udah pada keroncongan, lebih baik kita buruan pesen menu. Dan seperti yang gue bilang tadi, untuk sore ini kalian akan gue bayari."


"Enggak usah Ka, kita bayar sendiri-sendiri aja," tolak Naura dengan halus.


"Ga papa Ra, jarang-jarang loh aku traktir kalian. Hitung-hitung syukuran sebelum gue uts ahaha,"


"Aaa thanks banget loh Ka," ucap Alissa antusias. Apasih yang ditolak Alissa jika itu berbau gratis?


Pintu cafe kembali terbuka. Aldo dengan napas terengah berlari kecil menghampiri meja Raka. Dan tanpa disuruh, ia langsung duduk di kursi kosong sebelah Raka. Jujur, ia sangat terkejut akan kehadiran Naura dan kedua temannya.


Ah ****!!


"Kenalin, ini Aldo, temen terbangsul yang gue punya." Satu jitakan berhasil mendarat di kepala Raka.


"Kalo ngenalin gue tuh yang bener!!"


"Ahahaha pokoknya ya seperti inilah sosok Aldo jika dilihat dari dekat."


"Sialan!!"


"Ah, gue inget, gue pernah liat dia waktu tanding basket waktu itu, bener ga sih?" Sahut Serinda saat ia berhasil mengenali wajah Aldo.


"Yup bener banget."


"Makanya wajahnya kek pernah gue liat gitu."


"Gimana? Dari deket lebih ganteng kan?" Kata Aldo dengan sangat percaya diri.


"Dih! Pd amat sih lo!!" Raka berbalas menjitak kepala Aldo. "Sorry ya, Aldo emang suka gitu. Suka kepedean kalo dipuji sedikit."


"Sialan lo Ka!!"


Naura, Alissa, Serinda dan kedua cowok itu tertawa renyah. Sedikit demi sedikit mereka berhasil mencairkan suasana yang sempat menegang beberapa saat lalu.


Karena itulah penilaian Alissa dan Serinda terhadap kedua lelaki itu berubah. Ternyata mereka adalah cowok sebaik dan se humble ini. Tak heran jika merek memiliki banyak penggemar seperti Gibran dan teman-temannya. Bedanya, Raka tak se buaya Gibran.


"Yang urgent apaan sih nyet?!!" Protes Aldo setengah berbisik ke telinga Raka.


"Ini urgent, nemenin gue. Yakali gue makan sendirian diantara mereka? Bisa-bisa gue dicap cowok ga bener!!"


"Trus buat apa lo ngajak mereka kesini njirr?!!"


"Ish!! Protes mulu lo kek emak-emak!!"


"Ya lagian lo sih!!"


"Elo tuh!!"


Aldo berdecak kesal. "Ck! Susah ya ngomong sama temen kek lu."


"La makanya nikmatin aja makanannya, itung-itung cuci mata ngeliat mereka." Balas Raka dengan masih berbisik kearah Aldo.


Akhirnya Aldo menghela nafas pasrah. Dahlah terserah Raka mau melakukan apa. Lalu, ia beralih menatap ketiga perempuan di depannya.


"Ah ya, btw temen lo yang satu kemana Ra? Kayaknya setau gue kalian tuh berempat." Tanya Aldo mengalihkan perhatian.


"Ah Reina? Tadi sebenarnya mau pergi bareng, cuma dia tiba-tiba ada urusan mendadak." Jawab Naura apa adanya.


"Oh, gitu.."


Tanpa sadar Raka tersenyum miring mendengar pernyataan Naura. Bullshit memang. Dan karena inilah ia semakin tidak ingin jika mereka mengetahui semuanya sebelum waktunya tiba. Waktu bagi Reina jujur sendiri, ataupun semesta yang mengungkap semua.


Tak lama setelah itu, waiters datang dengan membawa pesanan yang telah mereka sebutkan. 5 ramen dengan toping lengkap siap disantap oleh kelima orang tersebut.


...🌼🌼🌼...


Ting!


Bunyi yang menandakan pesan masuk di ponsel Naura. Dengan segera, ia membuka roomchatnya dengan Gibran. Ya, lelaki itulah yang mengirimi Naura pesan.


Gibran ❤️


Udah selesai blm? Ini aku uda di parkiran.


^^^Naura Azkia^^^


^^^Udah Gib. Ini aku otw keluar.^^^


Gibran ❤️


Sipp. Aku tunggu di depan pintu keluar ya sayang.


^^^Naura Azkia^^^


^^^Iya Gib. See u ❤️^^^


Bohong jika Raka tak menyadari perubahan raut wajah Naura. Naura yang senyam-senyum menatap ponsel entah mengapa membuat hatinya tak enak.


Jika seseorang melihat Naura sekarang, sudah dapat dipastikan bahwa dimata mereka Naura telah mendapatkan pesan dari seseorang yang spesial. Dan Raka termasuk salah satunya. Lebih parahnya lagi, ia dapat langsung mengetahui dengan siapa Naura bertukar pesan.


Sesampainya mereka di pintu keluar, Naura langsung disambut dengan kehadiran Gibran yang sedang duduk di atas motor sembari melambai kearahnya.


"Guys gue duluan ya." Pamit Naura keempat orang itu, lalu ia segera berlari kearah Gibran.


"Take care Ra!!!" Seru beberapa dari mereka.


"Gibran! Awas aja sampe lo ga bawa temen gue sampai rumah dengan selamat!!" Celetuk Alissan dengan suara toanya.


Tepat sebelum menjalankan motornya, Gibran mengacungkan jempolnya untuk memberi respon atas peringatan yang Alissa berikan.


Akhirnya perasaan tidak enak beberapa saat lalu berhasil terjawab. Dan parahnya apa yang terjadi sesuai dengan apa yang ia pikirkan.


Ternyata memang, Naura masih belum bisa melupakan Gibran yang sempat menyakitinya beberapa saat lalu.


Di depan Naura, memang Raka bersikap seolah-olah tak tau apapun dan tak ingin tau. Tapi sebenarnya, ia berhasil mengetahui semuanya. Dimana Naura yang sempat Gibran jadikan sebagai taruhan bersam teman-temannya.


...🌼🌼🌼...


...Haii temen2!!🤗...


...Kali ini aku up cepet spesial HUT RI😍😍...


...DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-76 ya guys🇮🇩🇮🇩...


...Btw thanks ya buat kalian yang selalu setia baca dan dukung aku sampai titik ini ❤️❤️...


...Semoga kalian makin suka ya guyss xixi...


...Tenang aja masih panjang sebelum menuju endingg🤭...


...See you ❤️...


...To Be Continued...